Membebaskan Diri dari Iri dan Dengki

Penulis: Ustadz Abu Qotadah

Sebelum penulis menjelaskan hakikat hasad, pembagiannya, bahayanya, pendorongnya dan pengobatannya, penulis sajikan terlebih dahulu akhlaq yang mulia yang merupakan lawan dari sifat iri dan dengki.

KEUTAMAAN MEMBEBASKAN HATI DARI IRI DAN DENGKI

Membebaskan hati dari iri dan dengki sangatlah berat. Hasad (iri dan dengki) dalam jiwa manusia tidak akan pernah sirna, dan setan akan masuk dari pintu ini untuk mengelincirkan manusia.

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menyatakan jasad tidak pernah kosong dari hasad, yang buruk adalah yang menampakkannya dan yang mulia yang menyembunyikannya.

Allah berfirman (yang artinya):
“… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahannya) orang ….” (QS. Ali imran[3]: 134)

Juga firman Allah (artinya):
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura[42]: 40)

Sahabat Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata: Kami sedang duduk-duduk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sekarang akan muncul di tengah-tengah kalian salah seorang penghuni surga.” Kemudian muncullah seseorang dari kaum Anshar di hadapan para sahabat dengan kondisi jenggotnya mengalirkan air berkas wudhunya, kejadian itu terjadi sampai tiga hari, sehingga pada hari yang ketiganya diikuti Abdullah bin ‘Umru ke rumahnya, dengan maksud untuk mengetahui kelebihan amal yang dilakukan orang itu, tetapi Abdullah bin ‘Umru tidak mendapatkan kelebihan selain kalau ia terbangun dia mengingat Allah, dia pun tidak didapati mengerjakan shalat malam, maka hamper saja Abdullah bin ‘Umru menghinakan amal orang itu, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda atasmu: ‘Akan muncul di tengah-tengah kalian salah seorang di antara penghuni surge, tiga kali.’ Kemudian kamu muncul tiga kali, kemudian aku bermalam di rumahmu dengan tujuan untuk mengetahui apa yang kamu amalkan, kemudian aku mengikutimu, hanya saja aku tidak melihat amal yang lebih utama.” Orang itu menjawab, “Itu yang kamu lihat.” Maka tatkala orang itu mau berpaling orang itu memanggilku lalu berkata (yang artinya):
ما هو إلاّ ما رأيت, غير أنّي لا أجد في نفسي لأحد من المسلميمين غشّا, ولا أحسده على شيء أعطاه الله إيّاه
“Tidak ada kelebihan selain yang kamu lihat, hanya saja tidak ada dalam hatiku rasa dendam terhadap sesama muslim dan tidak punya rasa iri (hasad) terhadap sesuatu yang Allah telah berikan kepadanya.”
Lalu Abdullah bin ‘Umru berkata: “Itulah sesuatu yang engkau telah memiliki dan yang kami tidak mampu.”

KEUTAMAAN BERSIKAP LEMAH LEMBUT DAN PEMAAF
Dari pelajaran di atas, jelaslah bahwa kelembutan merupakan sifat ahli iman yang sempurna, dan merupakan cirri khusus Ahli Sunnah wal Jama’ah. Allah berfirman (yang artinya)”

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dna telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr[59]: 9)

Dalam ayat di atas Allah telah memuji orang-orang Anshar dengan beberapa pujian, para ulama ahli tafsir berkata: “Yang dimaksud dengan (ولا يجدون في صدورهم حاجة مّمّا أوتوا) adalah tidak terdapat dalam hati mereka rasa iri dan dengki kepada nikmat Allah yang telah diberikan kepada kaum muhajirin, dari kedudukan, tingkatan, dan penyebutan (Muhajirin lebih didahulukan ketimbang penyebutan Anshar).”

Firman Allah ‘Azza wa Jalla (artinya):
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’”. (QS. al-Hasyr[59]: 10)

Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah kaum yang paling bersih hatinya terhadap para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga mereka dikatakan sebagai firqatun-najiyah (golongan yang selamat). Mereka tidak menyimpan kedengkian terhadap nikmat Allah yang telah diberikan kepada para sahabat, tetapi mereka berhati tulus dan bersih, sehingga mereka berdo’a kepada Allah dan menyampaikan pujian atas mereka, berbeda dengan apa yang dilakukan ahli bid’ah dari kalangan ornag-orang Rafidhah (syi’ah -red.).

Ahli Sunnah adalah orang yang paling tahu terhadap al-haq dan yang paling lemah lembut terhadap manusia. Dan demikianlah semestinya terhadap sesame kaum muslimin, hendaklah kita semua menghilangkan rasa dengki dna hasad, tanamkan dalam hati kita rasa gembira terhadap nikmat Allah yang Allah telah anugerahkan kepada orang lain. Redamlah angkara murka yang ada dalam hati kita, jadilah seseorang yang bersifat lemah lembut, pemaaf, dan tawadhu’.

Ingatlah wahai kaum muslimin –semoga Allah senantiasa merahmati kita- sesungguhnya sikap pemaaf tidaklah akan merendahkan derajat seseorang, bahkan justru dengan sebab itu akan terangkat derajatnya; Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ما مقصت صدقة من مال ولا زاد الله عبدا بعفو إلاّ عزّا و لا تواضع أحد لله إلاّ رفعه الله
Shadaqah tidak akan mengurangi sebagian dari harta, dan Allah tidak akan menambah kepada seorang hamba karena maaf melainkan kemuliaan, dan seseorang tidaklah bertawadhu’ karena Allah, melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam Nawawi Rahimahullah berkata: “وما زاد الله عبدا من العفو إلاّ عفّ mengandung dua makna: Pertama, dipahami secara zhahir yaitu: barangsiapa yang dikenal sebagai pemaaf maka akan menjadi mulia dan agung di hati (manusia), kemudian akan bertambah kemuliaannya. Kedua, yang dimaksud adalah pahalanya nanti di akhirat.” (Syarah Shahih Muslim)

Tiga poin di atas yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan akhlaq yang sangat mulia dan merupakan cirri kesempurnaan iman seseorang serta jalan untuk mendapatkan kemuliaan dunia dan akhirat.

Ketahuilah, sesungguhnya di antara sifat (karakteristik) manusia adalah bersikap bakhil (pelit), bersifat dendam yang merupakan buah dari angkara murka serta terus-menerus dalam kesombongan, yang semuanya itu merupakan sifat syaithaniyyah. Maka syara’ (agama yang mulia ini) bermaksud untuk melenyapkannya dengan: (1) Memberi motivasi terlebih dahulu untuk bershadaqah agar berhias dengan sifat kemurahan dan kedermawanan; (2) Memberi motivasi agar bersikap pemaaf supaya mendapatan kemuliaan dengan kelembutan dan kemurahan hati; (3) Memberi motivasi agar bersifat tawadhu’ supaya tinggi derajatnya di nuia dan akhirat.

Saya pernah mendapat cerita tentang imam zaman ini, Syaikh Abdullah bin Baz Rahimahullah dari salah seorang muridnya, bahwa beliau ditanya tentang sebab kecintaan kaum muslimin di berbagai pelosok dan pada umumnya kaum muslimin pada zaman ini baik kalangan muda atau orang tua merasa tenang jika telah mendapatkan fatwa dari beliau. Lalu beliau menjawab: “Tidaklah saya tidur kecuali saya telah membebaskan dan memaafkan siapa saja yang telah berbuat buruk atas diri saya.” Kemudian diceritakan bahwa telah datang seorang tamu dari luar Saudi Arabia, lalu dia mengabarkan: “Saya telah berburuk sangka kepadamu (wahai Syaikh), saya mendengar bahwa engkau banyak menyesatkan dan mengkafirkan orang, ternyata setelah saya bertemu denganmu dna mendengarkanmu secara langsung, semua itu tidaklah benar, maka saya bermaksud untuk minta maaf kepadamu.” Syaikh berkata: “Sesungguhnya saya telah memaafkanmu sebelum engkau meminta maaf kepada saya.”

Guru kami, Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, pernah mendapatkan beberapa pertanyaan dari kaum muslimin yang ada di Belanda yang salah satu pertanyaannya adalah: “Apakah khatib Jum’at mesti menyampaikan khutbah dengan bahasa Arab?” Beliau yang mulia menjawab: “Harus dengan bahasa Arab.”

Lalu setelah menjawab, beliau memanggil salah seorang murid seniornya (yaitu Syaikh Abdurrahman al-‘Adnani –guru kami dalam bidang fiqih) dan beliau dimintai pendapat. Jawaban beliau berbeda dengan jawaban yang mulia Syaikh Muqbil, beliau (Syaikh Abdurrahman al-‘Adnani) menyatakan bahwa isi khutbah Jum’at mesti dengan lisan kaumnya (bahasa yang digunakan kaumnya) sebab inti dari khutbah adalah peringatan, maka khutbah tidak akan tercapai tujuannya jika tidak dipahami maknanya. Lalu Syaikh Muqbl yang mulia berkata: “Ambillah fatwa ini (fatwa Syaikh Abdurrahman).” Subhanallah, demikianlah ketawadhu’an para ulama, itulah akhlaq yang mulia.

TANBIH (PERINGATAN)
Bersikap lemah lembut dan pemaaf tidak berarti berdiam diri terhadap setiap penyimpangan, kesesatan, dan kemungkaran. Para ulama senantiasa menyampaikan nasihat, kritikan, bahkan pengingkaran yang terkadang dilakukan dengan kekuatan ucapan dna sikap manakala kemaslahatan mendorong untuk melakukan itu. Seperti apabila kondisi seseorang membahayakan agama dan umat.
Lihatlah apa yang dilakukan oleh Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah memiliki akhlaq yang sempurna, kelembutan dan sifat pemaaf. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memboikot Ka’ab bin Malik dan dua temannya, tidak mengajak bicara dan tidak menjawab salamnya selama lima puluh hari, sampai Allah memaafkan mereka.

Tetapi bersamaan dengan itu kita dapatkan bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membebaskan dan memaafkan orang yang telah berbuat buruk kepada beliau; seperti Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memaafkan dua orang kafir Quraisy yang akan membunuhnya. Lalu setelah dapat menguasainya dan pedang ada di tangannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memaafkannya dan membebaskannya sehingga mereka masuk Islam.

Dan demikianlah akhlaq yang mulia akan menjadi sebab timbulnya berbagai kebaikan.

# Selesai #
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Sumber: Majalah Al-Mawaddah, Edisi ke-8 Tahun ke-1, Shofar-Robi’ul Awwal 1429 H/ Maret 2008, Penerbit: Lajnah Dakwah Ma’had al-Furqan al-Islami
Artikel oleh http://www.cambuk-hati.web.id

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s