Syubhat Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab

Menjawab Syubhat Seputar Al Mujaddid Asy Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab *

–rahimahullah-

Banyak dari kelompok/hizb yang menisbatkan dirinya kepada Islam bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengaku bagian dari Sunniyah atau ahlus sunnah, namun hal itu memerlukan lebih dari sekedar penisbatan saja. Maka bagi mereka yang mengaku Ahlus Sunnah Wal Jama’ah haruslah memiliki metode/manhaj para salaf itu sendiri yang tidak lain mereka itu adalah induk dari pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Maka tak ada harganya bila seseorang dengan keras mengaku Ahlu Sunnah (Sunniyah) namun tidak diiringi oleh pemahaman para salaf. SUNGGUH TIDAK BERHARGA!!

Betapa pun pandainya seeokor burung Beo berbicara

Sungguh itu semua tidak berarti apa-apa

Saat ini ada sebagian orang dari hizb-hizb tersebut yang berani menghujat seorang ulama bukan bertujuan untuk mengkoreksi kesalahannya, namun hanya karena rasa DENGKI dan DENDAM pada hatinya ketika melihat dakwah sang Imam menyebar luas dan disambut dengan baik oleh umat Islam yang masih memiliki akal sehat, memiliki hati yang bersih dan masih diberikan Hidayah oleh Allah –azza wajala-, serta dakwah sang Imam menjelaskan kesesatan para Ruwaibidlah yang berlagak Alim dengan Al Basyirah dan Al Bayan hingga mereka tak mampu berhujjah lagi. Hingga kini timbullah rasa dengki dan dendam yang membabi buta sehingga sirnalah akal sehat mereka itu dimakan egonya lantas menghalalkan segala cara untuk membalas dendam, namun bagaimanapun juga hujjah kebathilan itu lemah seperti sarang laba-laba. Hal ini tersirat dalam firman-Nya:?

“Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.” [Al-Anbiya’ : 18].

Salah satu Syubhat mereka anggap sebagai hujjah (intinya) adalah “Bahwa kakak sang Imam menulis buku bantahan kepada beliau dengan judul As Sawaiqul Illahiyyah fir Ar Raddi Ala Al Wahhabiyah (dalam judul India) tapi judul yang lebih tepat adalah “Fashlul Khitab fii Ar Raddi Ala Muhammad bin Abdul Wahhab sebab gelar wahhabiyyah saat itu belum dinisbatkan kepada beliau oleh kaum Zindiq yang membenci dakwah beliau (terbukti bukan!? bagaimana mereka sangat menaruh dendam hingga mengganti judul kitab tersebut).

Jawaban dari saya, “Memang betul Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab menulis bantahan kepadanya, namun hal ini tidak membuktikan apa-apa, dan beliau (Syaikh Sulaiman) telah ruju’ kembali kepada manhaj salaf sejalan dengan sang Imam (Syaikh Muhammad)”.

Mengenai ruju’nya sang kakak dan taubatnya menuju manhaj salaf ini disebutkan oleh Ibnu Ghannam (Tarikh Nejed 1/143), Ibnu Bisyr (Unwan Majd hal. 25), Syaikh Mas’ud An Nadawi (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlih Mazhlum 48-50), Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (Ta’liq Syaikh Muhammadbin Abdul Wahhab hal. 95), Syaikh Ahmad bin Hajar Alu Abu Thami (Syaikh Muhammadbin Abdul Wahhab hal. 30), Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwa’ir (Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab Syaikh muftara ‘alaihi lihat majalah Buhuts Islamiyah edisi 60/1421H), Syaikh Nashir Abdul Karim Al Aql (Islamiyah la Wahhabiyah hal. 183), Syaikh Muhammad As Sakakir (Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab wa Manhajuhu fi Dakwah hal. 126), Syaikh Sulaiman bin Abdurrahman Al Huqail (Hayat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 26. yang diberi kata pengantar oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh), dll.

Syaikh Sulaiman menulis bantahan tersebut ketika menjabat menjadi qadli di Huraimila, disebabkan karena cemburu dan akhirnya diberi hidayah oleh Allah I. Beliau bertemu dengan Syaikh Muhammad di Dar’iyah tahun 1190 H. dan disambut baik oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab”.

Para musuh Tauhid sangat gembira dengan adanya kitab Syaikh Sulaiman tersebut, namun mereka sangat malu untuk menyebut taubatnya Syaikh Sulaiman (Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlih Mazhlum hal. 48-50).

Baiklah…, kita anggap beliau (Syaikh Sulaiman) tidak ruju’ kepada pemahaman sang adik (Syaikh Muhammad), lantas apakah dengan adanya sebuah bantahan dari sang kakak menjadikan dia seorang yang sesat!? Sungguh itu hal yang sangat lucu bagi kaum yang masih dapat berfikir, apalagi bantahan tersebut tidak membuktikan kesalahan sang Imam.

Sebuah hadits menyatakan:

“Barang siapa yang amalnya lambat, maka nasabnya tidak dapat mempercepatnya”

( Muslim 2699)

Al Hafizh Ibnu Rajab berkata: Maksud hadits diatas adalah amal perbuatanlah yang menghantarkan seorang hamba ke akhirat, sesuai dengan firman Allah: Dan tiap-tiap orang akan memperoleh derajat dengan apa yang dikerjakannya…. (Al An’am:132)

Maka barang siapa yang amalnya tidak menghantarkan ke derajat yang tinggi di sisi Allah maka Nasabnya tidak bisa menolongnya….. (Jami’ul Ulum wal Hikam 2/308-310)

Ayat diatas menjelaskan tentang hubungan nasab tidak berpengaruh terhadap derajat seseorang dihadapan Allah I. Sebagai perbandingan yang sangat besar adalah Rasulullah r , “bahwa dakwah Rasulullah r selalu ditentang oleh kerabat-kerabatnya sendiri seperti Abu Thalib, Abu Jahl, Abu Shofyan (sebelum Islam), lantas apakah ini membuktikan dakwah Rasulullah adalah dakwah yang bathil????

Sungguh akan menjadi seorang yang kafir bagi seseorang yang berkata “dakwah Rasulullah r adalah bathil karena ditentang oleh kerabat-kerabat dekatnya”.

Hujjah mereka seperti sarang laba-laba yang rapuh disebabkan hati yang telah diselimuti dukhan aswad (kabut hitam) ditambah dengan emosi yang membara maka akan menghilangkan niat mencari kebenaran, yang timbul hanyalah rasa dendam yang menghalalkan segala cara yang tidak adil dan menghilangkan amanat ilmiyah, sungguh nista apabila ada yang menzhalimi seorang muslim seperti itu apalagi kepada seorang Alim, ingat yaa akhi…

Artinya: “Barangsiapa berbicara tentang seorang mukmin apa yang tidak ada padanya, niscaya Allah tempatkan dia di dalam lumpur racun penghuni neraka sampai dia keluar dari apa yang telah dia ucapkan, dan dia tidaklah akan keluar!” [HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Baihaqi, dari Ibnu Umar, di shahihkan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi di dalam Ru’yah Waqi’iyyah hal: 84]

Lihat hai kaum yang oleh Allah dikaruniai akal sehat, jadi sebuah bantahan dari kakak sang imam ini tidak membuktikan apa-apa. Demikian juga kepada bantahan lainnya yang tertuju kepada manhaj yang haq ini harus ditimbang dengan Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman para salafus shalih, bila syarat ini telah terpenuhi maka tak ada celah lagi bagi kami untuk tidak ruju’ kepada kebenaran yang dibawa.

Yang saya heran dari para pembela bid’ah ini adalah “mereka selalu gembira bila ada yang merendahkan dan mencela para pembela Sunnah ini tanpa mau bersusah-susah menteliti dengan seksama”.

Saya kuatir mereka seperti apa yang disebutkan oleh Imam Asy Syatibi dalam kitab Al I’tisham “para pengekor hawa nafsu dari kalangan ahli bid’ah selalu gembira bila ada suatu dalil yang mendukung bid’ahnya, lantas mereka mengangkat dalil tersebut dan memalingkan maknanya agar sesuai dengan apa yang diinginkan”

Seandainya kita anggap kritikan Syaikh Sulaiman Al Wahhab ini terdapat kebenaran di dalamnya, maka tidak akan ada cela sedikitpun kepada manhaj salaf yang mulia ini, Dimana sang Imam hanyalah salah satu Ulama yang dapat tersalah dan kami akan tinggalkan pendapatnya yang keliru dan beliau tetap mendapat satu pahala atas ijtihadnya, namun berbeda bagi seseorang yang tidak menempuh manhaj salaf, bila ijtihadnya betul maka akan tetap mendapat dosa karena itu hanyalah kebetulan belaka tidak melalui jalur yang benar.

Namun sangat berbeda dengan para pengekor hawa nafsu, bila ada yang mengkritik tokoh mereka, maka mereka dengan serampangan dan emosi membantah kritikan tersebut dengan akalnya yang dlaif tanpa mau menimbangnya dengan Al Qur’an dan As Sunnah ala Fahmis Salaf. Bahkan tidak sedikit tokoh mereka telah terbukti kesesatan dan pendapatnya, namun mereka tetap mengekor dengan teguh terhadap kesalahannya tersebut… TANYA KENAPA???????

Daud Al Ayyubi

)* Kiriman seorang teman 

21 Comments

  1. saya heran juga, apa anda sudah baca bukunya syaikh sulaiman? setahu ana sampai matipun syaikh sulaima tidak pernah menyetujui cara adeknya muhammad bin abdul wahab, sampai pada suatu ketika karena beliau selalu membantah dakwah adeknya, beliau bertanya kepada muhammad bin abdul wahab, berapa rukun islam, dan muhammad menjawab 5, lalu ysaikh sulaiman menjawab, tp kamu telah menjadikannya 6, menjadikan org yang mengikutimu muslim dan yang menentangmu kafir, itylah rukun islam yang ke enam bagimu, dengan itu, ysaikh sulaiman di ancam bahkan hampir di bunuh, tapi beliau lari ke madinah, tahukan anda itu? bahkan ayah muhammad sendiri menyuruh org2 pada waktu itu untuk berhati2 dengan muhammad, begitu juga syaikh2 muhammad telah berpirasat klu nanti muhammad akan membawa fitnah, tahukan ada itu? atau anda memang tidak tahu atau menutup – nutupinya?
    maka sy mengatakan, kalianlah yang membuat bid’ah sayyiah, aya musyabihun wa ya mujasamiyun.
    berapa banyak kaum muslimin yang di bunuh muhammad bin abdul wahab, hanya karena tidak mengikuti dia, begitu juga dengan kalian, berapa banyak org saudara kalian muslim dan golongan muslimin lainnya yang kalian syirikkan dan mengatakan zindiq dan ahli bid’ah? sadar wahai yang mengaku salafiyun, bahwa anda bukan salafitun dan apa yang anda lakukan bukan kerjaan salafiyun

  2. Membaca Salafi, Wahabi dan Khawarij
    Friday, June 23 2006

    Oleh: Muchtar Luthfi

    Dalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf menurut Imam Ahmad bin Hambal dapat diperhatikan dari kekacauan zaman saat itu. Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme yang diboyong oleh pengikut Muktazilah yang meyakini keturutsertaan dan kebebasan akal secara ekstrim dan radikal dalam proses memahami agama. Sedang disisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam, termasuk Ahmad bin Hambal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu, lantas Ahmad bin Hambal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.

    ————————————————————–
    AKHIR-AKHIR INI, di Tanah Air kita muncul banyak sekali kelompok-kelompok pengajian dan studi keislaman yang mengidentitaskan diri mereka sebagai pengikut dan penyebar ajaran para Salaf Saleh. Mereka sering mengatasnamakan diri mereka sebagai kelompok Salafi. Dengan didukung dana yang teramat besar dari negara donor, yang tidak lain adalah negara asal kelompok ini muncul, mereka menyebarkan akidah-akidah yang bertentangan dengan ajaran murni keislaman baik yang berlandaskan al-Quran, hadis, sirah dan konsensus para salaf maupun khalaf.

    Dengan menggunakan ayat-ayat dan hadis yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir, zindiq dan munafiq, mereka ubah tujuan teks-teks tersebut untuk menghantam para kaum muslimin yang tidak sepaham dengan akidah mereka. Mereka beranggapan, bahwa hanya akidah mereka saja yang mengajarkan ajaran murni monoteisme dalam tubuh Islam, sementara ajaran selainnya, masih bercampur syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul yang harus dijauhi, karena sesat dan menyesatkan. Untuk itu, dalam makalah ringkas ini akan disinggung selintas tentang apa dan siapa mereka. Sehingga dengan begitu akan tersingkap kedok mereka selama ini, yang mengaku sebagai bagian dari Ahlusunnah dan penghidup ajaran Salaf Saleh.

    DEFINISI SALAFI

    Jika dilihat dari sisi bahasa, Salaf berarti yang telah lalu.[2] Sedang dari sisi istilah, salaf diterapkan untuk para sahabat Nabi, tabi’in dan tabi’ tabi’in yang hidup di abad-abad permulaan kemunculan Islam.[3] Jadi, salafi adalah kelompok yang ‘mengaku’ sebagai pengikut pemuka agama yang hidup dimasa lalu dari kalangan para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Baik yang berkaitan dengan akidah, syariat dan prilaku keagamaan.[4] Bahkan sebagian menambahkan bahwa Salaf mencakup para Imam Mazhab, sehingga salafi adalah tergolong pengikut mereka dari sisi semua keyakinan keagamaannya.[5] Muhammad Abu Zuhrah menyatakan bahwa Salafi adalah kelompok yang muncul pada abad ke-empat hijriyah, yang mengikuti Imam Ahmad bin Hambal. Kemudian pada abad ketujuh hijriyah dihidupkan kembali oleh Ibnu Taimiyah.[6]

    Pada hakekatnya, kelompok yang mengaku sebagai salafi yang dapat kita temui di Tanah Air sekarang ini, mereka adalah golongan Wahabi yang telah diekspor oleh pamuka-pemukanya dari dataran Saudi Arabia. Dikarenakan istilah Wahabi begitu berkesan negatif, maka mereka mengatasnamakan diri mereka dengan istilah Salafi, terkhusus sewaktu ajaran tersebut diekspor keluar Saudi. Kesan negatif dari sebutan Wahabi buat kelompok itu bisa ditinjau dari beberapa hal, salah satunya adalah dikarenakan sejarah kemunculannya banyak dipenuhi dengan pertumpahan darah kaum muslimin, terkhusus pasca kemenangan keluarga Saud -yang membonceng seorang rohaniawan menyimpang bernama Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi- atas semua kabilah di jazirah Arab atas dukungan kolonialisme Inggris. Akhirnya keluarga Saud mampu berkuasa dan menamakan negaranya dengan nama keluarga tersebut. Inggris pun akhirnya dapat menghilangkan dahaga negaranya dengan menyedot sebagian kekayaan negara itu, terkhusus minyak bumi. Sedang pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab, resmi menjadi akidah negara tadi yang tidak bisa diganggu gugat. Selain menindak tegas penentang akidah tersebut, Muhammad bin Abdul Wahab juga terus melancarkan aksi ekspansinya ke segenap wilayah-wilayah lain diluar wilayah Saudi.[7]

    Sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf, salah satu ulama Ahlusunnah yang sangat getol mempertahankan serangan dan ekspansi kelompok wahabisme ke negara-negara muslim, dalam salah satu karyanya yang berjudul “as-Salafiyah al-Wahabiyah” menyatakan: “Tidak ada perbedaan antara salafiyah dan wahabiyah. Kedua istilah itu ibarat dua sisi pada sekeping mata uang. Mereka (kaum salafi dan wahabi) satu dari sisi keyakinan dan pemikiran. Sewaktu di Jazirah Arab mereka lebih dikenal dengan al-Wahhabiyah al-Hambaliyah. Namun, sewaktu diekspor keluar (Saudi), mereka mengatasnamakan dirinya sebagai Salafy”. Sayyid as-Saqqaf menambahkan: “Maka kelompok salafi adalah kelompok yang mengikuti Ibnu Taimiyah dan mengikuti ulama mazhab Hambali. Mereka semua telah menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai imam, tempat rujukan (marja’), dan ketua. Ia (Ibnu Taimiyah) tergolong ulama mazhab Hambali. Sewaktu mazhab ini berada di luar Jazirah Arab, maka tidak disebut dengan Wahabi, karena sebutan itu terkesan celaan”. Dalam menyinggung masalah para pemuka kelompok itu, kembali Sayyid as-Saqqaf mengatakan: “Pada hakekatnya, Wahabiyah terlahir dari Salafiyah. Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang yang menyeru untuk mengikuti ajaran Ibnu Taimiyah dan para pendahulunya dari mazhab Hambali, yang mereka kemudian mengaku sebagai kelompok Salafiyah”. Dalam menjelaskan secara global tentang ajaran dan keyakinan mereka, as-Saqqaf mengatakan: “Al-Wahabiyah atau as-Salafiyah adalah pengikut mazhab Hambali, walaupun dari beberapa hal pendapat mereka tidak sesuai lagi (dan bahkan bertentangan) dengan pendapat mazhab Hambali sendiri. Mereka sesuai (dengan mazhab Hambali) dari sisi keyakinan tentang at-Tasybih (Menyamakan Allah dengan makhluk-Nya), at-Tajsim (Allah berbentuk mirip manusia), dan an-Nashb yaitu membenci keluarga Rasul saw (Ahlul-Bait) dan tiada menghormati mereka”.[8] Jadi, menurut as-Saqqaf, kelompok yang mengaku Salafi adalah kelompok Wahabi yang memiliki sifat Nashibi (pembenci keluarga Nabi saw), mengikuti pelopornya, Ibnu Taimiyah.

    PELOPOR PEMIKIRAN “KEMBALI KE METODE AJARAN SALAF”

    Ahmad bin Hambal adalah sosok pemuka hadis yang memiliki karya terkenal, yaitu kitab “Musnad”. Selain sebagai pendiri mazhab Hambali, ia juga sebagai pribadi yang menggalakkan ajaran kembali kepada pemikiran Salaf Saleh. Secara umum, metode yang dipakai oleh Ahmad bin Hambal dalam pemikiran akidah dan hukum fikih, adalah menggunakan metode tekstual. Oleh karenanya, ia sangat keras sekali dalam menentang keikutsertaan dan penggunaan akal dalam memahami ajaran agama. Ia beranggapan, kemunculan pemikiran logika, filsafat, ilmu kalam (teologi) dan ajaran-ajaran lain –yang dianggap ajaran diluar Islam yang kemudian diadobsi oleh sebagian muslim- akan membahayakan nasib teks-teks agama.

    Dari situ akhirnya ia menyerukan untuk berpegang teguh terhadap teks, dan mengingkari secara total penggunaan akal dalam memahami agama, termasuk proses takwil rasional terhadap teks. Ia beranggapan, bahwa metode itulah yang dipakai Salaf Saleh dalam memahami agama, dan metode tersebut tidak bisa diganggu gugat kebenaran dan legalitasnya. Syahrastani yang bermazhab ‘Asyariyah dalam kitab “al-Milal wa an-Nihal” sewaktu menukil ungkapan Ahmad bin Hambal yang menyatakan: “Kita telah meriwayatkan (hadis) sebagaimana adanya, dan hal (sebagaimana adanya) itu pula yang kita yakini”.[9] Konsekwensi dari ungkapan Ahmad bin Hambal di atas itulah, akhirnya ia beserta banyak pengikutnya –termasuk Ibnu Taimiyah- terjerumus kedalam jurang kejumudan dan kaku dalam memahami teks agama. Salah satu dampak konkrit dari metode di atas tadi adalah, keyakinan akan tajsim (anthropomorphisme) dan tasybih dalam konsep ketuhanan, lebih lagi kelompok Salafi kontemporer, pendukung ajaran Ibnu Taimiyah al-Harrani yang kemudian tampuk kepemimpinannya dilanjutkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi.

    Suatu saat, datang seseorang kepada Ahmad bin Hambal. Lantas, ia bertanya tentang beberapa hadis. Hingga akhirnya, pertanyaan sampai pada hadis-hadis semisal: “Tuhan pada setiap malam turun ke langit Dunia”, “Tuhan bisa dilihat”, “Tuhan meletakkan kaki-Nya kedalam Neraka” dan hadis-hadis semisalnya. Lantas ia (Ahmad bin Hambal) menjawab: “Kita meyakini semua hadis-hadis tersebut. Kita membenarkan semua hadis tadi, tanpa perlu terhadap proses pentakwilan”.[10]

    Jelas metode semacam ini tidak sesuai dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri. Jika diperhatikan lebih dalam lagi, betapa al-Quran dalam ayat-ayatnya sangat menekankan penggunaan akal dan pikiran dalam bertindak.[11] Begitu juga hadis-hadis Nabi saw. Selain itu, pengingkaran secara mutlak campur tangan akal dan pikiran manusia dalam memahami ajaran agama akan mengakibatkan kesesatan dan bertentangan dengan ajaran al-Quran dan as-Sunnah itu sendiri. Dapat kita contohkan secara singkat penyimpangan yang terjadi akibat penerapan konsep tadi. Jika terdapat ayat semisal “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy”,[12] atau seperti hadis yang menyatakan “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada setiap malam”[13], lantas, disisi lain kita tidak boleh menggunakan akal dalam memahaminya, bahkan cukup menerima teks sebagaimana adanya, maka kita akan terbentur dengan ayat lain dalam al-Quran seperti ayat “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia”.[14] Apakah ayat dari surat Thoha tadi berartikan bahwa Allah bertengger di atas singgasana Arsy sebagaimana Ibnu Taimiyah duduk di atas mimbar, atau turun ke langit dunia sebagaimana Ibnu Taimiyah turun dari atas mimbarnya, yang itu semua berarti bertentangan dengan ayat dari surat as-Syuura di atas. Jadi akan terjadi kontradiksi dalam memahami hakekat ajaran agama Islam. Mungkinkah Islam sebagai agama paripurna akan terdapat kontradiksi? Semua kaum muslimin pasti akan menjawabnya dengan negatif, apalagi berkaitan dengan al-Quran sebagai sumber utama ajaran Islam.

    Melihat kelemahan metode dasar yang ditawarkan oleh Ahmad bin Hambal semacam ini, meniscayakan adanya pengeroposan ajaran-ajaran yang bertumpu pada metode tadi. Dalam masalah ini, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Berbagai individu dari Salaf telah menetapkan sifat azali Tuhan, semisal; sifat Ilmu, Kemampuan (Qudrat)…dan mereka tidak membedakan antara sifat Dzati dan Fi’li. Sebagaimana mereka juga telah menetapkan sifat khabariyah buat Tuhan, seperti; dua tangan dan wajah Tuhan. Mereka tidak bersedia mentakwilnya, dan mengatakan: itu semua adalah sifat-sifat yang terdapat dalam teks-teks agama. Semua itu kita sebut sebagai sifat khabariyah”. Dalam kelanjutan dari penjelasan mengenai kelompok Salafi tadi, kembali as-Sahrastani mengatakan: “Para kelompok Salafi kontemporer meyakini lebih dari para kelompok Salaf itu sendiri. Mereka menyatakan, sifat-sifat khabari bukan hanya tidak boleh ditakwil, namun harus dimaknai secara zahir. Oleh karenanya, dari sisi ini, mereka telah terjerumus kedalam murni keyakinan tasybih. Tentu, permasalahan semacam ini bertentangan dengan apa yang diyakini oleh para salaf itu sendiri”.[15] Jadi sesuai dengan ungkapan Syahrastani, bahwa mayoritas para pengikut kelompok Salafi kontemporer telah menyimpang dari keyakinan para Salaf itu sendiri. Itu jika kita telaah secara global tentang konsep memahami teks. Akibatnya, mereka akan terjerumus kepada kesalahan fatal dalam mengenal Tuhan, juga dalam permasalahn-permasalahan lainnya. Padahal, masih banyak lagi permasalahan-permasalahan lain yang jelas-jelas para Salaf meyakininya, sedang pengaku pengikut salaf kontemporer (salafi) justru mengharamkan dengan alasan syirik, bidah, ataupun khurafat. Perlu ada tulisan tersendiri tentang hal-hal tadi, dengan disertai kritisi pendapat dan argumentasi para pendukung kelompok Wahabisme.[16] Itulah yang menjadi alasan bahwa para pengikut Salafi (kontemporer) itu sudah banyak menyimpang dari ajaran para Salaf itu sendiri, termasuk sebagian ajaran imam Ahmad bin Hambal sendiri.[17]

    FAKTOR MUNCULNYA KELOMPOK SALAFI

    Dalam melihat faktor kemunculan pemikiran untuk kembali kepada pendapat Salaf menurut Imam Ahmad bin Hambal dapat diperhatikan dari kekacauan zaman saat itu. Sejarah membuktikan, saat itu, dari satu sisi, kemunculan pemikiran liberalisme yang diboyong oleh pengikut Muktazilah yang meyakini keturutsertaan dan kebebasan akal secara ekstrim dan radikal dalam proses memahami agama. Sedang disisi lain, munculnya pemikiran filsafat yang banyak diadopsi dari budaya luar agama, menyebabkan munculnya rasa putus asa dari beberapa kelompok ulama Islam, termasuk Ahmad bin Hambal. Untuk lari dari pemikiran-pemikiran semacam itu, lantas Ahmad bin Hambal memutuskan untuk kembali kepada metode para Salaf dalam memahami agama, yaitu dengan cara tekstual.

    Syeikh Abdul Aziz ‘Izzuddin as-Sirwani dalam menjelaskan factor kemunculan pemikiran kembali kepada metode Salaf, mengatakan: “Dikatakan bahwa penyebab utama untuk memegang erat metode itu –yang sangat nampak pada pribadi Ahmad bin Hambal- adalah dikarenakan pada zamannya banyak sekali dijumpai fitnah-fitnah, pertikaian dan perdebatan teologis. Dari sisi lain, berbagai pemikiran aneh, keyakinan-keyakinan yang bermacam-macam dan beraneka ragam budaya mulai bermunculan. Bagaimana mungkin semua itu bisa muncul di khasanah kelimuan Islam. Oleh karenanya, untuk menyelamatkan keyakinan-keyakinan Islam, maka ia menggunakan metode kembali kepemikiran Salaf”.[18] Hal semacam itu pula yang dinyatakan oleh as-Syahrastani dalam kitab al-Milal wa an-Nihal.

    Fenomena semacam ini juga bisa kita perhatikan dalam sejarah hidup Abu Hasan al-Asy’ari pendiri mazhab al-Asyariyah. Setelah ia mengumumkan diri keluar dari ajaran Muktazilah yang selama ini ia dapati dari ayah angkatnya, Abu Ali al-Juba’i seorang tokoh Muktazilah dizamannya. Al-Asy’ari dalam karyanya yang berjudul “al-Ibanah” dengan sangat jelas menggunakan metode mirip yang digunakan oleh Ahmad bin Hambal. Namun karena ia melihat bahwa metode semacam itu terlampau lemah, maka ia agak sedikit berganti haluan dengan mengakui otoritas akal dalam memahami ajaran agama, walau dengan batasan yang sangat sempit. Oleh karenanya, dalam karya lain yang diberi judul “al-Luma’ ” nampak sekali betapa ia masih mengakui campur tangan dan keturutsertaan akal dalam memahami ajaran agama, berbeda dengan metode Ahmad bin Hambal yang menolak total keikutsertaan akal dalam masalah itu. Dikarenakan al-Asy’ari hidup di pusat kebudayaan Islam kala itu, yaitu kota Baghdad, maka sebutan Ahlusunnah pun akhirnya didentikkan dengan mazhabnya. Sedang mazhab Thohawiyah dan Maturidiyah yang kemunculannya hampir bersamaan dengan mazhab Asyariyah dan memiliki kemiripan dengannya, menjadi kalah pamor dimata mayoritas kaum muslimin, apalagi ajaran Ahmad bin Hambal sudah tidak lagi dilirik oleh kebanyakan kaum muslimin. Lebih-lebih pada masa kejayaan Ahlusunnah, kemunculan kelompok Salafi kontemporer yang dipelopori oleh Ibnu Taimiyah yang sebagai sempalan dari mazhab imam Ahmad bin Hambal, pun tidak luput dari ketidaksimpatian kelompok mayoritas Ahlusunnah. Ditambah lagi dengan penyimpangan terhadap akidah Salaf yang dilakukan Salafi kontemporer (pengikut Ibnu Taimiyah) -yang dikomandoi oleh Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi- serta tindakan arogansi yang dilancarkan para pengikut Salafi tersebut terhadap kalompok lain yang dianggap tidak sependapat dengan pemikiran mereka.

    KECURANGAN KELOMPOK SALAFI

    Setiap golongan bukan hanya berusaha untuk selalu mempertahankan kelangsungan golongannya, namun mereka juga berusaha untuk menyebarkan ajarannya. Itu merupakan suatu hal yang wajar. Akan tetapi, tingkat kewajarannya bukan hanya bisa dinilai dari sisi itu saja, namun juga harus dilihat dari cara dan sarana yang dipakai untuk mempertahankan kelangsungan dan penyebaran ajaran golongan itu. Dari sisi ini, kelompok Salafi banyak melakukan beberapa kecurangan yang belum banyak diketahui oleh kelompok muslim lainnya. Selain kelompok Ahlusunnah biasa, kelompok Ahli Tasawwuf dari kalangan Ahlusunnah dan kelompok Syiah (di luar Ahlusunnah) merupakan kelompok-kelompok di luar Wahabi (Salafi) yang sangat gencar diserang oleh kelompok Salafi. Kelompok Salafi tidak segan-segan melakukan hal-hal yang tidak ‘gentle’ dalam menghadapi kelompok-kelompok selain Salafi, terkhusus Syiah. Menuduh kelompok lain dari saudara-saudaranya sesama muslim sebagai ahli bid’ah, ahli khurafat, musyrik adalah kebiasaan buruk kaum Salafi, walaupun kelompok tadi tergolong Ahlusunnah. Disisi lain, mereka sendiri terus berusaha untuk disebut dan masuk kategori kelompok Ahlusunnah. Berangkat dari sini, kaum Salafi selalu mempropagandakan bahwa Syiah adalah satu kelompok yang keluar dari Islam, dan sangat berbeda dengan pengikut Ahlusunnah. Mereka benci dengan usaha-usaha pendekatan dan persatuan Sunnah-Syiah, apalagi melalui forum dialog ilmiah. Mereka berpikir bahwa dengan mengkafirkan kelompok Syiah, maka mereka akan dengan mudah duduk bersama dengan kelompok Ahlusunnah. Padahal realitanya tidaklah semacam itu. Karena mereka selalu menuduh kelompok Ahlusunnah sebagai pelaku Bid’ah, Khurafat, Takhayul dan Syirik. Mereka berpikir, sewaktu seorang pengikut Ahlusunnah melakukan ziarah kubur, tahlil, membaca shalawat dan pujian terhadap Nabi, istighotsah, bertawassul dan mengambil berkah (tabarruk) berarti ia telah masuk kategori pelaku syirik atau ahli bid’ah yang telah jelas konsekwensi hukumnya dalam ajaran Islam.

    Singkat kata, kebencian itu bukan hanya dilancarkan kepada Ahlusunnah, namun terlebih pada kelompok Syiah. Kebencian kaum Salafi terhadap Syiah, bahkan dilakukan dengan cara-cara tidak ilmiah bahkan cenderung arogan dan premanisme, sebagaimana yang dilakukannya di beberapa tempat. Mereka tahu bahwa kelompok Syiah sangat produktif dalam penerbitan buku-buku, terkhusus buku-buku agama. Karya-karya ulama Syiah mampu mengikuti perkembangan zaman dan dapat memberi masukan dalam menyelesaikan problem intelektual yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat. Ulama Syiah mampu mengikuti wacana yang sedang berkembang, plus cara penyampaiannya pun dilakukan dengan cara ilmiah. Hal itulah yang menyebabkan kecemburuan kelompok Salafi terhadap Syiah kian menjadi. Akhirnya, sebagai contoh perbuatan licik yang mereka lakukan, sewaktu diadakan pameran Internasional Book-Fair di Mesir, dimana kelompok Syiah pun turut memeriahkan dengan membuka beberapa stand di pameran tersebut, melihat hal itu, kelompok Salafi (Wahabi) memborong semua kitab-kitab Syiah di stand-stand yang ada, yang kemudian membakar semua kitab yang dibelinya.[19]

    Jika mereka berani bersaing dengan kelompok Syiah dari sisi keilmiahan, kenapa mereka melakukan hal itu? Perlakuan mereka semacam itu sebagai salah satu bukti kuat, bahwa mereka tidak terlalu memiliki basis ilmiah yang cukup mumpuni sehingga untuk menghadapi Syiah, mereka tidak memiliki jalan lain kecuali harus menggunakan cara-cara emosional yang terkadang cenderung arogan itu. Cara itu juga yang mereka lakukan terhadap para pengikut tasawuf dan tarekat yang banyak ditemui dalam tubuh Ahlusunnah sendiri, khususnya di Indonesia.

    Segala bentuk makar dan kebohongan untuk mengahadapi rival akidahnya merupakan hal mubah dimata pengikut Salafi (Wahabi), karena kelompok Salafi masih terus beranggapan bahwa selain kelompoknya masih dapat dikategorikan pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Perlakuan mereka terhadap kaum muslimin pada musim haji merupakan bukti yang tidak dapat diingkari.

    Yang lebih parah dari itu, para pendukung kelompok Salafi –yang didukung dana begitu besar- berani melakukan perubahan pada kitab-kitab standart Ahlusunnah, demi untuk menguatkan ajaran mereka, yang dengan jelas tidak memiliki akar sejarah dan argumentasi (tekstual dan rasional) yang kuat. Dengan melobi para pemilik percetakan buku-buku klasik agama yang menjadi standart ajaran –termasuk kitab-kitab hadis dan tafsir- mereka berani mengeluarkan dana yang sangat besar untuk merubah beberapa teks (hadis ataupun ungkapan para ulama) yang dianggap merugikan kelompok mereka. Kita ambil contoh apa yang diungkapkan oleh Syeikh Muhammad Nuri ad-Dirtsawi, beliau mengatakan: “Merubah dan menghapus hadis-hadis merupakan kebiasaan buruk kelompok Wahabi. Sebagai contoh, Nukman al-Alusi telah merubah tafsir yang ditulis oleh ayahnya, Syeikh Mahmud al-Alusi yang berjudul Ruh al-Ma’ani. Semua pembahasan yang membahayakan kelompok Wahabi telah dihapus. Jika tidak ada perubahan, niscaya tafsir beliau menjadi contoh buat kitab-kitab tafsir lainnya. Contoh lain, dalam kitab al-Mughni karya Ibnu Qodamah al-Hambali, pembahasan tentang istighotsah telah dihapus, karena hal itu mereka anggap sebagai bagian dari perbuatan Syirik. Setelah melakukan perubahan tersebut, baru mereka mencetaknya kembali. Kitab Syarah Shohih Muslim pun (telah dirubah) dengan membuang hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat-sifat (Allah), kemudian baru mereka mencetaknya kembali”.[20]

    Namun sayang, banyak saudara-saudara dari Ahlusunnah lalai dengan apa yang mereka lakukan selama ini. Perubahan-perubahan semacam itu, terkhusus mereka lakukan pada hadis-hadis yang berkaitan dengan keutamaan keluarga (Ahlul-Bait) Nabi. Padahal, salah satu sisi kesamaan antara Sunni-Syiah adalah pemberian penghormatan khusus terhadap keluarga Nabi. Dari sinilah akhirnya pribadi seperti sayyid Hasan bin Ali as-Saqqaf menyatakan bahwa mereka tergolong kelompok Nashibi (pembenci keluarga Rasul).

    Dalam kitab tafsir Jami’ al-Bayan, sewaktu menafsirkan ayat 214 dari surat as-Syu’ara: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabat-mu yang terdekat”, disitu, Rasulullah mengeluarkan pernyataan berupa satu hadis yang berkaitan dengan permulaan dakwah. Dalam hadis yang tercantum dalam kitab tafsir tersebut disebutkan, Rasul bersabda: “Siapakah diantara kalian yang mau menjadi wazir dan membantuku dalam perkara ini -risalah- maka akan menjadi saudaraku…(kadza…wa…kadza)…”. Padahal, jika kita membuka apa yang tercantum dalam tarikh at-Thabari kata “kadza wa kadza” (yang dalam penulisan buku berbahasa Indonesia, biasa digunakan titik-titik) sebagai ganti dari sabda Rasul yang berbunyi; “Washi (pengganti) dan Khalifah-ku”. Begitu pula hadis-hadis semisal, “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya” yang dulu tercantum dalam kitab Jaami’ al-Ushul karya Ibnu Atsir, kitab Tarikh al-Khulafa’ karya as-Suyuthi dan as-Showa’iq al-Muhriqoh karya Ibnu Hajar yang beliau nukil dari Shohih at-Turmudzi, kini telah mereka hapus. Melakukan peringkasan kitab-kitab standard, juga sebagai salah satu trik mereka untuk tujuan yang sama. Dan masih banyak usaha-usaha licik lain yang mereka lancarkan, demi mempertahankan ajaran mereka, terkhusus ajaran kebencian terhadap keluarga Nabi. Sementara sudah menjadi kesepakatan kaum muslimin, bahwa mencintai keluarga Nabi adalah suatu kewajiban, sebagaimana Syair yang pernah dibawakan oleh imam Syafi’i:
    “Jika mencintai keluarga Muhammad adalah Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah wahai ats-Tsaqolaan (jin dan manusia) bahwa aku adalah Rofidhi”.[21]

    SALAFI (WAHABI) DAN KHAWARIJ

    Tidak berlebihan kiranya jika sebagian orang beranggapan bahwa kaum Wahabi (Salafi) memiliki banyak kemiripan dengan kelompok Khawarij. Melihat, dari sejarah yang pernah ada, kelompok Khawarij adalah kelompok yang sangat mirip sepak terjang dan pemikirannya dengan kelompok Wahabi. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa kelompok Wahabi adalah pengejawantahan kelompok Khawarij di masa sekarang ini. Disini, secara singkat bisa disebutkan beberapa sisi kesamaan antara kelompok Wahabi dengan golongan Khawarij yang dicela melalui lisan suci Rasulullah saw, dimana Rasul memberi julukan golongan sesat itu (Khawarij) dengan sebutan “mariqiin”, yang berarti ‘lepas’ dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya.[22]

    Paling tidak ada enam kesamaan antara dua golongan ini yang bisa disebutkan. Pertama, sebagaimana kelompok Khawarij dengan mudah menuduh seorang muslim dengan sebutan kafir, kelompok Wahabi pun sangat mudah menuduh seorang muslim sebagai pelaku syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Yang semua itu adalah ‘kata halus’ dari pengkafiran, walaupun dalam beberapa hal memiliki kesamaan dari konsekwensi hukumnya. Abdullah bin Umar dalam mensifati kelompok Khawarij mengatakan: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang diturunkan bagi orang-orang kafir, lantas mereka terapkan untuk menyerang orang-orang beriman”.[23] Ciri-ciri semacam itu juga akan dengan mudah kita dapati pada pengikut kelompok Salafi (Wahabi) berkaitan dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Bisa dilihat, betapa mudahnya para rohaniawan Wahabi (muthowi’) menuduh para jamaah haji sebagai pelaku syirik dan bid’ah dalam melakukan amalan yang dianggap tidak sesuai dengan akidah mereka.

    Kedua, sebagaimana kelompok Khawarij disifati sebagaimana yang tercantum dalam hadis Nabi: “Mereka membunuh pemeluk Islam, sedang para penyembah berhala mereka biarkan”,[24] maka sejarah telah membuktikan bahwa kelompok Wahabi pun telah melaksanakan prilaku keji semacam itu. Sebagaimana yang pernah dilakukan pada awal penyebaran Wahabisme oleh pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Pembantaian berbagai kabilah dari kaum muslimin mereka lakukan dibeberapa tempat, terkhusus diwilayah Hijaz dan Iraq kala itu.

    Ketiga, sebagaimana kelompok Khawarij memiliki banyak keyakinan yang aneh dan keluar dari kesepakatan kaum muslimin, seperti keyakinan bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir, kaum Wahabi pun memiliki kekhususan yang sama.

    Keempat, seperti kelompok Khawarij memiliki jiwa jumud (kaku), mempersulit diri dan mempersempit luang lingkup pemahaman ajaran agama, maka kaum Wahabi pun mempunyai kendala yang sama.

    Kelima, kelompok Khawarij telah keluar dari Islam dikarenakan ajaran-ajaran yang menyimpang, maka Wahabi pun memiliki penyimpangan yang sama. Oleh karenanya, ada satu hadis tentang Khawarij yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya, yang dapat pula diterapkan pada kelompok Wahabi. Rasul bersabda: “Beberapa orang akan muncul dari belahan Bumi sebelah timur. Mereka membaca al-Quran, tetapi (bacaan tadi) tidak melebihi batas temggorokan. Mereka telah keluar dari agama (Islam), sebagaimana terkeluarnya (lepas) anak panah dari busurnya. Tanda-tanda mereka, suka mencukur habis rambut kepala”.[25] Al-Qistholani dalam mensyarahi hadis tadi mengatakan: “Dari belahan bumi sebelah timur” yaitu dari arah timur kota Madinah semisal daerah Najd.[26] Sedang dalam satu hadis disebutkan, dalam menjawab perihal kota an-Najd: “Di sana terdapat berbagai goncangan, dan dari sana pula muncul banyak fitnah”.[27] Atau dalam ungkapan lain yang menyebutkan: “Disana akan muncul qorn setan”. Dalam kamus bahasa Arab, kata qorn berartikan umat, pengikut ajaran seseorang, kaum atau kekuasaan.[28]

    Sedang kita tahu, kota Najd adalah tempat lahir dan tinggal Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi, pendiri Wahabi. Kota itu sekaligus sebagai pusat Wahabisme, dan dari situlah pemikiran Wahabisme disebarluaskan kesegala penjuru dunia.
    Banyak tanda zahir dari kelompok tersebut. Selain mengenakan celana atau gamis hingga betis, mencukur rambut kepala sedangkan jenggot dibiarkan bergelayutan tidak karuan adalah salah satu syiar dan tanda pengikut kelompok ini.

    Keenam, sebagaimana kelompok Khawarij meyakini bahwa “negara muslim” (Daar al-Salam) jika penduduknya banyak melakukan dosa besar, maka dapat dikategorikan “negara zona perang” (Daar al-Harb), kelompok radikal Wahabi pun meyakini hal tersebut. Sekarang ini dapat dilihat, bagaimana kelompok-kelompok radikal Wahabi –seperti al-Qaedah- melakukan aksi teror diberbagai tempat yang tidak jarang kaum muslimin juga sebagai korbannya.

    Tulisan ringkas ini mencoba untuk mengetahui tentang apa dan siapa kelompok Salafi (Wahabi). Semoga dengan pengenalan ringkas ini akan menjadi kejelasan akan kelompok yang disebut-sebut sebagai Salafi ini, yang mengaku penghidup kembali ajaran Salaf Saleh. Sehingga kita bisa lebih berhati-hati dan mawas diri terhadap aliran sesat dan menyesatkan yang telah menyimpang dari Islam Muhammadi tersebut.

    Penulis: Adalah mahasiswa pasca sarjana Perbandingan Agama dan Mazhab di Universitas Imam Khomaini Qom, Republiks Islam Iran.

    Rujukan:
    [2] Lisan al-Arab Jil:6 Hal:330
    [3] As-Salafiyah Marhalah Zamaniyah Hal:9, karya Dr. M Said Ramadhan Buthi
    [4] As-Shohwat al-Islamiyah Hal:25, karya al-Qordhowi
    [5] Al-Aqoid as-Salafiyah Hal: 11, karya Ahmad bin Hajar Aali Abu Thomi
    [6] Al-Madzahib al-Islamiyah Hal:331, karya Muhammad Abu Zuhrah
    [7] Untuk lebih jelasnya, dapat ditelaah lebih lanjut kitab tebal karya penulis Arab al-Ustadz Nasir as-Sa’id tentang sejarah kerajaan Arab Saudi yang diberi judul “Tarikh aali Sa’ud”. Karya ini berulang kali dicetak. Disitu dijelaskan secara detail sejarah kemunculan keluarga Saud di Jazirah Arab hingga zaman kekuasaan raja Fahd. Dalam karya tersebut, as-Said menetapkan bahwa keluarga Saud (pendiri) kerajaan Arab Saudi masih memiliki hubungan darah dan emosional dengan Yahudi Arab.
    [8] Selengkapnya silahkan lihat: As-Salafiyah al-Wahabiyah, karya Hasan bin Ali as-Saqqaf, cet: Daar al-Imam an-Nawawi, Amman-Yordania
    [9] Al-Milal wa an-Nihal Jil:1 Hal:165, karya as-Syahrastani
    [10] Fi ‘Aqo’id al-Islam Hal:155, karya Muhammad bin Abdul Wahab (dalam kumpulan risalah-nya)
    [11] Ayat-ayat al-Quran yang bebunyi “afalaa ta’qiluun” (Apakah kalian tidak memakai akal) atau “Afalaa tatafakkarun” (Apakah kalian tidak berpikir) dan semisalnya akan sangat mudah kita dapati dalam al-Quran. Ini semua salah satu bukti konkrit bahwa al-Quran sangat menekankan penggunaan akal dan mengakui keturutsertaan akal dalam memahami kebenaran ajaran agama.
    [12] Q S Thoha:5
    [13] Al-Washiyah al-Kubra Hal:31 atau Naqdhu al-Mantiq Hal:119 karya Ibnu Taimiyah
    [14] Q S as-Syura:11
    [15] Al-Milal wa an-Nihal Jil:1 Hal:84
    [16] Banyak hal yang terbukti dengan argumen teks yang mencakup ayat, riwayat, ungkapan dan sirah para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in diperbolehkan, namun paea kelompok Salafi (Wahabi) mengharamkannya, seperti masalah; membangun dan memberi cahaya lampu pada kuburan, berdoa disamping makam para kekasih Ilahi (waliyullah), mengambil berkah dari makam kekasih Allah, menyeru atau meminta pertolongan dan syafaat dari para kekasih Allah pasca kematian mereka, bernazar atau sumpah atas nama para kekasih Allah, memperingati dan mengenang kelahiran atau kematian para kekasih Allah, bertawassul, dan melaksanakan tahlil (majlis fatehah)…semua merupakan hal yang diharamkan oleh para kelompok Salafi, padahal banyak ayat dan riwayat, juga prilaku para Salaf yang menunjukkan akan diperbolehkannya hal-hal tadi.
    [17] Salah satu bentuk penyimpangan kelompok Wahabi terhadap ajaran imam Ahmad bin Hambal adalah pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap berbagai hadis berkaitan dengan keutamaan keluarga Rasul, yang Imam Ahmad sendiri meyakini keutamaan mereka dengan mencantumkannya dalam kitab musnadnya. Dari situ akhirnya Ibnu Taimiyah bukan hanya mengingkari hadis-hadis tersebut, bahkan melakukan pelecehan terhadap keluarga Rasul, terkhusus Ali bin Abi Thalib. (lihat: Minhaj as-Sunnah Jil:8 Hal:329) Dan terbukti, kekhilafahan Ali sempat “diragukan” oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Minhaj as-Sunnah” (lihat: Jil:4 Hal:682), dan ia termasuk orang yang menyebarluaskan keraguan itu. Padahal, semua kelompok Ahlusunnah “meyakini” akan kekhilafahan Ali. Lantas, masihkah layak Ibnu Taimiyah beserta pengikutnya mengaku sebagai pengikut Ahlussunnah?
    [18] al-Aqidah li al-Imam Ahmad bin Hambal Hal:38
    [19] As-Salafiyah baina Ahlusunnah wa al-Imamiyah Hal:680
    [20] Rudud ‘ala Syubahaat as-Salafiyah Hal:249
    [21] Diwan as-Syafi’i Hal:55
    [22] Musnad Ahmad Jil:2 Hal:118
    [23] Sohih Bukhari Jil:4 Hal:197
    [24] Majmu’ al-Fatawa Jil:13 Hal:32, karya Ibnu Taimiyah
    [25] Shahih Bukhari, kitab at-Tauhid Bab:57 Hadis ke-7123
    [26] Irsyad as-Saari Jil:15 Hal:626
    [27] Musnad Ahmad Jil:2 Hal:81 atau Jil:4 Hal:5
    [28] Al-Qomuus Jil:3 Hal:382 kata: Qo-ro-na

  3. Atasku…

    anda ini ahlus sunnah ataukah syi’ah…kenapa mengambil sumber dari syi’ah…kalaulah anda syi’ah, ana maklumi, tetapi kalau anda ahlus sunnah…sungguh malapetaka ada pada diri anda…
    ada baiknya anda membaca biografi dan sepak terjang kitab-kitab yang menjadi sumber dari tulisan2 yang dibuat oleh Muschtar Lutfi di atas…jika anda mengaku ahlus sunnah

    wallaahul musta’an…

  4. @hendriawan

    Sepertinya sanggahan antum sudah terjawab oleh tulisan ana diatas. Ana tidak menyanggah dongeng antum, karena itu tidak berkaitan bententangan dengan bantahan ana. cuma saja antum banyak berlebihan tentang mengkafirkan umat, membunuh belum tentu mengkafirkan. Ana tanya, berapa banyak para shahabat membunuh orang-orang khawarij? apakah shahabat berkata mereka adalah kafir??
    Berapa banyak tentara Muawiyah dan ali saling bunuh? Apakah salah satu diantara mereka telah kafir? Tidak khaannn.

    Ana tanya, nyembah kuburan kafir? yaa kafir, tapi bila mau menta’yin harus diperinci, tidak serampangan. dan antum tidak mengetahui hal itu, jadi antum jangan asal vonis, si fulan mengkafirkan umat. Teliti dulu ya akhi…

    Dongeng yang antum ceritakan itu tsiqah?
    Tapi antum mengambil literatur Syiah (dari Abu Ghanam) dan membela Syiah, setelah 14 abad Syiah meghujat shahabat Nabi dan 14 abad membantai kaum Ahlu Sunnah, Membantai Sunni di palestina, membunuhi para ulama, mengatakan Al Qur’an Sunni adalah palsu, menghina Ali bin Abu Thalib serta keturunannya (menurut syiah: memuliakannya).

    Jadi ana tidak perlu percaya yang antum tulis, jadi kedudukan hadits antum itu menjadi matruk (menurut kaidah ilmu musthalah hadits).

    Antum Syiah? kalo yaaa ana ga perlu berpanjang-panjang lagi, cukuplah terbuka bagi ana dan kaum yang masih dapat berpikir sehat maksud tersembunyi antum membantah ana.

  5. Syiah Indonesia juga turut membenci Wahabbi?
    Jelas – minyak tidak akan bercampur dengan air.
    Jelas – kita boleh menilai kelompok mana yang cenderung untuk menjadi air serta kelompok mana yang cenderung untuk menjadi minyak.
    Nilaikan dengan ilmu – bukan dengan nafsu.
    Cuma saya ingin bertanya kepada Saudara Daud Al Ayubbi mengenai banyak dakwaan yang menyatakan puak Wahabbi berkerjasama dengan kaum Inggeris bagi menjatuhkan kerajaan Islam. Benarkah? Kenapa? Dan memohon kepada sesiapa yang mempunyai data soheh jika ia terbukti kebenarannya, sila tunjukkan…Terima kasih.

  6. 1. prinsip info/pendapat dari “pihak luar” adalah tertolak sangat tidak obyektif. Kalau memeng itu dari syi’ah, so what? apa pasti salah? belum tentu. Dan apa memang yang nulis orang syi;ah? atau orang yang hanya ingin sikap obyektif?
    2. Yang penting bukan dari syi’ah atau bukan, tapi benar nggak info/pendapat itu? Kalau salah, buktikan! Karena kebenaran pasti jelas. La kalau mengalihkan masalah pada ” ini dari syi’ah, ini info dari penjahat”, ya,,susah orang normal ma waras menerima. Misalnya benar orang syi’ah banyak salah, jahat, konyol, misalnya, tapi apa kemudian semua info/pendapat mereka pasti salah? Yang waras lah kalau mikir!!

    • Anda normal dan waras dalam cara berfikir sekuler. Obyektivitas tidak selalu berlaku dimana saja. Khamar jelas ada manfaatnya tetapi kerusakannya jauh lebih besar. Itu (salah satu) hikmah Allah mengharamkannya. Dari cara fikir anda, bukankah sangat tidak objektif bila semua khamar diharamkan sedangkan bila dikonsumsi sedikit tidak berakibat mabuk? Jadi saya ingin tambahkan disini, “Apa anda ini sekuler? Kalau ya, saya tidak perlu berpanjang-panjang dengan anda ….”

      Dalam beragama, pada prinsipnya argumen hanya diambil dari mereka yang tsiqah. Kalau hanya sebatas “apa kemudian semua pendapat mereka salah?” maka semua orang/kelompok pasti tetap ‘ada benarnya’. Tidak mungkin ada seorangpun yang dalam seluruh hidupnya hanya mengatakan sesuatu yang salah tanpa pernah sekalipun berkata sesuatu yang benar.

      Bila ekspektasi anda pemilik blog akan meladeni ocehan atau dongeng ngawur, itu justru menunjukkan keawaman anda.
      Saran saya, sebaiknya anda membaca lebih teliti semua referensi yang disodorkan. Jangan lupa, berdo’a memohon kepada Allah agar diberikan petunjuk kepada yang Haq. Ingatlah bahwa da’i-da’i yang menyeru kepada kesesatan justru lebih banyak.

  7. assalamualaikum….
    wahai saudaraku…..semoga Allah menunjuki kita semua kepada jalan yang lurus….saya semakin sedih dengan akal licik dan munkar dari pada pendakwah kepada kesesatan…mereka tidak henti-hentinya menancapkan duri tajam kepada dakwah salafyah di negeri ini….karena dakwah salafyah dakwah yang manis, tidak penuh dengan intrik kebusukan, penuh dengan keikhlasan, dan kelembutan, mereka kawatir dengan keberadaan para salafy mengancam kedudukan mereka, wibawa mereka, itu kami rasakan betul-betul dikampung kami…. setiap ada sengketa di antara elit mereka… selalu salafy yang menjadi kambing hitam. izinkan kami ikut belajar bersama antum

  8. @Saya mahu belajar (M’sia)
    Bahkan sebaliknya, kaum kuffar inggris ingin menghancurkan dakwah Syaikh muhammad bin abdul wahhab dengan cara bekerja sama dengan orang-orang yang menentang dakwah syaikh. Sedangkan kerajaan (dinasti Utsmani) saat itu telah terjangkit penyakit sufisme, dan ikut membenci dakwah syaikh. Dan terbukti pasukan dinasti utsmani selalu menyerang ke wilayah najd tempat syaikh bermukim. Hingga akhirnya dinasti utsmani runtuh dikarenakan lemahnya pemerintahannya saat itu. wallahu a’lam

    @cute
    informasi dari “pihak luar” memang tidak selalu mutlak untuk ditolak, tapi yang dimaksud “pihak luar” disini adalah syi’ah (rafidhah). Sedangkan para ulama salaf sejak dulu selalu menolak persaksian dari kaum syiah. Ingat apa yang dikatakan oleh para Imam Madzab tentang syi’ah rafidhah:

    Imam Syafi’i: “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.”
    Al-Imam Malik berkata: “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)

    Ini adalah bukti bahwa sejak dulu para ulama salaf telah menolak persaksian syi’ah.
    Sedangkan jika mau melihat benar-tidaknya informasi itu… maka yang saya lihat ditulisannya adalah bahwa orang ini lebih mendahulukan akal daripada nash al-Qur’an dan Sunnah. Terbukti dari tulisannya, dia menolak ayat-ayat al-Qur’an dan as-Sunnah yang bertentangan dengan akalnya. Dan lainnya tentang benar-tidaknya tulisan diatas sepertinya sudah dijawab oleh al-Akh Daud al-Ayyubi.

    wallahu a’lam

  9. Alhamdulillah semoga Allah merahmati Ahlu Sunnah dan semoga Allah meluluh lantahkan Ahli Syirik dan Ahli Bid’ah.

    Akh habiburrahman, ingat nanti di akhirat semua tuduhan tak berdasar antum akan di hisab . Maka bertaqwalah kepada Allah dan jagalah perkataan, apalagi engkau berkata tentang Dien tanpa ilmu dan hujjah, hanya luapan emosi belaka.

    Wahai akh habiburrahman semoga dirahmati Allah, Islam itu Sunnah dan Sunnah itu Islam keduanya tidak dapat dipisahkan dan tak terpisahkan (Syarhus Sunnah, Imam Barbahari)

    Engkau mencela dakwah sunnah maka engkau mencela Islam, engkau mencela ulama Sunnah sama saja engkau mencela Islam. Janganlah engkau taqlid dengan belenggu-belengu hizbiyah dan memandang dakwah sunnah ini dengan kaca mata hizbiyah, yang hanya akan membuat antum terus-menerus ada didalam hizbiyah. Hancurkanlah belenggu itu ya akhi…

    Ingatlah tuduhan antum saat ini akan diminta pertanggung jawabannya, maka tunjukanlah buktinya bila engkau adalah orang yang benar.

    Akan tetapi banyak orang yang menuduh hanya karena dia mendengarkan perkataan orang lain tanpa tabayun terlebih dahulu, ada juga yang menuduh hanya berdaarkan perkataan yang dia pahami dengan pemahamannya sendiri yang mengakibatkan salah paham.

    Berilmulah sebelum berkata, teliti dahulu sebelum berkaca. Hati-hati jangan-jangan nanti kacanya pecah.

  10. Untuk Akh Habbiburrahman, Antum perlu memahami dakwah sunnah dari sumber aslinya, jangan mudah terprovokasi oleh kaum yang membenci sunnah dan menebarkan tuduhan dusta.

    Antum harus mempelajari bagaimana mencintai Rasulullah dan para shahabatnya, apakah dengan maulid?

    Mengenai Tauhid asma wa shifat yang disebutkan oleh Imam Abu Jaffar At Thohawiy, antum salah paham dan kami ahlu sunnah tidak menyakini apa yang antum tuduhkan (bahwa kami menyerupakan Allah dengan Makhluq, naudzubillah). Kami meyakini Asma dan Shifat sesuai dengan makna zhahirnya tanpa tahrif, ta’wil, ta’til, tasybih, takyif. itulah aqidah para Imam Ahlu Sunnah.

    Mengenai Syaikh Albani mengkafirkan Imam Bukhari, janganlah engkau berdusta yaa akhi, secara akalpun tidak mungkin. Dalah Syarh Aqidah Thahawiyah Syaikh Albani mengatakan Shahih Bukhari adalah kitab paling Shahih setelah Al Qur’an, dan beliau menulis mukhtashor Shahih Bukhari, Shahih Adabul Mufrad Imam Bukhari. Hal ini bagaikan matahari di siang bolong yaa akhi…. Kecuali bagi orang yang buta.

    Antum menyampaikan sebuah haduts tentang negeri najed, yaa akhi sebelum engkau berkomentar sebaiknya engkau melihar syarh hadits ini oleh para ulama ahli sunnah, apakah najed yang dimaksud hadits tersebut?

    Memang engkau siapa ya akhi bisa menentukan maksud najed ini adalah ibnul wahhab?

    Intinya ana tidak mau mencela antum karena kejahilan antum atas ilmu agama. belajarlah dulu.

  11. Daud, engkau yang musti belajar………..

  12. Alhamdulillah ana diberi kemudahan oleh Allah untuk belajar mengenal Sunnah dan tidak membenci dakwah Sunnah. Insya Allah berbicara dengan ilmu lebih baik daripada menuangkan hasud.

    Jazakallah ya akhi hood.

  13. heheehe pada ribut mulu, payah Islam ribut mulu, emang tuhan ama nabinya siapa seh?

  14. Siapa Ahlul Bait??? Apakah seperti yang diklaim oleh Syiah??? Lalu bagaimana dengan Paman Nabi Abu Sofyan yang mereka Kafirkan??? Bagaimana dengan Utsman yang mereka kafirkan??? Bagaimana dengan Abu Bakar yang mereka Kafirkan???

    Relakah engkau melihat mereka mengkafirkan para Shahabat Rasulullah dan juga termasuk Ahli Bait Beliau.

  15. assalamu’alaikum….
    baru baca nie….diskusinya seru bgt…ana disini cuma mau nimbrung aja,moga akhi daud tetap semangat dan istiqomah dalam da’wahnya,karena memang buaaanyak sekali kebid’ahan2 yang dilakukan oleh masyarakat dan kebid’ahan2 itu memang harus dihentikan,,,,bukanya ana mudah membid’ahkan seseorang,tapi memang kenyataanya begitu…

  16. assalamu’alaykum y akhi

    ana sudah cukup lama mendengar syubhat ini, akan tetapi setelah membaca artikel ini
    masih ada yang kurang jelas bagi ana.
    1. bagaimanakah wujud/kisah ruju’nya syaikh sulaiman bin abdul wahab menuju manhaj salaf?
    2. apakah ada bukti kuat bahwa perawi2 kisah ini melihat/mengetahui secara langsung
    mengenai ruju’nya syaikh sulaiman?
    Mohon dijelaskan karna ana masih kesulitan mendapatkan kitab2 referensi yang disebutkan diatas.
    Hal ini semata-mata agar pemahaman ana lebih mantap dalam menghadapi syubhat ini.

    jazakallah.

  17. saya jadi semakin yakin bila mazhab wahabi memang aneh, mudah mengamnggap ini itu bid’ah, syirik dan sebagainya, rujukannya hanya syeh muhammad bin abdul wahab melulu ( ya iyalah namanya juga wahabi) mbok coba di tengok seperti apa akidah syeikh Juneid Al baghdadi, atau Syeikh hasan Al Bashri, tentu kedua Ulama tersebut, hidup pada masa yang lebih dekat dengan Rosululloh, mestinya pemahaman akidah dan muamalahnya lebih baik daripada umat yang hidup pada masa yang lebih jauh dari mereka. Ajaran Wahabi yang Jumud, gampang menyalahkan, bagi saya kog mirip ajaran Talmud, yang intinya menganggap Klan Yahudi adalah Klan mulia, dan yang lainnya adalah binatang. barangkali memang demikian adanya, sebab kalu kita tengok lahirnya Wahabi adalah ajaran Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian di dukung Al Said dengan dana dari Inggris. Jika Saud dan Wahabi benar, kenapa harus konflik dengan Kholifah Ustmani pada saat itu. lantaran pemberontakan saudi, khilafah runtuh dan akhirnya masjidil aqsha dinodai oleh yahudi, Nampaknya nanti yang akan tertinggal hanya madzhab wahabi, sebab wahabi adalah mazhab yang dekat dengan yahudi (dari sisi politis, ekonomi , maupun praktek lapangan) tidak menutup kemungkinan, mazhab-mazhab yang lain, yang mengikuti ahlussunnah wal jama’an akan dibantai sebagaimana khowarij dibantu yahudi inggris membantai ahlussunah demi berdirinya kerajaan (pura-pura) Ilsam dengan judul saudi arabia. semoga pandangan saya salah dan saya berkesempatan bertaubat. saya masih khusnudzon kepada panjenengan sekalian teman-teman wahabi.

  18. sebagai seorang awam saya hanya ingin mengomentari tulisan Muchtar Luthfi yang di-‘copy-paste’ oleh Hendriawan, khususnya pada akhir paragraf ke-2 di bab Definisi Salafi. Di akhir paragraf itu tertulis bahwa “…Inggris pun akhirnya dapat menghilangkan dahaga negaranya dengan menyedot sebagian kekayaan negara itu,terkhusus minyak bumi……”

    Setahu saya dari referensi sejarah yang saya punya Keluarga Saud sangat membenci dominasi Inggris saat itu di Timur Tengah, oleh karena itu Raja Saud lebih memilih perusahaan Amerika Standard Oil of California (sekarang Chevron)- ini jelas bukan perusahaan Inggris- yang akhirnya menemukan sumber minyak pertama kali di Saudi Arabia pada tahun 1933 di masa resesi global kala itu. Posisi Arab Saudi betul-betul genting saat depresi global saat itu dan penemuan sumber minyak itu benar-benar membantu mereka.

    Dan juga tentunya faktor kenyataan dari pesaingnya bahwa Iran telah menemukan dan mengelola sumber minyak bumi jauh sebelumnya pada tahun 1908. Dan perlu dicatat bahwa penemu sumber minyak pertama kali di Iran itu adalah perusahaan minyak Inggris yaitu Anglo-Persian Oil Company (AIPOC) yang sekarang menjadi Bristish Petroleum.

    Jadi sepertinya ada sesuatu yang tidak akurat di tulisan Muchtar Lutfi di atas. Inggris seelumnya sudah menyedot sumber minyak bumi Iran jauh sebelum Amerika menemukan sumber minyak di Arab Saudi🙂

    Wassalam

    • sifat khas ahlil bid’ah wa hawa, kalau sdh tdk punya argumen lalu membolakbalik fakta

  19. berbahagialah yg membunuh atau terbunuh tanduk setan !!!

    Kykx bnyk jg dkampung gua ni, silahkan mencoba🙂


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s