Hadits-Hadits Dha’if Seputar Ramadhan

Ustadz Arif Syarifuddin, Lc

Dalam rangka mempersiapkan diri kita menghadapi bulan Ramadhan, mari kita kenali hal-hal yang dapat mengotori bulan suci ini. Setelah kita mengenal ritual-ritual ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah dalam bulan Ramadhan, tidak kalah penting untuk diketahui adalah hadits-hadits lemah dan palsu seputar Ramadhan.

Bulan ramadhan merupakan bulan yang dltunggu kedatangannya oleh seluruh kaum muslimin. Berbagal macam keglatan diadakan dalam rangka memanfaatkan bulan Ini. Diantara kegiatan yang sering diadakan adalah ceramah atau ta’llm. Kegiatan Inl sangat membantu kaum muslimin dalam mengenal agama Islam ini.

Namun sangat disayangkan, banyak diantara para da’i ini yang menyampalkan hadits-hadits dha’if (derajatnya lemah), bahkan hadits maudhu’ (palsu).

Padahal mestlnya kita berhati-hati dalam menyampaikan sebuah hadits. Kita harus tahu dulu derajat hadits tersebut Jika kita sudah mengetahui, bahwa hadits tersebut maudhu’, namun kfta tetap menyampaikannya, berartl terkena ancaman berdusta atas nama Rasulullah yang balasannya adalah neraka. Wal iyadzu billah.

Berikut ini kami sampaikan beberapa hadits dhaif dan maudhu’ yang banyak beredar di masyarakat bekaitan dengan bulan Ramadhan. Semoga bermanfaat.

  1. Bulan Ramadhan itu permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan), dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.Hadits munkar. Diriwayatkan oleh Al ‘Uqaili dalam Adh Dhu’afa (172), Ibnu Adi (1/165), Al Khatib dalam Al Muwadhdhih (2/77), Ad Dailami (1/1/10-11), Ibnu ‘Asakir (8/506/1), dari jalan Sallam bin Siwar dari Maslamah bin Ash Shalt dari Az Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah secara marfu’. Al ‘Uqaili berkata,”Tidak ada asalnya dari Az Zuhri.”

    Ibnu Adi berkata, “Dan Sallam (bin Sulaiman bin Siwar), menurutku adalah seorang munkarul hadits, dan Maslamah tidak dikenal.” Sedangkan Ibnu Abi Hatim mengatakan tentang Maslamah-,”Dia itu matrukul hadits.” 2

  2. Shalat Jum’at di Madinah seperti seribu shalat di tempat lain, dan puasa bulan Ramadhan di Madinah seperti puasa seribu bulan di tempat lain.Hadits -dengan lafadz seperti. ini- adalah maudhu’ (palsu). Diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam Minhajul Qashidin 1/57/2 dan dalam Al llal Al Wahiyah 3 2/86-87, dan Ibnu An Najjar dalam Ad Durar Ats Tsaminah Fi Tarikh Al Madinah (337), dari jalan Umar bin Abu Bakar Al Mushili dari Al Qasim bin Abdullah dari Katsir bin Abdullah bin ‘Amr bin ‘Auf dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’.

    Namun, dalam jalan periwayatan ini terdapat periwayat-periwayat yang matruk dan pendusta, yaitu:

    1. Katsir bin Abdullah bin Amr bin ‘Auf. Imam Asy Syafi’i berkata,”Dia adalah saiah satu rukun dusts (yakni pendusta).”
    2. Al Qasim bin Abdullah, yakni Al Amri AI Madani. Imam Ahmad berkata, “Dia pemah ..memaisukan hadits.
    3. Umar bin Abu Bakar Al Mushili. Abu Hatim berkata, “Dia seorang yang matruk dan dzahlbul hadits (maksudnya yakni ditinggaikan haditsnya).” 4
  3. Dail Anas berkata, Nabi pernah ditanya, “Puasa apa yang paling utama setelah Ramadhan?” Beliau menjawab, “(Puasa) Sya’ban untuk mengagungkan Ramadhan.” Beliau ditanya lagi, “Shadaqah manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab, “Shadaqah di bulan Ramadhan.”Hadits dha’if. Diriwayatkan oleh At Turmudzi 1/129, Abu Hamid Al Hadhrami dalam haditsnya, dan dari jalannya Al Hafizh Al Qasim bin AI Hafizh Ibnu Asakir meriwayatkan dalam Al Amalfi (majiis 47/2/2) dan Adh Dhiya’ Al Maqdisi dalam AlMuntaqa Minal Masmu’at Bi Marwu7/1 dari jalan Shadaqah bin Musa dari Tsabit dari Anas 5

    Abu isa At Turmudzi berkata,”Ini adalah hadits ghalib (satu jalan periwayatannya), dan Shadaqah bin Musa 6 menurut mereka (ahli hadits) tidak begitu kuat (haditsnya).”

    Dalam At Ta’liq, Imam Ahmad berkata tentangnya, “Aku tidak mengenalnya.” 7 Adz Dzahabi dalam Adh Dhu’afa 8 menyebutkan tentangnya (Shadaqah bin Musa), “Mereka (ahii hadits) telah mendha’ifkannya.”

    Dan Ibnu Hajar menyebutkannya dalam At Tagrib (Taqrib At Tandzib no. 2921.) “Dia itu shaduq (jujur), tapi mempunyai beberapa kesalahan.” Al Mundziri dalam At Targhib 1/79 mengisyaratkan perihal dha’ifnya hadits ini. 9


Catatan Kaki

1
Alumnus Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah tahun 1420 H. Sekarang menjabat Direktur Markaz Islami Bin Baaz, Piyungan, Bantul, Yogjakarta.
2
Lihat Adh Dha’ifah 4/70, no. 1569.
3
Lengkapnya berjudul Al ‘Ilal Al Mutanahiyah Fil Ahaditsil Wahiyah.
4 \
lihat Adh Dha’ifah 3/180, no. 1067.
5
Diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra (4/305) dan Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Syarhu Musykilil Atsar (2/83) tanpa menyebutkan bagian akhir hadits- dari jalan yang sama, yaitu dari Shadah bin Musa dari Tsabit dari Anas.
6
Yakni Ad Daqiqi.
7
Lihat Masail Ibnu Hani 2/230.
8
Al Mughni Fi Adh Dhu’afa 1/308,2784.
9
Al lrwa’ no. 889, dan lihat Dha’if At Turmudzi halaman 72 no. 663.

Simak selanjutnya hadits-hadits lemah bahkan palsu mengenai Ramadhan yang tersebar dan sering kita dengar dari berbagai macam media. Semoga kita selalu waspada terhadap hadits-hadits tersebut dan dapat mengingatkan kepada yang menyampaikannya karena ancamannya adalah Neraka. Apa saja selanjutnya?

  1. Dari lbnul Musayyib, ia pernah ditanya tentang puasa (Ramadhan) pada waktu safar, maka ia bercerita bahwa Umar bin Al Khaththab berkata, “Kami berperang bersama Rasulullah di bulan Ramadhan dua kali, pada perang Badar dan fathu Makkah, dan kami berbuka pada dua waktu tersebut.”Hadits Ini sanadnya dha’if. Diriwayatkan oleh At Turmudzi no. 714. 10 Pada sanadnya terdapat periwayat bernama Ibnu Lahi’ah, seorang yang shaduq, tapi menjadi kacau hafalannya setelah buku-bukunya terbakar. Tapi riwayatnya dari Ibnul Mubarak dan Ibnu Wahb bisa diterima. 11

    Dalam bab ini, ada juga riwayat dari Abu Said Abu’Isa berkata,

    “Kami tidak mengetahui hadits Umar kecuali dari jalur ini. Dan telah diriwayatkan dari, Abu Sa’id Al Khudri dari Nabi, bahwa beliau memerintahkan untuk berbuka pada saiah satu peperangan yang beliau ikuti. Dan telah diriwayatkan dari Umar pula serupa dengan hadits ini, hanya saja disebutkan keringanan untuk berbuka, ketika berhadapan dengan musuh. Dan ini merupakan pendapat sebagian ulama.” 12

  2. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa berbuka satu hari pada (slang hari) Ramadhan tanpa ada sebab keringanan atau sakit, maka tidak bisa diganti meski dengan puasa sepanjang masa.”Hadits dha’if. Diriwayatkan oleh At Turmudzi no. 723, Abu Daud no. 2396, dan Ibnu Majah no. 1672. Abu Isa berkata,”Hadits Abu Hurairah, tidak kami ketahui, kecuali dari jalur ini. Aku mendengar Muhammad (Al Bukhari) berkata, ‘Abul Muthawwis namanya adalah Yazid bin Al Muthawwis, saya tidak mengetahui darinya kecuali hadits ini’.” 13

    Lihat Dha’if At Turmudzi halaman 78-79 (no. 723), Dha’if Sunan Ibnu Majah halaman 131 no. 329/1696 – secara ringkas-, Dha’if Al Jami’Ash Shaghir no. 5462 dan Dha’if Sunan Abu Daud 413.

  3. Jika datang malam pertama bulan Ramadhan, Allah melihat kepada makhlukNya, dan jika Allah telah melihat hambaNya, maka Allah tidak akan mengadzabnya untuk selamanya, di setiap malam dan Allah memiliki satu juta jiwa yang dibebaskan dari api neraka.Hadits maudhu’ (palsu). Diriwayakan oleh Ibnu Fanjuyah dalam Majlis Min Al Amali Fi Fadhli Ramadhan (hadits terakhir), dan Abu! Qasim AI Ashbahani dalam At Targhib (Q 180/1) dari jalan Hammad bin Mudrik dari Utsman bin Abdullah dari Malik dari Abu Az Zinad dari AI A’raj dari Abu Hurairah secara marfu’.

    Dari jalan ini pula Adh Dhiya’ Al Maqdisi meriwayatkannya daiam Al Mukhtarah (10/100/1), dengan ada tambahan, kemudian is (Adh Dhiya’) berkata,”Utsman bin Abdullah Asy Syami, tertuduh (memalsukan hadits) dalam periwayatannya.”

    Demikian pula ibnul Jauzi menyebutkannya secara sempurna dalam Al Maudhu’at (2/190), kemudian beliau berkata yang kesimpuiannyasebagai berikut-,”(Hadits) maudhu’, dalam (sanad)nya terdapat para periwayat yang majhul (tidak dikenal), dan yang tertuduh memalsukan adalah Utsman.” Hal itu disetujui oleh As Suyuthi dalam Al Laali’ (2/100-101). 14

  4. Ketahuilah, aku kabarkan kepada kalian, bahwa malaikat yang paling utama adalah Jibril nabi yang paling utama adalah Adam hari yang paling utama adalah hari Jum’at , bulan yang paling utama adalah bulan Ramadhan, malam yang paling utama adalah malam lailatul qadar, dan wanita yang paling utama adalah Maryam binti lmran.Hadits maudhu’ (palsu). Diriwayatkan oieh Ath Thabarani no. 11361 dari jalan Nafi’ Abu Hurmuz dari ‘Atha bin Abi Rabah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’

    Ini adalah hadits maudhu’. Nafi’ Abu Hurmuz dinyatakan dusta oleh Ibnu Ma’in. Sedangkan An Nasal mengatakan, “Dia tidak tsiqah.”

    Dan Nabi yang paling utama adalah Muhammad, berdasarkan hadits shahih,

    Aku adalah penghulu manusia pada hari kiamat… (HR Muslim 1/127).

    Hal ini menunjukkan, bahwa hadits di atas maudhu’ (palsu). Al Haitsami menyebutkannya dalam Al Majma'(8/ 198), lalu beliau mendha’ifkannya dengan sebab Nafi’. Beliau mengatakan -tentang Nafi’-, “(Dia itu) matruk.” – yakni ditinggalkan haditsnya-. 15


Catatan Kaki

10
Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad 1/22 dan AI Bazzar 1/421, tapi keduanya menyebutkan dari Ibnu Lahi’ah dari Bukair bin Abdullah dari Sa’id bin Al Musayyib. Sementara At Turmudzi menyebutkan dari Ibnu Lahi’ah dari Yazid bin Abu Habib dari Ma’mar bin Huyayyah dari Ibnul Musayyib.
11
Lihat At Taqrib no. 3563.
12
Lihat Dha’if At Turmudzi halaman 76-77, no. 714.
13
Al Mundziri dalam At Targhib 2/66 menukil dari Al Bukhari. bahwa beliau juga berkata, “Aku tidak tahu, apakah bapaknya (yakni bapak dari Abu! Muthawwis) telah mendengar dari Abu Hurairah atau tidak’?” Lalu menukil pula dari Ibnu Hibban, bahwa beliau berkata.”Tidak boleh bcrhujjah dengannya (yakni Abul Muthawwis) dalam keadaan dia hersendiri (dalam meriwayatkan hadits).” Wallahu a’lam.
14
Lihat Adh Dha’ifah 1/470, no. 299.
15
Lihat Adh Dha’ifah 1/ 638, no. 446.

Pantau terus hadits-hadits dha’if dan lemah yang berkaitan dengan bulan Ramadhan demi menjaga kesucian bulan yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya dengan penuh keberkahan. Apa saja selanjutnya? Berikut keterangannya.

  1. “Subhanallah, apa gerangan yang akan kalian hadapi dan apa gerangan yang akan mendatangi kalian – beliau ucapkan tiga kali-. “Umar bertanya, ‘ Wahai Rasulullah, apakah telah turun wahyu ataukah ada musuh yang datang?”Beliau menjawab, “Bukan, tetapi Allah akan mengampuni setiap ahli kiblat ini (umat Islam) pada awal bulan Ramadhan.”
    Sementara itu, ada seorang laki-laki di sudut kerumunan orang banyak sedang menggelengkan kepalanya sambil mengucapkan ‘puh, puh’. Maka Nabi berkata kepadanya, “Sepertinya dadamu merasa sesak dengan apa yang kamu dengar.”Orang tersebut menjawab, “Demi Allah, tidak, wahai Rasulullah. Akan tetapi, engkau mengingatkan tentang orang-orang munafikin.” Maka Nabi berkata, “Sesungguhnya orang munafik itu kafir, dan orang kafir tidak memperoleh bagian sedikitpun dalam hal ini.”Hadits munkar. Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Al Awsath (1/97/1 -salah satu diantara tambahan-tambahannya), Abu Thahir Al Anbari dalam Masyikhah-nya (147/1-2), Ibnu Fanjuyah dalam Majlis Min Al Amalfi Fi Fadhli Ramadhan (3/2-4/1), Al Wahidi dalam Al Wasith (1/64/1), dan Ad Dulabi dalam Al Kuna (1/107), dari jalan ‘Amr bin Hamzah Al Qaisi Abu Usaid dari Abu Ar Rabi’ Khalaf dari Anas bin Malik, secara marfu’.

    Dalam sanadnya terdapat para periwayat yaitu:

    1. `Amr bin Hamzah. Didha’ifkan oleh Ad-Daruquthni. Ath Thabrani berkata,”Hadits ini tidak diriwayatkan dari Anas , kecuali dengan sanad ini, dan ‘Amr bersendiri dalam meriwayatkannya.”
    2. Khalaf Abu Ar Rabi’, seorang yang majhul (tidak dikenal). Dan is bukan Khalaf bin Mahran sebagaimana disebutkan oleh AI Bukhari dan Ibnu Abi Hatim. 16
  2. Bulan Ramadhan itu tergantung diantara langit dan bumi, dan tidak akan diangkat kepada Allah kecuali dengan zakat fitrah.Hadits dha’if. Disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al ‘Hal Al Mutanahiyah (2/8/824). Lalu beliau manyatakan, bahwa hadits ini tidak shahih. Di dalamnya terdapat periwayat bernama Muhammad bin Ubald AI Bashri, dia seorang yang majhul (tidak dikenal). 17
  3. Orang yang berpuasa Ramadhan ketika safar seperti orang yang berbuka ketika mukim.Hadits munkar. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1/ 511), Al Haitsam bin Kulai dalam Al Musnad (22/2) dan Adh Dhiya’ dalam Al Mukhtarah (1/305), dari jalan Usamah bin Zaid dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari bapaknya Abdurrahman bin `Auf, secara marfu’.

    Hadits ini dha’if, karena ada dua ‘illah (sebab yang mendha’ifkan) yaitu:

    1. Terdapat Inqitha’ (terputus sanadnya), karena Abu Salamah tidak pernah mendengar (hadits) dari bapaknya, sebagaimana dalam Al Fath (yakni Fathul Barr).
    2. Usamah bin Zaid ada kelemahan dalam hafalannya, dan (dalam hadits ini) dia menyelisihi (periwayatan) orang yang tsiqah, yaitu Ibnu Abi Dzi’b, bahwa is (Ibnu Abi Dzi’b) meriwayatkannya dari Az Zuhri Ibnu Syihab secara mauquf (hanya sampai sahabat).

    Diriwayatkan juga oleh An Nasal (1/316) dan AI Firyabi dalam Ash Shiyam (4/70/1), dari beberapa jalan dari Ibnu Syihab. Oleh karena itu, Al Baihaqi berkata dalam As Sunan Al Kubra (4/244), “Dan hadits ini mauquf. Dalam sanadnya terdapat inqitha’ (keterputusan). Dan diriwayatkan secara marfu’, namun sanadnya dha’if.” 18

  4. Barangsiapa beri’tikaf sepuluh hari di bulan Ramadhan, maka sama pahalanya seperti dua kali dan dua kali umrah.Hadits maudhu’ (paisu). Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab dari hadits AI Husain bin Ali; secara marfu’. Lalu beliau berkata,”Sanadnya dha’if, Muhammad bin Zadan seorang periwayat hadits ini- adalah seorang matruk (ditinggalkan haditsnya).” Imam Al Bukhari berkata, “Haditsnya tidak boleh ditulis.”

    Dalam sanadnyajuga terdapat periwayat bernama ‘Anbasah bin Abdurrahman. Al Bukhari berkata,”Mereka (ahli hadits) meninggalkan (hadits)nya.” Adz Dzahabi berkata dalam Adh Dhu’afa, “Dia itu matruk dan tertuduh memalsukan hadits-.”

    Adz Dzahabi dalam Al Mizan menukil dari Abu Hatim, bahwa is berkata tentang ‘Anbasah-,”Dia memalsukan hadits”, dan ini salah satunya. 19


Catatan Kaki

16
Lihat Adh Dha’ifah 1/468, no. 298.
17
Lihat Adh Dha’ifah 1/117 no. 43.
18
Lihat Adh Dha’ifah 1/713, no. 498.
19
Lihat Adh Dha’ifah 2/10, no. 518.

Sebagai penutup dari pembahasan ini, kami suguhkan hadits-hadits yang tidak dapat dijadikan landasan dalam beramal, apalagi untuk kita yakini. Mengapa demikian? Karena kebanyakan hadits-haditsnya adalah palsu bahkan mungkar.

  1. Barangsiapa berbuka satu hari (di slang hari) bulan Ramadhan dalam keadaan mukim, maka hendaknya menyembelih seekor hewan kurban (unta atau sap). Jika tidak sanggup, maka memberi makan orangorang miskin dengan kurma sebanyak 30 sha’.Hadits maudhu’ (palsu). Disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’atdari apa yang diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni, dari jalan Khalid bin ‘Amr Al Himshi dari bapaknya dari Al Harits bin ‘Ubaidah Al Kila’i dari Muqatil bin Sulaiman dari ‘Atha bin Abi Rabah dari Jabir, secara marfu’. Beliau (Ibnul Jauzi) berkata (2/196), “Muqatil itu pendusta, dan Al Harits itu dha’if (lemah haditsnya).” Dan disepakati oleh As Suyuthi dalam Al Laali (2/106). 20
  2. Sesungguhnya, syurga akan berhias menghadapi bulan Ramadhan dari tahun ke tahun. Maka jika datang malam pertama bulan Ramadhan, berhembuslah angin dari bawah ‘arsy, lalu terbukalah daun-daun syurga dari tubuh Hur’ien (para bidadari syurga), lalu mereka berkata, “Wahai Rabb kami, jadikanlah untuk kami pasangan-pasangan dari hamba-hambaMu yang dapat menyejukkan mata kami dan menyejukkan mata mereka.”Hadits munkar. Diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Al Mu jam Al Awsath no. 6943, Tammam dalam Al Fawaid (Juz 1,.no. 34), dan Ibnu ‘Asakir dalam Fadhlu Ramadhan (Q/171-2) , dari jalan Al Walid bin Al Walid dari Ibnu Tsauban dari’Amr bin Dinar dari Ibnu Umar, secara marfu’.

    Ath Thabrani berkata,’Tidak ada yang meriwayatkan dari Ibnu Tsauban selain Al Walid.” Dan dia adalah Al Qalanisi, seorang yang wahin (amat lemah haditsnya). Ad Daruquthni menyatakan, bahwa dia (Al Walid) itu matruk. Di waktu lain beliau mengatakan, “Munkarul hadits.” Sedangkan Nashr Al Maqdisi menyatakan,”Mereka (ahli hadits) telah meninggalkannya (AI Walid).” 21

  3. “Barangsiapa memberi buka kepada seorang yang berpuasa di bulan Ramadhan dari pendapatan yang halal, maka malaikat akan mendo’akannya sepanjang ma/am-malam Ramadhan, Jibril akan menjabat tangannya.
    Dan barangsiapa yang tangannya dijabat oleh Jibril, maka hatinya akan lunak dan air matanya akan banyak bercucuran.” Seorang laki-laki bertanya,’ Wahai Rasulullah, jika seseorang tidak punya?” Beliau menjawab, “Cukup segenggam makanan.” Orang tersebut bertanya lagi,’Bagaimana dengan orang yang tidak punya itu?” Beliau menjawab, “Kalau begitu sepotong roti.”Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana jika dia tidak punya itu.” Beliau menjawab,”Kalau begitu, seteguk susu. “Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana jika dia tidak punya itu?” Beliau menjawab, “Kalau begitu, seteguk air minum.”Hadits dha’if. Diriwayatkan oleh Ibnu Adi dalam Al Kamil (Q69/2), dari jalan Hakim bin Khidzam Al Abdi dad Ali bin Zaid dari Sa’id bin Al Musayyib dari Salman Al Farisi, secara marfu’. Sanad hadits ini lemah sekali, padanya ada dua ‘illat (sebab kelemahannya), yaitu:

    1. Ali bin Zaid, yaitu bin Jad’an adalah seorang yang dha’if karena buruk hafalannya.
    2. Hakim, dinyatakan oleh Abu Hatim sebagai,”Matrukul hadits.” Sedangkan Al-Bukhari menyebutnya, “Munkarul hadits.” 22

Dihimpun dan disarikan dari:

  1. Silsllah Al Ahadits Adh Dha’ifah, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cetakan 1, Maktabatul Ma’arif, Riyadh, KSA.
  2. lrwa’ul Ghalil Fi Takhriji Ahaditsi Manaris Sabil, karya Syaikh Muhammad Nashirudin AI Albani, Cetakan 2, Al Maktab Al Islami, Beirut.
  3. Dha’if Sunan At Turmudzi, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cetakan 1, Maktabatul Ma’arif, Riyadh, KSA.
  4. Dha’if Sunan Abu Daud, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cetakan 1, Maktabatul Ma’arif, Riyadh, KSA.
  5. Dha’if Sunan Ibnu Majah, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cetakan 1, Maktabatul Ma’arif, Riyadh, KSA.
  6. Dha’if Al Jami’ush Shaghir, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cetakan 3, Al Maktab Al Islami, Beirut.
  7. Al ‘ilal Al Mutanahiyah Fil Ahaditsil Wahiyah, karya Ibnul Jauzi, tahqiq, Al Ustadz Irsyadul Haq Al Atsari, ldaratul ‘Ulumil Atsariyyah, Faishal Aabad, Pakistan.

Catatan Kaki

20
Lihat Adh Dha’ifah 2 88, no. 263.
21
Lihat Adh Dha’ifah 3/493, no. 1325.
22
Lihat Adh Dha’ifah 3/503, no. 1333.

(http://vbaitullah.or.id)

Baghdad

Letak geografis:
Lahirnya kota Bagdad bertalian dengan sejarah dinasti Abbasiah (Abbasid). Pendirinya adalah khalifah Abu Jakfar Al-Manshur pada tahun 145 H. yang terletak di tepi kanan sungai Tigris. Pada awal pembangunan, Bagdad berbentuk lingkaran dan mempunyai empat pintu. Abu Jakfar memberinya dua pagar dan membangun istana dan mesjid jami? di tengah-tengahnya.
Bagdad terletak pada posisi 45° bujur timur dan 34° lintang utara.

Di abad ke empat Bagdad merupakan kota budaya, pertemuan, dan politik paling terkenal. Pada masa pemerintahan khalifah Harun Ar-Rasyid, kota itu mencapai puncak kemajuannya. Luasnya bertambah hingga sama dengan luas empat kota yang digabung menjadi satu.

Sepanjang sejarah, Bagdad terkenal mempunyai posisi istimewa dalam bidang keilmuan. Pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid didirikan Baitul Hikmah yang kemudian diselesaikan oleh putranya, Al- Makmun pada abad keempat. Baitul Hikmah adalah semacam balai ilmu dan perpustakaan. Di situ para cendikiawan dan peneliti sering berkumpul untuk menerjemah dan diskusi masalah ilmiah. Khalifah Harun Ar-Rasyid kemudian Al-Makmun secara aktif selalu ikut dalam pertemuan-pertemuan itu.

Perpustakaan tersebut benar-benar mempunyai andil yang sangat besar dalam mengembangkan ilmu kedokteran, kimia dan falak dimana eksperimen dan penelitian ilmiah selalu berjalan seiring. Pada saat itu khalifah dan hartawan banyak berjasa dalam pengadaan buku-buku langka dan memberikan kemudahan bagi para cendekiawan. Misalnya, khalifah Harun Ar-Rasyid yang mengalokasikan suatu tempat dalam istana untuk tempat buku-buku langka, baik yang berbahasa Arab maupun bahasa lain. Pada masa putranya, Al-Makmun koleksi buku-buku itu bertambah besar hingga mencapai beribu-ribu judul dan eksemplar. Selain itu di Bagdad masih terdapat banyak perpustakaan. Tetapi pasukan Moghul, banjir sungai Euprat dan kebakaran besar yang terjadi di Bagdad telah melanyapkan sebagian besar buku-buku itu.

Tokoh Bagdad yang paling terkenal:
Bagdad terkenal dengan banyak ulama dan ahli fikih. Di antaranya; Imam Ahmad bin Hambal, Abu Ishaq As-Syirazi, Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Jahidh, As-Syasyi, Ibnul Jauzi, Al-Farra, Al-Zajjaj, Al-Zujaji, Qatrab, As-Sirafi, Ibnus Sikkit, Yaqut Al-Hamawi, Al-Baladzri, Ibn Khardadzibah, Al-Mas?udi, Al-Kindi, Al-Shufi, Al-Fazari, As-Shaghani, Al-Khuwarizmi, Al-Thusi, Al-Kurkhi, Ibn Rabn At-Thabari, Ar-Razi, Ibn Malka, Al-Ahawazi, Al-Khayyam An-Naisaburi, Ibnul Ain Az-Zirbi, Ibnul Labbad dan lain-lain.

Jatuh dan dijajahnya Bagdad:
Dalam perjalannya, Bagdad menemui banyak aral melintang yang berlangsung cukup lama. Seluruh negeri kacau, pemberontakan terjadi di mana-mana, khalifah Abbasiah lemah dan pihak luar banyak ikut campur dalam menentukan kendali pemerintahan.

Puncaknya, terjadi pada tahun 656 H. ketika Holako menyerbu Bagdad dan mengepungnya. Perang pun terjadi berbarengan dengan perpecahan intern di dalam tubuh pemerintah Abbasiah. Akhirnya Bagdad jatuh ke tangan pasukan Tatar dan khalifah Al-Mu?tashim, beserta anak dan semua hulu balangnya berhasil dibunuh. Pamor Bagdad hilang dan matahari kekhilafahan Abasiah yang pernah jaya selama lima abad itu tenggelam sudah. Bencana besar pun telah menimpa seluruh dunia Islam pada saat itu. Dalam perjalanan selanjutnya, Timurlenk pernah menyerbu beberapa kali dan terakhir tahun 803 dan berhasil mendudukinya dengan kekerasan. Pasukannya berada di situ selama seminggu dan melakukan segala macam kejahatan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Pada tahun 914 H. diserbu oleh Syah Ismail As-Shafawi dan berhasil dikuasai hingga jatuh di tangan Turki Usmani pada tahun 941 H. Kemudian kembali lagi ke tangan dinasti Safawi pada tahun 1033 H. sampai direbut lagi oleh sultan Usmani, Murad IV pada tahun 1048 H.

Semua peristiwa itu membuat Bagdad menjadi mundur, lemah dan terbelakang dalam berbagai bidang kebudayaan, yang pernah berjaya dalam kurun waktu yang cukup lama.

Pada tahun 1335 H. Bagdad jatuh ke tangan Inggris. Pada saat perlawanan Irak berkobar, Inggris meminta surat perwalian dari Liga Bangsa-Bangsa yang berisikan bahwa ia mau mengakui kemerdekaan Irak dengan syarat mau menerima perwalian dari negara yang ditunjuk hingga mampu berdiri sendiri.
Bagdad menjadi ibu kota Irak hingga sekarang.

(http://vbaitullah.or.id)

Fenomena Bid’ah di Bulan Rajab

Abu Ubaidah Al-Atsari

 Bulan Rajab termasuk dalam bulan-bulan yang mulia. Mengingat bulan Rajab sudah diambang pintu, ada baiknya jika kita memperhatikan dengan seksama apa-apa saja yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Manakah yang ada tuntunannya dari Rasulullah, dan mana yang tidak ada. Sebagai pembuka bahasan ini, simak pendahuluannya.

Memang benar, keutamaan bulan dalam (kalender hijriyah) itu bertingkat-tingkat, begitu juga hari-harinya. Misalnya bulan Romadhon lebih utama dari semua bulan, hari Jum’at lebih utama dari semua hari, malam Lailatul Qodar lebih utama dari semua malam dan lain sebagainya.

Namun, harus kita fahami bersama bahwa timbangan keutamaan tersebut hanyalah syari’at, yakni Al-Qur’an dan hadits yang shohih, bukan hadits-hadits dho’if dan maudhu’ (lemah dan palsu).

Diantara bulan Islam yang ditetapkan kemuliaannya dalam Al-Qur’an dan sunnah adalah bulan Rojab. Namun sungguh sangat disesalkan beredarnya riwayat-riwayat yang dho’if dan palsu seputar bulan Rojab serta amalan-amalan khusus di bulan Rojab di tengah masyarakat kita, sehingga digunakan senjata oleh para pecandu bid’ah dalam mempromosikan kebid’ahan-kebid’ahan ala jahiliyyah di muka bumi ini.

Dari sinilah, terasa pentingnya penjelasan secara ringkas tentang pembahasan seputar bulan Rojab dan amalan-amalan manusia yang menodainya dengan riwayat-riwayat yang lemah dan palsu.

Rojab, Definisi dan Keutamaannya

Rojab secara bahasa diambil dari kata “Rojaba ar-rajulu rajaban”, artinya mengagungkan dan memuliakan. Rojab adalah sebuah bulan. Dinamakan dengan Rojab dikarenakan mereka dulu sangat mengagungkannya pada masa jahiliyah yaitu dengan tidak menghalalkan perang di bulan tersebut. 1

Tentang keutamaannya, Alloh telah berfirman,

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Alloh adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Alloh di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS At-Taubah: 36).

Imam At-Thobari berkata,

Bulan itu ada dua belas, empat diantaranya merupakan bulan harom (mulia), dimana orang-orang jahiliyah dahulu mengagungkan dan memuliakannya. Mereka mengharomkan peperangan pada bulan tersebut hingga seandainya ada seseorang bertemu dengan pembunuh bapaknya, dia tidak akan menyerangnya.

Bulan empat itu adalah Rojab Mudhor, dan tiga bulan berurutan: Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharrom. Demikianlah yang dinyatakan dalam hadits-hadits Rasulullah. 2

Imam Bukhori meriwayatkan dalam Shohihnya (4662) dari Abu Bakroh bahwasanya Nabi bersabda,

Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaannya tatkala Alloh menciptakan langit dan bumi, setahun ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan harom, tiga bulan berurutan yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom dan Rojab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa bulan Rojab sangat diagungkan oleh manusia pada masa jahiliyah adalah riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2 / 345) dari Khorosyah bin Hurr, ia berkata,

Saya melihat Umar memukul tangan-tangan manusia pada bulan Rojab agar mereka meletakkan tangan mereka di piring, kemudian beliau (Umar) mengatakan,

Makanlah oleh kalian, karena sesungguhnya Rojab adalah bulan yang diagungkan oleh orang-orang Jahiliyah. 3


Catatan Kaki

1
Lihat Al-Qomus Muhith 1 / 74 dan Lisanul Arob 1 / 411, 422.
2
Lihat Jami’ul Bayan 10 / 124 – 125.
3
Atsar shohih, dishohihkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 25 / 291 dan Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 957.

A. Riwayat Seputar Rajab

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, dalam kitabnya Tabyin ‘Ajab Bima Waroda Fi Rojab (6):

Tidak ada hadits shohih yang dapat dijadikan hujjah seputar amalan khusus di bulan Rojab, baik puasa maupun sholat malam dan sejenisnya. Dan dalam menegaskan hal ini, aku telah didahului oleh Al-Imam Abu Isma’il Al-Harowi Al-hafidz. Kami meriwayatkan darinya dengan sanad shohih, demikian pula kami meriwayatkan dari selainnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar juga berkata,

Hadits-hadits yang datang secara jelas seputar keutamaan Rojab atau puasa di bulan Rojab terbagi menjadi dua, dho’if (lemah) dan maudhu’ (palsu).

Al-Hafizh telah mengumpulkan hadits-hadits seputar Rojab, maka beliau mendapatkan sebelas hadits berderajat dho’if dan dua puluh satu hadits berderajat maudhu’. Berikut ini kami nukilkan sebagian hadits-hadits dho’if dan maudhu’ tersebut:

Sesungguhnya di Surga ada sebuah sungai yang dinamakan “Rojab”, warnanya lebih putih dari susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa berpuasa satu hari di bulan Rojab, niscaya Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut. (Hadits dho’if / lemah)

Rasulullah apabila memasuki bulan Rojab, beliau berdo’a, “Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rojab dan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan Romadhon.” (Hadits dho’if / lemah)

Bulan Rojab adalah milik Alloh, Sya’ban adalah bulanku dan Romadhon adalah bulan umatku. (Hadits maudhu’ / palsu)

Keutamaan bulan Rojab dibandingkan semua bulan seperti keutamaan Al-Qur’an terhadap semua dzikir. (Hadits maudhu’ / palsu)

Barangsiapa berpuasa pada bulan Rojab dan sholat empat rokaat pada bulan tersebut,… niscaya dia tidak menginggal dunia hingga melihat tempat tinggalnya di Surga, atau diperlihatkan untuknya (Hadits maudhu’ / palsu)

Itulah sedikit contoh dari hadits-hadits dho’if dan maudhu’ seputar bulan Rojab. Sengaja kami nukil secara ringkas karena maksud kami hanya untuk dapat memberikan syara’at dan perhatian saja, bukan membahas secara detail dan terperinci.

B. Sholat Roghoib

Sholat Roghoib adalah sholat yang dilaksanakan pada malam Jum’at pertama bulan Rojab, tepatnya antara sholat maghrib dan isya’ dengan didahului puasa hari Kamis, dikerjakan dengan dua belas rakaat. Pada setiap rakaat membaca surat Al-Fatihah sekali, surat Al-Qodar tiga kali dan surat Al-Ikhlas dua belas kali… dan seterusnya.

Sifat sholat seperti di atas tadi didukung oleh sebuah riwayat oleh sahabat Anas bin Malik yang dibawakan secara panjang oleh Imam Ghozali (bukan Moh Ghozzali Al-Mishri) dalam Ihya’ Ulumuddin (1 / 203) dan beliau menamainya dengan “Sholat Rojab” seraya berkata “ini adalah sholat yang disunnahkan”!!!

Demikianlah perkataannya -semoga Allah mengampuninya- padahal para pakar ahli hadits telah bersepakat dalam satu kata bahwa hadits-hadits tentang “Sholat Roghoib” adalah Maudhu’ (palsu). Di bawah ini, penulis nukilkan sebagian komentar ulama’ ahli hadits tentangnya:

  1. Imam Ibnu Jauzy berkata:

    Hadits sholat Roghoib adalah palsu, didustakan atas nama Rasulullah. Para ulama mengatakan bahwa hadits ini dibikin oleh seseorang yang bernama Ibnu Juhaim. Dan saya mendengar syaikh (guru) kami Abdul Wahhab Al-Hafizh mengatakan,

    Para perowinya majhul (tidak dikenal), saya telah memeriksa seluruhnya dalam setiap kitab, namun saya tidak mendapatkannya. 4

  2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

    Sholat Roghoib adalah bid’ah menurut kesepakatan para imam agama, tidak disunnahkan oleh Rasulullah, tidak pula oleh seorangpun dari khalifahnya serta tidak dianggap baik oleh para ulama panutan, seperti Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauri, Auza’i, Laits dan sebagainya. Adapun hadits tentang sholat Roghoib tersebut adalah hadits dusta, menurut kesepakatan para pakar ahli hadits. 5

  3. Imam Dzahabi berkata tatkala mebceritakan biografi imam Ibnu Sholah:

    Beliau (Ibnu Sholah) tergelincir dalam masalah sholat Roghoib, beliau menguatkan dan mendukungnya padahal kebatilan hadits tersebut tidak diragukan lagi. 6

  4. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata:

    Demikian pla hadits-hadits tentang sholat Roghoib pada awal malam Jum’at bulan Rojab, seluruhnya dusta, dibuat-buat atas nama Rasulullah. 7

  5. Al-Hafidz Al-‘Iroqi berkata: “hadits maudhu’ (palsu).” 8
  6. Al-Allamah Asy-Syaukani berkata:

    Maudhu’, karena para perowinya majhul. Dan inilah sholat Roghoib yang masyhur, para pakar telah bersepakat bahwa hadits tersebut maudhu’, kepalsuannya tidak diragukan lagi, hingga orang yang baru dalam ilmu hadits sekalipun… Berkata Al-Fairuz Abadi dalam Al-Mukhtashor bahwa hadits tersebut maudhu’ menurut kesepakatan, demikian pula dikatakan oleh Al-Maqdisi. 9

Apabila telah jelas derajat Sholat Roghoib sebagaimana di atas, maka mengerjakannya merupakan kebid’ahan dalam agama, yang harus diwaspadai oleh setiap insan yang hendak meraih kebahagiaan.

Untuk menguatkan kebid’ahan sholat Roghoib ini, penulis nukilkan perkataan dua imam masyhur di kalangan madzhab Syafi’i yaitu Imam Nawawi dan Imam Suyuthi – semoga Allah merahmati keduanya.

Imam Nawawi berkata,

Sholat yang dikenal dengan Sholat Roghoib, dua belas rakaat antara Maghrib dan Isya’ awal malam Jum’at bulan Rojab dan sholat Nisfu Sya’ban seratus rakaat, termasuk bid’ah mungkar dan jelek. Janganlah tertipu dengan disebutkannya kedua sholat tersebut dalam Qutul Qulub dan Ihya’ Ulumuddin (karya Al-Ghozali) dan jangan tertipu [ula oleh hadits yang termaktub pada kedua kitab tersebut. Sebab, seluruhnya merupakan kebatilan. 10

Imam Suyuthi berkata,

Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa mengagungkan hari dan malam ini (Rojab) merupakan perkara yang diada-adakan dalam Islam, yang bermula setelah 400H.

Memang ada riwayat yang mendukungnya, namun haditsnya maudhu’ (palsu) dengan kesepakatan para ulama’, riwayat tersebut intinya tentang keutamaan puasa dan sholat pada bulan Rojab yang dinamai dengan Sholat Roghoib.

Menurut para pakar, dilarang mengkhususkan bulan ini (Rojab) dengan puasa dan sholat bid’ah (sholat Roghoib) serta segala jenis pengagungan terhadap bulan ini seperti membuat makanan, menampakkan perhiasan dan sejenisnya. Supaya bulan ini tidak ada bedanya seperti bulan-bulan lainnya. 11

Kesimpulannya, riwayat tentang Sholat Roghoib adalah maudhu’ (palsu) dengan kesepakatan para pakar ahli hadits. Oleh karena itu, beribadah dengan hadits palsu merupakan kebid’ahan dalam agama, apalagi sholat Roghoib ini baru dikenal mulai tahun 448H.


Catatan Kaki

4
Al-Maudhu’at (2 / 124 – 125).
5
Majmu’ Fatawa (23 / 134)
6
Siyar A’lam Nubala’ (23 / 142 – 143)
7
Al-Manar Munir (no. 167)
8
Takhrij Ihya’ (1 / 203)
9
Al-Fawaidul Majmu’ah (47 – 48)
10
Al-Majmu’ Syarh Muhadzab (3 / 549)
11
Al-Amru Bil Ittiba’ hal. 166 – 167.

C. Perayaan Isra’ Mi’raj

Setiap tanggal 27 Rojab, perayaan Isro’ Mi’roj sudah merupakan sesuatu yang tidak dapat terlupakan di masyarakat kita sekarang. Bahkan, hari tersebut menjadi hari libur nasional. Oleh karena itu, mari kita mempelajari masalah ini dari dua tinjauan.

  1. Tinjauan Sejarah Munculnya Perayaan Isro’ Mi’rojDalam tinjauan sejarah waktu terjadinya Isro’ Mi’roj masih diperdebatkan oleh para ulama. Jangankan tanggalnya, bulannya saja masih diperselisihkan hingga kini. Al-hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqolani memaparkan perselisihan tersebut dalam kitabnya, Fathul Bari (7 / 203) hingga mencapai lebih dari sepuluh pendapat!Ada yang berpendapat bahwa Isro’ Mi’roj terjadi pada bulan Romadhon, Syawal, Robi’ul Awal, Robi’ul Akhir … dan seterusnya.

    Al-Imam Ibnu Katsir menyebutkan dari Zuhri dan ‘Urwah bahwa Isro’ Mi’roj terjadi setahun sebelum keluarnya Nabi ke kota Madinah yaitu bulan Robi’ul Awal, adapun pendapat Suddi, waktunya adalah enam belas bulan sebelum hijroh, yaitu bulan Dzulqo’dah.

    Al-Hafidz Abful Ghoni bin Surur Al-Maqdisi membawakan dalam sirohnya hadits yang tidak shohih sanadnya tentang waktu isro’ mi’roj pada tanggal 27 Rojab. Dan sebagian manusia menyangka bahwa isro’ mi’roj terjadi pada hari Jum’at pertama bulan Rojab, yaitu malam Roghoib yang ditunaikan pada waktu tersebut sebuah sholat masyhur, tetapi tidak ada asalnya. 12

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, -sebagaimana dinukil oleh muridnya, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah-,

    Tidak ada dalil shohih yang menetapkan bulan maupun tanggalnya, seluruh nukilan tersebut munqothi’ (terputus) dan berbeda-beda. 13

    Bahkan Imam Abu Syamah menegaskan,

    Sebagian tukang cerita menyebutkan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi pada bulan Rojab, hal itu menurut ahli hadits merupakan kedustaan yang amat nyata. 14

    Dari perkataan para ulama’ di atas dapat disimpulkan bahwa Isro’ Mi’roj merupakan malam yang agung, namun tidak diketahui waktunya. Agar pembaca memahami masalah ini, dengan mudah saya katakan,

    Ada sebagian ibadah yang berkaitan erat dengan waktu, kita tidak boleh melangkahinya seperti sholat lima waktu. Ada sebagian ibadah lainnya, Allah menyembunyikan waktunya dan memerintahkan kepada kita untuk berlomba-lomba mencarinya seperti malam Lailatul Qodar. Dan sebagian waktu yang mulia derajatnya di sisi Allah dan tidak ada ibadah khusus (seperti sholat dan puasa) untuknya, oleh karena itu Allah menyembunyikan waktunya, seperti malam Isro’ Mi’roj. 15

  2. Tinjauan Syari’atDitinjau dari segi syari’at, kalau toh memang benar bahwa Isro’ Mi’roj terjadi pada 27 Rojab, namun kalau kemudian waktu tersebut dijadikan sebagai malam perayaan dengan pembacaan kisah-kisah palsu tentang Isro’ Mi’roj, maka seseorang yang tidak mengikuti hawa nafsunya, tidak akan ragu bahwa hal tersebut termasuk perkara bid’ah dalam Islam. Sebab, perayaan tersebut tidaklah dikenal di masa sahabat, tabi’in dan para pengikut setia mereka.Islam hanya memiliki tiga hari raya; yakni Idhul Fitri, Idhul Adha setiap satu tahun, dan hari Jum’at setiap satu minggu. Selain tiga ini, tidak termasuk agama Islam secuilpun. 16

    Ibnu Hajj berkata, “Termasuk perkara bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang pada malam 27 Rojab adalah …” Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh bid’ah pada malam tersebut seperti kumpul-kumpul di masjid, ikhthilath (campur baur antara laki-laki dengan perempuan), menyalakan lilin dan pelita; beliau juga menyebutkan perayaan malam Isro’ Mi’roj termasuk perayaan yang dinasabkan kepada agama, padahal bukan darinya. 17

    Ibnu Nuhas berkata,

    Sesungguhnya perayaan malam ini (Isro’ Mi’roj) merupakan kebid’ahan besar dalam agama yang diada-adakan oleh saudara-saudara syetan. 18

    Penulis kitab As-Sunan wal Mubtada’at, Muhammad bin Ahmad As Syafi’i (murid Syaikh Rosyid Ridho) hal 127 menegaskan,

    Pembacaan kisah Mi’roj dan perayaan malam 27 Rojab merupakan perkara bid’ah… Dan kisah Mi’roj yang disandarkan kepada Ibnu Abbas, seluruhnya adalah kebatilan dan kesesatan. Tidak ada yang shohih kecuali beberapa huruf saja.

    Demikian pula dengan kisah Ibnu Shulthon, seorang penghambur yang tidak pernah sholat kecuali di bulan Rojab saja, namun tatkala hendak meninggal dunia, terlihat padanya tanda-tanda kebaikan sehingga ketika Rasulullah ditanya perihalnya, beliau menjawab,

    Sesungguhnya dia telah bersungguh-sungguh dan berdo’a pada bulan Rojab.

    Semua ini merupakan kedustaan dan kebohongan. haram hukumnya membacakan dan melariskan riwayatnya kecuali untuk menjelaskan kedustaannya. Sungguh sangat mengherankan kami, tatkala para jebolan Azhar membacakan kisah-kisah palsu seperti ini kepada manusia.

    Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata,

    Malam Isro’ Mi’roj tidak diketahui waktu terjadinya. Karena seluruh riwayat tentangnya tidak ada yang shohih menurut para pakar ilmu hadits. Di sisi Alloh-lah hikmah dibalik semua ini.

    Kalaulah memang diketahui waktunya, tetapi tidak boleh bagi kaum muslimin untuk mengkhususkannya dengan ibadah dan perayaan. Karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya.

    Seandainya disyari’atkan, pastilah Nabi menjelaskannya kepada umat, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan…

    Kemudian beliau berkata,

    Dengan penjelasan para ulama beserta dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits di atas sudah cukup bagi para pencari kebenaran untuk mengingkari bid’ah malam Isro’ Mi’roj yang memang bukan dari Islam secuilpun…

    Sungguh amat menyedihkan, tatkala bid’ah ini meruyak segala penjuru negeri Islam, sehingga diyakini oleh sebagian orang bahwa perayaan tersebut merupakan Agama.

    Kita berdo’a kepada Alloh agar memperbaiki keadaan kaum muslimin semuanya dan memberi karunia kepada mereka berupa ilmu agama dan taufiq serta istiqomah di atas kebenaran. 19


Catatan Kaki

12
Al-Bidayah Wa Nihayah (3 / 108 – 109)
13
Zadul Ma’ad (1 / 57)
14
Al-Baaits, hal. 171.
15
Lihat majalah At-Tauhid, Mesir, hal. 9 edisi 7 th. 28, Rojab 1420H.
16
Lihat At-Tamassuk bis Sunnah Nabawiyah (33 – 34) oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin.
17
Al-Madkhol: 1 / 294 – 298 dinukil dari Al-Bida’ Al-Hauliyah hal. 275 – 276 oleh Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz At-Tuwaijiri.
18
Tanbih Al-Ghofilin, (379 – 380)
19
At-Tahdzir Minal Bida’, hal. 9 oleh Syaikh Ibnu Baz.

D. Mengkhususkan Puasa di Bulan Rojab

Termasuk perkara bid’ah di bulan Rojab adalah mengkhususkan puasa bulan Rojab, karena tidak ada hadits shohih yang mendukungnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

Adapun mengkhususkan puasa di bulan Rojab, maka seluruh haditsnya adalah lemah dan palsu, ahli ilmu tidak menjadikannya sebagai sandaran sedikitpun. 20

Imam Suyuthi berkata,

Mengkhususkan bulan Rojab dengan puasa adalah dibenci. Syafi’i berkata,

Aku membenci bila seseorang menyempurnakan puasa sebulan penuh seperti puasa Romadhon, dimikian pula mengkhususkan suatu hari di hari-hari lainnya.

Dan Imam Abdullah Al-Anshori -seorang ulama dari Khurosan- tidak berpuasa bulan Rojab bahkan melarangnya seraya berkata,

Tidak satu hadits pun shohih dari Rosululloh tentang keutamaan bulan Rojab dan puasa Rojab.

Bila dikatakan, Bukankah puasa termasuk ibadah dan kebaikan?” Jawabnya, “Benar. Tapi ibadah harus berdasarkan contoh dari Rosululloh. Apabila diketahui hadits-nya dusta, berarti tidak termasuk syari’at.”

Bulan Rojab diagung-agungkan oleh Bani Mudhor di masa jahiliyah sebagaimana dikatakan Umar bin Khoththob. Bahkan beliau memukul tangan orang-orang yang berpuasa di bulan Rojab.

Demikian pula Ibnu Abbas apabila melihat manusia berpuasa Rojab, beliau membencinya seraya berkata, “Berbukalah kalian, sesungguhnya Rojab adalah bulan yang diagungkan oleh ahli jahiliyah.” 21

Imam Thurthusi mengatakan -setelah membawakan atsar-atsar di atas,

Atsar-atsar ini menunjukkan bahwa pengagungan manusia terhadap Rojab sekarang ini, merupakan sisa-sisa peninggalan zaman jahiliyah dahulu.

Kesimpulannya, berpuasa di bulan Rojab adalah dibenci dan apabila seorang berpuasa dalam keadaan yang aman, yaitu bila manusia telah mengetahuinya dan tidak menganggapnya wajib atau sunnah, maka hukumnya tidak apa-apa. 22

Kesimpulan dari perkataan para ulama’ di atas: tidak boleh mengkhususkan puasa di bulan Rojab sebagai pengagungan terhadapnya. Sedangkan apabila seseorang telah bterbiasa / rutin berpuasa sunnah (puasa Daud atau Senin Kamis misalnya, baik di bulan Rojab maupun tidak) dan tidak beranggapan sebagaimana anggapan salah masyarakat awam sekitarnya, maka ini diperbolehkan.

E. Sembelihan Rojab

Termasuk adat Jahiliyah dahulu adalah menyembelih hewan di bulan Rajab sebagai pengagungan terhadapnya, disebabkan Rojab merupakan awal bulan harom sebagaimana dikatakan Imam Tirmidzi dalam Sunan-nya (4 / 496).

Tatkala Islam datang, secara tegas telah membatalkan acara sembelihan Rojab serta mengharomkannya sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits Rosulullah, diantaranya,

Dari Abu Huroiroh ia berkata, Rosululloh bersabda, “Tidak ada Faro’ dan ‘Athiroh.” 23

Dalam riwayat lainnya dengan lafadz “larangan”, Rosululloh melarang dari Faro’ dan ‘Athiroh. 24

Dalam riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya (2 / 229) dengan lafadz, “Tidak ada ‘Athiroh dan Faro’ dalam Islam.”

Berkata Abu ‘Ubaid -seorang ulama pakar bahasa-,

‘Athiroh adalah sembelihan yang biasa dilakukan di masa jahiliyah pada bulan Rojab untuk taqorrub (mendekatkan diri) kepada patung-patung mereka. 25

Abu Daud juga berkata,

Faro’ adalah unta yang disembelih oleh orang-orang jahiliyah yang diperuntukkan bagi tuhan-tuhan, kemudian mereka makan, lalu kulitnya dilemparkan ke pohon. Adapun ‘Athiroh adalah sembelihan pada sepuluh hari pertama bulan Rojab. 26


Catatan Kaki

20
Majmu’ Fatawa 25 / 290.
21
Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 2 / 346. Lihat pula Al-Amru Bil Ittiba’, hal. 174 – 176 oleh Imam Suyuthi, di tahqiq oleh Syaikh Mashur bin Hasan Salman.
22
Lihat Al-Hawadits Wal Bida’, hal. 141 – 142, tahqiq Syaikh Ali Al-Halabi.
23
HR. Bukhori 5473, 5474; Muslim 1976; Abu Dawud 2831; Tirmidzi 1512; Nasa’i 4219 dan Ibnu Majah 3168.
24
HR. Nasa’i 4220; Ahmad 2 / 409 dan Al-Isma’ily sebagaimana dalam Fathul Bari 8 / 596.
25
Fathul Bari 8 / 598, oleh Ibnu Hajar.
26
Lihat ‘Aunul Ma’bud 7 / 341, 8 / 24 oleh Abu Abdir Rohman Syaroful Haq Azhim Abadi -bukan Syamsul Haq Adzim Abadi sebagaimana tertulis dalam sampul kitab.

(http://vbaitullah.or.id)

Hukum KB dalam Islam

FATAWA SYAIKH ABDUL AZIZ BIN BAZ RAHIMAHULLAH
Pertanyaan.
Syaikh Abdul Azin bin Baz ditanya : Apa hukum KB ?

Jawaban.
“Ini adalah permasalahan yang muncul sekarang, dan banyak pertanyaan muncul berkaitan dengan hal ini. Permasalahan ini telah dipelajari oleh Haiah Kibaril Ulama (Lembaga di Saudi Arabia yang beranggotakan para ulama) di dalam sebuah pertemuan yang telah lewat dan telah ditetapkan keputusan yang ringkasnya adalah tidak boleh mengkonsumsi pil-pil untuk mencegah kehamilan.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyariatkan untuk hamba-Nya sebab-sebab untuk mendapatkan keuturunan dan memperbanyak jumlah umat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

Artinya : “Nikahilah wanita yang banyak anak lagi penyayang, karena sesungguhnya aku berlomba-lomba dalam banyak umat dengan umat-umat yang lain di hari kiamat (dalam riwayat yang lain : dengan para nabi di hari kiamat)”.
[Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Daud 1/320, Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162 (lihat takhrijnya dalam Al-Insyirah hal.29 Adazbuz Zifaf hal 60) ; Baihaqi 781, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]

Karena umat itu membutuhkan jumlah yang banyak, sehingga mereka beribadah kepada Allah, berjihad di jalan-Nya, melindungi kaum muslimin -dengan ijin Allah-, dan Allah akan menjaga mereka dan tipu daya musuh-musuh mereka.

Maka wajib untuk meninggalkan perkara ini (membatasi kelahiran), tidak membolehkannya dan tidak menggunakannya kecuali darurat. Jika dalam keadaan darurat maka tidak mengapa, seperti :

  • Sang istri tertimpa penyakit di dalam rahimnya, atau anggota badan yang lain, sehingga berbahaya jika hamil, maka tidak mengapa (menggunakan pil-pil tersebut) untuk keperluan ini.
  • Demikian juga, jika sudah memiliki anak banyak, sedangkan isteri keberatan jika hamil lagi, maka tidak terlarang mengkonsumsi pil-pil tersebut dalam waktu tertentu, seperti setahun atau dua tahun dalam masa menyusui, sehingga ia merasa ringan untuk kembali hamil, sehingga ia bisa mendidik dengan selayaknya.

Adapun jika penggunaannya dengan maksud berkonsentrasi dalam berkarier atau supaya hidup senang atau hal-hal lain yang serupa dengan itu, sebagaimana yang dilakukan kebanyakan wanita zaman sekarang, maka hal itu tidak boleh”. [Fatawa Mar’ah, dikumpulkan oleh Muhammad Al-Musnad, Darul Wathan, cetakan pertama 1412H]
Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : “Ada seorang wanita berusia kurang lebih 29 tahun, telah memiliki 10 orang anak. Ketika ia telah melahirkan anak terakhir ia harus melakukan operasi dan ia meminta ijin kepada suaminya sebelum operasi untuk melaksanakan tubektomi (mengikat rahim) supaya tidak bisa melahirkan lagi, dan disamping itu juga disebabkan masalah kesehatan, yaitu jika ia memakai pil-pil pencegah kehamilan akan berpengaruh terhadap kesehatannya. Dan suaminya telah mengijinkan untuk melakukan operasi tersebut. maka apakah si istri dan suami mendapatkan dosa karena hal itu ?”

Jawaban.
Tidak mengapa ia melakukan operasi/pembedahan jika para dokter (terpercaya) menyatakan bahwa jika melahirkan lagi bisa membahayakannya, setelah mendapatkan ijin dari suaminya. [Fatawa Mar’ah Muslimah Juz 2 hal. 978, Maktabah Aadh-Waus Salaf, cet ke 2. 1416H]

FATAWA LAJNAH AD-DAIMAH
Pertanyaan.
Lajnah Daimah ditanya : “Apa hukum memakai pil-pil pencegah kehamilan untuk wanita-wanita yang sudah bersuami ?”

jawaban.
Seorang istri tidak boleh menggunakan pil pencegah kehamilan karena takut banyak anak, atau karena harus memberikan tambahan belanja. Tetapi boleh menggunakannya untuk mencegah kehamilan dikarenakan.

  • Adanya penyakit yang membahayakan jika hamil
  • Dia melahirkan dengan cara yang tidak normal bahkan harus melakukan operasi jika melahirkan dan bahaya-bahaya lain yang serupa dengan hal tersebut.

Maka dalam keadaan seperti ini boleh baginya mengkonsumsi pil pencegah hamil, kecuali jika ia mengetahui dari dokter spesialis bahwa mengkonsumsinya membahayakan si wanita dari sisi lain” [Fatawa Mar’ah Juz 2 hal 53]

FATAWA SYAIKH IBNU UTSAIMIN
Pertanyaan.
“Seorang ikhwan bertanya hukum KB tanpa udzur, dan adakah Udzur yang membolehkannya?”

Jawaban.
Para ulama telah menegaskan bahwa memutuskan keturunan sama sekali adalah haram, karena hal tersebut bertentangan dengan maksud Nabi mensyari’atkan pernikahan kepada umatnya, dan hal tersebut merupakan salah satu sebab kehinaan kaum muslimin. Karena jika kaum muslimin berjumlah banyak, (maka hal itu) akan menimbulkan kemuliaan dan kewibawaaan bagi mereka. Karena jumlah umat yang banyak merupakan salah satu nikmat Allah kepada Bani Israi.

Artinya : “Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar” [Al-Isra : 6]

Artinya : “Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu” [Al-A’raf : 86]

Kenyataanpun mennguatkan pernyataan di atas, karena umat yang banyak tidak membutuhkan umat yang lain, serta memiliki kekuasaan dan kehebatan di depan musuh-musuhnya. Maka seseorang tidak boleh melakukan sebab/usaha yang memutuskan keturunan sama sekali. Allahumma, kecuali dikarenakan darurat, seperti :

  • Seorang Ibu jika hamil dikhawatirkan akan binasa atau meninggal dunia, maka dalam keadaan seperti inilah yang disebut darurat, dan tidak mengapa jika si wanita melakukan usaha untuk mencegah keturunan. Inilah dia udzur yang membolehkan mencegah keturunan.
  • Juga seperti wanita tertimpa penyakit di rahimnya, dan ditakutkan penyakitnya akan menjalar sehingga akan menyebabkan kematian, sehingga rahimnya harus diangkat, maka tidak mengapa. [Fatawa Al-Mar’ah Al-Muslimah Juz 2 hal. 974-975]

Pertanyaan.
“Kapan seorang wanita diperbolehkan memakai pil-pil pencegah kehamilan, dan kapan hal itu diharamkan ? Adakah nash yang tegas atau pendapat di dalam fiqih dalam masalah KB? Dan bolehkah seorang muslim melakukan azal kerika berjima tanpa sebab?”

Jawaban.
Seyogyanya bagi kaum msulimin untuk memperbanyak keturunan sebanyak mungkin, karena hal itu adalah perkara yang diarahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya.

Artinya : “Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak karena aku akan berlomba dalam banyak jumlahnya umat” [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud 1/320, Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 3/61-62]

Dan karena banyaknya umat menyebabkan (cepat bertambahnya) banyaknya umat, dan banyaknya umat merupakan salah satu sebab kemuliaan umat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan nikmat-Nya kepada Bani Israil.

Artinya : “Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar” [Al-Isra’ : 6]

Artinya : “Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu” [Al-A’raf : 86]

Dan tidak ada seorangpun mengingkari bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemuliaan dan kekuatan suatu umat, tidak sebagaimana anggapan orang-orang yang memiliki prasangka yang jelek, (yang mereka) menganggap bahwa banyaknya umat merupakan sebab kemiskinan dan kelaparan. Jika suatu umat jumlahnya banyak dan mereka bersandar dan beriman dengan janji Allah dan firman-Nya.

Artinya : “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” [Hud : 6]

Maka Allah pasti akan mempermudah umat tersebut dan mencukupi umat tersebut dengan karunia-Nya.

Berdasarkan penjelasan ini, jelaslah jawaban pertanyaan di atas, maka tidak sepantasnya bagi seorang wanita untuk mengkonsumsi pil-pil pencegah kehamilan kecuali dengan dua syarat.

  • Adanya keperluan seperti ; Wanita tersebut memiliki penyakit yang menghalanginya untuk hamil setiap tahun, atau, wanita tersebut bertubuh kurus kering, atau adanya penghalang-penghalang lain yang membahayakannya jika dia hamil tiap tahun.
  • Adanya ijin dari suami. Karena suami memiliki hak atas istri dalam masalah anak dan keturunan. Disamping itu juga harus bermusyawarah dengan dokter terpercaya di dalam masalah mengkonsumsi pil-pil ini, apakah pemakaiannya membahayakan atau tidak.

Jika dua syarat di atas dipenuhi maka tidak mengapa mengkonsumsi pil-pil ini, akan tetapi hal ini tidak boleh dilakukan terus menerus, dengan cara mengkonsumsi pil pencegah kehamilan selamanya misalnya, karena hal ini berarti memutus keturunan.

Adapun point kedua dari pertanyaan di atas maka jawabannya adalah sebagai berikut : Pembatasan keturunan adalah perkara yang tidak mungkin ada dalam kenyataan karena masalah hamil dan tidak, seluruhnya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika seseorang membatasi jumlah anak dengan jumlah tertentu, maka mungkin saja seluruhnya mati dalam jangka waktu satu tahun, sehingga orang tersebut tidak lagi memiliki anak dan keturunan. Masalah pembatas keturunan adalah perkara yang tidak terdapat dalam syari’at Islam, namun pencegahan kehamilan secara tegas dihukumi sebagaimana keterangan di atas.

Adapun pertanyaan ketiga yang berkaitan dengan ‘azal ketika berjima’ tanpa adanya sebab, maka pendapat para ahli ilmu yang benar adalah tidak mengapa karena hadits dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu.

Artinya : “Kami melakukan ‘azal sedangkan Al-Qur’an masih turun (yakni dimasa nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam)” [Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud 1/320 ; Nasa’i 2/71, Ibnu Hibban no. 1229, Hakim 2/162, Baihaqi 781, Abu nu’aim dalam Al-hilyah 3/61-62]

Seandainya perbuatan itu haram pasti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya. Akan tetapi para ahli ilmu mengatakan bahwa tidak boleh ber’azal terhadap wanita merdeka (bukan budak) kecuali dengan ijinya, yakni seorang suami tidak boleh ber’azal terhadap istri, karena sang istri memiliki hak dalam masalah keturunan. Dan ber’azal tanpa ijin istri mengurangi rasa nikmat seorang wanita, karena kenikmatan seorang wanita tidaklah sempurna kecuali sesudah tumpahnya air mani suami.

Berdasarkan keterangan ini maka ‘azal tanpa ijin berarti menghilangkan kesempurnaan rasa nikmat yang dirasakan seorang istri, dan juga menghilangkan adanya kemungkinan untuk mendapatkan keturunan. Karena ini kami menysaratkan adanya ijin dari sang istri”. [Fatawa Syaikh ibnu Utsaimin Juj 2 hal. 764 dinukil dari Fatawa Li’umumil Ummah]

[As-sunnah edisi 01/Tahun V/2001M/1421H]

Ajaran Rasul Baru Meresahkan Yogya

“Aku Al-Masih Al-Maw’ud menjadi syahid Allah bagi kalian, orang-orang yang mengimaniku, dan aku telah menjelaskan kepada kalian tentang sunnah-Nya dan rencana-rencana-Nya di dalam hidup dan kehidupan ini sehingga dengan memahami sunnah dan rencana-rencana-Nya itu kalian dapat berjalan dengan pasti di bawah bimbingan-Nya.Selanjutnya bagi kaum mukmin yang mengimaniku agar menjadi syahid tentang kerasulanku kepada seluruh umat manusia di bumi Allah ini, seperti hal-halnya murid-murid Yesus, tatkala Yesus berbicara kepada murid-muridnya maka murid-muridnya itu segera melaksanakan perintah-perintahnya.” (hal 178)

“Dan aku juga memerintahkan kepada katib agar mempersiapkan sebuah acara di Ummul Qura’ bagi para sahabat untuk menjadi syahid bagi kerasulan Al-Masih Al-Maw’ud, tetapi katib mengusulkan agar acaranya diadakan di Gunung Bunder saja, akupun menyetujuinya, di malam yang ketigapuluh tiga, tiga hari menjelang empat puluh hari aku bertahannuts, kembali aku bermimpi, di dalam mimpi itu aku sedang dilantik atau diangkat menjadi rasul Allah disaksikan para sahabat.” (hal 182)

Kisah di atas dikutip dari buku “Ruhul Qudus yang Turun Kepada Al-Masih Al-Maw’ud” edisi pertama Februari 2007, diberi kata pengantar tertanggal Gunung Bunder, 10 Februari 2007 oleh Michael Muhdats.

Buku tersebut merupakan firman Allah atau ruhul qudus yang diturunkan kepada rasul-Nya. Sebagaimana dinyatakan dalam kata pengantarnya, “Buku yang ada di hadapan saudara ini merupakan firman Allah atau ruhul qudus yang diturunkan kepada rasul-Nya, sehingga isinya tidak perlu kami komentari lagi, agar kesuciannya tidak tercampur atau terpengaruh oleh pendapat kami pribadi.”

Buku tersebut beredar secara khusus di kalangan pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyyah. Sebuah kelompok yang memiliki pemahaman bahwa telah ada seorang rasul yang diutus Allah ke muka bumi pada saat sekarang ini. Pelantikan rasul ini terjadi pada tanggal 23 Juli 2006 di Gunung Bunder (Bogor-Jawa Barat).

Banyak dari kalangan kaum muslimin yang termakan gerakan kelompok ini. Di Yogyakarta, gerakan kelompok ini mulai merambah kalangan kampus dan meresahkan masyarakat. Model gerakannya senyap, tersembunyi, dan berkembang melalui rekrutmen dengan menggunakan pola sistem sel.

Selain meyakini adanya rasul Allah pada masa sekarang ini, yang mereka sebut Al-Masih Al-Maw’ud, mereka pun berkeyakinan bahwa shalat (dikerjakan) hanya pada waktu malam saja. Tidak ada shalat lima waktu sebagaimana kewajiban yang ditunaikan kaum muslimin umumnya. Mereka pun menganggap musyrik orang yang tidak sepaham dengan mereka.

Lafazh syhadatain mereka berbeda dengan yang diucapkan dan diyakini kaum msulimin. Seperti termuat dalam buku di atas, lafazh syahadatain kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyyah ini berbunyi, “Aku bersaksi bahwa tiada yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa anda Al-Masih Al-Maw’ud adalah utusan Allah”. (hal 191)

Bila seseorang melakukan ibadah tanpa mengikuti rasul setelah Muhammad, yaitu Al-Masih Al-Maw’ud, maka tidak akan diterima ibadahnya. (hal 175)

Keyakinan mereka, bahwa Islam sekarang sudah tidak sempurna lagi. Menurut mereka, Islam yang sempurna adalah Islam yang sudah menzhahirkan dirinya dalam tiga syarat, yaitu hukumnya sudah lengkap, struktur kekuasaan ummatnya sudah ada, serta daar atau negerinya jatuh ke tangan ummat. (hal 166)

Karena itulah, pada tahap pertama programnya adalah pembinaan iman atau aqidah yang fokusnya memberikan peringatan kepada manusia tentang kebangkitan kembali Islam, dan memberi hiburan bagi orang-orang yang mau bertaubat dan menerima kehadirannya, bahwa mereka akan diampuni…” (hal 174)

Al-Masih Al-Maw’ud menyatakan bahwa dirinya banyak menerima wahyu dari Allah saat bertahannuts di Gunung Bunder. Dan kepada para pengikutnya ditekankan agar bersaksi bahwa semua itu adalah kebenaran yang datang dari Allah melaui rasul-Nya. (hal 184)

Namun demikian, apa yang diajarkan oleh kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyyah ini, ternyata tidak semata mengutip ayat-ayat Al-Quran saja. Mereka juga mengajarkan juga paham-paham Kristen, bahkan banyak mengutip dan mendasarkan ajarannya pada Al-Kitab (Injil). Mereka berpemahaman bahwa ajaran yang dibawa Moses, Yesus, dan Ahmad (Nabi Muhammad-penulis) adalah sama karena memiliki sumber ajaran yang sama pula (dari Allah), bahkan kata mereka, di dalam Islam ada konsep trinitas sebagaimana dalam ajaran Kristen.

Demikianlah, mereka mencampuradukkan ajaran. Banyak lagi ajaran-ajaran yang mereka tanamkan kepada para pengikutnya dengan memberikan pemahaman yang menyesatkan. Mereka tidak segan-segan menyatakan, “Sebetulnya ajaran Yesus sama dengan ajaran Islam.”

Melalui tulisan ini, dihimbau kepada kaum muslimin untuk mewaspadai gerakan kelompok ini. Gerakannya masih terselubung menjadikan berbagai pihak menemui kesulitan untuk memantau secara seksama.

Masalah penyebaran paham gerakan ini tidak bisa dianggap sepele sehingga menjadikan kaum muslimin bersikap pasif. Namun, hendaknya berbagai kalangan menyerukan (agar waspada) terhadap kesesatan yang ada, sebagaimana disebutkan di muka, untuk ditangkal. Masyarakat diminta untuk mewaspadai dan jangan sampai terjebak mengikuti pemahaman sesat ini.

Agama ini, yaitu Islam, telah sempurna dan hanya Islam, agama yang diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, pemahaman Islam yang disandarkan kepada Salafush Sahlih akan memberikan dasar kerangka pemahaman agama yang haq (benar), Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Pada hari ini, telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (Al-Ma’idah : 3)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali-Imran : 19).

(Sumber: Buletin Asy-Syariah, diterbitkan oleh Yayasan Asy-Syariah Yogyakarta)

(http://asysyariah.com)

Ajaran Rasul Baru Meresahkan Yogya

“Aku Al-Masih Al-Maw’ud menjadi syahid Allah bagi kalian, orang-orang yang mengimaniku, dan aku telah menjelaskan kepada kalian tentang sunnah-Nya dan rencana-rencana-Nya di dalam hidup dan kehidupan ini sehingga dengan memahami sunnah dan rencana-rencana-Nya itu kalian dapat berjalan dengan pasti di bawah bimbingan-Nya.

Selanjutnya bagi kaum mukmin yang mengimaniku agar menjadi syahid tentang kerasulanku kepada seluruh umat manusia di bumi Allah ini, seperti hal-halnya murid-murid Yesus, tatkala Yesus berbicara kepada murid-muridnya maka murid-muridnya itu segera melaksanakan perintah-perintahnya.” (hal 178)

“Dan aku juga memerintahkan kepada katib agar mempersiapkan sebuah acara di Ummul Qura’ bagi para sahabat untuk menjadi syahid bagi kerasulan Al-Masih Al-Maw’ud, tetapi katib mengusulkan agar acaranya diadakan di Gunung Bunder saja, akupun menyetujuinya, di malam yang ketigapuluh tiga, tiga hari menjelang empat puluh hari aku bertahannuts, kembali aku bermimpi, di dalam mimpi itu aku sedang dilantik atau diangkat menjadi rasul Allah disaksikan para sahabat.” (hal 182)

Kisah di atas dikutip dari buku “Ruhul Qudus yang Turun Kepada Al-Masih Al-Maw’ud” edisi pertama Februari 2007, diberi kata pengantar tertanggal Gunung Bunder, 10 Februari 2007 oleh Michael Muhdats.

Buku tersebut merupakan firman Allah atau ruhul qudus yang diturunkan kepada rasul-Nya. Sebagaimana dinyatakan dalam kata pengantarnya, “Buku yang ada di hadapan saudara ini merupakan firman Allah atau ruhul qudus yang diturunkan kepada rasul-Nya, sehingga isinya tidak perlu kami komentari lagi, agar kesuciannya tidak tercampur atau terpengaruh oleh pendapat kami pribadi.”

Buku tersebut beredar secara khusus di kalangan pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyyah. Sebuah kelompok yang memiliki pemahaman bahwa telah ada seorang rasul yang diutus Allah ke muka bumi pada saat sekarang ini. Pelantikan rasul ini terjadi pada tanggal 23 Juli 2006 di Gunung Bunder (Bogor-Jawa Barat).

Banyak dari kalangan kaum muslimin yang termakan gerakan kelompok ini. Di Yogyakarta, gerakan kelompok ini mulai merambah kalangan kampus dan meresahkan masyarakat. Model gerakannya senyap, tersembunyi, dan berkembang melalui rekrutmen dengan menggunakan pola sistem sel.

Selain meyakini adanya rasul Allah pada masa sekarang ini, yang mereka sebut Al-Masih Al-Maw’ud, mereka pun berkeyakinan bahwa shalat (dikerjakan) hanya pada waktu malam saja. Tidak ada shalat lima waktu sebagaimana kewajiban yang ditunaikan kaum muslimin umumnya. Mereka pun menganggap musyrik orang yang tidak sepaham dengan mereka.

Lafazh syhadatain mereka berbeda dengan yang diucapkan dan diyakini kaum msulimin. Seperti termuat dalam buku di atas, lafazh syahadatain kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyyah ini berbunyi, “Aku bersaksi bahwa tiada yang hak untuk diibadahi kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa anda Al-Masih Al-Maw’ud adalah utusan Allah”. (hal 191)

Bila seseorang melakukan ibadah tanpa mengikuti rasul setelah Muhammad, yaitu Al-Masih Al-Maw’ud, maka tidak akan diterima ibadahnya. (hal 175)

Keyakinan mereka, bahwa Islam sekarang sudah tidak sempurna lagi. Menurut mereka, Islam yang sempurna adalah Islam yang sudah menzhahirkan dirinya dalam tiga syarat, yaitu hukumnya sudah lengkap, struktur kekuasaan ummatnya sudah ada, serta daar atau negerinya jatuh ke tangan ummat. (hal 166)

Karena itulah, pada tahap pertama programnya adalah pembinaan iman atau aqidah yang fokusnya memberikan peringatan kepada manusia tentang kebangkitan kembali Islam, dan memberi hiburan bagi orang-orang yang mau bertaubat dan menerima kehadirannya, bahwa mereka akan diampuni…” (hal 174)

Al-Masih Al-Maw’ud menyatakan bahwa dirinya banyak menerima wahyu dari Allah saat bertahannuts di Gunung Bunder. Dan kepada para pengikutnya ditekankan agar bersaksi bahwa semua itu adalah kebenaran yang datang dari Allah melaui rasul-Nya. (hal 184)

Namun demikian, apa yang diajarkan oleh kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyyah ini, ternyata tidak semata mengutip ayat-ayat Al-Quran saja. Mereka juga mengajarkan juga paham-paham Kristen, bahkan banyak mengutip dan mendasarkan ajarannya pada Al-Kitab (Injil). Mereka berpemahaman bahwa ajaran yang dibawa Moses, Yesus, dan Ahmad (Nabi Muhammad-penulis) adalah sama karena memiliki sumber ajaran yang sama pula (dari Allah), bahkan kata mereka, di dalam Islam ada konsep trinitas sebagaimana dalam ajaran Kristen.

Demikianlah, mereka mencampuradukkan ajaran. Banyak lagi ajaran-ajaran yang mereka tanamkan kepada para pengikutnya dengan memberikan pemahaman yang menyesatkan. Mereka tidak segan-segan menyatakan, “Sebetulnya ajaran Yesus sama dengan ajaran Islam.”

Melalui tulisan ini, dihimbau kepada kaum muslimin untuk mewaspadai gerakan kelompok ini. Gerakannya masih terselubung menjadikan berbagai pihak menemui kesulitan untuk memantau secara seksama.

Masalah penyebaran paham gerakan ini tidak bisa dianggap sepele sehingga menjadikan kaum muslimin bersikap pasif. Namun, hendaknya berbagai kalangan menyerukan (agar waspada) terhadap kesesatan yang ada, sebagaimana disebutkan di muka, untuk ditangkal. Masyarakat diminta untuk mewaspadai dan jangan sampai terjebak mengikuti pemahaman sesat ini.

Agama ini, yaitu Islam, telah sempurna dan hanya Islam, agama yang diterima di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, pemahaman Islam yang disandarkan kepada Salafush Sahlih akan memberikan dasar kerangka pemahaman agama yang haq (benar), Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Pada hari ini, telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (Al-Ma’idah : 3)

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali-Imran : 19).

(Sumber: Buletin Asy-Syariah, diterbitkan oleh Yayasan Asy-Syariah Yogyakarta) 

(http://asysyariah.com)