Adab Menuntut Ilmu

Adab yang perlu dimiliki oleh seorang murid

Pengarang kitab Ta’liimul Muta’allim Burhaanul Islam Az Zarnuujiy berkata (kami ambil kata-kata beliau sepotong-sepotong):

إِنَّمَا شَرَفُ الْعِلْمِ بِكَوْنِهِ وَسِيْلَةً اِلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، الَّذِىْ يَسْتَحِقُّ بِهَا الْمَرْءُ الْكَرَامَةَ عِنْدَ اللهِ، وَالسَّعَادَةَ وَالْأَبَدِيَّةَ،

Sesungguhnya bukti mulianya ilmu agama adalah karena dengan ilmu tersebut seseorang dapat mencapai kebaikan dan ketakwaan. Di mana dengan keduanya seseorang akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah dan kebahagiaan yang kekal (surga).

…..وَيَنْبَغِى أَنْ يَنْوِىَ الْمُتَعَلِّمُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ رِضَاءَ اللهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ، وَإِزَالَةَ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِهِ، وَعَنْ سَائِرِ الْجُهَّالِ، وَإِحْيَاءَ الدِّيْنِ وَإِبْقَاءَ الْإِسْلاَمِ، فَإِنَّ بَقَاءَ الْإِسْلاَمِ بِالْعِلْمِ، وَلاَيَصِحُّ الزُّهْدُ وَالتَّقْوَى مَعَ الْجَهْلِ…..

Seorang murid hendaknya meniatkan di hatinya dalam menuntut ilmu untuk menggapai ridha Allah dan mendapatkan kampung akhirat, menyingkirkan kebodohan dari dirinya serta menghilangkan kebodohan yang menimpa orang lain. Dia pun hendaknya berniat untuk menegakkan agama Islam dan menjaganya, karena Islam terjaga dengan ilmu. Sikap zuhud (kurang minat terhadap dunia) serta takwa pun tidak mungkin dicapai dengan kebodohan.”

…..اِعْلَمْ, بِأَنَّهُ لاَيَفْتَرِضُ عَلىَ كُلِّ مُسْلِمٍ، طَلَبُ كُلِّ عِلْمٍ وَإِنَّمَا يَفْتَرِضُ عَلَيْهِ طَلَبُ عِلْمِ الْحَالِ…….

Ketahuilah, bahwa tidak wajib bagi seorang muslim mempelajari semua ilmu, yang wajib baginya adalah mempelajari ilmu yang menuntut diamalkan segera (seperti mempelajari ‘akidah yang benar, cara wudhu’ dan shalat yang benar dan amalan-amalan wajib lainnya).

…وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَخْتَارَ مِنْ كُلِّ عِلْمٍ أَحْسَنُهُ وَمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِى أَمْرِ دِيْنِهِ فِى الْحَالِ، ثُمَّ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِى الْمَآلِ…..

Dan seorang murid pun hendaknya memilih ilmu yang paling baik di antara sekian ilmu serta masalah agama yang dibutuhkannya sekarang (sehingga jika ia seorang pedagang, hendaknya ia mempelajari adab berdagang) setelah itu yang dibutuhkannya nanti.

…وَيُقَدِّمُ عِلْمَ التَّوْحِيْدِ وَالْمَعْرِفَةِ وَيَعْرِفُ اللهَ تَعَالىَ بِالدَّلِيْلِ، فَإِنَّ إِيْمَانَ الْمُقَلِّدَ ـ وَإِنْ كَانَ صَحِيْحًا عِنْدَنَا ـ لَكِنْ يَكُوْنُ آثِمًا بِتَرْكِ الْإِسْتِدْلاَلِ……

Hendaknya ia mendahulukan ilmu tauhid dan ‘akidah, serta mengenal Allah berdasarkan dalil, karena keimanan yang dimiliki seorang muqallid (hanya ikut-ikutan saja) meskipun menurut kami sah, namun bisa saja berdosa karena tanpa dalil.

……وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ لاَ يَخْتَارَ نَوْعَ الْعِلْمِ بِنَفْسِهِ، بَلْ يُفَوِّضُ أَمْرَهُ إِلَى الْأُسْتَاذِ، فَإِنَّ الْأُسْتَاذَ قَدْ حَصَلَ لَهُ التَّجَارِبُ فِى ذَلِكَ…..

Dan sepatutnya bagi seorang murid, tidak memilih jenis ilmu menurut dirinya sendiri. bahkan hendaknya ia serahkan masalah itu kepada guru. Karena guru memiliki pengalaman tentang hal itu.

…ثُمَّ لاَ بُدَّ مِنَ الْجَدِّ وَالْمُوَاظَبَةِ وَالْمُلاَزَمَةِ لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِلَيْهِ الْإِشَارَةُ فِى الْقُرْآنِ بِقَوْلِهِ تَعَالىَ: يا يحيى خذ الكتاب بقوة. وقوله تعالى: والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا….

Kemudian seorang murid harus bersungguh-sungguh, tekun dan tetap bersabar dengan guru. Hal ini diisyaratkan dalam Al Qur’an oleh firman Allah Ta’ala “Hai Yahya, peganglah erat-erat kitab itu.” (Maryam: 12), juga firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami, maka Kami benar-benar akan akan menunjuki mereka.” (Al ‘Ankabut: 69)

…..وَلاَ يَكْتُبُ الْمُتَعَلِّمُ شَيْئًا لَا يَفْهَمُهُ……

Seorang murid janganlah mencatat sesuatu yang tidak dipahaminya.

….وَيَنْبَغِى أَنْ يَجْتَهِدَ فِى الْفَهْمِ عَنِ الْأُسْتَاذِ بِالتَّأَمُّلِ وَبٍالتَّفَكُّرِ وَكَثْرَةِ التِّكْرَارِ،…..

Ia pun seharusnya berusaha memahami kata-kata ustadz dengan memperhatikan, memikirkan dan mengulang-ulang.

….وَاعْلَمْ أَنَّ الصَّبْرَ وَالثَّبَاتِ أَصْلٌ كَبِيْرٌ فِى جَمِيْعِ الْأُمُوْرِ وَلَكِنَّهً عَزِيْزٌ….

Dan ketahuilah bahwa sabar dan teguh pendirian adalah modal utama dalam semua masalah meskipun berat.

……قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رحمه الله: إِنَّمَا أَدْرَكْتُ الْعِلْمَ بِالْحَمْدِ وَالشُّكْرِ، فَكُلَّمَا فَهِمْتُ وَوُفِّقْتُ عَلَى فِقْهٍ وَحِكْمَةٍ قُلْتُ: الْحَمْدُ ِللهِ، فَازْدَادَ عِلْمِيْ…..

Abu Hanifah rahimahullah berkata: “Sesungguhnya saya mendapatkan ilmu dengan memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya. Setiap kali aku paham dan diberitahukan fiqh dan hikmah, aku berkata “Al Hamdulillah”, maka bertambahlah ilmuku.”

وهكذا ينبغى لطالب العلم أن يشتغل بالشكر باللسان والجنان والأركان والحال ويرى الفهم والعلم والتوفيق من الله تعالى ويطلب الهداية من الله تعالى بالدعاء له والتضرع إليه، فإن الله تعالى هاد من استهداه…..

Demikianlah sepatutnya seorang murid, ia menyibukkan diri dengan bersyukur baik dengan lisan, hati, anggota badan maupun keadaan. Dia yakin bahwa pemahaman, ilmu dan taufiq yang didapatkannya adalah berasal dari Allah Ta’ala. Ia pun meminta hidayah-Nya dengan berdo’a dan bertadharru’ (merendahkan diri) kepada-Nya, karena Allah Ta’ala akan menunjuki orang yang meminta hidayah kepadanya.

….وأهل الضلالة أعجبوا برأيهم وعقلهم وطلبوا الحق من المخلوق العاجز وهو العقل، لأن العقل لا يدرك جميع الأشياء

Adapun orang-orang yang tersesat, mereka merasa ‘ujub dengan pendapat dan kecerdasan akalnya, mereka mencari kebenaran bersandar kepada makhluk yang lemah yaitu akal, padahal akal tidak dapat menggapai semuanya….

Adab Murid Terhadap Guru

Seorang murid hendaknya menghormati gurunya, karena melalui bimbingan guru pintu-pintu ilmu terbuka dan dirinya pun dapat selamat dari kesalahan atau ketergelinciran.

Hargailah gurumu, muliakanlah dan berlakulah yang lembut dan sopan saat duduk bersamanya, berbicara dengannya, saat bertanya dan menyimak pelajaran.

Berikut ini contoh-contoh menghormati guru:

Janganlah seorang murid banyak bicara dan berdebat dengan gurunya. Jangan juga memotong pembicaraannya baik di tengah-tengah pelajaran maupun lainnya. Demikian pula jangan memaksa guru untuk menjawab.

Jauhilah banyak bertanya terutama di tengah khalayak ramai, juga pada saat nampak rasa bosannya; hendaknya murid memperhatikan keadaan guru.

Janganlah seorang murid memanggil gurunya dengan namanya, jangan juga mengatakan “kamu” terhadapnya dan janganlah memanggilnya dari jarak jauh kecuali jika terpaksa.

Selalulah bersikap hormat di majlis ilmu, nampakkanlah kegembiraan di hadapan guru dan janganlah menampakkan rasa bosan.

Kesalahan yang terjadi pada diri guru, janganlah kamu jadikan alasan untuk meremehkannya, karena sebab inilah kamu tidak memperoleh ilmu, padahal siapakah orang yang tidak pernah bersalah???

Jika kamu ingin pindah belajar kepada guru yang lain, maka mintalah izin kepadanya, karena sikap ini lebih menunjukkan penghormatanmu kepadanya, serta membuatnya mencintai dan menyayangimu.

Ta’atilah gurumu selama perintahnya bukan maksiat, karena guru tidaklah memerintah kecuali yang di sana terdapat kebaikan bagimu.

Hormatilah gurumu, jika kamu ingin sukses dan berhasil, janganlah meremehkannya karena itu tanda kegagalan. Penghormatanmu kepada guru merupakan bukti kamu memuliakan ilmu.

Inilah adab-adab yang layak kamu miliki terhadap gurumu, namun janganlah melampaui batas sehingga keluar dari adab-adab syar’i, seperti menjilati tangan guru, mencium pundaknya, menundukkan badan saat bersalaman serta menggunakan kalimat yang menghinakan diri.

Ketahuilah, guru adalah tauladanmu jika memang akhlaknya mulia dan bagus. Namun kadang-kadang guru memiliki sifat kekurangan dalam akhlaknya, maka janganlah mengikutinya. Memang guru adalah panutan, namun dalam segi apa menjadi panutan?. Tirulah gurumu jika sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan niatkanlah untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan untuk mengikuti gurumu.

(Banyak merujuk kepada kitab Syarh Hilyati Thalibil ‘ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah dan kitab Ta’liimul Muta’allim karya Burhanul Islam Az Zarnuujiy)

Sufyan Ats Tsauriy pernah berkata:

اَوَّلُ الْعِلْمِ اْلإِسْتِمَاعُ ثُمَّ الْإِنْصَاتُ ثُمَّ الْحِفْظُ ثُمَّ الْعَمَلُ ثُمَّ النَّشْرُ

“Ilmu diawali dengan mendengarkan, lalu memperhatikan, kemudian menghapalnya, lalu mengamalkan kemudian menyebarkan.”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s