‘Aisyah radiyallaahu anha

Hari-hari indah bersama kekasih Allah dilalui dengan singkatnya ketabahan menghiasi kesendiriannya guru besar bagi kaumnya pendidikan kekasih Allah telah menempanya.

Dia adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq , yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka memanggilnya “Humaira”. ‘Aisyah binti Abu Bakar Abdullah bin Abi Khafafah berasal dari keturunan mulia suku Quraisy.

Ketika umur 6 tahun, gadis cerdas ini dipersunting oleh manusia termulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan perintah Allah melalui wahyu dalam mimpi beliau.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan mimpi beliau kepada ‘Aisyah :”Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu malaikat yang berkata : ini adalah istrimu. Lalu aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu , lalu aku berkata sesungguhnya hal itu telah ditetapkan di sisi Allah.” (Muttafaqun ‘alaihi dari ‘Aisyah radilayallahu ‘anha)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha memulai hari-harinya bersama Rasulullah sejak berumur 9 tahun. Mereka mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang diliputi suasana Nubuwwah. Rumah kecil yang disamping masjid itu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun tanpa permadani indah dan gemerlap lampu yang hanyalah tikar kulit bersih sabut dan lentera kecil berminyak samin (minyak hewan).

Di rumah kecil itu terpancar pada diri Ummul Mukminin teladan yang baik bagi istri dan ibu karena ketataatannya pada Allah, rasul dan suaminya. Kepandaian dan kecerdasannya dalam mendampingi suaminya, menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Aisyah menghibur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Aisyah menghibur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedih, menjaga kehormatan diri dan harta suami tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berda’wah di jalan Allah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga melalui hari-harinya dengan siraman ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga ribuan hadist beliau hafal.

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga ahli dalam ilmu faraid (warisan dan ilmu obat-obatan). Urmah bin Jubair putra Asma binti Abu Bakar bertanya kepada Aisya radhiyallahu ‘anha :” Wahai bibi, dari mana bibi mempelajari ilmu kesehatan?.” Aisyah menjawab :”Ketika aku sakit, orang lain mengobatiku, dan ketika orang lain sakit aku pun mengobatinya dengan sesuatu. Selain itu, aku mendengar dari orang lain, lalu aku menghafalnya.”

Selain keahliannya itu, Aisyah juga seorang wanita yang menjaga kesuciannya. Seperti kisah beliau sepulang dari perang Hunain, yang dikenal dengan haditsul ifqi. Ketika mendekati kota Madinah, beliau kehilangan perhiasan yang dipinjam dari Asma. Lalu dia turun untuk mencari perhiasan itu. Rombongan Rasulullah dan para sahabatnya berangkat tanpa menyadari bahwa Aisyah tertinggal. Aisyah menanti jemputan, dan tiba-tiba datanglah Sufyan bin Muathal seorang tentara penyapu ranjau. Melihat demikian, Sufyan menyabut Asma Allah lalu Sufyan turun dan mendudukkan kendaraanya tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya kemudian Aisyah naik kendaraan tersebut dan Sufyan menuntun kendaraan tersebut dengan berjalan kaki. Dari kejadian ini, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya menyebarkan kabar bohong untuk memfitnah ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Fitnah ini menimbulkan goncangan dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi Allah yang Maha Tahu berkehendak menyingkap berita bohong tersebut serta mensucikan beliau dalam Al-Qur’anul Karim dalam surat An-Nur ayat 11-23.

Diantara kelebihan beliau yang lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk dirawat di rumah Aisyah dalam sakit menjelang wafatnya. Hingga akhirnya Rasulullah wafat di pangkuan Aisyah dan dimakamkan dirumahnya tanpa meninggalkan harta sedikitpun. Ketika itu Aisyah radhiyallahu ‘anha berusia 18 tahun. Sepeninggal Rasulullah, Aisyah mengisi hari-harinya dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Hadits dibalik hijab bagi kaum laki-laki pada masanya.

Dengan kesederhanaannya, beliau juga menghabiskan hari-harinya dengan ibadah kepada Allah, seperti puasa Daud. Kesederhanaan juga nampak ketika kaum muslimin mendapatkan kekayaan dunia, beliau mendapatkan 100.000 dirham. Saat itu beliau berpuasa, tetapi uang itu semua disedekahkan tanpa sisa sedikitpun. Pembantu wanitanya mengingatkan beliau :”Tentunya dengan uang itu anda bisa membeli daging 1 dirham buat berbuka?” Aisyah menjawab : ”Andai kamu mengatakannya tadi, tentu kuperbuat.”

Begitulah beliau yang tidak gelisah dengan kefakiran dan tidak menyalahgunakan kekayaan kezuhudannya terhadap dunia menambah kemuliaan.

Wallahu’alam bishowwab

Islamkah Abu Thalib?

Ditulis Oleh: Abu Nu’aim Al Atsari   

Siapa yang tidak kenal dengan Abu Thalib? Beliau adalah orang yang banyak membantu perjuangan dakwah Islam. Menjadi tameng dari orang-orang jahiliyah yang ingin menghancurkan Islam dan mencelakai Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Alhamdulillah, anak-anak kaum muslimin pun mengenalnya dalam sejarah Islam. Dalam sejarah Islam, Abu Thalib juga disebut sebagai orang yang paling ringan siksanya di Neraka. Dengan kata lain, beliau meninggal dalam keadaan kafir. Padahal, terdapat riwayat, sebagaimana yang sering dibawakan oleh orang-orang Syi’ah, bahwa (sebnarnya) Abu Thalib telah mengucapkan syahadat. Benarkah demikian?

1 (Pendahuluan)

Termasuk aqidah Syi’ah adalah mencintai Ahlul Bait, menurut kriteria mereka walaupun kelewat batas dan menolak hadits yang diriwayatkan kalangan Ahlus Sunnah. Muhammad Husein Ali Kasyif Ghitha’, ulama syi’ah masa kini berkata,

“Sesungguhnya Syi’ah tidak mengakui sunnah (hadits-hadits nabi) kecuali yang diriwayatkan secara shahih dari Ahlu Bait. . . adapun riwayat semisal Abu Hurairah, Samurah bin Jundab, Amr bin Ash dan orang semacam mereka maka menurut Syi’ah Imamiyah tidak ada nilainya. ”1

Lantaran itu mereka meyakini keimanan Abu Thalib dan membuang hadits-hadits shahih yang menginformasikan tentang kekufuran Abu Thalib. Seperti diocehkan tokoh Syi’ah Indonesia, O. Hashem dalam bukunya Saqifah Awal Perselisihan Umat hal 19-27,

“Anak cucu Ali dan Fathimah serta keluarga Rasulullah tidak pernah meragukan keimanan Abu Thalib. Selain madzhab Imamiah, juga kebanyakan penganut Madzhab Zaidiyah dan Madzhab Mu’tazilah menganggap Abu Thalib seorang Mukmin. Dari madzhab ahlu sunnah dapat dibilang satu-satunya hadits shahih yang meriwayatkan kekafiran Abu Thalib adalah dari Abu Hurairah. Tetapi, bagaimana ia dapat menyaksikan peristiwa meninggalnya Abu Thalib sedang pada waktu itu ia berada di desa Daus, Yaman dan baru mencul di Madinah dan masuk islam sepuluh tahun kemudian?2

kemudian menukil dari Tarikh Abi Al Fida’ I/120 dan Kasyf Al Ghummah, Sya’rani, 2/144 bahwa ketika ia akan meninggal ia mengucapkan syahadat. Abbas bin Abdul Muthalib berkata, ” Demi Allah wahai anak saudaraku, ia telah mengucapkan kalimat yang engkau perintahkan untuk diucapkan! Dan Rasulullah bersabda, ”Segala syukur bagi Dia yang memberi hidayat kepadamu, wahai paman!”.

Berkata Ahmad Zaini Dahlan3 dalam tafsirnya4:

”Asy-Syaikh As Suhaimi berkata dalam bukunya Syarh Jauhara serta lain-lain berkata bahwa hadits Abbas memperkuat keyakinan sebagian peneliti (Ahlul Kasyf) bahwa ia (Abu Thalib) adalah seorang muslim. ”

Itulah ocehan O. Hashem. Untuk membantah kedustaan tersebut akan kita nukilkan hadits-hadits yang shahih yang menginformasikan kekafiran Abu Thalib. Takhrij hadits ini kami ambil dari goresan Syaikh Abu Ubaidah Masyhur Hasan Alu Salman dalam Muqodimah Adillatu Mu’taqodi Abi Hanifah Al A’dham Fi Abawai Rasul Alaihis Shalatu Wa Salam hal. 17-23 karya Al Allamah Ali bin Sulthan yang terkenal dengan Mula Ali Al Qori Al Hanafi. Tetapi perlu diingat bahwa para ulama Ahlu Sunnah mengatakan bahwa,

Rafidhah adalah kelompok yang peling berdusta dan mendustakan kebenaran. 5

Diantara contoh kedustaan mereka adalah klaim keimanan Abu Thalib ini dan mendustakan hadits-hadits shahih tentangnya.

2 Hadits Islamnya Abu Thalib

Memang didapati suatu haditas yang mengisahkan bahwa Abu Thalib mengucapkan syahadat ketika akan mati, melalui Ibnu Abbas, berkata;

”Ketika Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mendatangi Abu Thalib tatkala sakit beliau berkata kepadanya :”Wahai pamanku, ucapkan Laa Ilaaha Illallah, suatu kaliamt yang akan menghalalkan syafaat bagimu pada hari kiamat”. Jawab Abu Thalib, ” Wahai keponakanku, kalaulah bukan karena celaan kepadaku dan kepada keluargaku sepeninggalku, dimana mereka (Quraisy) memandang bahwa aku mengucapkan kalimat itu karena mendekati mati niscaya aku ucapkan. Aku ucapkan kalimat itu untuk menyenangkanmu “, Ketika Abu Thalib mengalami sekarat, terlihat bibirnya bergerak-gerak. Al Abbas mendekatkan telinganya, dia mendengarkan ucapan Abu Thalib, lantas mengangkat kepalanya dan berkata, “Demi Allah, dia telah mengucapkan kalimat yang engkau minta”. Jawab Nabi, Aku tidak mendengarnya”. 6

Derajat hadits

Sanadnya Dha’if, karena ada rawi yang Mubham7. Bahkan hadits dengan redaksi lengkap ini tergolong mungkar8, sebab bertentangan dengan banyak hadits shahih.

Al Hafidz Ibnu Katsir dalam Sirah Nabawiyyah 2/125 berkata, ” Pada sanad hadits ini terdapat rawi mubham, tidak diketahui jati dirinya yaitu “sebagian kelurganya”. Ini termasuk mubham nama dan identitas. Orang seperti ini tidak bisa ditetapkan hukumnya jika dia bersendiri”.

Imam Baihaqi berkata, ”Hadits ini sanadnya terputus, Al Abbas ketika itu belum masuk islam”,

3 Hadits-hadits Shahih Yang Menentang Hadits Tadi

Ibnu Abbas berkata, Abu Thalib sakit, lalu datanglah orang-orang Quraisy dan juga nabi kesana. Disisi Abu Thalib banyak orang laki-laki. Berdirilah Abu Jahl menghalangi nabi. Mereka mengadukan kepada Abu Thalib tentang Nabi. Maka berkatalah Abu Thalib. ”Wahai keponakanku, apa yang engkau inginkan dari kaummu? Jawab Nabi,

“Wahai paman, aku ingin mereka mengucapkan satu kalimat, yang mana orang-orang Arab akan mengikuti agama mereka dan orang-orang ajam (selain Arab) akan membayar jizyah (semacam pajak) kepada mereka”,

Tukas Abu Thalib, ”Satu kalimat!” Jawab Nabi, ”Hanya satu kalimat, yaitu hendaknya mereka mengucapkan Laa Ilaha Illallah. ” Orang-orang Quraisy berkata, “Satu tuhan?! Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir”, Ibnu Abbas berkata, ” lalu turunlah ayat tentang mereka

”Shaad, demi Al qur’an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. ” Sampai firman Nya “Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir, ini (mengesakan Allah), tidak lain adalah dusta yang diada-adakan”. 9

Sanad lain, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad I/362, Ibnu Jarir dalam Tafsir 23/79, Nasa’i dalam Tafsir 2/218 no. dari jalur Abu Usamah dari Al A’masy dari Abbad bin Ja’far dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas.

Perbedaan nama Al A’masy tidak membuat hadits ini cacat. 10 Karena bisa jadi Al A”masy meriwayatkan dari keduanya. Hanya saja pada gurunya yang pertama (sanad pertama-pen) terjadi perbedaan. Satu kali mengatakan dari Abdun bin Humaid, tapi pada riwayat Tirmidzi, Yahya bin Umarah. Al Bukhari memastikan bahwa yang benar adalah Yahya bin Umarah. Namun Yahya bin Umarah ini majhul karena hanya Al A’masy yang meriwayatkan darinya. Tapi hadits ini shahih lantaran ada Abbad bin Ja’far.

Hadits ini memastikan bahwa Abu Thalib tidak mengucapkan syahdat. Hal ini dikuatkan karena ada kata tambahan pada riwayat Ibnu Jarir pada Tafsirnya 23/80-81 dengan sanad mu’dhal11;

Ketika orang-orang Quraisy keluar, Rasulullah mengajak pamannya untuk mengucapkan Laa Ilaha Illallah Tetapi Abu Thalib tetap menjawab: ”Aku tetap pada agama sesepuh”. Turunlah ayat, ” Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi “(Al Qoshosh : 56).

4 Hadits-hadits Shahih Yang Menyatakan Kekafiran Abu Thalib

  1. Dari Al Musayyib bin Hazn berkata,

    Ketika Abu Thalib hampir mati, Rasulullah mengunjunginya dan mendapati Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah di sisi Abu Thalib. Rasulullah berkata, ”Wahai paman, ucapkan Laa Ilaha Illallah suatu kalimat yang aku akan membelamu karena ucapan itu dihadapan Allah.”

    Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata, “Apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?” Beliau terus menerus menawarkan kepada pamannya untuk mengucapkannya, tetapi kedua orang itu terus mengulang-ulang. Hingga akhir ucapan Abu Thalib adalah tetap berada pada agama Abdul Muthalib dan enggan mengucapkan Laa Ilaha Illallah. Rasulullah bersabda,

    “Aku benar-benar akan memintakan ampunan bagimu selama tidak dilarang “.

    Lalu Allah menurunkan ayat,

    Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, Walaupun ornag-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik adalah penghuni neraka jahanam. (At Taubah : 113).

    Ayat ini diturunkan Allah berkenaan dengan Abu Tholib. Dan Allah berfirman kepada Rasullulah

    Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (Al-Qoshosh : 56).12

  2. Dari Abu Hurairah, berkata ;

    Rasulullah berkata pada pamannya, “ Ucapkan Laa Ilaaha Illallah, aku akan bersaksi untukmu pada hari kiamat “, Abu Thalib menjawab, “ Seandainya orang Quraisy tidak mencelaku dengan mengatakan “ Abu Thalib mengucapkan itu karena hampir mati ”. Lalu Allah menurunkan ayat kepada Rasulullah.13

  3. Dari Al Abbas bin Abdul Muthalib, berkata,

    “Wahai Rasullulah, apakah engkau bisa memberi manfaat kepada Abu Thalib, sebab dia dulu memeliharamu dan membelamu?” Jawab beliau, “Benar, dia berada di neraka yang paling dangkal, kalau bukan karenaku niscaya dia berada di neraka yang paling bawah.“14

  4. Dari Abu Sa`id Al Khudri, berkata,

    Disebutkan disisi Rasulullah pamannya Abu Thalib, maka beliau bersabda, ” Somoga syafa’atku bermanfaat baginya kelak di hari kiamat. Karena itu dia ditempatkan di neraka yang paling dangkal, api neraka mencapai mata kakinya lantaran itu otaknya mendidih. 15 

  1. Dari Ali bin Abi Thalib, berkata ;

    Ketika Abu Thalib mati, aku mendatangi Nabi, kukatakan, “Wahai Rasulullah, pamanmu orang tua yang sesat itu telah mati. Jawab beliau, “Pergilah, kuburkan dia! Aku berkata, “Dia mati dalam keadaan musyrik”, jawab beliau, “Pergilah, kuburkan dia! dan kamu jangan berbuat sesuatu sampai datang kepadaku”. Lantas aku kuburkan kemudian a ku mendatangi Nabi dan beliau memerintahkan aku mandi lalu aku mandi, kemudian beliau berdo`a dengan beberapa do`a yang mana aku tidak suka apabila do`a itu diganti dengan seluruh apa yang ada di permukaan bumi.16

  2. Dari Anas bin Malik, pada kisah islamnya Abu Quhafah. Anas berkata,

    ”Ketika Abu Quhafah menjulurkan tangannya untuk baiat, Abu Bakar menangis, maka Nabi berkata, ”Apa yang menyebabkan kamu manangis? Jawab Abu Bakar, “Lebih aku sukai jika tangan pamanmu (Abu Thalib) menggantikan tangannya (Abu Quhafah), lalu dia masuk Islam dan dengan begitu Allah membuat engkau rela”, 17

Al Hafidz dalam Al Ishobah 4/1117 berkata,

”Maksud ucapan Abu bakar adalah keislaman Abu Thalib lebih saya sukai ketimbang keislaman bapak saya”,

Jika Abu Thalib Islam (tetapi dia mati kafir -pen). Lanjut Al Hafidz hal. 118,

”Saya berharap Abdul Muthalib dan keluarganya termasuk orang-orang yang masuk islam dengan taat sehingga selamat. Tetapi berita yang shahih tentang Abu Thalib membantah semua itu. Yaitu apa yang disebutkan dalam suatu ayat di surat Al Bara’ah dan hadits shahih dari Al Abbas . . . ”,

Lantas menyebutkan haditsnya dan berkata,

”Ini adalah keadaan orang yang mati dalam keadaan kafir, seandainya dia mati dalam keadaan bertauhid niscaya dia akan selamat dari api neraka. Hadits-hadits yang shahih dan berita yang meluas sudah banyak”.

Dalam Fathul Bari 7/195 beliau berkata,

”Saya mendapati satu kitab yang disusun oleh orang-orang Syi’ah Rafidhoh, mereka banyak memuat hadits-hadits dha’if yang menunjukan keislaman Abu Thalib. Namun tidak ada satupun yang shahih. Taufiq hanya milik Allah”.

Ayat yang dipakai oleh Syi’ah Rafidhoh adalah ;

Maka orang orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al A’raf : 157).

Mereka mengatakan,

”Abu Thalib memuliakan Nabi sebagaimana yang telah masyhur dan diketahui. Dia melawan orang-orang Quraisy dan memusuhi mereka karena membela keponakannya. Hal itu tidak pernah dilakukan oleh seorangpun, jadilah dia orang yang beruntung”.

Al Hafidz mengomentari,

“Sebatas inilah tingkat keilmuan mereka. Saya akui Abu Thalib membela Nabi bahkan membela dengan mati matian. tetapi dia tidak mengikuti cahaya yang diturunkan kepada beliau, yaitu Al Qur’an yang mulia, penyeru kepada tauhid. Tidak akan memperoleh keberuntungan kecuali dengan memperoleh sifat sifat yang tadi”18 (sifat Al Qur’an tadi-pen).

Syaikh Muhammad Baqir Al Mahmudi telah mengerahkan segala upaya namun sia-sia untuk menolak kekafiran Abu Thalib dalam ta’liqnya (komentar) terhadap kitab Khoshois Ali hal. 266-273. Dia berdalil dengan beberapa hal, dimana orang yang sedang berduka karena kematian anaknya pun akan menertawakannya. Dia juga berdalil dengan riwayat-riwayat yang tidak berdasar dan bertentangan dengan riwayat yang shahih. Ini menunjukan kejahilan dan kedangkalan pemahamannya. Dia memberikan komentar dengan memfasikkan Abu Bakar dan Umar bahkan mengkafirkan keduanya!!

Sebagian orang Syi’ah Rafidhoh mengarang kitab yang dinamakan Asna Matholib Fi Najati Abi Thalib, mereka penuhi kitab-kitab tersebut dengan kata-kata yang buruk, kedustaan, dan cerita dusta kepada Ahlus Sunnah. Untuk membantahnya memerlukan karangan tersendiri. Kesimpulannya, riwayat-riwayat shahih menetapkan bahwa Abu Thalib mati kafir. Inilah pendapat Ahlus Sunnah. Ibnu Asakir ketika menuliskan sejarahnya, berkata,

”Ada yang berpendapat Abu Thalib masuk Islam, (dijawab) keislamannya tidak benar”.

Usai memastikan Abu Thalib mati kafir dalam sirahnya 2/132, Al Hafidz Ibnu Katsir berkata,

”Seandainya Allah tidak melarang kita memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik, niscaya kita akan memintakan ampunan kepada Abu Thalib dan mendo’akan agar mendapatkan rahmat”.

5 Faedah

Faedah yang dapat diambil dari kisah ini :

  1. Bantahan kepada orang-orang yang berpendapat bahwa Abu Thalib beriman, seperti Syi’ah Rafidhoh.
  2. Yang mampu memberikan hidayah dan taufiq itu hanya Allah bukan selainnya. Jika Nabi memiliki hidayah taufiq ini, menghilangkan kesusahan, menghapuskan dosa, menyelamatkan dari adzab dan semacamnya niscaya orang yang paling pantas mendapatkan adalah Abu Thalib karena dia banyak berkorban bagi Nabi, memelihara dan membela dakwahnya.
  3. Bantahan terhadap orang orang yang meminta, Istighotsah dan bertawassul kepada Rasulullah, karena Rasulullah tidak mampu menolong pamannya ketika beliau masih hidup. Lantas bagaimana mungkin beliau menolong orang orang yang meminta kepadanya sedangkan beliau telah wafat.
  4. Diharamkan meminta ampunan kepada orang kafir walaupun keluarga dekat.

Catatan Kaki
1
Ashlu Syi’ah Wa Ushuluha, hal, 79 , seperti dalam Ushul Madzhab Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariyah, I/343, Dr. Nashir Al Qifari.
2
Kedustaan O. Hashem terhadap sahabat mulia, Abu Hurairah lihat (Majalah Al-Furqon) edisi 6 th. 3.
3
(Dia adalah -red. vbaitullah) orang yang sangat membenci dakwah tauhid dan banyak membuat kedustaan terhadap imam Muhammad Abdul Wahhab, semoga Allah memberi balasan yang setimpal. Lihat (majalah Al Furqon -red. vbaitullah) edisi 3 tahun 4.
4
Al halbiyyaah, jilid 1/194.
5
Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyah 4/51 dan mukhtasarnya, Imam Dzahabi, hal 21-23 seperti dalam Ushul Madzhab Syi’ah, 1/366.
6
Dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dalam Sirahnya, Al Baihaqi dalam Dalail Nubuwwah 2/346 dengan sanad yang sama (dengan sanad Ibnu Ishaq) dari Al Abbas bin Abdillah bin Ma’bad dari sebagian keluarganya dari Abbas.
7
Rawi mubham
adalah rawi yang tidak diketahui nama dan jati dirinya.
8
Hadits mungkar
adalah hadits dha’if yang menyelisihi hadits shahih.

9 Diriwayatkan oleh Nasa’i dalam Sunan Kubra, kitab tafsir dalam no. 456, seperti disebutkan dalam Tuhfatul Asyraf 4/456, Tirmizi 3232, Ibnu Jarir dalam Tafsir 23/79, Al Hakim dalam Mustadrak 2/432, Baihaqi dalam Dalail Nubuwwah 2/345 dan Sunan Kubra 9/188, dari jalan Sufyan dari Al A’masy, dia berkata,

”menceritakan kepada kami Yahya Bin Umarah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas dengan tidak menyebut tambahan redaksi islamnya Abu Thalib-berkata. . .

Tirmidzi berkata, ”Ini hadits hasan”. Tetapi Al Mizzi dalam Tuhfah menukil ucapan Tirmidzi, ”Hasan shahih”. Kata Al Mizzi pula, ”Yahya bin Sa’id meriwayatkan hadits semisal ini dari Sufyan dari Al A’masy. Yahya bin Umarah berkata, ”Menceritakan kepada kami Bandar, dia berkata, ” Menceritakan kepada kami, ” Yahya bin Sai’d dari Sufyan Hadits semisal ini dari Al A’masy.

10 Maksudnya pada hadits pertama Al A’masy meriwyatkan dari Yahya bin Umarah tetapi pada hadits kedua (riwayat Ahmad dan lainnya) Al A’masy meriwayatkan dari Abbad bin Ja’far-pen. 11 Mu’dhal adalah gugurnya dua orang rawi atau lebih di tengah sanad secara berurutan. 12 Dikeluarkan oleh Bukhari dalam Shahihnya, kitab tafsir No. 4675 dan 4772, Muslim 24, Nasa`i dalan Sunan Kubro 250, 403 (seperti disebutkan dalam Tuhfatul Asyraf, Al Mizzi 8/387) dan Al Mujtaba 4/90-91, Abu Awanah dalam Musnad I/14-15, Ahmad 5/433, Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar 3/187, Ibnu Mandah dalam Al Iman No. 37, Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 978, Ibnu Jarir dalam tafsirnya 11/30, 20, Baihaqi dalam Dalail Nubuwwah 2/342-343, Al Baghawi dalam Syarhu Sunnah 5/55-56, Ibnul Banna` dalam Fadhlul Tahlil no. 47, Al Wahidi dalam Asbabun Nuzul 177, dari berbagai jalan dari Az-Zuhri dari Sa`id Al Musayyib dari bapaknya (Al Musayyib bin Hazn). Ini redaksi bukhari no. 4772.

Al Hakim dalam Mustadraknya 2/335-336 meriwayatkan hadits tersebut dari jalur Sufyan bin Husen dari Az Zuhri dari Sa`id bin Musayyid dari Abu Hurairah, lalu berkata, “Sanadnya Shahih“ dan disetujui Adz Dzahabi.

Sufyan bin Husen ini tsiqoh (terpercaya), tetapi kalau meriwayatkan dari Az Zuhri tidak demikian lantaran berlawanan dengan banyak perawi yang lebih terpercaya dan lebih banyak dari para murid Az Zuhri. Mereka menjadikan hadits ini dari Al Musayyib bin Hazn bukan dari Abu Hurairah. Memang benar didapati juga hadits shahih yang semakna dengan hadits ini dari Abu Hurairah namun sanadnya lain.

13 Dikeluarkan oleh Muslim 25, Abu Awanah dalam Musnad 1/15, Ahmad 2/434, Tirmidzi dalam Al Jami` 5/341 no. 3188, Ibnu Hibban dalam Shahi no. 6237, Ibnu Mandah dalam Al Iman no. 38 dan 39, Ibnu Jarir dalam Tafsir 20/58, Baihaqi dalam Dalail Nubuwwah 2/344 -345, dan dari jalur Yazid bin Kaisan dari Abi Hazin Al Asyja`i dari Abu Hurairah. 14 Dikeluarkan oleh Bukhari no. 3883, 6208, 6572, Muslim 209, Ahmad I/206, 207, 210, Al Humaidi dalam Musnad I/219, no. 460, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf 13/165, Abdur Razaq dalam Mushonnaf no. 9939, Ibnu Mandah dalam Al Iman no. 958, 961, Abu Ya`la 12/53, 54, 78, no. 6694, 6695, 6715, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq I05, Al Jauroqoni dalam Al Abathil wal Manakir was shihah wal masyahir I/237-238, Baihaqi dalam Dalail Nubuwwah 2/346 dan dalam Al Ba`tsu wan Nusyur no. 10-12 dari hadits Al Abbas bin Abdul Muthalib.

Hadits ini menjelaskan kebathilan yang disandarkan kepada Al Abbas di muka bahwa dia mendengar Abu Thalib mengucapkan kalimat Tauhid. Jika dia mendengar tentunya dia tidak akan bertanya kepada Nabi. Perkara ini sangat gamblang. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Al Ishobah 4/117 berkomentar,

”Inilah yang benar, membantah riwayat yang dituturkan oleh Ibnu Ishaq. Seandainya Abu Thalib mengucapkan kalimat Tauhid niscaya Allah tidak akan melarang Nabi-Nya memintakan ampun baginya. Jawaban ini lebih pas ketimbang jawaban lain yaitu bahwa Al Abbas belum menunaikan syahadat ini yang karenanya dia muslim. Tetapi dia menyebutkan syahadat ini sebelum keislamannya lantaran itu syahadat Al Abbas tidak diterima”.

15 Dikeluarkan Bukhari 3885, 6564, Muslim 210, Ahmad 3/9, 50, 55, Ibnu Hibban dalam shahihnya 6238, Baihaqi dalam Dalail Nubuwwah 2/347, dan dalam Al Ba`tsu wan Nusyur no. 9, Al jauroqoni dalam Al Abathil I 238 dari hadits Abu Sa`id Al Khudri.

16 Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah 3/269, 347, Abdur Rozzaq dalam Mushonnaf 6/39, Ibnu Sa’d dalam Thobaqot kubra 1/124, Ahmad 1/97, 131, Nasa’i dalam sunan kubra 1/110, Al Mujtaba 1/110, 4/79-80, dan Khoshois Ali no. 149, Ath-Thoyalisi no. 122, Abu Dawud no. 3214, Syafi’i dalam Musnad 1/209, Ibnul Jarud dalam Al Muntaqo no. 550, Abu Ya’la dalam Musnad 1/334-335no. 423, Ibnu khuzaimah seperti yang disebutkan dalamdalam Al Ishobah 1/117, Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 5/123, Baihaqi dalam Sunan Kubro 1/110, dan dalam Dalail Nubuwwah 2/102, Al Khatib dalam Talkhishul Mutasyabih 2/832, Ibnu Sayidinas dalam Uyun Atsar 1/132 dari jalur Abu Ishaq As Sabi’l dari Najiyah bin Ka’b Al Asadi dari Ali bin Abi Tholib.

Sebagian Ulama menyangka hadits ini dha’if kareana beberapa sebab, diantaranya kedha’ifan Najiyah bin Ka’b, Baihaqi dalam Sunan Kubra mendha’ifkannya, dia menukil dari Ibnul Madini yang mengatakan bahwa tidak ada yang meriwayatkan dari Najiyah selain Abu Ishaq, ‘Adalah (kredibilitas) Najiyah tidak diakui Bukhari dan Muslim dan tidak ada penyebutan di dalam Shahih bukhari dan Muslim bahwa Ali memandikan bapaknya. An Nawawi dalam Al Majmu’ 5/144, juga mendha’ifkannya.

Cacat lainnya Abu Ishaq adalah seorang Mudallis dan Mukhtalath (hafalannya telah goyah), lebih-lebih lagi dia bersendiri dalam riwayat.

Tetapi semua cacat tadi ternyata terbantah. Tentang dha’ifnya Najiyah, Ibnu Ma’in berkata “ Shalih”, Abu Hatim dalam Jarh wa Ta’dil berkata, ” Dia seorang syaikh”. Ucapan Ibnul Madini bahwa Abu Ishaq hanya sendirian meriwayatkan dari Najiyah, ini tidak benar. Sebab ada Rawi lain yang meriwayatkan darinya yaitu Abu Hassan Al A’raj, seperti disebutkan Bukhari dalam Tarikhnya 4/2/107.

Selain Abu Hassan, periwayat dari Najiyah adalah Amr bin Yunus. Ibnu Hajar menukil perkataan Baihaqi dalam Talkhis Habir 2/114, namun dia tidak setuju dengan mengatakan, “ Inti ucapan Baihaqi bahwa Najiyah adalah dha’if, namun tidak nampak nyata kedha’ifannya. Bahkan Ar Rafi’i mengatakan bahwa Najiyah bin Ka’b seorang yang Tsabit (kokoh) dan terkenal. Selain itu dia ditsiqohkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Ats tsiqoh dan Al Ijli dalam Tarikh Tsiqoot.

Adapun Bukhari dan Muslim tidak berhujjah denganya, ini tidak mencacatnya, sebab keduanya tidak mesti mengeluarkan hadits dari setiap orang yang Tsiqoh (terpercaya). Tuduhan Abu Ishaq adalah seorang Mudallis, memang benar. Tetapi dia meriwayatkannya dengan “Tahdist” (Haddatsana / haddatsani mengabarkan kepada kami/ku pen).

Diriwayatkan lagi bahwa Syu’bah meriwayatkan darinya. Telah shahih bahwa Syu’bah mengatakan, “Aku jamin bagi kalian tadlisnya tiga orang; A’masy, Qotadah, dan Abu Ishaq As Sabi’i”, Tuduhan bahwa Abu Ishaq telah rusak hafalannya, dijawab bahwa Sufyan Ats Tsauri telah meriwayatkan darinya dan dia adalah orang yang terpercaya dalam meriwayatkan dari Abu Ishaq. Tambahan lagi, Ibrohim bin Thohman juga meriwayatkan dari Abu Ishaq. Bahkan lebih dahulu dibanding Sufyan. Adapun sendirinya dalam meriwayatkan dari Najiyah, ini tidak mengapa, apalagi kalau ada riwayat penguat! Yaitu:

Riwayat imam Ahmad 1/103 dan anaknya Abdullah dalam Zawaid Musnad 1/129, Abu Ya’la 1/335-336 no. 424, Ibni Adi dalam Al Kamil 2/738-739, Al Bazzar dalam Al Bahri Az Zikhor 2/207 no. 592, Baihaqi dalam Sunan Kubro 1/304 dan 305, dari jalur Al Hassan bin Yazid Al Ashom dari Ismail bin Abdurahman As Suddi dari Sa’d bin Ubaidah dari Ali, Daruquthni dalam Al ‘Illal no. 484 menilai bahwa sanad petama lebih benar, sebab tambahan nama Sa’d bin Ubaidah adalah kekeliruan. Sanad ini dishahihkan oleh syaikh kami Al Albani dalam Ahkam Janaiz hal. 134, dan dalam penshahihan beliau benar.
17 Al Hafidz berkata, ”Sanadnya Shahih“ diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad 3 /120, Abu Ya’la 5/216-217 no. 2831; Al Bazzar 3/373-374 no. 2981 seperti dalam Kasyful Atsar, Ibnu Hibban dalam shahihnya no. 1476, Al Hakim 3/244-245 dengan sanad sama seperti diatas namun mereka tidak menyebutkan ucapan Abu Bakar tersebut.

Al Hakim berkata, ”Shahih menurut syarat Bukhari Muslim”, disetujui Adz dzahabi. Tetapi ini salah, sebab Muhammad bin Salamah Al Bahili tidak dipakai oleh Bukhari. Jadi hadits ini menurut syarat Muslim saja.

Al Haitsami berkata dalam Majma’ zawaid 5/159-160, ” Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, Al Bazzar dan rijal (perawi) Ahmad adalah perawi kitab shahih”.
18 Al Ishobah 4/118

Ka’ab bin Malik; Dan Manisnya Sebuah Kejujuran…

Ka’ab bin Malik adalah salah seorang sahabat Nabi yang mendapat anugerah Allah berupa kepiawaian dalam bersyair dan berjidal. Syair-syairnya banyak bertemakan peperangan. Kemampuan sebagai penyair ini, mengantarkannya menduduki posisi khusus di sisi Nabi, selain dua sahabat yang lain, yaitu Hassan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah. Ka’ab bin Malik termasuk pemuka sahabat dari kalangan Anshar yang berasal dari suku Khazraj. Nama lengkapnya ialah ‘Amr bin Al Qain bin Ka’ab bin Sawaad bin Ghanm bin Ka’ab bin Salamah. Pada masa jahiliyah, ia dikenal dengan kunyahnya (panggilan) Abu Basyir.Kisah kejujuran Ka’ab bin Malik ini, berawal saat Rasulullah telah mengambil keputusan untuk menyerang Romawi. Beliau memobilisasi para sahabat untuk tujuan itu. Kaum rnuslimin segera melakukan persiapan dan berlomba-lomba menginfakkan harta yang mereka miliki.

Di tengah kesibukan kaum muslimin melakukan persiapan, ada seorang sahabat yang belum memulainya. la bernama Ka’ab bin Malik. Kali ini, Allah hendak mengujinya dengan perang Tabuk.

Pada masa tuanya, Ka’ab bin Malik menuturkan kisahnya kepada putranya : “Aku tidak pernah absen dalam satu peperangan pun bersama Rasulullah kecuali dalam perang Tabuk dan perang Badr. Tatkala Rasulullah berangkat bersama pasukan, aku masih terlambat dan belum sempat melakukan persiapan. Batinku berharap, aku bisa menyusul mereka. Namun akhirnya, langkahku benar- benar terhambat. Kesedihanku bertambah, ketika aku tahu bahwa orang-orang yang tidak bergabung dalam jihad itu hanya orang-orang yang tertuduh munafik atau kaum yang lemah fisiknya”.

Saat Rasulullah tiba di Tabuk, Beliau bertanya: “Apa yang terjadi dengan Ka’ab?”

Seorang laki-laki dari kaumku dengan kiasan menjawab,”Baju kesayangannya telah menahannya”. Namun Mu’adz menangkisnya,”Sungguh buruk perkataanmu. Demi Allah, kami tidak mengetahui tentang dirinya kecuali baik saja”. Rasulullah terdiam.

Ketika Rasulullah, kembali dari peperangan, orang-orang yang absen segera menemui Beliau, untuk menyampaikan alasan-alasan mereka. Jumlah mereka delapan puluh orang lebih. Rasulullah pun menerima alasan-alasan mereka dan memohonkan ampun bagi mereka.

Sempat terbesit dalam benakku untuk mengajukan alasan dusta kepada Beliau, agar aku selamat dari kemarahan Beliau. Namun kuurungkan niatku dan kubulatkan tekad untuk berkata jujur kepada Beliau. Aku mengucapkan salam kepada Beliau, Beliau tersenyum kecut kepadaku.

Beliau berkata,”Kemarilah!”

Aku pun mendekat dan duduk di hadapan Beliau.

Beliau bertanya kepadaku,”Apa yang menahanmu? Bukankah engkau telah mempertaruhkan punggungmu?”

Aku menjawab,”Benar, wahai Rasulullah. Demi Allah, seandainya saat ini aku duduk di hadapan orang selain engkau, tentu aku sampaikan segala argumentasi yang dapat menyelamatkanku dari kemarahan, lantaran aku ahli berjidal (pandai bicara). Namun aku sungguh mengetahui, seandainya hari ini aku berdusta supaya engkau memaklumiku, niscaya Allah yang akan memberitahukan kepada engkau. Aku mengatakan alasan yang sebenarnya dengan jujur kepadamu. Dan sungguh, aku berharap ampunan Allah dengan kejujuranku. Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki alasan saat aku berdiam di rumah dan tidak ikut serta perang bersamamu.”

Beliau berkata,”Laki-laki ini telah berkata jujur. Berdirilah sampai Allah memutuskan perkaramu,” aku pun berdiri dan meninggalkan Beliau.

Sekelompok laki-laki dari Bani Salimah mengejarku seraya berkata,”Demi Allah, kami tidak mengetahui engkau melakukan dosa sebelum ini. Mengapa engkau tidak beralasan seperti yang dilakukan orang-orang itu? Sungguh, permohonan ampun Rasulullah untukmu akan menghapus dosamu.”

Mereka terus membujukku hingga aku berpikir untuk kembali kepada Rasulullah dan berdusta kepada Beliau. Aku bertanya kepada mereka,”Adakah orang yang mengalami hal yang sama sepertiku?”

Mereka menjawab,”Ada! Dua orang laki-laki yang mengatakan alasan seperti alasanmu. Dan Rasulullah mengatakan perkataan yang sama kepada mereka, seperti yang Beliau katakan kepadamu.”

Aku bertanya,”Siapa mereka?”

Mereka menjawab,”Murarah bin Ar Rabi’ Al ‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al Waqifi.”

Mereka adalah dua orang sahabat yang ikut dalam perang Badr dan pada diri mereka terdapat suri tauladan. Aku pun berlalu meninggalkan mereka.

Sejak saat itu, Rasulullah melarang para sahabat berbicara dengan kami, tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Dua sahabatku, mereka tak tahan menghadapi hajr (isolasi) yang dilakukan kaum muslimin terhadap kami. Mereka mengurung diri dalam rumah dan tak pernah berhenti menangis. Sedangkan aku adalah orang yang termuda dan terkuat di antara mereka. Kukuatkan hatiku untuk menemui orang-orang, berharap akan ada seseorang yang menyapaku. Namun tak ada seorang pun yang mau berbicara denganku.

Ketika aku memasuki masjid, kuucapkan salam kepada Rasulullah. “Apakah Beliau akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku?” tanya hatiku.

Aku pun shalat dan mengambil posisi terdekat dengan Beliau. Aku mencuri-curi pandang kepada Beliau. Ketika aku fokuskan pandangan pada shalatku, Beliau memandangku. Dan bila aku meliriknya, Beliau memalingkan wajahnya dariku.

Keadaan itu terus berlanjut hingga beban itu kian berat kurasakan. Aku pun menemui Abu Qatadah, sepupuku dan orang yang sangat kucintai. Aku memanjat dinding rumahnya dan kuucapkan salam padanya. Namun dia tidak menjawab salamku. Aku berkata memelas padanya, “Wahai, Abu Qatadah! Demi Allah, bukankah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan RasulNya?”

la hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataanku. Kuulangi kata-kataku tadi berkali-kali, hingga ia berujar singkat: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Air mataku pun meleleh tanpa bisa kutahan. Aku berlalu.

Suatu ketika, saat aku berjalan di pasar kota Madinah, seorang laki-laki dari Syam yang menjual makanan di pasar itu bertanya kepada orang- orang: “Siapakah yang mau menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku?”

Orang-orang pun memberitahukannya. Dia pun mendatangiku. Kemudian menyerahkan sehelai surat dari Raja Ghassan. Tertulis dalam surat itu:

“Telah sampai berita kepadaku, bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu. Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang terhina dan tersia-siakan. Bergabunglah dengan kami, maka kami akan rnenolongmu”.

Aku berkomentar,”lni pun cobaan untukku,” lalu aku lempar surat itu ke dalam tungku api.

Setelah berlalu empat puluh hari semenjak Rasulullah dan para sahabat mengisolasi kami, tiba-tiba datang utusan Beliau dengan membawa perintah agar aku menjauhi istriku. Aku bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang harus kulakukan?”

Sang utusan menjawab,’Tidak, tapi jauhilah ia dan jangan engkau sentuh.”

Aku berkata kepada istriku, “Kembalilah kepada keluargamu. Tinggallah bersama mereka sampai Allah memutuskan perkara ini.”

Keadaan seperti itu terus berlanjut. Hingga tibalah suatu pagi selepas aku shalat shubuh. Kondisiku saat itu seperti yang Allah kisahkan, terasa sempit jiwaku dan bumi yang ku pijak seakan tak kukenali lagi.

Tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak: “Wahai, Ka’ab bin Malik! Berbahagialah!” Aku pun segera menghaturkan syukur dengan sujud kehadiratNya. Sungguh telah datang jalan keluar bagi kami. Rasulullah telah mengumumkan kepada para sahabat setelah shalat Shubuh. Allah telah menerima taubat kami.

Orang-orang berbondong-bondong menemui kami dan mengekspresikan kegembiraan mereka atas berita ini. Sungguh tak terlukiskan kebahagiaanku saat itu. Aku memberikan dua baju yang kukenakan kepada laki-laki yang datang membawa kabar gembira itu. Padahal saat itu, aku tidak memiliki baju selain kedua baju itu. Oleh karena itu, aku meminjam baju dan bergegas ke masjid menemui Rasulullah.

Saat itu Beliau dikelilingi para sahabat. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku, kemudian ia menggamit tanganku dan menyalamiku seraya mengucapkan selamat untukku. Sungguh, tidak ada seorang pun yang berdiri dan melakukan seperti yang ia lakukan, hingga aku pun tidak pernah melupakan kebaikannya itu.

Aku pun masuk masjid dan mengucapkan salam kepada Rasulullah. Saat itu wajah Beliau berseri-seri dan bersinar bak rembulan. Tatkala aku sudah duduk di depan Nabi, Beliau berkata: “Berbahagialah dengan hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu melahirkanmu”.

“Apakah pengampunan ini darimu, wahai Rasulullah? ataukah dari Allah?” tanyaku.

Beliau menjawab, “Tidak! Pengampunan ini datang langsung dari sisi Allah.”

Aku berkata kepada Beliau:

“Wahai, Rasulullah! Sungguh, sebagai cerminan nyata taubatku, aku sedekahkan hartaku di jalan Allah”.

Beliau berkata, “Tahanlah sebagian hartamu untuk dirimu, karena itu lebih baik bagimu.”

Aku mentaati perintah Beliau dan berkata: “Kalau begitu, aku tahan anak panahku yang kugunakan dalam perang Khaibar. Dan sungguh Allah telah menyelamatkanku dari perkara pelik ini karena kejujuran. Maka sebagai wujud taubatku pula, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur”. Sungguh, aku tidak mengetahui ada orang lain yang mendapat ujian kejujuran seperti Allah mengujiku. Hingga sampai saat ini, aku tidak pernah bicara dusta satu kali pun sejak berjanji kepada Rasulullah. Dan aku morion kepada Allah agar menjagaku pada sisa umurku ini”.

Demikianlah sosok Ka’ab bin Malik. Seorang mujahid di jalan Allah dengan pedang dan lisannya. Sosok patriot yang memiliki kejujuran setegar batu karang. Tak terkikis oleh ujian yang menyempitkan hatinya. Dijalaninya sisa hidupnya dengan selalu menggenggam kejujuran. Pada masa tuanya, ia kehilangan penglihatannya. Dan putranya, Abdullah yang menjadi pemandu sejak Allah menghilangkan penglihatannya. Ka’ab bin Malik wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Semoga rahmat dan keridhaan Allah senantiasa tercurah atas diri penyair Rasulullah ini.

Maraji:

  • Adz Dzahabi, Siyar A’lamin Nubala’, Muassasah Ar Risalah, Cet XI, Th. 1422 H – 2001M
  • Tafsir Ibni Katsir, Dar At Thayyibah, cet I, tahun 1422 H/2002M
  • Shafiyyur Rahman At Mubarak Furi, Ar Rahiqul Makhtum, cet I , tahun 1417 H/ 1997M
  • Shahih Bukhari