Kumpulan-kumpulan adab dan doa

Silakan bagi anda yang ingin mendownload doa dan adab-adab sialakan:

Download adab bepergian

Download adab menuntut ilmu

Download dzikir setelah sholat

Semoga bermanfaat

Makna Rukun Iman

Memahami Makna Rukun Iman

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Jibril ‘alaihissalam tentang iman, Beliau menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“(Iman itu adalah) kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)

Iman secara istilah artinya pengikraran di lisan, pembenaran di hati dan pengamalan dengan anggota badan. Iman bisa bertambah dengan keta’atan dan bisa berkurang dengan kemaksiatan.

Pengikraran di lisan misalnya mengucapkan kalimat syahadatain.

Pembenaran di hati adalah dengan tidak ragu-ragu, ikhlas mengucapkannya, jujur hatinya, mencintai dan menerima apa yang diikrarkan oleh lisannya.

Sedangkan pengamalan dengan anggota badan adalah mengamalkan konsekwensi syahadatain yang telah diiqrarkan.

Konsekwensi dari syahadat Laailaahaillallah adalah meniadakan sesembahan selain Allah dan menetapkan bahwa ibadah itu hanya untuk Allah saja. Contoh ibadah adalah berdo’a, ruku’ dan sujud, meminta pertolongan dan perlindungan, tawakkal dan berkurban. Ini semua harus ditujukan kepada Allah saja. Sedangkan konsekwensi dari syahadat Muhammad Rasulullah adalah menta’ati perintahnya, menjauhi larangannya, membenarkan ucapannya dan beribadah kepada Allah sesuai contohnya.

Berikut penjelasan singkat maksud beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab dst.

Makna beriman kepada Allah

Beriman kepada Allah adalah kita mengimani semua penjelasan Allah dan rasul-Nya tentang Allah ‘Azza wa Jalla, termasuk ke dalam beriman kepada Allah adalah beriman kepada apa yang kami sebutkan di bawah ini:

1.  Beriman kepada wujud Allah.

Kita mengetahui bahwa manusia bukanlah yang menciptakan dirinya sendiri, karena sebelumnya ia tidak ada. Dan sesuatu yang tidak ada tidak bisa mengadakan sesuatu. Manusia tidak pula diciptakan oleh ibunya dan tidak pula oleh bapaknya serta tidak pula muncul secara tiba-tiba. Dan sesuatu yang terwujud sudah pasti ada yang mewujudkannya. Dari sini kita mengetahui keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala Pencipta kita dan Pencipta alam semesta.

2.  Beriman bahwa Allah adalah Rabbul ‘Aalamiin.

Maksudnya adalah beriman bahwa Allah adalah Pencipta, Pengatur dan Penguasa alam semesta serta Pemberi rizkinya. Beriman bahwa Allah adalah Rabbul ‘Aalamin, disebut juga beriman kepada rububiyyah Allah.

3.  Beriman bahwa Allah adalah Al Ilaah (Al Ma’buud bihaqq).

Yakni beriman bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah dan ditujukan berbagai macam ibadah. Beriman bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah disebut juga beriman kepada Uluhiyyah Allah.

4.  Beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-Nya.

Yakni kita mengimani bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat yang telah ditetapkan Allah dalam Al Qur’an dan Rasul-Nya dalam As Sunnah, tanpa tamtsil (menyamakan dengan sifat makhluk), takyif (menanyakan “Bagaimana hakikat sifat Allah?”),  ta’thil (meniadakan) dan tanpa ta’wil (mengartikan lain, seperti mengartikan “Tangan” dengan “Kekuasaan”).

Makna beriman kepada malaikat Allah

Beriman kepada malaikat maksudnya kita mengimani segala penjelasan Allah dan Rasul-Nya tentang malaikat.

Malaikat adalah makhluk Allah yang berada di alam ghaib yang senantiasa beribadah kepada Allah. Mereka tidak memiliki sedikitpun sifat-sifat ketuhanan dan tidak berhak disembah. Allah menciptakan mereka dari cahaya dan mengaruniakan kepada mereka sikap selalu tunduk kepada perintah-Nya serta diberikan kesanggupan untuk menjalankan perintah-Nya.

Jumlah mereka sangat banyak, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah sendiri, disebutkan dalam hadits Israa’-Mi’raj bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 فَرُفِعَ لِيَ الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ فَقَالَ هَذَا الْبَيْتُ الْمَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ

“Lalu ditampakkan kepadaku Al Baitul Ma’mur (ka’bah penghuni langit ketujuh), aku pun bertanya kepada Jibril (tentangnya), maka ia menjawab, “Ini adalah Al Baitul Ma’mur, setiap harinya 70.000 malaikat shalat di situ, setelah keluar mereka tidak kembali lagi sebagai kewajiban terakhir mereka.” (HR. Bukhari)

Termasuk ke dalam beriman kepada malaikat adalah:

1.   Mengimani wujud mereka

2.   Mengimani malaikat yang telah diberitahukan kepada kita namanya, sedangkan yang tidak kita ketahui namanya, maka kita imani secara ijmal (garis besar).

3.   Mengimani sifat malaikat yang telah diberitahukan kepada kita sifatnya. Misalnya malaikat Jibril, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihatnya dalam wujud aslinya, di mana ia memiliki 600 sayap, masing-masing sayap menutupi ufuk (sebagaimana dalam riwayat Bukhari dan Ahmad).

4.   Mengimani tugas malaikat yang telah diberitahukan kepada kita. Di antara tugas mereka adalah bertasbih malam dan siang, beribadah, berthawaf di Baitul Ma’mur dsb.

Makna beriman kepada kitab-kitab Allah

Kita juga wajib beriman bahwa Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah menurunkan kitab-kitab dan telah memberikan kepada beberapa rasul suhuf (lembaran-lembaran berisi wahyu).

Semuanya adalah firman Allah yang  diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya agar mereka menyampaikan kepada manusia syari’at-Nya. Dan firman Allah bukanlah makhluk karena firman termasuk sifat-sifat-Nya sedangkan sifat-sifat-Nya bukanlah makhluk.

Termasuk ke dalam beriman kepada kitab-kitab Allah adalah:

1.   Beriman bahwa kitab-kitab itu turun dari sisi Allah.

2.   Beriman kepada kitab-kitab Allah tersebut baik secara tafshil (rinci) maupun ijmal (garis besar). Secara tafshil maksudnya kita mengimani penjelasan Al Qur’an dan As Sunnah yang menyebutkan tentang kitab-kitab Allah tersebut secara rinci seperti namanya adalah kitab ini dan diberikan kepada nabi yang bernama ini dsb. Sedangkan secara ijmal maksudnya kita mengimani bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada rasul-rasul-Nya meskipun tidak disebutkan namanya.

3.    Membenarkan berita yang ada dalam kitab tersebut yang masih murni (belum dirubah) seperti berita Al Qur’an dan berita kitab-kitab yang belum dirubah.

Kami katakan “yang masih murni” karena kitab-kitab selain Al Qur’an tidak dijaga kemurniannya seperti halnya Al Qur’an yang dijaga kemurniannya oleh Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Sedangkan kitab-kitab selain Al Qur’an seperti Taurat dan Injil sudah dicampuri oleh tangan-tangan manusia dengan diberikan tambahan, dirubah, dikurangi atau dihilangkan sehingga tidak murni lagi seperti keadaan ketika diturunkan. Allah berfirman,

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (terjemah An Nisaa’: 46)

4.   Mengamalkan hukum yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut selama belum dihapus disertai dengan sikap ridha dan menerima. Namun setelah diturunkan Al Qur’an, maka kitab-kitab sebelumnya sudah mansukh (dihapus) tidak bisa diamalkan lagi, yang diamalkan hanya Al Qur’an saja atau hukum yang dibenarkan oleh Al Qur’an saja.

Sulaiman bin Habib pernah berkata, “Kita hanya diperintahkan beriman kepada Taurat dan Injil dan tidak diperintah mengamalkan hukum yang ada pada keduanya.

Makna beriman kepada rasul-rasul Allah

Rasul adalah orang yang mendapat wahyu dengan membawa syari’at yang baru, sedangkan nabi adalah orang yang diutus dengan membawa syari’at rasul yang datang sebelumnya.

Para rasul adalah manusia, mereka tidak memiliki sedikit pun sifat rububiyyah (mencipta, mengatur dan menguasai alam semesta), mereka tidak mengetahui yang ghaib, dan tidak mampu mendatangkan manfaat atau pun menolak madharrat (bahaya), Allah Ta’ala menyuruh Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam -dimana Beliau adalah pemimpin para rasul dan rasul yang paling tinggi kedudukannya- untuk mengatakan:

Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak pula menolak kemadharratan kecuali yang diikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku banyak memperoleh kemanfa’atan dan sedikit pun aku tidak ditimpa kemadharratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al A’raaf : 188)

Diantara sebab yang  menghalangi orang-orang kafir beriman kepada Nabi Muhammad hallallahu ‘alaihi wa sallam adalah karena Beliau manusia, mereka mengatakan “Mengapa Allah mengutus rasul dari kalangan manusia?’, kalau seandainya mereka mau berfikir tentu mereka akan mengetahui bahwa di antara hikmah Allah mengutus rasul dari kalangan manusia adalah agar dapat diteladani, ditiru dan diikuti perbuatannya. Karena kalau dari kalangan malaikat bagaimana dapat diikuti, bukankah malaikat itu tidak makan dan tidak minum, juga tidak menikah dsb.

Termasuk ke dalam beriman kepada rasul-rasul Allah adalah:

1.   Beriman bahwa risalah mereka benar-benar dari sisi Allah. Oleh karena itu siapa saja yang ingkar kepada salah seorang rasul, maka sama saja telah ingkar kepada semua rasul.

2.   Mengimani rasul yang telah diberitahukan kepada kita namanya, sedangkan yang tidak diberitahukan namanya, maka kita imani secara ijmal (garis besar).

3.   Membenarkan berita mereka yang shahih.

4.   Mengamalkan syari’at rasul yang diutus kepada kita. Dan rasul yang diutus kepada kita sekarang adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau adalah penutup para rasul, tidak ada lagi nabi setelahnya.

Makna beriman kepada hari akhir

Beriman kepada hari akhir maksudnya adalah mengimani semua penjelasan Allah dan Rasul-Nya yang menyebutkan tentang keadaan setelah mati, seperti: Fitnah kubur, ‘adzab kubur dan nikmat kubur, Ba’ts (kebangkitan manusia), Hasyr (pengumpulan manusia), bertebarannya catatan amal, Hisab, Mizan (timbangan), Haudh (telaga), Shirat (jembatan), syafa’at, surga, neraka dsb.

Termasuk beriman kepada hari akhir adalah beriman kepada tanda-tanda hari kiamat, seperti keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam, keluarnya Ya’juj-Ma’juj dan terbitnya matahari dari barat. Sebelum tibanya tanda-tanda tersebut, akan didahului tanda-tanda kecilnya di antaranya adalah diangkatnya ilmu (yakni dengan banyak diwafatkannya para ulama), perzinaan banyak dilakukan, wanita lebih banyak daripada laki-laki, amanah akan disia-siakan dengan diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya, banyaknya pembunuhan dan banyaknya gempa bumi (berdasarkan hadits yang shahih).

Diantara hikmah mengapa Allah sering menyebutkan hari akhir dalam Al Qur’an adalah karena beriman kepada hari akhir memiliki pengaruh yang kuat dalam memperbaiki keadaan seseorang sehingga ia akan mengisi hari-harinya dengan amal shalih, ia pun akan lebih semangat untuk mengerjakan keta’atan itu sambil berharap akan diberikan pahala di hari akhir itu, demikian juga akan membuatnya semakin takut ketika mengisi hidupnya dengan kemaksiatan apalagi merasa tentram dengannya. Beriman kepada hari akhir juga membantu seseorang untuk tidak berlebihan terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Di antara hikmahnya juga adalah menghibur seorang mukmin yang kurang mendapatkan kesenangan dunia karena di hadapannya ada kesenangan yang lebih baik dan lebih kekal.

Makna beriman kepada qadar Allah

Maksud beriman kepada qadar adalah kita mengimani bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini yang baik mapun yang buruk adalah dengan qadha’ Allah dan qadar-Nya. Semuanya telah diketahui Allah, telah ditulis, telah dikehendaki dan diciptakan Allah.

Allah Ta’ala berbuat ‘adil dalam qadha’ dan qadarNya. Semua yang ditaqdirkan-Nya adalah sesuai hikmah yang sempurna yang diketahui-Nya. Allah  tidaklah menciptakan keburukan tanpa adanya maslahat, namun keburukan dari sisi buruknya tidak bisa dinisbatkan kepada-Nya. Tetapi keburukan masuk ke dalam ciptaan-Nya. Dan bila dihubungkan kepada Allah Ta’ala, maka itu adalah ke’adilan, kebijaksanaan dan sebagai rahmat/kasihsayang-Nya. Allah telah menciptakan kemampuan dan iradah (keinginan) untuk hamba-hamba-Nya, di mana ucapan yang keluar dan perbuatan yang dilakukan sesuai kehendak mereka, Allah tidak memaksa mereka, bahkan mereka berhak memilih. Manusia merasakan bahwa dirinya memiliki kehendak dan kemampuan, yang dengannya ia akan berbuat atau tidak, ia juga bisa membedakan antara hal yang terjadi dengan keinginannya seperti berjalan, dengan yang tidak diinginkannya seperti bergemetar. Akan tetapi, tetap bahwa kehendak dan kemampuan seseorang tidak akan melahirkan ucapan atau perbuatan kecuali dengan kehendak Allah, namun ucapan atau perbuatan tersebut tidak mesti dicintai Allah meskipun terwujud.

Maraaji’: Syarh Tsalaatsatil Ushul, Muqarrarut tauhid (Abdul ‘Aziz bin M. Aal ‘Abd. Lathif) dll.

Kekeliruan-kekeliruan ketika sholat

Akhthaa’ul mushalliin

(kekeliruan-keliruan orang yang shalat)

§ Melafazkan niat (seperti mengucapkan “Ushalliy…dst”)

   Imam Ibnul Qayyim berkata dalam Ighaatsatul Lahfaan, “Niat adalah keinginan dan kemauan terhadap sesuatu, tempatnya di hati, tidak ada kaitannya sama sekali dengan lisan. Oleh karena itu, tidak ada nukilan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya bahwa niat itu dilafdazkan. Lafaz yang diucapkan ketika hendak memulai bersuci dan shalat ini dijadikan oleh syaithan sebagai (alat) perlawanan terhadap orang yang was-was, di mana hal ini membuat mereka (orang yang was-was) tertahan (dari melakukan sesuatu) dan merasa tersiksa, bahkan membuat mereka ingin tetap terus membetulkan (niatnya karena merasa kurang sah dan kurang puas), karenanya kamu melihat di antara mereka ada yang mengulanginya, ada juga yang bersusah payah mengucapkannya, padahal hal itu tidak termasuk bagian shalat sedikitpun.”

§ Menjaharkan/mengeraskan dzikr-dzikr dalam shalat (termasuk bacaan Al Qur’annya pada shalat yang disirrkan/dipelankan bacaannya), misalnya ketika shalat terdengar bacaan dzikrnya oleh orang yang shalat di kanan-kirinya sehingga mengganggu orang yang berada di kanan-kirinya itu.

§ Tidak menggerakkan lisan dan dua bibir ketika membaca dzikr-dzikr shalat (termasuk bacaan Al Qur’annya).

   Catatan: Dalam membaca dzikr (termasuk bacaan Al Qur’annya pada shalat yang disirrkan bacaannya) dalam shalat yang benar adalah pertengahan antara bagian pertama dan kedua di atas (tidak menjaharkan dzikirnya itu tetapi ia baca sehingga kalaupun terdengar hanya suara lirih saja/dandanah namun tidak dapat dipahami oleh yang sebelahnya karena pelan) –Wallahu a’lam-.

§ Bersandar ke tiang atau tembok ketika shalat padahal tidak dibutuhkan.

Kalau dibutuhkan maka tidak mengapa seperti karena ia tidak kuat berdiri lama, ia sudah tua atau sakit atau sedang lemah dsb.

§ Tidak mau merapatkan shaff (barisan) dan meluruskannya, tetapi malah membuat celah di dalam shaff.

§ Tidak menutup pundak dalam shalatnya.

§ Tidak thuma’ninah di dalam shalat.

   Thuma’ninah sebagaimana telah dijelaskan adalah rukun shalat, di mana kalau seseorang meninggalkannya maka tidak sah shalatnya. Kita dapat melihat banyak orang yang belum sempurna ruku’nya atau sujudnya ia langsung bangkit dan melakukan shalat seperti burung yang sedang mematuk (cepat sekali), orang yang melakukan shalat dengan tidak thuma’ninah (cepat-cepat tanpa diam sejenak setelah benar-benar ruku’, sujud, I’tidal ataupun duduk di antara dua sujud minimal lamanya seukuran sekali tasbih) maka tidak sah shalatnya dan wajib diulangi, dan kewajiban bagi kita orang yang tahu adalah meluruskan mereka.

§ Tidak menyentuhkan ke lantai salah satu dari tujuh anggota sujud, misalnya hidung tidak disentuhkan ke lantai hanya dahi saja, kedua kaki tidak disentuhkan, atau bahkan menaruh salah satunya di atas yang lain dsb.

§ Kaffuts tsaub wasy sya’r fish shalaah (menarik/mengangkat kain dan rambut dalam shalat).

   Imam Nawawi mengatakan, “Para ulama sepakat tentang terlarangnya shalat, sedangkan bajunya, lengan bajunya dsb. diangkat (digulung).”

   Ada yang mengatakan bahwa hikmahnya adalah karena menarik kain dan rambut agar tidak tersentuh tanah adalah kebiasaan orang-orang yang sombong, maka kita dilarang berbuat begitu agar tidak mirip orang-orang sombong. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat makruh melakukan demikian bagi orang yang shalat, baik dilakukan di dalam shalat maupun sebelum memasuki shalat.

§ Tidak langsung mengikuti imam ketika ia baru datang (masbuq) bahkan malah menunggu imam menyelesaikan sujudnya –misalnya- dsb. Bagi masbuq wajib mengikuti imam bagaimanapun keadaan imam setelah didahului takbiiratul ihram. Bila ia  (masbuq) kurang beberapa rak’at, ia tambahkan rak’atnya itu setelah imam salam.

§ Tidak mengikuti imam. Termasuk tidak mengikuti imam adalah mendahului imam (musaabaqah), bersamaan (muwaafaqah) dan berlama-lama (tidak segera) mengikuti imam (takhalluf). Oleh karena itu, hendaknya makmum langsung mengikuti imam setelah imam selesai mengucapkan “Allahu akbar”, dan bagi imam hendaknya tidak terlalu panjang mengucapkan takbir.

§ Mendatangi masjid dengan tergesa-gesa.

§ Mendatangi masjid sehabis makan bawang merah atau putih atau makanan yang memiliki bau tidak enak.

§ Melakukan shalat sunnah ketika iqamat sudah dikumandangkan.

   Jika masih baru memulai shalat, maka ia putuskan shalatnya itu, namun jika sudah hampir selesai atau sudah rak’at terakhir, maka ia lanjutkan dengan ringan.

§ Memanjangkan takbir hingga kata terakhirnya “Akbaaar.”

§ Ma’mum mengeraskan takbiratul ihram dan takbir intiqalnya (berpindah gerakan) seperti halnya imam.

   Yang mengeraskan takbir hanyalah imam, ma’mum tidak perlu mengeraskan takbirnya, kecuali jika dibutuhkan. Misalnya takbir imam tidak terdengar oleh shaf bagian belakang, ini pun tidak perlu banyak orang.

§ Meludah ke arah kiblat atau ke kanannya.

§ Melakukan shalat di pemakaman, dan shalat di masjid yang dibangun di sekitar pemakaman; baik kubur tersebut di depannya (ini lebih parah), di kanannya maupun di kirinya.

   Dalam Al Qaulul Mubiin disebutkan, “Yang shahih adalah dilarang shalat di masjid yang terletak di antara kubur-kubur sampai antara masjid dengan pekuburan ada penghalang lagi, dan bahwasannya dinding masjid tidak cukup menghalangi antara dia dengan kuburan.”

§ Diharamkan juga shalat di dekat kuburan, juga haram shalat menghadap ke kuburan dan di atas kuburan.

§ Banyak bergerak ketika shalat meskipun tidak berturut-turut, seperti melihat jam tangan, memandang ke kanan dan ke kiri ketika shalat, memandang ke langit, menengok dsb.

§ Shalatnya sebagian orang yang sakit dalam keadaan duduk padahal mampu berdiri.

§ Tidak mau berhias kepada Allah ketika hendak shalat. Misalnya memakai baju yang jelek atau asal-asalan padahal masih ada baju yang bagus dsb.

§ Menentukan tempat khusus untuk shalat ketika di masjid –selain imam-.

   Dalam hadits hasan dari Abdurrahman bin Syibl ia berkata:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ r عَنْ نُقْرَةِ الْغُرَابِ ، وَافْتِرَاشِ السَّبُعِ ، وَأَنْ يُوَطّنَ الرَّجُلُ الْمَكَانَ فِي الْمَسْجِدِ كَمَا يُوَطِّنُ الْبَعِيْرُ

   “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang melarang (shalat dengan cepat) seperti mematuknya burung gagak, (sujud dengan menidurkan siku) seperti binatang buas dan melarang seseorang menetapi tempat khusus (untuk shalat) di masjid seperti halnya unta.” (HR. Ahmad, Darimi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan hakim, dan dihasankan oleh Syaikh Masyhur bin Hasan dalam Al Qaulul Mubin)

§ Shalat memakai baju yang bergambar makhluk bernyawa.

   Bila gambarnya bukan gambar makhluk bernyawa, tetapi hanya corak-corak saja atau ukiran yang bisa mengganggu kekhusyu’an maka hukumnya makruh. Akan tetapi, bila gambarnya gambar makhluk bernyawa maka hukumnya haram, karena sesuatu yang di luar shalat haram maka lebih haram lagi bila di dalam shalat. Kita bisa melihat di zaman sekarang ada yang shalat dengan memakai baju bergambar binatang, ada juga yang bergambar manusia, ada juga yang berupa foto dsb.

§ Mengucapkan “Rabbigh firliy” ketika hendak mengucapkan amin setelah membaca surat Al Fatihah. Ini termasuk diada-adakan.

§ Mengucapkan “alaihimas salam” setelah mendengar imam membaca “Shuhufi Ibraahiima wa muusaa.” Ini pun sama termasuk diada-adakan.

§ Wanita mendatangi masjid tanpa mengenakan hijab (jilbab) syar’i[1].

   Di zaman sekarang, zaman di mana ummat Islam sudah jauh dari agamanya, hal ini sudah menjadi hal yang biasa, sungguh sangat disayangkan para imam masjid malah diam saja tidak mau mengingatkan, padahal wanita yang keluar mengenakan hijab syar’i hanya memakai minyak wangi saja dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ikut shalat bersama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam apalagi hal ini (mendatangi masjid tanpa memakai jilbab).

§ Shalat dengan kepala miring.

§ Shalat dengan aurat terbuka.

   Misalnya ketika shalat memakai baju yang pendek, sehingga ketika ruku’ atau sujud bajunya tersingkap, lalu kelihatan bagian bawah punggungnya. Memakai baju seperti ini berarti telah membuka auratnya, dan terbuka auratnya dapat menyebabkan batalnya shalat.

§ Mengucapkan “Subhaan mal laa yanaamu wa laa yas-huu” ketika sujud sahwi.

   Disebutkan dalam kitab As Sunan Wal Mubtada’aat, “Dan tidak ada riwayat yang dihapal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dzikr khusus untuk sujud sahwi, bahkan dzikrnya adalah sama seperti dzikr sujud yang lain dalam shalat, adapaun ucapan ““Subhaan mal laa yanaamu wa laa yas-huu” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakannya, tidak pula sahabat dan tidak ada dalil dari As Sunnah sama sekali.

§ Tambahan “Sayyiidinaa” dalam bacaan shalawat. Karena masalah ta’abbudiy (ibadah) baik berupa dzikr maupun perbuatan tidak boleh ditambah-tambah.

§ Shalat dengan celana atau sarung yang isbal (kainnya menjulur melewati mata kaki).

   Sebagaimana telah kami jelaskan bahwa sesuatu yang di luar shalat haram dilakukan apalagi dalam shalat, tentu lebih haram lagi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang memakai kain yang menjulur melewati mata kaki, sebagaimana sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ *

   “Yang melewati mata kaki berupa sarung adalah di neraka.” (HR. Bukhari)

   dan hadits ini umum baik di dalam shalat maupun di luar shalat, baik karena sombong maupun tidak.

§ Mengganggu orang yang sedang shalat dengan bacaannya.

   Bila seseorang melakukan shalat secara sendiri (misalnya shalat malam) sedangkan di situ ada orang lain yang sedang shalat malam juga maka hendaknya masing-masing tidak mengganggu yang lain dengan mengeraskan bacaan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلْيَعْلَمْ أَحَدُكُمْ مَا يُنَاجِي رَبَّهُ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ * (احمد)

   “Sesungguhnya salah seorang diantara kamu bila berdiri dalam shalat, sedang munajat (berbisik-bisik) dengan Tuhannya. Oleh karena itu, hendaknya ia mengetahui munajatnya itu kepada Tuhannya, dan janganlah sebagian kamu mengeraskan bacaan dalam shalat kepada sebagian yang lain.” (HR. Ahmad)

   Di hadits tersebut kita dilarang mengganggu orang  yang shalat dengan suara keras kita, namun di zaman sekarang kita melihat ketika ada yang sedang shalat, orang-orang bersuara keras dengan pengeras suara melantunkan sya’ir di antara adzan dan iqamat. Sudah tentu, hal ini lebih dilarang lagi, apalagi yang mereka lantunkan itu terkadang mengandung kata-kata ghuluw (memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlebihan) atau bahkan sampai mengandung kesyirkkan, seperti dalam shalawat nariyah –Wallahul musta’aan-.

DKM Masjid Ruqayyah Balibaid


[1] Seluruh tubuh wanita itu aurat selain muka dan tapak tangan, dan tidak termasuk menutup aurat apabila alat penutup aurat itu (pakaiannya) tembus pandang, tipis, membentuk lekuk tubuhnya dan ketat, penutup aurat tersebut bukanlah berfungsi sebagai perhiasan, pakaian penutup aurat tidak boleh diberi wewangian, kaki wanita juga harus tertutup, Pakaian tersebut tidak boleh menyerupai laki-laki dan tidak memakai pakaian ketenaran (yakni pakaian kesombongan yang menampakkan ketinggian atau sebaliknya menampakkan ketawaadhu’an dan kezuhudan) juga pakaian tersebut hendaknya tidak menyerupai pakaian wanita kafir.

Silakan bagi anda yang ingin mengetahui hal-hal apasaja yang menjadi kekeliruan-kekeliruan ketika sholat

download kekeliruan ketika sholat

Adab Menuntut Ilmu

Adab yang perlu dimiliki oleh seorang murid

Pengarang kitab Ta’liimul Muta’allim Burhaanul Islam Az Zarnuujiy berkata (kami ambil kata-kata beliau sepotong-sepotong):

إِنَّمَا شَرَفُ الْعِلْمِ بِكَوْنِهِ وَسِيْلَةً اِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، الَّذِىْ يَسْتَحِقُّ بِهَا الْمَرْءُ الْكَرَامَةَ عِنْدَ اللهِ، وَالسَّعَادَةَ وَالْأَبَدِيَّةَ،

Sesungguhnya bukti mulianya ilmu agama adalah karena dengan ilmu tersebut seseorang dapat mencapai kebaikan dan ketakwaan. Di mana dengan keduanya seseorang akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah dan kebahagiaan yang kekal (surga).

…..وَيَنْبَغِى أَنْ يَنْوِىَ الْمُتَعَلِّمُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ رِضَاءَ اللهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ، وَإِزَالَةَ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِهِ، وَعَنْ سَائِرِ الْجُهَّالِ، وَإِحْيَاءَ الدِّيْنِ وَإِبْقَاءَ الْإِسْلاَمِ، فَإِنَّ بَقَاءَ الْإِسْلاَمِ بِالْعِلْمِ، وَلاَيَصِحُّ الزُّهْدُ وَالتَّقْوَى مَعَ الْجَهْلِ…..

Seorang murid hendaknya meniatkan di hatinya dalam menuntut ilmu untuk menggapai ridha Allah dan mendapatkan kampung akhirat, menyingkirkan kebodohan dari dirinya serta menghilangkan kebodohan yang menimpa orang lain. Dia pun hendaknya berniat untuk menegakkan agama Islam dan menjaganya, karena Islam terjaga dengan ilmu. Sikap zuhud (kurang minat terhadap dunia) serta takwa pun tidak mungkin dicapai dengan kebodohan.”

…..اِعْلَمْ, بِأَنَّهُ لاَيَفْتَرِضُ عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍ، طَلَبُ كُلِّ عِلْمٍ وَإِنَّمَا يَفْتَرِضُ عَلَيْهِ طَلَبُ عِلْمِ الْحَالِ…….

Ketahuilah, bahwa tidak wajib bagi seorang muslim mempelajari semua ilmu, yang wajib baginya adalah mempelajari ilmu yang menuntut diamalkan segera (seperti mempelajari ‘akidah yang benar, cara wudhu’ dan shalat yang benar dan amalan-amalan wajib lainnya).

…وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَخْتَارَ مِنْ كُلِّ عِلْمٍ أَحْسَنُهُ وَمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِى أَمْرِ دِيْنِهِ فِى الْحَالِ، ثُمَّ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِى الْمَآلِ…..

Dan seorang murid pun hendaknya memilih ilmu yang paling baik di antara sekian ilmu serta masalah agama yang dibutuhkannya sekarang (sehingga jika ia seorang pedagang, hendaknya ia mempelajari adab berdagang) setelah itu yang dibutuhkannya nanti.

…وَيُقَدِّمُ عِلْمَ التَّوْحِيْدِ وَالْمَعْرِفَةِ وَيَعْرِفُ اللهَ تَعَالىَ بِالدَّلِيْلِ، فَإِنَّ إِيْمَانَ الْمُقَلِّدَ ـ وَإِنْ كَانَ صَحِيْحًا عِنْدَنَا ـ لَكِنْ يَكُوْنُ آثِمًا بِتَرْكِ الْإِسْتِدْلاَلِ……

Hendaknya ia mendahulukan ilmu tauhid dan ‘akidah, serta mengenal Allah berdasarkan dalil, karena keimanan yang dimiliki seorang muqallid (hanya ikut-ikutan saja) meskipun menurut kami sah, namun bisa saja berdosa karena tanpa dalil.

……وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ لاَ يَخْتَارَ نَوْعَ الْعِلْمِ بِنَفْسِهِ، بَلْ يُفَوِّضُ أَمْرَهُ إِلَى الْأُسْتَاذِ، فَإِنَّ الْأُسْتَاذَ قَدْ حَصَلَ لَهُ التَّجَارِبُ فِى ذَلِكَ…..

Dan sepatutnya bagi seorang murid, tidak memilih jenis ilmu menurut dirinya sendiri. bahkan hendaknya ia serahkan masalah itu kepada guru. Karena guru memiliki pengalaman tentang hal itu.

…ثُمَّ لاَ بُدَّ مِنَ الْجَدِّ وَالْمُوَاظَبَةِ وَالْمُلاَزَمَةِ لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِلَيْهِ الْإِشَارَةُ فِى الْقُرْآنِ بِقَوْلِهِ تَعَالىَ: يا يحيى خذ الكتاب بقوة. وقوله تعالى: والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا….

Kemudian seorang murid harus bersungguh-sungguh, tekun dan tetap bersabar dengan guru. Hal ini diisyaratkan dalam Al Qur’an oleh firman Allah Ta’ala “Hai Yahya, peganglah erat-erat kitab itu.” (Maryam: 12), juga firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami, maka Kami benar-benar akan akan menunjuki mereka.” (Al ‘Ankabut: 69)

…..وَلاَ يَكْتُبُ الْمُتَعَلِّمُ شَيْئًا لَا يَفْهَمُهُ……

Seorang murid janganlah mencatat sesuatu yang tidak dipahaminya.

….وَيَنْبَغِى أَنْ يَجْتَهِدَ فِى الْفَهْمِ عَنِ الْأُسْتَاذِ بِالتَّأَمُّلِ وَبٍالتَّفَكُّرِ وَكَثْرَةِ التِّكْرَارِ،…..

Ia pun seharusnya berusaha memahami kata-kata ustadz dengan memperhatikan, memikirkan dan mengulang-ulang.

….وَاعْلَمْ أَنَّ الصَّبْرَ وَالثَّبَاتِ أَصْلٌ كَبِيْرٌ فِى جَمِيْعِ الْأُمُوْرِ وَلَكِنَّهً عَزِيْزٌ….

Dan ketahuilah bahwa sabar dan teguh pendirian adalah modal utama dalam semua masalah meskipun berat.

……قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رحمه الله: إِنَّمَا أَدْرَكْتُ الْعِلْمَ بِالْحَمْدِ وَالشُّكْرِ، فَكُلَّمَا فَهِمْتُ وَوُفِّقْتُ عَلَى فِقْهٍ وَحِكْمَةٍ قُلْتُ: الْحَمْدُ ِللهِ، فَازْدَادَ عِلْمِيْ…..

Abu Hanifah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya saya mendapatkan ilmu dengan memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya. Setiap kali aku paham dan diberitahukan fiqh dan hikmah, aku berkata “Al Hamdulillah”, maka bertambahlah ilmuku.”

وهكذا ينبغى لطالب العلم أن يشتغل بالشكر باللسان والجنان والأركان والحال ويرى الفهم والعلم والتوفيق من الله تعالى ويطلب الهداية من الله تعالى بالدعاء له والتضرع إليه، فإن الله تعالى هاد من استهداه…..

Demikianlah sepatutnya seorang murid, ia menyibukkan diri dengan bersyukur baik dengan lisan, hati, anggota badan maupun keadaan. Dia yakin bahwa pemahaman, ilmu dan taufiq yang didapatkannya adalah berasal dari Allah Ta’ala. Ia pun meminta hidayah-Nya dengan berdo’a dan bertadharru’ (merendahkan diri) kepada-Nya, karena Allah Ta’ala akan menunjuki orang yang meminta hidayah kepadanya.

….وأهل الضلالة أعجبوا برأيهم وعقلهم وطلبوا الحق من المخلوق العاجز وهو العقل، لأن العقل لا يدرك جميع الأشياء

Adapun orang-orang yang tersesat, mereka merasa ‘ujub dengan pendapat dan kecerdasan akalnya, mereka mencari kebenaran bersandar kepada makhluk yang lemah yaitu akal, padahal akal tidak dapat menggapai semuanya….

Adab Murid Terhadap Guru

Seorang murid hendaknya menghormati gurunya, karena melalui bimbingan guru pintu-pintu ilmu terbuka dan dirinya pun dapat selamat dari kesalahan atau ketergelinciran.

Hargailah gurumu, muliakanlah dan berlakulah yang lembut dan sopan saat duduk bersamanya, berbicara dengannya, saat bertanya dan menyimak pelajaran.

Berikut ini contoh-contoh menghormati guru:

Janganlah seorang murid banyak bicara dan berdebat dengan gurunya. Jangan juga memotong pembicaraannya baik di tengah-tengah pelajaran maupun lainnya. Demikian pula jangan memaksa guru untuk menjawab.

Jauhilah banyak bertanya terutama di tengah khalayak ramai, juga pada saat nampak rasa bosannya; hendaknya murid memperhatikan keadaan guru.

Janganlah seorang murid memanggil gurunya dengan namanya, jangan juga mengatakan “kamu” terhadapnya dan janganlah memanggilnya dari jarak jauh kecuali jika terpaksa.

Selalulah bersikap hormat di majlis ilmu, nampakkanlah kegembiraan di hadapan guru dan janganlah menampakkan rasa bosan.

Kesalahan yang terjadi pada diri guru, janganlah kamu jadikan alasan untuk meremehkannya, karena sebab inilah kamu tidak memperoleh ilmu, padahal siapakah orang yang tidak pernah bersalah???

Jika kamu ingin pindah belajar kepada guru yang lain, maka mintalah izin kepadanya, karena sikap ini lebih menunjukkan penghormatanmu kepadanya, serta membuatnya mencintai dan menyayangimu.

Ta’atilah gurumu selama perintahnya bukan maksiat, karena guru tidaklah memerintah kecuali yang di sana terdapat kebaikan bagimu.

Hormatilah gurumu, jika kamu ingin sukses dan berhasil, janganlah meremehkannya karena itu tanda kegagalan. Penghormatanmu kepada guru merupakan bukti kamu memuliakan ilmu.

Inilah adab-adab yang layak kamu miliki terhadap gurumu, namun janganlah melampaui batas sehingga keluar dari adab-adab syar’i, seperti menjilati tangan guru, mencium pundaknya, menundukkan badan saat bersalaman serta menggunakan kalimat yang menghinakan diri.

Ketahuilah, guru adalah tauladanmu jika memang akhlaknya mulia dan bagus. Namun kadang-kadang guru memiliki sifat kekurangan dalam akhlaknya, maka janganlah mengikutinya. Memang guru adalah panutan, namun dalam segi apa menjadi panutan?. Tirulah gurumu jika sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan niatkanlah untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan untuk mengikuti gurumu.

(Banyak merujuk kepada kitab Syarh Hilyati Thalibil ‘ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah dan kitab Ta’liimul Muta’allim karya Burhanul Islam Az Zarnuujiy)

Sufyan Ats Tsauriy pernah berkata:

اَوَّلُ الْعِلْمِ اْلإِسْتِمَاعُ ثُمَّ الْإِنْصَاتُ ثُمَّ الْحِفْظُ ثُمَّ الْعَمَلُ ثُمَّ النَّشْرُ

“Ilmu diawali dengan mendengarkan, lalu memperhatikan, kemudian menghapalnya, lalu mengamalkan kemudian menyebarkan.”

Keutamaan Membaca Al-qur’an

Keutamaan membaca Al Qur’an

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ (البخاري)

“Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al Qur’an adalah seperti buah utrujjah aromanya wangi dan rasanyapun enak, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an adalah seperti buah kurma tidak ada wanginya tetapi rasanya manis. Dan orang munafik yang membaca Al Qur’an adalah seperti pohon raihaanah (kemangi) aromanya wangi tetapi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an adalah seperti pohon hanzhalah tidak ada wanginya dan rasanyapun pahit.” (HR. Bukhari)

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ (مسلم)

“Bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafa’at kepada pembacanya.” (HR. Muslim)

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang lancar membaca Al Qur’an akan bersama malaikat utusan yang mulia lagi berbakti, sedangkan orang yang membaca Al Qur’an dengan tersendat-sendat lagi berat, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim)

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan itu akan dilipat gandakan menjadi 10. aku tidaklah mengatakan Alif laam miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah meninggikan suatu kaum karena Al Qur’an ini dan merendahkan juga karenanya.” (HR. Muslim)

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا

“Akan dikatakan kepada pembaca Al Qur’an “Bacalah dan naiklah, serta tartilkanlah sebagaimana kamu mentartilkannya ketika di dunia, karena kedudukanmu pada akhir ayat yang kamu baca.” (Hasan shahih, diriwayatkan oleh Tirmidzi)

« أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيقِ فَيَأْتِىَ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ كَوْمَاوَيْنِ فِى غَيْرِ إِثْمٍ وَلاَ قَطْعِ رَحِمٍ » . فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نُحِبُّ ذَلِكَ . قَالَ « أَفَلاَ يَغْدُو أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلاَثٍ وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ الإِبِلِ » .

“Siapakah di antara kalian yang ingin berangkat pagi setiap hari ke Bathhan atau ‘Aqiq pulang-pulang membawa dua unta yang besar punuknya tanpa melakukan dosa dan memutuskan tali silaturrahim?” Para sahabat menjawab, “Wahai Rasulullah, kami suka hal itu.” Beliau pun bersabda, “Tidakkah salah seorang di antara kamu pergi ke masjid, lalu ia belajar atau membaca dua ayat Al Qur’an, maka hal itu lebih baik daripada dua unta, tiga ayat lebih baik daripada tiga unta, empat ayat lebih baik daripada empat unta dan jika lebih maka lebih baik pula.” (HR. Muslim)

اعداد : مروان بن موسى

Apa itu sianida?

Apa itu sianida?
Sianida atau Natrium Sianida (NaCN), merupakan bahan kimia berbentuk kristal kubus atau serbuk, granule, tidak berwarna hingga putih, berbau seperti almond. Jika kering tidak berbau, tetapi jika menyerap air berbau sianida.
Bahan kimia ini berakibat fatal bila terhirup atau tertelan. sianida menyerang semua jaringan sehingga tidak terjadi pertukaran oksigen atau disebut mengalami hipoksia yakni kekurangan oksigen dalam jaringan.
Dilansir dari Kompas.com, Spesialis Jantung RS Bunda, Dr. Dicky Armein Hanafy mengatakan,”Sianida merupakan racun paling mematikan yang merusak sistem saraf sentral dan sistem saraf otot.”
Sianida banyak digunakan sebagai insektisida dan mitisida, atau untuk fumigasi dan digunakan untuk mengekstraksi emas dan perak di pertambangan.
Bahan kimia ini juga mudah untuk terhirup. Ketika dilarutkan atau dibakar, ia melepaskan zat yang sangat beracun, yakni hidrogen gas sianida.

Planet Nine?

Planet Nine?

Professor of Planetary Astronomy Mike Brown speaks in front of a computer simulation of the probable orbit of Planet Nine (yellow) at the California Institute of Technology in Pasadena, January 20, 2016. The solar system may host a ninth planet that is about 10 times bigger than Earth and orbiting far beyond Neptune.  (reuters)

If Planet Nine is real, it would fill a notable gap in our solar system, they added.

“One of the most startling discoveries about other planetary systems has been that the most common type of planet out there has a mass between that of Earth and that of Neptune,” Batygin said. “Until now, we’ve thought that the solar system was lacking in this most common type of planet. Maybe we’re more normal after all.”

– See more at: http://www.space.com/31670-planet-nine-solar-system-discovery.html#sthash.1kGVADrZ.dpuf