Menyucikan Diri Sebagai Landasan Hidup ummat

Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly

Saudaraku seiman, semoga Allah menguatkan Anda dengan semangat dari-Nya. Perlu kiranya Anda mengetahui bahwa menyucikan diri merupakan alat untuk mengalirkan moral yang positif dari unsur-unsur keabadian umat yang besar dan kuat.

 

Umat itu akan survive bila masih memiliki nilai moral, bilanilai moralnya telah lenyap maka lenyap pula mereka.”

Atas dasar itu, perintah untuk menyucikan diri menjadi sangat dibutuhkan. Sebab, ia sangat mempengaruhi berdirinya masyarakat, baik negatif maupun positif. Penyucian diri merupakan prinsip yang mendasari berbagai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam diri manusia. Sehingga, ketika suatu jiwa sudah terbiasa dengan akhlak dan tingkah laku yang baik, maka jiwa dimaksud akan mempunyai kecenderungan untuk mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah Ta’ala dan memberlakukan manhaj-Nya.

Adakah perkataan yang lebih jujur dari firman Allah? Dia-lah yang pernah berfirman (artinya), “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya yang demikian itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32).

Akhlak mulia merupakan tulang rusuk syari’at yang penuh toleran, sekaligus menjadi pondasi agama yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Karenanya, jiwa harus dibentuk berdasarkan moral dimaksud sehingga ia mendapatkan keberuntungan dan berdiri berdasarkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Sumber: Buku Cara Para Nabi Menyucikan Diri halaman 11-12, Judul Asli: Manhaj al-Anbiya fi Tazkiyati an-Nufus. Penerjemah: Syamsuddin TU. Penerbit: Almahira.

Artikel oleh www.cambuk-hati.web.id

Membebaskan Diri dari Iri dan Dengki

Penulis: Ustadz Abu Qotadah

Sebelum penulis menjelaskan hakikat hasad, pembagiannya, bahayanya, pendorongnya dan pengobatannya, penulis sajikan terlebih dahulu akhlaq yang mulia yang merupakan lawan dari sifat iri dan dengki.

KEUTAMAAN MEMBEBASKAN HATI DARI IRI DAN DENGKI

Membebaskan hati dari iri dan dengki sangatlah berat. Hasad (iri dan dengki) dalam jiwa manusia tidak akan pernah sirna, dan setan akan masuk dari pintu ini untuk mengelincirkan manusia.

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menyatakan jasad tidak pernah kosong dari hasad, yang buruk adalah yang menampakkannya dan yang mulia yang menyembunyikannya.

Allah berfirman (yang artinya):
“… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahannya) orang ….” (QS. Ali imran[3]: 134)

Juga firman Allah (artinya):
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura[42]: 40)

Sahabat Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata: Kami sedang duduk-duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sekarang akan muncul di tengah-tengah kalian salah seorang penghuni surga.” Kemudian muncullah seseorang dari kaum Anshar di hadapan para sahabat dengan kondisi jenggotnya mengalirkan air berkas wudhunya, kejadian itu terjadi sampai tiga hari, sehingga pada hari yang ketiganya diikuti Abdullah bin ‘Umru ke rumahnya, dengan maksud untuk mengetahui kelebihan amal yang dilakukan orang itu, tetapi Abdullah bin ‘Umru tidak mendapatkan kelebihan selain kalau ia terbangun dia mengingat Allah, dia pun tidak didapati mengerjakan shalat malam, maka hamper saja Abdullah bin ‘Umru menghinakan amal orang itu, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda atasmu: ‘Akan muncul di tengah-tengah kalian salah seorang di antara penghuni surge, tiga kali.’ Kemudian kamu muncul tiga kali, kemudian aku bermalam di rumahmu dengan tujuan untuk mengetahui apa yang kamu amalkan, kemudian aku mengikutimu, hanya saja aku tidak melihat amal yang lebih utama.” Orang itu menjawab, “Itu yang kamu lihat.” Maka tatkala orang itu mau berpaling orang itu memanggilku lalu berkata (yang artinya):
ما هو إلاّ ما رأيت, غير أنّي لا أجد في نفسي لأحد من المسلميمين غشّا, ولا أحسده على شيء أعطاه الله إيّاه
“Tidak ada kelebihan selain yang kamu lihat, hanya saja tidak ada dalam hatiku rasa dendam terhadap sesama muslim dan tidak punya rasa iri (hasad) terhadap sesuatu yang Allah telah berikan kepadanya.”
Lalu Abdullah bin ‘Umru berkata: “Itulah sesuatu yang engkau telah memiliki dan yang kami tidak mampu.”

KEUTAMAAN BERSIKAP LEMAH LEMBUT DAN PEMAAF
Dari pelajaran di atas, jelaslah bahwa kelembutan merupakan sifat ahli iman yang sempurna, dan merupakan cirri khusus Ahli Sunnah wal Jama’ah. Allah berfirman (yang artinya)”

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dna telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr[59]: 9)

Dalam ayat di atas Allah telah memuji orang-orang Anshar dengan beberapa pujian, para ulama ahli tafsir berkata: “Yang dimaksud dengan (ولا يجدون في صدورهم حاجة مّمّا أوتوا) adalah tidak terdapat dalam hati mereka rasa iri dan dengki kepada nikmat Allah yang telah diberikan kepada kaum muhajirin, dari kedudukan, tingkatan, dan penyebutan (Muhajirin lebih didahulukan ketimbang penyebutan Anshar).”

Firman Allah ‘Azza wa Jalla (artinya):
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’”. (QS. al-Hasyr[59]: 10)

Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah kaum yang paling bersih hatinya terhadap para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga mereka dikatakan sebagai firqatun-najiyah (golongan yang selamat). Mereka tidak menyimpan kedengkian terhadap nikmat Allah yang telah diberikan kepada para sahabat, tetapi mereka berhati tulus dan bersih, sehingga mereka berdo’a kepada Allah dan menyampaikan pujian atas mereka, berbeda dengan apa yang dilakukan ahli bid’ah dari kalangan ornag-orang Rafidhah (syi’ah -red.).

Ahli Sunnah adalah orang yang paling tahu terhadap al-haq dan yang paling lemah lembut terhadap manusia. Dan demikianlah semestinya terhadap sesame kaum muslimin, hendaklah kita semua menghilangkan rasa dengki dna hasad, tanamkan dalam hati kita rasa gembira terhadap nikmat Allah yang Allah telah anugerahkan kepada orang lain. Redamlah angkara murka yang ada dalam hati kita, jadilah seseorang yang bersifat lemah lembut, pemaaf, dan tawadhu’.

Ingatlah wahai kaum muslimin –semoga Allah senantiasa merahmati kita- sesungguhnya sikap pemaaf tidaklah akan merendahkan derajat seseorang, bahkan justru dengan sebab itu akan terangkat derajatnya; Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ما مقصت صدقة من مال ولا زاد الله عبدا بعفو إلاّ عزّا و لا تواضع أحد لله إلاّ رفعه الله
Shadaqah tidak akan mengurangi sebagian dari harta, dan Allah tidak akan menambah kepada seorang hamba karena maaf melainkan kemuliaan, dan seseorang tidaklah bertawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam Nawawi Rahimahullah berkata: “وما زاد الله عبدا من العفو إلاّ عفّ mengandung dua makna: Pertama, dipahami secara zhahir yaitu: barangsiapa yang dikenal sebagai pemaaf maka akan menjadi mulia dan agung di hati (manusia), kemudian akan bertambah kemuliaannya. Kedua, yang dimaksud adalah pahalanya nanti di akhirat.” (Syarah Shahih Muslim)

Tiga poin di atas yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan akhlaq yang sangat mulia dan merupakan cirri kesempurnaan iman seseorang serta jalan untuk mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat.

Ketahuilah, sesungguhnya di antara sifat (karakteristik) manusia adalah bersikap bakhil (pelit), bersifat dendam yang merupakan buah dari angkara murka serta terus-menerus dalam kesombongan, yang semuanya itu merupakan sifat syaithaniyyah. Maka syara’ (agama yang mulia ini) bermaksud untuk melenyapkannya dengan: (1) Memberi motivasi terlebih dahulu untuk bershadaqah agar berhias dengan sifat kemurahan dan kedermawanan; (2) Memberi motivasi agar bersikap pemaaf supaya mendapatan kemuliaan dengan kelembutan dan kemurahan hati; (3) Memberi motivasi agar bersifat tawadhu’ supaya tinggi derajatnya di nuia dan akhirat.

Saya pernah mendapat cerita tentang imam zaman ini, Syaikh Abdullah bin Baz Rahimahullah dari salah seorang muridnya, bahwa beliau ditanya tentang sebab kecintaan kaum muslimin di berbagai pelosok dan pada umumnya kaum muslimin pada zaman ini baik kalangan muda atau orang tua merasa tenang jika telah mendapatkan fatwa dari beliau. Lalu beliau menjawab: “Tidaklah saya tidur kecuali saya telah membebaskan dan memaafkan siapa saja yang telah berbuat buruk atas diri saya.” Kemudian diceritakan bahwa telah datang seorang tamu dari luar Saudi Arabia, lalu dia mengabarkan: “Saya telah berburuk sangka kepadamu (wahai Syaikh), saya mendengar bahwa engkau banyak menyesatkan dan mengkafirkan orang, ternyata setelah saya bertemu denganmu dna mendengarkanmu secara langsung, semua itu tidaklah benar, maka saya bermaksud untuk minta maaf kepadamu.” Syaikh berkata: “Sesungguhnya saya telah memaafkanmu sebelum engkau meminta maaf kepada saya.”

Guru kami, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, pernah mendapatkan beberapa pertanyaan dari kaum muslimin yang ada di Belanda yang salah satu pertanyaannya adalah: “Apakah khatib Jum’at mesti menyampaikan khutbah dengan bahasa Arab?” Beliau yang mulia menjawab: “Harus dengan bahasa Arab.”

Lalu setelah menjawab, beliau memanggil salah seorang murid seniornya (yaitu Syaikh Abdurrahman al-‘Adnani –guru kami dalam bidang fiqih) dan beliau dimintai pendapat. Jawaban beliau berbeda dengan jawaban yang mulia Syaikh Muqbil, beliau (Syaikh Abdurrahman al-‘Adnani) menyatakan bahwa isi khutbah Jum’at mesti dengan lisan kaumnya (bahasa yang digunakan kaumnya) sebab inti dari khutbah adalah peringatan, maka khutbah tidak akan tercapai tujuannya jika tidak dipahami maknanya. Lalu Syaikh Muqbl yang mulia berkata: “Ambillah fatwa ini (fatwa Syaikh Abdurrahman).” Subhanallah, demikianlah ketawadhu’an para ulama, itulah akhlaq yang mulia.

TANBIH (PERINGATAN)
Bersikap lemah lembut dan pemaaf tidak berarti berdiam diri terhadap setiap penyimpangan, kesesatan, dan kemungkaran. Para ulama senantiasa menyampaikan nasihat, kritikan, bahkan pengingkaran yang terkadang dilakukan dengan kekuatan ucapan dna sikap manakala kemaslahatan mendorong untuk melakukan itu. Seperti apabila kondisi seseorang membahayakan agama dan umat.
Lihatlah apa yang dilakukan oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah memiliki akhlaq yang sempurna, kelembutan dan sifat pemaaf. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memboikot Ka’ab bin Malik dan dua temannya, tidak mengajak bicara dan tidak menjawab salamnya selama lima puluh hari, sampai Allah memaafkan mereka.

Tetapi bersamaan dengan itu kita dapatkan bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membebaskan dan memaafkan orang yang telah berbuat buruk kepada beliau; seperti Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memaafkan dua orang kafir Quraisy yang akan membunuhnya. Lalu setelah dapat menguasainya dan pedang ada di tangannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkannya dan membebaskannya sehingga mereka masuk Islam.

Dan demikianlah akhlaq yang mulia akan menjadi sebab timbulnya berbagai kebaikan.

# Selesai #
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Sumber: Majalah Al-Mawaddah, Edisi ke-8 Tahun ke-1, Shofar-Robi’ul Awwal 1429 H/ Maret 2008, Penerbit: Lajnah Dakwah Ma’had al-Furqan al-Islami
Artikel oleh http://www.cambuk-hati.web.id

Hati yang Sehat

Penulis: Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Karena ada hati yang disifati hidup dan sebaliknya maka keadaan hati dapat dikelompokkan menjadi tiga macam. Pertama, hati yang sehat yaitu hati yang bersih yang seorang pun tak bisa selamat pada Hari Kiamat kecuali jika dia datang kepada Allah dengannya, sebagaimana firman Allah (yang artinya),

(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara’: 88-89)

 

 

Disebut qalbun salim (hati yang bersih, sehat) karena sifat bersih dan sehat telah menyatu dengan hatinya, sebagaimana kata Al-Alim, Al-Qadir (Yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa). Di samping, ia juga merupakan lawan dari sakit dan aib.

 

Orang-orang berbeda pendapat tentang makna qalbun salim. Sedang yang merangkum berbagai pendapat itu ialah yang mengatakan qalbun salim yaitu hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Allah, bersih dan selamat dari berbagai syubhat yang bertentangan dengan berita-Nya. Ia selamat dari melakukan penghambaan kepada selain-Nya, selamat dari pemutusan hokum oleh selain rasul-Nya, bersih dalam mencintai Allah dan dalam berhukum kepada Rasul-Nya, bersih dalam ketakutan dan berpengharapan pada-Nya, dalam bertawakal kepada-Nya, dalam kembali kepada-Nya, dalam menghinakan diri di hadapan-Nya, dalam mengutamakan mencintai ridha-Nya di segala keadaan dan dalam menjauhi dari kemungkaran karena apa pun. Dan inilah hakikat penghambaan (ubudiyah) yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah semata.

 

Jadi, qalbun salim adalah hati yang selamat dari menjadikan sekutu untuk Allah dengan alas an apa pun. Ia hanya mengikhlaskan penghambaan dan ibadaah kepada Allah semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakal, inabah (kembali), merendahkan diri, khasyyah (takut), raja’ (pengharapan), dan ia menikhlaskan amalnya untuk Allah semata. Jika ia mencintai maka ia mencintai karena Allah. Jika ia membenci maka ia membenci karena Allah. Jika ia member maka ia memberi karena Allah. Jika ia menolak maka ia menolak karena Allah. Dan ini tidak cukup kecuali ia harus selamat dari ketundukan serta berhukum kepada selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia harus mengikat hatinya kuat-kuat dengan beliau untuk mengikuti dan tunduk dengannya semata, tidak kepada ucapan atau perbuatan siapa pun juga; baik itu ucapan hati, yang berupa kepercayaan; ucapan lisan, yaitu berita tentang apa yang ada di dalam hati; perbuatan hati, yaitu keinginan, cinta dan kebencian serta hal lain yang berkaitan dengannya; perbuatan anggota badan, sehingga dialah yang menjadi hakim bagi dirinya dalam segala hal, dalam masalah besar maupun yang sepele. Dia adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sehingga tidak mendahuluinya, baik dalam kepercayaan, ucapan maupun perbuatan, sebagaimana firman Allah (yang artinya),

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Hujurat: 1)

 

Artinya, janganlah engkau berkata sebelum ia mengatakannya, janganlah berbuat sebelum dia memerintahkannya. Sebagian orang salaf berkata, “Tidaklah suatu perbuatan –betapa pun kecilnya- kecuali akan dihadapkan pada dua pertanyaan: Kenapa dan Bagaimana?” Maksudnya, mengapa engkau melakukannya dan bagaimana kamu melakukannya? Soal pertama menanyakan tentang sebab perbuatan, motivasi atau yang mendorongnya; apakah ia bertujuan jangka pendek untuk kepentingan pelakunya, bertujuan duniawi semata untuk mendapatkan pujian orang dan takut celaan mereka, agar dicintai atau tidak dibenci ataukah motivasi perbuatan tersebut untuk melakukan hak ubudiyah (penghambaan), mencari kecintaan dan kedekatan kepada Tuhan Subhanahu wa Ta’ala dan mendapatkan wasilah (kedekatan) dengan-Nya.

 

Inti pertanyaan yang pertama adalah apakah kamu melaksanakan perbuatan itu untuk Tuhanmu atau engkau melaksanakannya untuk kepentingan dan hawa nafsumu sendiri? Sedang pertanyaan yang kedua merupakan pertanyaan mutaba’ah (mengikuti) Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam soal ibadah tersebut. Dengan kata lain, apakah perbuatan itu termasuk yang diisyaratkan kepadamu melalui lisan Rasul-Ku atau ia merupakan amalan yang tidak Aku syariatkan dan tidak Aku ridhai? Yang pertama merupakan pertanyaan tentang keikhlasan dan yang kedua pertanyaan tentang mutaba’ah kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amalan pun kecuali dengan syarat keduanya.

 

Jalan untuk membebaskan diri dari pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan keikhlasan dan jalan untuk membebaskan diri dari pertanyaan kedua yaitu dengan merealisasikan mutaba’ah, selamatnya hati dari keinginan yang menentang ikhlas dan hawa nafsu yang menentang mutaba’ah. Inilah hakikat keselamatan hati yang menjamin keselamatan dan kebahagiaan.

 

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Sumber: Buku Manajemen Kalbu: Melumpuhkan Senjata Syetan (edisi II) halaman 1-3. Judul asli: Mawaridul Aman Al-Muntaqa min Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan. Penulis: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Penerjemah: Ainul Haris Umar Arifin Thayib, Lc. Penerbit: Darul Falah, Jakarta.

Artikel oleh: www.cambuk-hati.web.id

Penyakit-Penyakit Hati

Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi  

Hati itu dapat hidup dan dapat mati, sehat dan sakit. Dalam hal ini, ia lebih penting dari pada tubuh.
Allah berfirman, artinya:
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.” (Al-An’am : 122)

Artinya, ia mati karena kekufuran, lalu Kami hidupkan kembali dengan keimanan. Hati yang hidup dan sehat, apabila ditawari kebatilan dan hal-hal yang buruk, dengan tabi’at dasarnya ia pasti menghindar, membenci dan tidak akan menolehnya. Lain halnya dengan hati yang mati. Ia tak dapat membedakan yang baik dan yang buruk.

Dua Bentuk Penyakit Hati:

Penyakit hati itu ada dua macam: Penyakit syahwat dan penyakit syubhat. Keduanya tersebut dalam Al-Qur’an.
Allah berfirman, artinya:
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melembut-lembutkan bicara) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. ” (Al-Ahzab:32)
Ini yang disebut penyakit syahwat.

Allah juga berfirman, artinya:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya…” (Al-Baqarah : 10)
Allah juga berfirman, artinya:
“Dan adapun orang yang didalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada).” (At-Taubah : 125)

Penyakit di sini adalah penyakit syubhat. Penyakit ini lebih parah daripada penyakit syahwat. Karena penyakit syahwat masih bisa diharapkan sembuh, bila syahwatnya sudah terlampiaskan. Sedangkan penyakit syubhat, tidak akan dapat sembuh, kalau Allah tidak menanggulanginya dengan limpahan rahmat-Nya.

Seringkali penyakit hati bertambah parah, namun pemiliknya tak juga menyadari. Karena ia tak sempat bahkan enggan mengetahui cara penyembuhan dan sebab-sebab (munculnya) penyakit tersebut. Bahkan terkadang hatinya sudah mati, pemiliknya belum juga sadar kalau sudah mati. Sebagai buktinya, ia sama sekali tidak merasa sakit akibat luka-luka dari berbagai perbuatan buruk. Ia juga tak merasa disusahkan dengan ketidak mengertian dirinya terhadap kebenaran, dan keyakinan-keyakinannya yang batil. “Luka, tak akan dapat membuat sakit orang mati.” *). Terkadang ia juga merasakan sakitnya. Namun ia tak sanggup mencicipi dan menahan pahitnya obat. Masih bersarangnya penyakit tersebut di hatinya, berpengaruh semakin sulit dirinya menelan obat. Karena obatnya dengan melawan hawa nafsu. Itu hal yang paling berat bagi jiwanya. Namun baginya, tak ada sesuatu yang lebih bermanfaat dari obat itu. Terkadang, ia memaksa dirinya untuk bersabar. Tapi kemudian tekadnya mengendor dan bisa meneruskannya lagi. Itu karena kelemahan ilmu, keyakinan dan ketabahan. Sebagai halnya orang yang memasuki jalan angker yang akhirnya akan membawa dia ke tempat yang aman. Ia sadar, kalau ia bersabar, rasa takut itu sirna dan berganti dengan rasa aman. Ia membutuhkan kesabaran dan keyakinan yang kuat, yang dengan itu ia mampu berjalan. Kalau kesabaran dan keyakinannya mengendor, ia akan balik mundur dan tidak mampu menahan kesulitan. Apalagi kalau tidak ada teman, dan takut sendirian.

Menyembuhkan Penyakit Dengan Makanan Bergizi dan Obat:

Gejala penyakit hati adalah, ketika ia menghindari makanan-makanan yang bermanfaat bagi hatinya, lalu menggantinya dengan makanan-makanan yang tak sehat bagi hatinya. Berpaling dari obat yang berguna, menggantinya dengan obat yang berbahaya. Sedangkan makanan yang paling berguna bagi hatinya adalah makanan iman. Obat yang paling manjur adalah Al-Qur’an masing-masing memiliki gizi dan obat. Barangsiapa yang mencari kesembuhan (penyakit hati) selain dari Al-kitab dan As-sunnah, maka ia adalah orang yang paling bodoh dan sesat.
Sesungguhnya Allah berfirman:
“Katakanlah: “Al-qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat jauh.” (Fushshilat : 44)

Al-qur’an adalah obat sempurna untuk segala penyakit tubuh dan hati, segala penyakit dunia dan akherat. Namun tak sembarangan orang mahir menggunakan Al-qur’an sebagai obat. Kalau si sakit mahir menggunakannya sebagai obat, ia letakkan pada bagian yang sakit, dengan penuh pembenaran, keimanan dan penerimaan, disertai dengan keyakinan yang kuat dan memenuhi syarat-syaratnya. Tak akan ada penyakit yang membandel. Bagaimana mungkin penyakit itu akan menentang firman Rabb langit dan bumi; yang apabila turun di atas gunung, gunung itu akan hancur, dan bila turun di bumi, bumi itu akan terbelah? Segala penyakit jasmani dan rohani, pasti terdapat dalam Al-qur’an cara memperoleh obatnya, sebab-sebab timbulnya dan cara penanggulangannya. Tentu bagi orang yang diberi kemampuan mamahami kitab-Nya.

*) [Penggalan akhir bait sya’ir Al-Mutanabbi, yang mana penggalan awalnya adalah: “Orang yang hina, akan mudah mendapat kehinaan]

Tanda-Tanda Sakit Hati Dan Mengembalikannya Agar Sehat Kembali Serta Cara Mengetahui Orang Lain Dan Aib Dirinya

Ibnu Qudamah Setiap anggota badan manusia diperuntukkan untuk tugas yang khusus. Adapun tanda sakitnya ialah ketidakmampuannya melaksanakan tugas itu, atau tugas itu bisa dilaksanakan dalam keadaan kacau. Tangan yang sakit terlihat dari ketidakmampuannya memegang. Mata yang sakit terlihat dari ketidakmampuannya melihat. Hati yang sakit terlihat dari ketidakmampuannya melaksanakan tugas khusus yang karenanya ia diciptakan, yaitu ilmu, hikmah, ma’rifat, mencintai Allah dan beribadah kepada-Nya serta mementingkan semua ini daripada setiap bisikan nafsu. Orang yang mengetahui segala sesuatu, tetapi tidak mengetahui Allah, seakan-akan dia tidak mengetahui sesuatu pun. Tanda ma’rifat adalah cinta. Siapa yang mengetahui Allah tentu mencintai-Nya. Adapun tanda cinta adalah tidak mementingkan sesuatu dari sekian banyak hal-hal yang dicintainya daripada Allah. Siapa yang lebih mementingkan sesuatu yang dicintainya daripada cintanya kepada Allah, berarti hatinya sakit, sebagaimana perut yang yang lebih suka memakan tanah daripada roti, maka perutnya tidak beres alias sakit. Penyakit hati ini tersembunyi. Boleh jadi pemiliknya tidak tahu, karena itu dia mengabaikannya. Kalau pun tahu, mungkin dia tidak sabar menanggung pahitnya obat, karena obatnya adalah menentang nafsu. Kalaupun dia sabar, belum tentu dia mendapatkan dokter yang bisa mengobatinya. Dokter di sini adalah para ulama. Sementara penyakit pun sudah menjangkiti mereka. Dokter yang sakit jarang yang mau mengobati orang lain yang sakit, sehingga penyakit menjadi menyebar kemana-mana dan ilmu pun hilang, obat hati dan penyakit hati sama-sama dibiarkan, manusia hanya sekedar melakukan ibadah-ibadah zhahir, sedangkan di dalam batinnya hanya sekedar tradisi. Inilah yang disebut tanda sumber penyakit. Untuk mengetahui keadaan agar segar kembali setelah berusaha melakukan pengobatan ialah dengan melihat jenis penyakitnya. Pengobatan penyakit kikir ialah dengan mengeluarkan harta, tapi tidak perlu berlebih-lebihan dan boros. Penyakit lain dengan pengobatannya sendiri-sendiri, seperti panas dengan dingin agar tidak semakin panas dan tidak menjadi terlalu dingin, agar tidak menjadi penyakit baru. Yang dituntut adalah jalan tengah. Jika engkau ingin melihat jalan tengah ini, lihatlah kepada dirimu sendiri. Jika menumpuk harta dan mempertahankannya lebih engkau sukai dan lebih mudah daripada mengeluarkannya sekalipun kepada orang yang berhak, maka ketahuilah bahwa yang ada pada dirimu adalah sifat kikir. Maka obatilah jiwamu dengan mengeluarkan harta itu. Jika mengeluarkan harta itu kepada orang, yang lebih engkau sukai, maka tahanlah sedikit harta itu, karena yang ada pada dirimu adalah pemborosan. Janganlah engkau lebih condong untuk mengeluarkan harta atau menahannya. Buatlah harta itu mengalir seperti air di sisimu. Engkau tidak menuntut air itu untuk berhenti bukan untuk suatu keperluan, atau mengalirkannya secara deras untuk orang yang memerlukannya. Setiap hari yang bisa seperti itu akan mendatangi Allah dalam keadaan selamat. Seseorang harus terbebas dari segala akhlak (jelek), agar dia tidak mempunyai hubungan dengan sesuatu pun dari keduniaan, agar jiwa dapat meninggalkan dunia dalam keadaan memutuskan hubungan dengannya, tidak menoleh kepadanya dan tidak mengharapkannya. Pada saat itu dia akan kembali kepada Rabb-nya sebagaimana kembalinya jiwa yang muthma’inah. Karena jalan tengah yang hakiki antara dua sisi itu cukup sulit dideteksi, bahkan lebih lembut daripada sehelai rambut dan lebih tajam daripada pedang, maka tidak aneh siapa yang bisa melewati jalan yang lurus ini di dunia, tentu akan bisa melewati jalan ini pula di akherat. Karena sulitnya istiqomah, maka hamba diperintahkan membaca, “Ihdinash-shirathal-mustaqim” beberapa kali setiap hari. Siapa yang tidak sanggup istiqamah, hendaklah dia berusaha mendekati istiqamah, karena keselamatan itu hanya dengan amal shalih. Sementara itu, amal yang shalih tidak keluar kecuali dari akhlak yang baik. Maka hendaklah setiap hamba mencari sifat dan akhlaknya sendiri, hendaklah mengobati satu persatu dan hendaklah bersabar dalam masalah ini (karena dia akan mendapatkan keadaan yang enak seperti halnya anak kecil yang tadinya enggan disapih, tapi lama-kelamaan dia merasa enaknya di sapih. Bahkan andaikan dia ditawari untuk menyusu lagi, tentu dia akan menolaknya). Siapa yang menyadari umur yang pendek jika dibanding dengan kehidupan akherat yang panjang, maka dia akan berani menanggung beratnya perjalanan selama beberapa hari, untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi. Dikutip dari: Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy, “Muhtashor Minhajul Qoshidin, Edisi Indonesia: Minhajul Qashidhin Jalan Orang-orang yang Mendapat Petunjuk”, penerjemah: Kathur Suhardi, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, 1997, hal. 193-195.