Tasawuf dan shalawat Nabi

Tasawuf dan shalawat Nabi

 

Shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bukanlah amalan yang asing bagi seorang muslim. Hampir-hampir setiap majlis ta’lim ataupun acara ritual tertentu tidak pernah lengang dari dengungan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Terlebih bagi seorang muslim yang merindukan syafa’atnya, ia pun selalu melantunkan shalawat dan salam tersebut setiap kali disebutkan nama beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam. Karena memang shalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam merupakan ibadah mulia yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
(artinya): “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya”. (Al Ahzab: 56)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barangsiapa bershalawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan membalasnya dengan shalawat sepuluh kali lipat.” (H.R. Al Hakim dan Ibnu Sunni, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’)

Demikianlah kedudukan shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dalam agama Islam. Sehingga di dalam mengamalkannya pun haruslah dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Sebaik-baik shalawat, tentunya yang sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dan sejelek-jelek shalawat adalah yang menyelisihi petunjuknya Shallallahu ‘alaihi wassallam. Karena beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam lebih mengerti shalawat manakah yang paling sesuai untuk diri beliau Shallallahu ‘alaihi wassallam.

Diantara shalawat-shalawat yang telah dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam kepada umatnya, yaitu:
اللّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
“Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dan masih banyak lagi shalawat yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam . Adapun shalawat-shalawat yang menyelisihi tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam maka cukup banyak juga, diantaranya beberapa shalawat yang biasa dilantunkan oleh orang-orang Sufi ataupun orang-orang yang tanpa disadari terpengaruh dengan mereka.

Beberapa Shalawat ala Sufi

1. Shalawat Nariyah
Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Dengan suatu keyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:
اللهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تآمًا عَلَى سَيِّدِنَا مًحَمَّدٍ الَّذِي تُنْحَلُ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ عَدَدَ كَلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
“Ya Allah , berikanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Nabi Muhammad, yang dengannya terlepas semua ikatan kesusahan dan dibebaskan semua kesulitan. Dan dengannya pula terpenuhi semua kebutuhan, diraih segala keinginan dan kematian yang baik, dan dengan wajahnya yang mulia tercurahkan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih. Semoga shalawat ini pun tercurahkan kepada keluarganya dan para sahabatnya sejumlah seluruh ilmu yang Engkau miliki.”

Para pembaca, bila kita merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka kandungan shalawat tersebut sangat bertentangan dengan keduanya. Bukankah hanya Allah semata yang mempunyai kemampuan untuk melepaskan semua ikatan kesusahan dan kesulitan, yang mampu memenuhi segala kebutuhan dan memberikan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih?!

Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
(artinya): “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentunya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan tertimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa khabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al A’raf: 188)

Dan juga firman-Nya :
قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ فَلاَ يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحْوِيلاً
(artinya): “Katakanlah (wahai Muhammad): Panggillah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.” (Al-Isra: 56)

Para ahli tafsir menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan kaum yang berdo’a kepada Al Masih, atau malaikat, atau sosok orang shalih dari kalangan jin. (Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)

Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam , lalu mengatakan: مَا شَاءَ اللهَُ وَ شِئْتَ
“Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:
أَجَعَلْتَنِيْ لِلَّهِ نِدًّا ؟!
“Apakah engkau hendak menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah? Ucapkanlah: مَا شَاءَ اللهَُ وَحْدَهُ “Berdasarkan kehendak Allah semata”. (HR. An-Nasa’i dengan sanad yang hasan) (Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah hal. 227-228, Muhammad Jamil Zainu)

Maka dari itu, jelaslah dari beberapa dalil diatas bahwasanya Shalawat Nariyah terkandung padanya unsur pengkultusan yang berlebihan terhadap diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam hingga menyejajarkannya dengan Allah Ta’ala. Tentunya yang demikian ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang dimurkai oleh Allah dan Nabi-Nya.

2. Shalawat Al Faatih (Pembuka)
Nash shalawat tersebut adalah:
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ …
“Ya Allah! berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka segala yang tertutup ….”

Berkata At-Tijani pendiri tarekat Sufi Tijaniyah – secara dusta – : “….Kemudian beliau (Nabi Shallahu ‘alaihi wassalam) mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya, bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, menyamai dari setiap do’a yang kecil maupun besar, dan menyamai membaca Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.” (Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad Utsman)

Para pembaca, demikianlah kedustaan, kebodohan dan kekafiran yang nyata dari seorang yang mengaku berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam , karena ia berkeyakinan bahwa perkataan manusia lebih mulia 6.000 kali lipat daripada firman Allah Ta’ala.

Bukankah Allah telah menegaskan dalam firman-Nya :
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلاً
(artinya): “Dan siapakah yang perkatannya lebih benar dari pada Allah? (An Nisaa’:122)

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan sungguh telah sempurna kalimat Tuhanmu(Al Qur’an),sebagai kalimat yang benar dan adil.”(Al An’am:115)

Demikian pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam telah menegaskan dalam sabdanya (artinya): “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan Allah “. (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an , maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif laam miim itu satu huruf, namun alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani)

Wahai saudaraku, dari beberapa dalil di atas cukuplah bagi kita sebagai bukti atas kebatilan shalawat Al Faatih, terlebih lagi bila kita telusuri kandungannya yang kental dengan nuansa pengkultusan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam yang dilarang dalam agama yang sempurna ini.

3. Shalawat Sa’adah (Kebahagiaan)
Nash adalah sebagai berikut:
اللهُمَّ صَلِّ عَلَ مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِيْ عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ …
“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah …”.

Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288)

Wahai saudaraku, mana mungkin shalat yang merupakan tiang agama dan sekaligus rukun Islam kedua pahalanya 600. 000 di bawah shalawat sa’adah ini?! Cukuplah yang demikian itu sebagai bukti atas kepalsuan dan kebatilan shalawat tersebut.

4. Shalawat Burdatul Bushiri
Nashnya adalah sebagai berikut:
يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ
“Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam ) penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu, wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.”

Shalawat ini mempunyai beberapa (kemungkinan) makna. Bila maknanya seperti yang terkandung di atas, maka termasuk tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam yang beliau telah meninggal dunia.

Hal ini termasuk jenis tawasul yang dilarang, karena tidak ada seorang pun dari sahabat yang melakukannya disaat ditimpa musibah dan yang sejenisnya. Bahkan Umar bin Al Khathab ketika shalat istisqa’ (minta hujan) tidaklah bertawasul dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam karena beliau telah meninggal dunia, dan justru Umar meminta Abbas paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam (yang masih hidup ketika itu) untuk berdo’a. Kalaulah tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau telah meninggal dunia merupakan perbuatan yang disyari’atkan niscaya Umar melakukannya.

Adapun bila mengandung makna tawasul dengan jaah (kedudukan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam maka termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama, karena hadits: تَوَسَّلُوا بِجَاهِي “Bertawasullah dengan kedudukanku”, merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu). Bahkan bisa mengantarkan kepada kesyirikan disaat ada keyakinan bahwa Allah Ta’ala butuh terhadap perantara sebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap perantara antara dia dengan rakyatnya, karena ada unsur menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Lihat Al Firqatun Najiyah hal. 85)

Sedangkan bila maknanya mengandung unsur (Demi Nabi Muhammad) maka termasuk syirik, karena tergolong sumpah dengan selain Allah Ta’ala.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat kafir atau syirik.” ( HR At Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shahih)

Para pembaca, dari sekian makna di atas maka jelaslah bagi kita kebatilan yang terkandung di dalam shalawat tersebut. Terlebih lagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya tidak pernah mengamalkannya, apalagi mengajarkannya. Seperti itu pula hukum yang dikandung oleh bagian akhir dari Shalawat Badar (bertawasul kepada Nabi Muhammad, para mujahidin dan ahli Badar).

5. Nash shalawat seorang sufi Libanon:
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ الأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ
“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga Engkau menjadikan darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya).” Padahal Allah Ta’ala berfirman (artinya): ”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri pernah bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah: “(Aku adalah) hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.R Al Bukhari).

Wallahu A’lam Bish Shawab

Hadits-Hadits Palsu Dan Dha’if Yang Tersebar Di Kalangan Umat
Hadits Anas bin Malik Radiyallahu ‘anhu:
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ثَمَانِيْنَ مَرَّةً غَفَرَ اللهُ لَهُ ذُنُوْبَ ثَمَانِيْنَ عَامًا
“Barangsiapa bershalawat kepadaku pada malam Jum’at 80 kali, niscaya Allah akan mengampuni segala dosanya selama 80 tahun.”

Keterangan:
Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Wahb bin Dawud bin Sulaiman Adh Dharir. Al Khathib Al Baghdadi berkata: “Dia seorang yang tidak bisa dipercaya.” Asy Syaikh Al Albani berkata: “Sesungguhnya ciri-ciri kepalsuan hadits ini sangatlah jelas.” (Lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 215)

14 Comments

  1. Bagaimana dengan hadist yang mengatakan membaca surat yasin smapai khatam keutamaannya sama dengan membaca Alquran sebanyak 10 kali apakah ini juga dusta, lalu bagaimana yang benar bagi orang awam agama, apakah sorga diciptakan bagi orang yang pintar bukankah Alquran mengatakan sorga itu untuk orng yang mengamalkan ilmunya bukan orang yang pintar ilmunya, maaf mohon nasehatnya jika kurang tepat.

  2. BAGAIMANA CARA BELAJAR ILMU2 ALLAH INI? APA PERMULAANNYA

  3. trus bagemana dengan orang wahabi saudi yang selalu bertawassul dengan orang amerika untuk melawan saudara muslim Iraq?
    apakah itu tidak termasuk Syirik Murakkab?
    atau kafir sekalian?

  4. biar ga hanya mengkafirkan,mensyirikkan saudara-saudara muslim..coba kalo bisa minta tolong buka situs ini :http://www.xanga.com/rasulullah
    karena di dalamnya banyak sekali ejekan kepada kaum muslimin bahkan khususnya Rasulullah SAW.
    minta para kru-kru situs wahabi ini untuk menyanggah atau melawan isi dari situs tersebut,demi Islam dan Rasulullah.
    wallahul muwaffiq
    wassalam
    Muslim Haqiqi

  5. kpd saudara Ali Pullaila:
    semua hadist mengenai keutamaan yasin adalah Dha’if(lihat silsilah ad Dha’ifah _ Nashruddin Al Albani)

    kpd saudara Rudin:
    mulailah dengan tauhid dengan merujuk kitabut tauhid (Shaleh Fauzan Al Fauzan) atau ushuluts tsalasah (Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin).

    kpd saudara Muslim Haqiqi:
    Asy Syaikh Ibnu Bazz telah mengeluarkan Fatwa mengenai hal tersebut, untuk lebih mendetail luangkan waktu sejenak untuk membaca kumpulan fatwa beliau dalam Lajnah Daimah (lembaga tetap).
    Untuk urusan yg atu lagi bahkan ada yg lebih dahsyat, silahkan lihat: http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/
    “Jikalau setiap anjing yg menggong-gong dilempar dgn batu, niscaya harga batu akan semahal berlian”

  6. Aduh kok masih saja rujukannya syikh bin baz lagi atau albani yang tdk punya krdibilitas keilmuan agama, coa lihat syikh antum saja tawassulnya sama kerjaan bani Sauud blm lagi sama Amerikanya,sok mau mensucikan ajaran agama tapi tidak mempunyai jaringan kelimuan yang contnuitas sama dng tabi’in apalagi sampai ke Rasulullah ke Sahabat saja tdk sampe, Ibn Taimiyah Ulama besar Aliran besar masih bershalawat coba lihat bukunya tentang shalawat, biasanya Aliran yg menganggap Paling benar semuah salah adalah Aliran Khawarij mudah2an wahabi bukan aliran yang gampang mengkafirkan org lain seperti khawarij. Amin

  7. http://alqoidun.net/artikel_detail.php?aid=66

    Bila Pegawai Thoghut Di Sebut Ulama

    Syaikh Luwis Athiyatullah
    Bila Pegawai Thoghut Di Sebut Ulama

    Syaikhul Mujahidin Luwis Athiyatullah

    Merekalah Orang-orang Yang Terlaknat

    Bila para pegawai thoghut di sebut kibarul ulama…

    Dengar hai orang-orang yang di sebut ulama….!!

    Allah telah menciptakan kami sebagai orang-orang merdeka dan kami tidak mungkin menjadi budak bagi kalian atau budak bagi sekelompok orang-orang munafik, orang-orang yang mabuk dan banci atas nama agama, yang kalian ingin lariskan secara palsu dan dusta atas nama Allah dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam.
    Dengan atas nama SyaikhImam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, kalian jajakan suatu mazhab yang mensucikan penguasa dan memberikannya sifat kema’shuman…..
    Dengan atas nama Syaikh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, kalian telah melarang dari memberikan nasihat buat orang-orang bejat itu…..
    Dengan atas nama Syaikh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, kalian menyelewengkan agama Allah dan kalian menjadikannya sebagai pijakan bagi orang-orang durjana dari Dinasti Salul……

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menciptakan kami merdeka dan Dia memerintahkan kami untuk beribadah kepada-Nya saja, bukan beribadah kepada kalian dan bukan pula kepada tuhan-tuhan kalian kaum munafikin.

    Kalian dengan fatwa-fatwa kalian itu menginginkan -dan memang kalian telah melakukannya- menjadikan kami sebagai kawanan kambing yang tidak memiliki daya dan kekuatan.
    Dengar hai mufti…..!! Jazirah Arab bukanlah kavling-kavling tanah di Eropa milik bapak ibumu, dan kamu ini bukan (Paus Urban) dan Fadh juga bukan (Raja Louis).

    Jazirah Arab ini adalah negeri yang dibuka oleh para shahabat, yang mana mereka itu adalah leluhur kami dan mereka menyiraminya dengan darah-darah mereka. Di setiap tempat, mereka mempunyai peperangan yang mengingatkan manusia terhadap kejayaan yang mereka lakukan. Maka tidak bisa kamu dan Dinasti Salul datang di saat para penolong agama Allah lalai dan kalian ingin merubahnya menjadi kavling-kavling yang didalamnya kalian menguasai manusia dan tanah. Kamu dan pengikutmu di Majelis Fatwa sama sekali tidak mempunyai hak campur tangan dalam urusan-urusan kami, seolah-olah kami ini hanya sekedar budak-budak di tanah kavling kalian yang bernama Kerajaan Saudi.

    Kami ini bukanlah Rafidhah atau Syi’ah, sehingga kalian menjadikan -jalan atas kami- bagi duri-duri yang kalian namakan sebagai Wulatul Umur (Pemimpin), dan seolah-olah mereka itu tidak berbicara dari hawa nafsu dan tidak melakukan (sesuatu) kecuali kebenaran. Kalian memberikan kepada mereka ke-ma’shuman dalam setiap apa yang mereka lakukan, termasuk seandainya mereka itu loyal kepada orang-orang Yahudi dan Nashrani dan termasuk seandainya mereka menganggap halal Riba, merubah agama, memperbudak umat untuk Amerika dan (mereka) melakukan segala keburukan terhadap umat ini. Itu buktinya anak-anak mereka membunuh anak-anak umat, kemudian ternyata kami tidak melihat kalian berbuat apa-apa. Dan juga, pembesar-pembesar mereka itu mencuri kekayaan-kekayaan umat, dan kalian malah memberikan kepada mereka cek-cek ketidak bersalahan dan kekayaan-kekayaan itu adalah halal bagi mereka dan mereka masih terus mencuri. Setiap kali mereka menggulirkan peraturan baru yang dengannya mereka memakan harta manusia, seperti peraturan asuransi yang paling terakhir, maka kalian datang dengan stempel kalian yang kotor dan kalian membubuhkan tanda tangan atas nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa harta ini adalah harta yang wajib dibayarakan untuk Waliyul Amri (pemimpin) sehingga kalian bersekutu dengan para perampok dalam menjarah kekayaan kaum muslimin.

    Semua itu dengan atas nama Islam dan dengan atas nama Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan Al Imam Ahmad bin Hanbal…!!!

    Seandainya kakek kamu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hidup, tentu beliau mendera kamu seperti mendera unta, saat melihatmu berkata terhadap para pencari ilmu : “Saya hanya memiliki 3 menit saja buat kalian”.

    Siapa kamu…??? dan pada dasarnya tidak ada nilai bagimu dihadapan manusia kecuali sebatas bahwa kamu mengaku termasuk ahli ilmu…!! Seandainya tidak ada ilmu tentulah kamu juga termasuk ternak-ternak yang menggembala di perternakan Dinasti Salul…!!!

    Telah tiba saatnya untuk membongkar semua kejahatan-kejahatan kalian dan menelanjangi kalian dihadapan manusia. Dikarenakan kamu -hai mufti !- telah membuka auratmu serta terbongkar kebohonganmu atas nama orang-orang, baik saat kamu menjadikan agama ini sekedar pencaharian. Sungguh para pencari ilmu telah datang kepadamu, untuk menyampaikan kepadamu sedikit dari kejahatan-kejahatan yang menimpa umat, maka kamu katakan kepada mereka “Waktu kerja sudah habis..!”
    Semoga Allah membinasakanmu…!!! manusia tidak mengambil ilmu dari kamu kecuali karena mereka mengira bahwa kamu ini ahli ilmu…!! Sungguh, kalian telah membongkar diri kalian sendiri, bahwa kalian ini tidak lebih dari sekedar para pegawai Dinasti Salul…!!! Jadi sabarlah terhadap apa yang akan datang terhadap kamu. Jangan ngomong -dan jangan pula kamu dan para pembeo dari pengikutmu- menggembar gemborkan bahwa daging para ulama itu beracun karena kamu bukan tergolong ulama akan tetapi kamu ini sekedar pegawai kantor yang pulang kerumahnya di akhir jam kantor. Jadi daging dan kehormatan kalian halal…..!!!

    Bila saja Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam telah menganggap sikap orang kaya yang menunda pembayaran hutangnya sebagai suatu kezaliman yang menghalalkan kehormatannya, maka apa gerangan dengan penundaan penunaian kewajibannya lebih buruk dari penundaan kewajiban harta, yaitu kewajiban penyampaian hukum-hukum Allah dan agama-Nya. Menyembunyikan ilmu dan mendiamkan kebathilan adalah lebih jahat dari sekedar penunda-nundaan hutang orang kaya sebesar 10 Riyal terhadap orang yang menagihnya. Sedangkan Allah ta’ala ber-firman :

    “Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang, kecuali oleh orang yang dianiaya”(An Nisa : 148)

    Maka bagaimana dengan orang yang menzalimi Islam, menyimpangkannya dan menjadikannya sebagai pijakan bagi hawa nafsu dan keinginan para penguasa….??
    Jadi, kehormatan dan daging kalian adalah halal dan mubah bagi setiap orang yang ingin membongkar kedok kalian dan membeberkan kebohongan kalian atas nama Allah dan Rasul-Nya, karena kejahatan kalian terhadap umat Islam tergolong kejahatan dan kebathilan yang paling keji dan kalian melakukannya dengan lembaga kalian yang rusak ini, dan ia adalah alat dan sarana yang paling efektif yang digunakan oleh orang-orang munafik untuk merobohkan seluruh pilar-pilar Islam dinegeri ini. Mereka mengeluarkan dari celah-celah kalian, agama baru yang coreng moreng yang tidak memiliki sedikit-pun kaitan dengan Islam yang kalian sandarkan secara palsu dan dusta kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan Imam Ahmad bin Hanbal.

    Dan siapa yang menyatakan bahwa daging kalian adalah beracun, maka ia orang yang dungu. Karena Allah telah mencap orang-orang semacam kalian dari Bani Israil bahwa mereka itu seperti keledai dan seperti anjing. Sedangkan kalian, dengan sebab yang kalian lakukan terhadap Islam adalah lebih keji dan lebih busuk dari apa yang dilakukan oleh Bani Israil, yang telah Allah laknati hanyalah karena menyembunyikan ilmu, sedangkan kalian menjadikan sikap memegang Al Haq sebagai kejahatan. Dan akar masalah itu semua, berdiri diatas suatu masalah yaitu tazkiyah (rekomendasi) kalian yang mutlak terhadap Dinasti Salul dan melepaskan tangan-tangan mereka untuk mengacak-acak segala sesuatu dari urusan umat ini, sedangkan kalian berperan sebagai pegawai yang memberikan rekomendasi dan pengesahan buat mereka itu diatas Al Haq, sedang orang yang menyelisihi mereka adalah diatas kebathilan.

    Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah telah memvonis terhadap orang-orang semisal kamu hai mufti, bahwa status minimal mereka itu adalah fasiq, jadi kamu ini fasiq dalam pandangan kakekmu… dan ini minimal. Dengar apa yang dikatakan kakekmu tentang orang-orang semacam Dinasti Salul dan dengar juga apa yang beliau katakan tentang orang-orang semacam kamu : “Sesungguhnya para thaghut yang diyakini manusia akan kewajiban mentaati mereka itu selain Allah adalah seluruhnya kuffar murtaddun dari Islam. Bagaimana tidak sedangkan mereka itu menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan, serta mereka melakukan kerusakan dimuka bumi dengan ucapan mereka, perbuatan mereka dan dukungan mereka. Siapa yang mendebat membela-bela mereka atau mengingkari orang yang mengkafirkan mereka atau mengklaim bahwa perbuatan mereka ini meskipun bathil namun tidak memindahkan mereka kepada kekafiran, maka status minimal orang yang membela-bela ini adalah fasiq, karena tidak sah Dienul Islam kecuali bara’ah (berlepas diri) dari mereka itu dengan cara mengkafirkannya…..” (Muhammad Bin Abdul Wahhab, Ar Rasa’il Asy Syakhshiyyah : 188)

    Sedangkan kamu ini hai mufti, tidak merasa cukup dengan membela-bela Dinasti Salul, akan tetapi kamu memberikan kepada mereka tazkiyyah (rekomendasi) yang mutlak, kamu menganggap taat kepada mereka itu adalah kewajiban dan kamu memberikan kepada mereka hak-hak yang tidak pernah diberikan para shahabat kepada Abu Bakar dan Umar radliyallahu ‘anhum. Kamu melarang pengingkaran terang-terangan terhadap kaum munafikin itu padahal para shahabat mengingkari Umar terang-terangan di masjid, ditengah khutbah dan dihadapan manusia.

    Beginilah kamu… kamu sekalian adalah orang-orang yang mendebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini, maka siapa yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? Atau siapa yang jadi pelindung mereka terhadap siksa Allah? (An Nisa : 109).

    Saya mengetahui bahwa kamu berlindung dengan tentara Dinasti Salul dan pasukan keamanan khusus mereka, dan sebelum orang-orang merasa betah berlindung dan mereka yakin bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka, maka Allah mendatangkan kepada mereka hukuman dari arah yang tidak disangka-sangka. Bila hari ini kekuatan kaum munafikin bisa melindungimu, maka siapa yang bisa melindungimu bila kamu sudah dimasukan ke dalam kuburan….?? Bila hari ini kamu merasa bangga dengan banyaknya pengikut dan kekuatan, maka apa yang akan kamu lakukan di hari setiap yang di langit dan di bumi datang dihadapan Ar Rahman sebagai hamba….??.

    Sepupumu yang lain melarang sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam hal qunut dan mendo’akan binasa untuk Yahudi dan Nashrani, karena mendo’akan binasa untuk Nashrani adalah mempersulit munafikin Dinasti Salul dihadapan kekasih mereka dari kalangan Nashrani, maka sepupumu melarang sunnah qunut (Nazilah) karena hal itu. Dan untuk orang-orang semacam dia dan kamu, maka Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah berkata :
    “Kapan saja orang alim meninggalkan apa yang dia ketahui dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta dia mengikuti putusan penguasa yang menyelisihi hukum Allah dan Rasul-Nya, maka ia murtad kafir yang berhak diberikan hukuman di dunia dan di akhirat”(Majmu Al Fatawa : 35/372-373).

    Sesungguhnya dia mencak-mencak dan berkata dengan penuh kebanggaan; “Sesungguhnya sebahagian kaum muslimin membanggakan Usamah bin Ladin. Ini adalah cacat dalam memahami Islam…..!!”Dan kami katakan kepadanya, “Subhanallah, membanggakan kaum mujahidin yang berusaha keras untuk membebaskan negeri Haromain (dua tanah suci) dari kaum salibis telah menjadi cacat dalam memahami Islam, sedangkan memuja kaum munafikin yang memberikan keleluasaan bagi kaum salibis dan memasukan mereka dengan fatwa-fatwa kalian dan menganggap mereka sebagai Ulil Amri yang wajib ditaati adalah Islam yang shahih….!!! Mengapa kalian berbuat demikian…?? bagaimana kamu mengambil keputusan??”
    Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah melarang kita untuk mengatakan kepada orang-orang munafikin “Tuan”, sedangkan dia berkata setiap hari “Tuanku pelayan dua tanah suci”. Kami tidak tahu, apakah membanggakan mujahid fi sabilillah adalah kejahatan…?? ataukah mengagungkan orang munafik yang menghadirkan orang-orang kafir di negeri Haromain dan memberikan mereka keleluasaan dengan suatu yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah jazirah Arab (adalah yang kejahatan)…??!

    Sekarang kami akan memulai membuka file-file kalian, agar umat mengetahui berapa banyak manusia yang telah tertipu oleh kalian dan oleh orang-orang semacam kalian dari kalangan yang telah menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah serta menjadikan dien ini sebagai pijakan bagi selera para penguasa itu.

    1. Kebusukan kalian yang paling pertama dalam menyelewengkan agama Allah adalah, bahwa kalian ini pilar-pilar utama dalam mengokohkan kekuasaan kaum munafikin yang loyal penuh terhadap musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi dan Nashrani. Kalian tidak merasa cukup dengan sikap diam dari mengatakan Al Haq dan tidak mengingkari Al Bathil, akan tetapi kalian melampaui itu sampai sikap memberikan tazkiyah bagi pemerintah Ahlu Salul dan menganggap sekedar mengingkari mereka sebagai bagian dari kemungkaran yang paling besar. Dan dengan ini kalian keluarkan fatwa-fatwa yang dengannya kalian anggap sebahagian du’at dan mushlihin sebagai penjahat. Dan dengan pernyataan dari kalian ini maka Ibnu Salul menjebloskan kaum mushlihin itu kedalam penjara betahun-tahun. Dan sebahagian dari mereka ada yang masih menjalani kezaliman di penjara, bukan karena apa-apa selain mereka mengatakan”Rabb kami adalah Allah, bukan Amerika atau Ibnu Salul….!!!”

    2. Dengan fatwa-fatwa yang kalian sepakati, kalian telah membuka negeri Haromain ini bagi setiap Nashrani pelacur dan bagi tentara Amerika cabul untuk melindungi pemerintahan Ibnu Salul. Kalian tidak cukup dengan membolehkan, akan tetapi kalian menjadikan pendatangan orang-orang kafir ke Biladul Haromain sebagai bagian dari kewajiban yang paling wajib…!! Dan pertimbangan kalian adalah bila Amerika tidak datang tentulah lenyap pemerintahan Ibnu Salul dan tentu Saddam (Husein) mengambil negerinya, sehingga kalian mengganti orang kafir dengan orang kafir untuk menetap diatas pemerintahan orang-orang munafik itu dan seluruhnya adalah buruk. Sedangkan yang paling buruk adalah orang-orang munafik karena orang-orang munafik berada didasar yang paling bawah dalam api neraka.

    Kemudian kalian tidak merasa cukup dengan hal itu, dan setelah berlalu 10 tahun semenjak kedatangan orang-orang liar itu, kalian tidak berhenti dibatas apa yang pernah dahulu kalian katakan diawal-awal fatwa kalian yaitu, “bahwa kami hanya sekedar meminta bantuan mereka”dan kalian menipu orang-orang yang benar dan baik, saat kalian menampakan bahwa masalahnya hanya sekedar isti’anah (meminta bantuan pertolongan), sedang setiap anak kecil di dunia ini mengetahui bahwa isti’anah itu bukan dengan bentuk Amerika datang dengan pasukannya beserta berbagai macam perlengkapan dan persenjataannya serta ia menetap dinegeri ini, ini bukan isti’anah tetapi ini penjajahan….!!!
    Saya katakan, kalian tidak merasa cukup dengan hal itu akan tetapi kalian memberikan keleluasaan bagi mereka, dengan cara kalian menjadikan sekedar penolakan terhadap Amerika yang Nashrani yang memerangi lagi menjadikan pangkalan militernya di negeri Al Haromain dan datang dengan segala kekuatan militernya sebagai kejahatan. Dan saat sebahagian ulama bangkit menolak keberadaan militer Amerika ini, maka kalian mengingkari mereka dan kalian memberikan izin kepada Dinasti Salul untuk memenjarakan mereka bertahun-tahun karena mereka mengingkari kemungkaran.

    Kemudian kalian tidak berhenti disini saja, akan tetapi kalian melampauinya dimana kalian menjadikan militer Kristen yang bersenjatakan paling modern itu sebagai kaum kafir mu’ahad dan kafir dzimmiy (kafir yang terlindungi harta dan darahnya), sedangkan alasan kalian adalah bahwa mereka itu datang dengan seizin Waliyul Amri dan kalian lemparkan sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam : “keluarkanlah kaum musyrikin dari jazirah Arab”.

    Kalian tidak perduli dengan hukum Allah dan hukum Rasul-Nya seperti kepedulian kalian yang sangat akan pengadaan jalan keluar bagi Dinasti Salul dari perangkap yang dijeratkan Saddam terhadap mereka. Semua itu atas nama agama dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Terus diatas qiyas yang rusak ini terbangunlah sikap kalian menjadikan kaum mujahidin yang mengumumkan jihad melawan Amerika sebagai Khawarij, sebagai orang-orang yang memerangi Allah dan para penebar kerusakan dimuka bumi. Kemudian kalian gulirkan fatwa-fatwa yang dengannya kalian halalkan darah empat orang dari pemuda pilihan Islam. Sedangkan kejahatan mereka tidak lain adalah karena membunuh orang-orang Amerika yang memerangi, padahal kamu sudah tahu bahwa orang muslim tidak boleh dibunuh dengan sebab ia membunuh orang kafir, dan bahwa alasan kalian itu rusak dari dasarnya karena orang-orang yang kalian anggap sebagai Waliyul Amri sebenarnya adalah orang-orang munafik yang merusak aturan Allah lagi memerangi agamaNya. Dan telah merasa yakin akan hal ini setiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Terus andai saja alasan qiyas kalian itu benar, maka sungguh ketidak bolehan membunuh orang muslim dengan orang kafir adalah hukum syar’iy yang mutlak yang tidak bisa digugurkan dengan ijtihad atau qiyas yang rusak dari kalian. Akan tetapi mata penglihatan tidak buta namun yang buta adalah mata hati yang ada didalam dada.

    Kemudian ini semua sudah berlalu, dan Syaikh Usamah bin Laden beserta orang-orangnya melepaskan tangannya dari kalian dan berkata : “Mereka itu ulama-ulama sesat yang terjungkir di dalam kesesatan dan tidak akan keluar darinya”. Maka akhirnya kembali Syaikh Usamah dan orang-orang yang bersamanya keluar dari negeri Haromain dan berangkat ke Afganistan dan beliau mengumumkan frontnya untuk memerangi Yahudi dan Nashrani Salibis serta berjihad di jalan Allah, akan tetapi beliau tetap dikejar-kejar oleh kejahatan kalian dan kalian mengeluarkan fatwa-fatwa yang mentahdzir (menghati-hatikan) manusia darinya dan kalian menganggap beliau dan para mujahidin sebagai Khawarij, padahal sesunguhnya Syaikh Usamah melarang para pemuda jihadi untuk memerangi kaum munafikin kalian dan beliau memerintahkan para mujahidin untuk mengarahkan serangan-serangannya terhadap orang-orang Amerika dan orang-orang kafir asli saja. Akan tetapi perbuatan itu tidak menyenangkan kalian, dan fatwa-fatwa kalian terus muncul dan menganggap sesat para mujahidin dan mentazkiyah (memberikan rekomendasi) bagi kaum munafikin, sehingga setiap kekasih Ibnu Salul telah menjadi kekasih kalian dan dilindungi oleh fatwa-fatwa kalian.

    Kalian tidak berhenti disana saja, akan tetapi saat para mujahidin pergi menyatroni halaman rumah-rumah orang kafir dan menyerang mereka pada 11 September, kalian tidak hati-hati dan ingat akan Allah Pencipta kalian serta minimal kalian diam, justru kalian mengeluarkan fatwa-fatwa yang menyalahkan jihad para mujahidin disana dan kalian menganggapnya sebagai tindakan peng-rusakan di muka bumi, serta kalian menangisi kematian orang-orang kafir Amerika…!! Dan yang menghentakan adalah dusta kalian atas nama Allah dan RasulNya saat kalian klaim bahwa jihad itu tidak sah kecuali dengan izin Waliyul Amri, sedang Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda :”Jihad itu berlangsung sampai hari kiamat”. Waliyul Amri di=otak kalian tidak lain adalah munafikin Dinasti Salul, padahal dibenak orang-orang mukmin sesungguhnya Dinasti Salul adalah penguasa yang paling dahsyat pemerangannya terhadap Allah dan Rasul-Nya dan yang paling besar perubahan dan penyelewengannya terhadap agama Allah.
    Bahkan kalian tidak berhenti dibatas itu saja, akan tetapi kalian mengajak kaum muslimin untuk membantu orang-orang kafir (memerangi) kaum muslimin -yang lain-…!! sebagaimana yang dilakukan oleh si sesat Ghanim As Sadlan saat dia mengajak umat untuk membantu orang Amerika melawan kaum muslimin. Maka ketenggelaman dalam kesesatan, kefasikan dan kebejatan macam apakah yang lebih dahsyat daripada hal ini….?! Dan orang ‘alim macam apa yang menyuruh manusia untuk membantu orang-orang kafir melawan kaum muslimin…..??

    Hai orang-orang yang disebut ulama….
    Demi Allah, sesungguhnya kalian ulama sesat dan demi Allah sesungguhnya Bal’am Bin Baura keadaannya lebih ringan daripada kalian, karena Bal’am melepaskan diri dari ayat-ayat Allah, sedangkan kalian adalah telah merubah agama Allah diatas pengetahuan dan mengatakan kepada manusia “Inilah Islam dan inilah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab….”

    Apa kalian tidak malu pada diri kalian sendiri, bagaimana dengan sebab kalian dan sebab pengguguran kalian akan hukum-hukum Allah yang tidak sejalan dengan para penguasa? Kalian jadikan Ahlus Sunnah sebagai bahan perolok-olokan bagi setiap ahli bid’ah dan kelompok-kelompok yang sesat serta bahan tertawaan bagi umat-umat yang lain? Apa kalian tidak malu dimana kalian telah menjadikan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab suatu yang lebih mudah tunduk bagi para penguasa daripada orang-orang Rafidlah kepada imam-imam mereka??

    Bila saja Rafidlah telah memberikan kema’shuman terhadap para imam dari kalangan shahabat keturunan Ali Radiyallahu anhum, sehingga mereka sesat dalam hal itu dan banyak menyesatkan manusia maka apa gerangan dengan kalian yang memberikan kema’shuman terhadap orang-orang yang minimal mereka itu dikatakan munafikin yang keterlaluan dalam kenifakannya? Ini dia yang mengaku dengan lisannya, bahkan ia merasa bangga dengan hal itu, yaitu telah menghabiskan 30 tahun bekerja dalam Dinas Intelejen yang loyal kepada Amerika, dan dia memberikan kekayaan ummat kepada orang-orang Amerika dan memerangi mujahidin yang dipimpin Syaikh Usamah. Namun demikian kalian tidak pernah berfikir untuk menasihatinya apalagi menyuruh dia taubat padahal dia telah melakukan salah satu kekafiran yang ditegaskan oleh kakek-kakek kalian dari kalangan ulama didalam kitab-kitab dan tulisan-tulisan mereka. Dan dia seharusnya disuruh taubat dan kaum muslimin bara’ darinya seluruhnya. Tidak terlintas dibenak kalian termasuk memberikan kesempatan bagi orang lain untuk mengomentarinya dan menyangsikan akan status dia sebagai bagian dari Ulil Amri, maka contoh mana yang lebih pas untuk sikap kalian memberikan kema’shuman terhadap Dinasti Salul daripada hal tersebut…..?

    Sedangkan kalian memiliki kesiapan untuk mengistitabah (menyuruh bertaubat) sebagian ulama yang baik dalam beberapa masalah yang tergolong masalah furui’iyyah (cabang) yang kecil, sebagaimana yang telah kalian lakukan saat kalian mempermalukan Syaikh Dibyan Ad Dibyan dalam masalah memotong janggut yang lebih dari segenggam, sedangkan kalian tidak sedikitpun memiliki rasa tanggung jawab untuk mengistitabah orang-orang tadi padahal dia itu ongkang-ongkangan dengan kekafiran, kemunafikinan dan keloyalannya terhadap musuh-musuh Allah dari kalangan bangsa Amerika dan yang lainnya.

    Dan khianat macam apa terhadap umat ini yang lebih busuk dari kumpulan-kumpulan kalian untuk memberikan fatwa tentang Pokemon -dan terima kasih untuk kalian, sungguh kalian telah memberikan manfaat bagi manusia, dan semoga Allah memberkati kalian- sedangkan tragedi-tragedi besar yang terjadi menimpa umat ini justru kalian tidak berbuat apa-apa dan tidak mampu membongkar benang merah dibelakangnya karena Dinasti Salul tidak meminta fatwa dari kalian. Mana kalian dari apa yang terjadi di Irak ? dan mana kalian dari apa yang terjadi di Afghanistan dan di Palestina? dan justru sikap pengecut dan buta mata hati pada si mufti ini telah sampai pada tahap dia mengharamkan operasi-operasi syahid di Palestina.

    Sesungguhnya kalian terombang-ambing dalam kesesatan dan kedurjanaan, dan masalah pemberian kema’shuman terhadap Dinasti Salul adalah masalah yang bisa dilihat oleh setiap orang yang punya mata, jelas sejelas matahari disiang bolong. Dan kalau tidak demikian maka jelaskan kepada saya bagaimana dahulu si mufti itu memfatwakan keharaman asuransi, kemudian tatkala asuransi itu dilegalkan bahkan diharuskan oleh Dinasti Salul terhadap manusia, maka orang sesat ini memerintahkan kaum muslimin untuk tunduk kepada Dinasti Salul dalam hal memakan harta mereka dengan cara yang bathil. Maka kecelakaan besarlah bagi dia akibat dari apa yang dia fatwakan dan kecelakaan besarlah baginya akibat yang dia lakukan. Dan yang membuat kita tertawa ialah bahwa ia menyuruh manusia untuk membayar dan tidak mengambil bunga dan kompensasi di belakang harta mereka. Bagus, tapi apa faedah kamu hai Syaikh…. sedang kamu telah memposisikan dirimu pada posisi orang-orang yang memikul amanah ilmu? Bagaimana kamu akan memberikan manfaat bagi manusia sedangkan kamu menyuruh mareka melakukan kesesatan kemudian kamu katakan kepada mereka : “jangan ambil bunga !” Bagaimana kamu akan melepaskan dirimu dari tangan-tangan yang akan bergelantung pada lehermu di hari kiamat akibat kejahatan-kejahatanmu terhadap hak Allah, hak Rasul, dan hak umat?

    Dan seperti apa yang telah kami buktikan bahwa kalian in lebih sesat daripada orang-orang Rafidlah, maka kami menetapkan juga bahwa kalian lebih sesat daripada Khawarij, apa kalian mau dalil-dalil? Ya, dalil dalil saya adalah bahwa kalian menghalalkan darah-darah manusia yang paling baik, yaitu para mujahidin saat kalian menganggap mereka sebagai perusak dan kalianpun memfatwakan agar mereka dibunuh, sedangkan orang-orang kafir asli yang menduduki jazirah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam dari kalangan Amerika, Yahudi, dan yang lainnya. Kalian anggap mereka sebagai kaum kafir dzimmiy yang terjaga darahnya lagi tidak boleh dibunuh. Dan ini salah seorang pengikut kalian dari kalangan orang-orang sesat telah memfatwakan bahwa dua orang pemuda yang memerangi tentara Amerika di Kuwait tidak akan mencium bau surga, kenapa alasannya hai orang sesat….?! Karena pemuda itu telah membunuh orang-orang Amerika sedangkan orang Amerika itu adalah kaum kafir dzimmiy, aneh…. aneh sekali ! Dalam fiqih, akal, dan tolak ukur apa kamu menganggap pasukan besar yang menetap disuatu tempat dengan berbagai perlengkapan perangnya sebagai kaum kafir dzimmiy?!

    Kalian memfatwakan untuk membunuh orang Islam dan kalian biarkan kaum salibis sedangkan ini ajaran Khawarij, sedangkan Khawarij justru tidak memberontak kecuali karena klaim alasan mereka ingin menegakkan Kitabullah, namun mereka menyimpang dan sesat. Sedangkan kalian justru malah menyuruh manusia untuk taat kepada orang yang tidak menegakan Kitabullah dari kalangan Dinasti Salul, dan kalian memerintahkan untuk membunuh orang yang menuntut penegakan Kitabullah dari kalangan mujahidin yang jujur dan yang lainnya dari para du’at dan orang-orang yang melakukan perbaikan. Apa kalian paham bahwa kalian lebih sesat dari Khawarij?

    Kalian dalam pandangan saya adalah lebih busuk daripada Dinasti Salul, karena Dinasti Salul adalah kaum munafikin yang mencari kekuasaan dan dunia, sedangkan kalian mengklaim bahwa kalian berbicara atas nama Allah dan bahwa kalian adalah pelindung dien ini sehingga kalian telah datang dengan agama -yang demi Allah- ia bukan sama sekali bukan agama Allah, akan tetapi ia termasuk kesesatan dan penyimpangan, maka jadilah kalian termasuk orang-orang yang Allah firmankan :
    “Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakan “Ini dari Allah”(dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit” (Al Baqarah : 79)

    Kejahatan-kejahatan kalian terhadap hak Allah dan Rasul-Nya tidak berhenti pada sikap diam saat larisnya kebathilan, akan tetapi telah melampaui pada batas kalian mendukung kebathilan ini dan menjadikannya sebagai asal (kebenaran), kemudian kalian berdusta atas nama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab saat kalian menganggap bahwa inilah madzhab salaf dan imam yang empat. Kalian tidak punya malu dari sikap kalian mempopulerkan kebathilan dengan lisan-lisan kalian, bahkan menyandarkannya kepada imam dan ulama ahlus sunnah -semoga Allah membersihkan para imam dari fitnah kalian-.

    Disaat dahulu para ulama adalah sebagai pemegang amanah bagi umat sepanjang sejarah, dan saat ilmu berpisah dari kekuasaan setelah Khilafah Rasyidah, para ulama membentuk lembaga yang kokoh lagi berkaitan dengan umat secara langsung yang menjaga dien ini dan menjamin bahwa penguasa bagaimanapun ia tenggelam dalam syahwat kekuasaan, ia tidak mampu merubah hukum atau loyal kepada orang-orang kafir atau menggugurkan jihad atau menghalalkan yang haram. Akan tetapi kalian pada masa sekarang yang seharusnya menjadi tumpuan amanah umat dan agama Allah dari tangan-tangan kotor yang merubah dan menyelewengkannya, ternyata kalian wal ‘iyadzubillah malah menjadi tumpuan amanah kaum munafikin, dan kalianlah yang mengokohkan pilar-pilar kemunafikan, dan kalian lah yang mengakui kekuasaan orang-orang bejat itu saat kalian menganggap mereka sebagai para pemimpin kaum muslimin, dan kalian menjadikan sekedar pengingkaran terhadap mereka sebagai kemungkaran, sehingga kalian telah melakukan hal terburuk saat tidak merasa cukup dengan diam dari kebathilan, akan tetapi kalian merekomendasikannya dan menjadikannya sebagai kebenaran sedang selainnya adalah kebathilan sehingga hal itu lahirlah kekuasaan disetiap pilar-pilar masayarakat.

    Dan tidaklah berlebihan bila saya katakan bahwa kalianlah yang bertanggung jawab langsung dari setiap kerusakan yang terjadi di negeri Al Haramain.
    Dengan sebab kalianlah digulirkannya hukum-hukum Islam terbesar yang paling pertamanya yaitu Al hukmu bima anzalallah. Ini mahkamah-mahkamah perdagangan menjadi saksi itu atas kalian, dan ini gedung riba dihadapan Masjidil Haram dan Mesjid Nabawi membongkar kebusukan-kebusukan kalian dihadapan khalayak…
    Dan dengan sebab kalian dan sikap diam kalian, orang-orang sekuler menguasai media pemberitaan dan menyebarkan kerusakan ditengah umat lewat jaringan-jaringan udara dan yang lainnya�.

    Dengan sebab kalian, kekayaan umat dihambur-hamburkan dan dipakai berfoya-foya oleh sekelompok kaum munafikin yang zalim dan otoriter…
    Dengan sebab kalian. kekuasaan sudah mendarah daging dan telah menjadi suatu hal yang tidak diingkari seorangpun, serta siapa yang berani mengingkari maka ia akan dijebloskan kepenjara�.

    Dengan sebab kalian orang-orang kafir mengendalikan negeri-negeri Islam dan negeri Islam yang paling suci tanah haramain…

    Dengan sebab kalianlah merejalelanya kekacauan dalam persidangan, merebak pula kezaliman dan hudud hanya ditegakan terhadap orang-orang yang lemah, namun tidak ditegakan terhadap seorangpun dari Alu Salul. Ini dia seorang pilar Alu Salul mencak-mencak bahwa Alu Salul tidak boleh ditegakan hudud terhadap mereka dihadapan kalian…

    Dan saya menambahkan ucapan buat ulama resmi pemerintah, bahwa kalian sama sekali tidak segan-segan dari mempermainkan agama dan menaklukannya sesuai keinginan-keinginan pemerintah. Ini dia Syaikh Al Mani’ saat ditanya tentang asuransi, dia berkata : “Bukankah ada perselisihan didalamnya dan ia itu tidak seperti keharaman zina? dan selagi ada perselisihan didalamnya menurut qiyas kalian, maka wajib mengikuti pemimpin dan mentaatinya karena ia memiliki hak ijtihad dalam memilih apa yang diperselisihkan”.

    Baik hai Mani’, sungguh dahulu Ahlus Sunnah telah berselisih dalam masalah khuruj (pemberontak) terhadap para penguasa yang fasiq, apalagi kalau orang-orang kafir, akan tetapi kenapa kalian menjadikan dalam fatwa-fatwa kalian dan alur pemikiran kalian masalah khuruj terhadap para penguasa itu termasuk dosa besar yang paling besar ? dan kalian menjadikannya sebagai masalah yang qath’iy (pasti) dan kalian tidak mempertimbangkan bahwa didalamnya telah terjadi perselisihan yang kuat dan jelas diantara ulama dari kalangan shahabat dan tabi’in ? Bahkan kalian berdusta atas nama Ahlus Sunnah saat kalian mengklaim bahwa mereka telah ijma untuk tidak khuruj terhadap penguasa itu, padahal para penuntut ilmu yang yunior saja mengetahui bahwa Ahlus Sunnah yang mengatakan tidak boleh khuruj terhadap para penguasa yang fasiq tidaklah mengatakan : wajib mentaati mereka dalam kesesatan dan dalam pengguguran hukum-hukum Islam, justru Ahlus Sunnah sepakat seluruhnya bahwa dia itu penguasa yang tidak memiliki puluhan perkara yang mengugurkan kekuasaan dan pemerintahan atas kaum muslimin. Kalian menjadikan mereka barisan para shahabat tidak boleh khuruj terhadap mereka dan tidak disentuh sedikitpun, apalagi kalau disejajarkan pada deretan para penguasa muslim yang fasiq?

    Dan dari sekarang dan seterusnya saya meminta dari umat agar tidak pergi lagi kepada mereka itu, karena hujjah sudah tegak atas mereka dan terbongkar sudah urusan mereka. Mereka tidak punya hak saat kita berjumpa dengan mereka selain kita bacakan kepada mereka :
    “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk setelah jelas bagi kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab. Mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati”.(Al Baqarah : 159)

    Wahai para pemuda umat, apabila kalian berjumpa dengan salah seorang dari mereka maka bacakanlah didepan mereka : Mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati. Hadapi mereka dengan ayat ini disetiap waktu sampai mereka kembali dari kesesatannya.

    Dan ketahuilah wahai para pemuda umat, bahwa terus menerus kalian dekat dengan mereka tidak akan menambah kecuali kedurjanaan dan kebejatan mereka, maka lemparilah mereka dengan halilintar Al Haq dan bacakanlah dihadapan mereka ayat-ayat dan hadist-hadist yang melaknat dan yang menghati-hatikan dari para ulama-ulama pengkhianat. Qana’ah-lah dari mereka secara total dan cucilah tangan dan hati dari mereka karena mereka adalah sumber segala kejahatan dan sumber dibalik setiap bencana. Jangan kalian menduga bahwa mereka bisa mengurai atau mengikat. Ini keputusan persahabatan telah berjalan sedang mereka diam, ini keputusan persekongkolan bersama Yahudi sedang mereka diam, bahkan diantara mereka ada yang memberkahinya, dan keputusan-keputusan yang lebih busuk dan lebih keji, maka tunggulah…..!!

    Dan mereka berkata kepada kamu : “kami akan menasihati para pengusa itu dan mengingatkan mereka”, maka ketahuilah bahwa mereka itu dusta dan tidak akan melakukannya, dan keputusan persaudaraan serta keputusan-keputusan lainnya yang telah lalu tidak akan dibatalkan karena pada dasarnya mereka itu dipasang untuk mengokohkan kekuasaan kaum munafikin itu, dan mereka tidak akan melakukan sesuatupun yang membahayakan pemerintah nifaq atau menggugurkan keabsahan-keabsahannya. Seandainya pada mereka itu terdapat kebaikan, tentulah mereka tidak akan berjalan terus diatas riba yang ditata dengan undang-undang lagi dilindungi oleh kaum munafikin lebih dari 30 tahun tanpa ada sedikitpun pengingkaran terhadap Dinasti Salul, dan tidak akan berjalan pula dalam tenggang waktu ini kegiatan penerapan budaya barat dinegeri ini, dan tidak akan tersisa seorang sekulerpun dalam aparatur negara seandainya memang para ulama itu melaksanakan kewajiban syar’iy dan amanah yang dibebankan oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Saya mengingatkan umat dan mengingatkannya dengan hal yang bahaya, yaitu pada contoh kaum Kristen, saat penguasa yang zalim bersekongkol dengan pendeta durjana, maka bangsa eropa bangkit berontak melawan dengan revolusi Prancis terhadap agama semuanya, mereka hempaskan agama dan berlindung dengan sekularisme. Dan bila kalian biarkan para ulama pengkhianat itu mengacak-acak agama Allah sesuka hati mereka, maka sungguh akibatnya -demi Allah- sangat hina.

    Benar bahwa agama Allah akan terjaga, akan tetapi al haq ini harus memiliki orang-orang yang menegakannya, kita tiada takut tetapi wajib hati-hati dari akibat-akibat seperti ini, dan kita katakan -dengan sebab karunia Allah-, sesungguhnya tidak mampu sekalipun Paus yang paling menyimpang dan raja yang paling zhalim dan bengis untuk menyembunyikan hakikat Islam serta orang-orang di dalamnya dari kalangan ahli ilmu yang memerangi (mereka) dengan cahaya al haq, dan para mujahidin selalu sigap terhadap orang yang berupaya menyesatkannya, dan yang paling terdepan adalah Syaikh kita yang terbimbing Usamah bin Laden -kita memohon taufik dan kemenangan baginya kepada Allah ta’ala-.

    Sebagaimana wajib atas kalian hai para pemuda Islam berkumpul disisi ahli ilmu yang masih tersisa yang mengarahkan al haq dan tidak takut di jalan Allah terhadap celaan orang yang mencela. Dekatlah dengan para Syaikh (yang jujur) dan jagalah mereka dengan dada kalian sebelum mereka terkena kebusukan dari kaum munafikin dan para ulama pengkhianat itu. Berkumpulah, semoga Allah memberkahi kalian disisi salaf, yaitu ahli ilmu yang mengharapkan wajah Allah !!

    Milikilah kitab-kitab Syaikh Hamud bin ‘Uqla Asy Syu’aibi rahimahullah dan berkeliling di sekeliling murid-muridnya dari kalangan yang kami nilai mereka diatas jalan yang benar. Mereka adalah amanah dileher kalian, dan jangan biarkan pedang-pedang nifaq dan khianat mampu menyentuh mereka dengan keburukan sampai Allah menentukan suatu yang pasti terjadi.

  8. Woii.. para wahabi salafi. Jamaah penuduh kafir, musyrik dan bid’ah.

    Baca tuh fatawa al kubra Ibnu Taimiyah!!!

    Biar ente tau kalo Ibnu Taimiyah aja baca shalawat.

  9. saran buat yang gemar sholawat, bersholawatlah sesuai dengan tuntunan Rosululloh saw, jangan dibuat-buat, jangan ditambah-tambah… pilihlah dari hadits yang shahih jangan yang dloif atau maudlu

  10. Assalammu’alaikum wr. wb.
    Kalo saya boleh memberikan saran, lebih baik kita kembali kepada keyakinan masing2. Mana yang kita yakini benar ya kita laksanakan, selama didalam ajaran itu tidak ada hal yang nyata2 melakukan pendustaan dan penghinaan kepada al-qur’an dan hadits ya kita ikuti aja, yang penting bagaimana kita bisa khusyu’ dalam melaksanakan shalat dan ibadah2 lainnya. Masalah kebenaran tentang suatu ajaran Allah SWT khan Al-Haqq, dan Dia juga Al-Alim, jadi kita nggak berhak mengutuk/menuduh orang atau suatu ajaran itu kafir atau tidak, apa lagi mereka juga punya dalil/nash. Andaikan dalam hati anda semua ada perasaan mempersalahkan atau tidak setuju dengan suatu ajaran/aliran islam tertentu spt diatas, cukuplah anda simpan dalam hati dan anda tidak perlu melaksanakan ajaran tersebut. Jangan mengeluarkan kata2 yang dapat menyebabkan perdebatan apalagi sampai perpecahan, karena siapa tahu aliran yang kita salahkan tadi justru benar dihadapan Allah SWT. Ingat wahai sahabatku semua, masih banyak saudara kita yang awam akan agama, jgn membuat mereka semua bingung. Yang salah itu yang nggak melaksanakan kewajiban agama (Shalat Lima Waktu, Puasa, Zakat,). Saya yakin Ilmu agama anda semua itu tinggi, jauh melampaui ilmu yang saya miliki. Namun saya cuman ingin mengingatkan, dengan tingginya ilmu bukan berarti anda harus melupakan ilmu yang dasar. InsyaAllah (semoga Allah SWT mengampuni kalo saya salah) Rasulullah SAW dalam sebuah hadits shahih pernah berkata : “HINDARILAH BERDEBAT (BERBANTAH-BANTAHAN) MESKIPUN KAMU SENDIRI BENAR”
    Demikian mohon maaf bila bahasa saya kurang berkenan di hati sahabat semua, semoga Allah SAW mengampuni dosa kita semua, dan semoga kita senantiasa berada dibawah petunjuk-Nya. Robbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa Wa Hab Lanaa Min Ladunka Rohmatan, Innaka Antal Wahhaab

  11. Assalammu’alaikum wr. wb.
    Kalo saya boleh memberikan saran, lebih baik kita kembali kepada keyakinan masing2. Mana yang kita yakini benar ya kita laksanakan, selama didalam ajaran itu tidak ada hal yang nyata2 melakukan pendustaan dan penghinaan kepada al-qur’an dan hadits ya kita ikuti aja, yang penting bagaimana kita bisa khusyu’ dalam melaksanakan shalat dan ibadah2 lainnya. Masalah kebenaran tentang suatu ajaran Allah SWT khan Al-Haqq, dan Dia juga Al-Alim, jadi kita nggak berhak mengutuk/menuduh orang atau suatu ajaran itu kafir atau tidak, apa lagi mereka juga punya dalil/nash. Andaikan dalam hati anda semua ada perasaan mempersalahkan atau tidak setuju dengan suatu ajaran/aliran islam tertentu spt diatas, cukuplah anda simpan dalam hati dan anda tidak perlu melaksanakan ajaran tersebut. Jangan mengeluarkan kata2 yang dapat menyebabkan perdebatan apalagi sampai perpecahan, karena siapa tahu aliran yang kita salahkan tadi justru benar dihadapan Allah SWT. Ingat wahai sahabatku semua, masih banyak saudara kita yang awam akan agama, jgn membuat mereka semua bingung. Yang salah itu yang nggak melaksanakan kewajiban agama (Shalat Lima Waktu, Puasa, Zakat,). Saya yakin Ilmu agama anda semua itu tinggi, jauh melampaui ilmu yang saya miliki. Namun saya cuman ingin mengingatkan, dengan tingginya ilmu bukan berarti anda harus melupakan ilmu yang dasar. InsyaAllah (semoga Allah SWT mengampuni kalo saya salah) Rasulullah SAW dalam sebuah hadits shahih pernah berkata : “HINDARILAH BERDEBAT (BERBANTAH-BANTAHAN) MESKIPUN KAMU SENDIRI BENAR”
    Demikian mohon maaf bila bahasa saya kurang berkenan di hati sahabat semua, semoga Allah SAW mengampuni dosa kita semua, dan semoga kita senantiasa berada dibawah petunjuk-Nya. Robbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa Wa Hab Lanaa Min Ladunka Rohmatan, Innaka Antal Wahhaab
    Wassalammualaikum Wr. Wb

  12. Pusiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing……….biarlah Allah yg menentukan mana yg benar dan mana yg tidak karena hanya dialah yg Maha menentukan dan Maha Adil………setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

  13. Assalammualaikum
    Semoga antum semua dirahmati Allah,
    Tuk GUS TOTONG, hey Ntong kalo ga punya Ilmu mendingan SUKUT (diem), ente menuduh Salafy maen kafir-kafirin seenaknya, padahal tidak pernah. Yang dikafirkan adalah perbuatannya yang menyekutukan Allah sedangkan pelakunya belum tentu, yang kafir adalah yang telah tegak hujjah atasnya, tidak kepada selainnya.

    Dan si Ntong ini malah dia sendiri yang dengan serampangan mengkafirkan Salafiyin tanpa hujjah yang ilmiyah dan shahih.
    HEY NTONG kalo masih belum paham juga sana gihh maen ke TK aja jangan ganggu urusan orang dewasa, belajar yang bener yaaa biar bisa masuk SD favorit.

    BUAT yang lain yang lagi pusing, jangan pasrah gitu aja. Cari yang benar itu sekarang…. kalo nanti di akherat sih DAH TELAT DONG. Jangan terserah masing masing, emangnya PAHAM Liberal semuanya baik yaaa tidak lahhh, “yang benar cuma satu”.
    Kalo boleh kasih clue ” cari yang sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah yang dipahami oleh para Salaf kita”

  14. Maaf merasa ilmu agama saya masih nol, namun sedikit pemahaman hukum yg saya ketahui dalam hukum islam itu ya paling atas adalah kitabullah al qor qn, kedua hadist selanjutnya ijma dan qias, adanya dalil yg bersumber dari selain itu tentu perlu adanya kehati hatian, dan tentu tidak bisa dijadikan dasar hukum yg kuat, contoh perkataan atau kebiasaan seseorang walauopun secara lahir beliau itu terlihat ahli ibadah tentu tidak bisa sebagai dasar hukum islam, namun jika perkataan atau kebiasaan itu memang sesuai dg hukum islam sbg diatas yg dapat memotivasi kita utk melaksanakan, singkatnya, walaupun seseorang itu bisa melakukan atau kelihatan dapat melakukan perbuatan luar biasa tetap harus hati2 utk tiba2 memberi predekat suci thp orang tsb, maaf ya.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a comment