Kekeliruan-kekeliruan ketika sholat

Akhthaa’ul mushalliin

(kekeliruan-keliruan orang yang shalat)

§ Melafazkan niat (seperti mengucapkan “Ushalliy…dst”)

   Imam Ibnul Qayyim berkata dalam Ighaatsatul Lahfaan, “Niat adalah keinginan dan kemauan terhadap sesuatu, tempatnya di hati, tidak ada kaitannya sama sekali dengan lisan. Oleh karena itu, tidak ada nukilan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya bahwa niat itu dilafdazkan. Lafaz yang diucapkan ketika hendak memulai bersuci dan shalat ini dijadikan oleh syaithan sebagai (alat) perlawanan terhadap orang yang was-was, di mana hal ini membuat mereka (orang yang was-was) tertahan (dari melakukan sesuatu) dan merasa tersiksa, bahkan membuat mereka ingin tetap terus membetulkan (niatnya karena merasa kurang sah dan kurang puas), karenanya kamu melihat di antara mereka ada yang mengulanginya, ada juga yang bersusah payah mengucapkannya, padahal hal itu tidak termasuk bagian shalat sedikitpun.”

§ Menjaharkan/mengeraskan dzikr-dzikr dalam shalat (termasuk bacaan Al Qur’annya pada shalat yang disirrkan/dipelankan bacaannya), misalnya ketika shalat terdengar bacaan dzikrnya oleh orang yang shalat di kanan-kirinya sehingga mengganggu orang yang berada di kanan-kirinya itu.

§ Tidak menggerakkan lisan dan dua bibir ketika membaca dzikr-dzikr shalat (termasuk bacaan Al Qur’annya).

   Catatan: Dalam membaca dzikr (termasuk bacaan Al Qur’annya pada shalat yang disirrkan bacaannya) dalam shalat yang benar adalah pertengahan antara bagian pertama dan kedua di atas (tidak menjaharkan dzikirnya itu tetapi ia baca sehingga kalaupun terdengar hanya suara lirih saja/dandanah namun tidak dapat dipahami oleh yang sebelahnya karena pelan) –Wallahu a’lam-.

§ Bersandar ke tiang atau tembok ketika shalat padahal tidak dibutuhkan.

Kalau dibutuhkan maka tidak mengapa seperti karena ia tidak kuat berdiri lama, ia sudah tua atau sakit atau sedang lemah dsb.

§ Tidak mau merapatkan shaff (barisan) dan meluruskannya, tetapi malah membuat celah di dalam shaff.

§ Tidak menutup pundak dalam shalatnya.

§ Tidak thuma’ninah di dalam shalat.

   Thuma’ninah sebagaimana telah dijelaskan adalah rukun shalat, di mana kalau seseorang meninggalkannya maka tidak sah shalatnya. Kita dapat melihat banyak orang yang belum sempurna ruku’nya atau sujudnya ia langsung bangkit dan melakukan shalat seperti burung yang sedang mematuk (cepat sekali), orang yang melakukan shalat dengan tidak thuma’ninah (cepat-cepat tanpa diam sejenak setelah benar-benar ruku’, sujud, I’tidal ataupun duduk di antara dua sujud minimal lamanya seukuran sekali tasbih) maka tidak sah shalatnya dan wajib diulangi, dan kewajiban bagi kita orang yang tahu adalah meluruskan mereka.

§ Tidak menyentuhkan ke lantai salah satu dari tujuh anggota sujud, misalnya hidung tidak disentuhkan ke lantai hanya dahi saja, kedua kaki tidak disentuhkan, atau bahkan menaruh salah satunya di atas yang lain dsb.

§ Kaffuts tsaub wasy sya’r fish shalaah (menarik/mengangkat kain dan rambut dalam shalat).

   Imam Nawawi mengatakan, “Para ulama sepakat tentang terlarangnya shalat, sedangkan bajunya, lengan bajunya dsb. diangkat (digulung).”

   Ada yang mengatakan bahwa hikmahnya adalah karena menarik kain dan rambut agar tidak tersentuh tanah adalah kebiasaan orang-orang yang sombong, maka kita dilarang berbuat begitu agar tidak mirip orang-orang sombong. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat makruh melakukan demikian bagi orang yang shalat, baik dilakukan di dalam shalat maupun sebelum memasuki shalat.

§ Tidak langsung mengikuti imam ketika ia baru datang (masbuq) bahkan malah menunggu imam menyelesaikan sujudnya –misalnya- dsb. Bagi masbuq wajib mengikuti imam bagaimanapun keadaan imam setelah didahului takbiiratul ihram. Bila ia  (masbuq) kurang beberapa rak’at, ia tambahkan rak’atnya itu setelah imam salam.

§ Tidak mengikuti imam. Termasuk tidak mengikuti imam adalah mendahului imam (musaabaqah), bersamaan (muwaafaqah) dan berlama-lama (tidak segera) mengikuti imam (takhalluf). Oleh karena itu, hendaknya makmum langsung mengikuti imam setelah imam selesai mengucapkan “Allahu akbar”, dan bagi imam hendaknya tidak terlalu panjang mengucapkan takbir.

§ Mendatangi masjid dengan tergesa-gesa.

§ Mendatangi masjid sehabis makan bawang merah atau putih atau makanan yang memiliki bau tidak enak.

§ Melakukan shalat sunnah ketika iqamat sudah dikumandangkan.

   Jika masih baru memulai shalat, maka ia putuskan shalatnya itu, namun jika sudah hampir selesai atau sudah rak’at terakhir, maka ia lanjutkan dengan ringan.

§ Memanjangkan takbir hingga kata terakhirnya “Akbaaar.”

§ Ma’mum mengeraskan takbiratul ihram dan takbir intiqalnya (berpindah gerakan) seperti halnya imam.

   Yang mengeraskan takbir hanyalah imam, ma’mum tidak perlu mengeraskan takbirnya, kecuali jika dibutuhkan. Misalnya takbir imam tidak terdengar oleh shaf bagian belakang, ini pun tidak perlu banyak orang.

§ Meludah ke arah kiblat atau ke kanannya.

§ Melakukan shalat di pemakaman, dan shalat di masjid yang dibangun di sekitar pemakaman; baik kubur tersebut di depannya (ini lebih parah), di kanannya maupun di kirinya.

   Dalam Al Qaulul Mubiin disebutkan, “Yang shahih adalah dilarang shalat di masjid yang terletak di antara kubur-kubur sampai antara masjid dengan pekuburan ada penghalang lagi, dan bahwasannya dinding masjid tidak cukup menghalangi antara dia dengan kuburan.”

§ Diharamkan juga shalat di dekat kuburan, juga haram shalat menghadap ke kuburan dan di atas kuburan.

§ Banyak bergerak ketika shalat meskipun tidak berturut-turut, seperti melihat jam tangan, memandang ke kanan dan ke kiri ketika shalat, memandang ke langit, menengok dsb.

§ Shalatnya sebagian orang yang sakit dalam keadaan duduk padahal mampu berdiri.

§ Tidak mau berhias kepada Allah ketika hendak shalat. Misalnya memakai baju yang jelek atau asal-asalan padahal masih ada baju yang bagus dsb.

§ Menentukan tempat khusus untuk shalat ketika di masjid –selain imam-.

   Dalam hadits hasan dari Abdurrahman bin Syibl ia berkata:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ r عَنْ نُقْرَةِ الْغُرَابِ ، وَافْتِرَاشِ السَّبُعِ ، وَأَنْ يُوَطّنَ الرَّجُلُ الْمَكَانَ فِي الْمَسْجِدِ كَمَا يُوَطِّنُ الْبَعِيْرُ

   “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang melarang (shalat dengan cepat) seperti mematuknya burung gagak, (sujud dengan menidurkan siku) seperti binatang buas dan melarang seseorang menetapi tempat khusus (untuk shalat) di masjid seperti halnya unta.” (HR. Ahmad, Darimi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan hakim, dan dihasankan oleh Syaikh Masyhur bin Hasan dalam Al Qaulul Mubin)

§ Shalat memakai baju yang bergambar makhluk bernyawa.

   Bila gambarnya bukan gambar makhluk bernyawa, tetapi hanya corak-corak saja atau ukiran yang bisa mengganggu kekhusyu’an maka hukumnya makruh. Akan tetapi, bila gambarnya gambar makhluk bernyawa maka hukumnya haram, karena sesuatu yang di luar shalat haram maka lebih haram lagi bila di dalam shalat. Kita bisa melihat di zaman sekarang ada yang shalat dengan memakai baju bergambar binatang, ada juga yang bergambar manusia, ada juga yang berupa foto dsb.

§ Mengucapkan “Rabbigh firliy” ketika hendak mengucapkan amin setelah membaca surat Al Fatihah. Ini termasuk diada-adakan.

§ Mengucapkan “alaihimas salam” setelah mendengar imam membaca “Shuhufi Ibraahiima wa muusaa.” Ini pun sama termasuk diada-adakan.

§ Wanita mendatangi masjid tanpa mengenakan hijab (jilbab) syar’i[1].

   Di zaman sekarang, zaman di mana ummat Islam sudah jauh dari agamanya, hal ini sudah menjadi hal yang biasa, sungguh sangat disayangkan para imam masjid malah diam saja tidak mau mengingatkan, padahal wanita yang keluar mengenakan hijab syar’i hanya memakai minyak wangi saja dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ikut shalat bersama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam apalagi hal ini (mendatangi masjid tanpa memakai jilbab).

§ Shalat dengan kepala miring.

§ Shalat dengan aurat terbuka.

   Misalnya ketika shalat memakai baju yang pendek, sehingga ketika ruku’ atau sujud bajunya tersingkap, lalu kelihatan bagian bawah punggungnya. Memakai baju seperti ini berarti telah membuka auratnya, dan terbuka auratnya dapat menyebabkan batalnya shalat.

§ Mengucapkan “Subhaan mal laa yanaamu wa laa yas-huu” ketika sujud sahwi.

   Disebutkan dalam kitab As Sunan Wal Mubtada’aat, “Dan tidak ada riwayat yang dihapal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dzikr khusus untuk sujud sahwi, bahkan dzikrnya adalah sama seperti dzikr sujud yang lain dalam shalat, adapaun ucapan ““Subhaan mal laa yanaamu wa laa yas-huu” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakannya, tidak pula sahabat dan tidak ada dalil dari As Sunnah sama sekali.

§ Tambahan “Sayyiidinaa” dalam bacaan shalawat. Karena masalah ta’abbudiy (ibadah) baik berupa dzikr maupun perbuatan tidak boleh ditambah-tambah.

§ Shalat dengan celana atau sarung yang isbal (kainnya menjulur melewati mata kaki).

   Sebagaimana telah kami jelaskan bahwa sesuatu yang di luar shalat haram dilakukan apalagi dalam shalat, tentu lebih haram lagi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang memakai kain yang menjulur melewati mata kaki, sebagaimana sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ *

   “Yang melewati mata kaki berupa sarung adalah di neraka.” (HR. Bukhari)

   dan hadits ini umum baik di dalam shalat maupun di luar shalat, baik karena sombong maupun tidak.

§ Mengganggu orang yang sedang shalat dengan bacaannya.

   Bila seseorang melakukan shalat secara sendiri (misalnya shalat malam) sedangkan di situ ada orang lain yang sedang shalat malam juga maka hendaknya masing-masing tidak mengganggu yang lain dengan mengeraskan bacaan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلْيَعْلَمْ أَحَدُكُمْ مَا يُنَاجِي رَبَّهُ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ * (احمد)

   “Sesungguhnya salah seorang diantara kamu bila berdiri dalam shalat, sedang munajat (berbisik-bisik) dengan Tuhannya. Oleh karena itu, hendaknya ia mengetahui munajatnya itu kepada Tuhannya, dan janganlah sebagian kamu mengeraskan bacaan dalam shalat kepada sebagian yang lain.” (HR. Ahmad)

   Di hadits tersebut kita dilarang mengganggu orang  yang shalat dengan suara keras kita, namun di zaman sekarang kita melihat ketika ada yang sedang shalat, orang-orang bersuara keras dengan pengeras suara melantunkan sya’ir di antara adzan dan iqamat. Sudah tentu, hal ini lebih dilarang lagi, apalagi yang mereka lantunkan itu terkadang mengandung kata-kata ghuluw (memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlebihan) atau bahkan sampai mengandung kesyirkkan, seperti dalam shalawat nariyah –Wallahul musta’aan-.

DKM Masjid Ruqayyah Balibaid


[1] Seluruh tubuh wanita itu aurat selain muka dan tapak tangan, dan tidak termasuk menutup aurat apabila alat penutup aurat itu (pakaiannya) tembus pandang, tipis, membentuk lekuk tubuhnya dan ketat, penutup aurat tersebut bukanlah berfungsi sebagai perhiasan, pakaian penutup aurat tidak boleh diberi wewangian, kaki wanita juga harus tertutup, Pakaian tersebut tidak boleh menyerupai laki-laki dan tidak memakai pakaian ketenaran (yakni pakaian kesombongan yang menampakkan ketinggian atau sebaliknya menampakkan ketawaadhu’an dan kezuhudan) juga pakaian tersebut hendaknya tidak menyerupai pakaian wanita kafir.

Silakan bagi anda yang ingin mengetahui hal-hal apasaja yang menjadi kekeliruan-kekeliruan ketika sholat

download kekeliruan ketika sholat

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s