Orang-orang yg mendapat keringanan untuk tidak berpuasa

  • Musafir

Secara umum Allah Ta’ala memberikan keringanan kepada musafir yang sedang dalam perjalanan untuk tidak berpuasa.
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Baqaroh ayat 184 :

 فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
 

“Maka barang siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”
Dan suatu hal yang diketahui bersama bahwa perjalanan safar kadang merupakan perjalanan  meletihkan dan kadang perjalanan yang tidak meletihkan.
Adapun perjalanan yang meletihkan, yang paling utama bagi seorang musafir adalah berbuka. Hal ini berdasarkan hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma riwayat AL-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berkata :

 كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فْيْ سَفَرٍ فَرَأَى رَجُلًا قَدِ اجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ وَقَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ : مَا لَهُ؟ قَالُوْا: رَجُلٌ صَائِمٌ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ : لَيْسَ مِنَ الْبَرِّ أَنْ تَصُوْمَ فِي السَّفَرِ

 “Adalah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dalam suatu perjalanan lalu beliau melihat seorang lelaki telah dikelilingi oleh manusia dan sungguh ia telah diteduhi, maka beliau bertanya : “Ada apa dengannya ?” maka para sahabat menjawab : “Ia adalah orang yang berpuasa,” maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : “Bukanlah dari kebaikan puasa dalam safar”.”
 Kendati demikian, hadits ini tidaklah menunjukkan haramnya berpuasa dalam perjalanan yang meletihkan karena ada pembolehan dalam syai’at bagi orang yang mampu untuk berpuasa walaupun dalam perjalanan yang meletihkan.
Hal berdasarkan hadits riwayat Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Abu Daud dan lain-lainnya dengan sanad yang shohih dari sebagian sahabat rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, beliau berkata :

 رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ النَّاسَ فِيْ سَفَرِهِ عَامَ الْفَتْحِ بِالْفِطْرِ وَقَالَ تَقَوُّوْا لِعَدُوِّكُمْ وَصَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ قَالَ الَّذِيْ حَدَّثَنِيْ : لَقَدْ رَأَيْتَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ بِالْعَرْجِ يَصَبُّ عَلَى رَأْسِهِ الْمَاءَ وَهُوْ صَائِمٌ مِنَ الْعَطْشِ أَوْ مِنَ الْحَرِّ

“Saya melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memerintahkan manusia untuk berbuka dalam suatu perjalanan safar beliau pada tahun penaklukan Makkah dan beliau berkata : “Persiapkanlah kekuatan kalian untuk menghadapi musuh kalian.”, dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam berpuasa. Berkata Abu Bakr bin ‘Abdurrahman (rawi dari sahabat) : sahabat yang bercerita kepadaku bertutur : “Sesungguhnya saya melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di ‘Araj menuangkan air diatas kepalanya -dan beliau dalam keadaan berpuasa- karena hausnya atau karena panasnya.”
 Dan juga dalam hadits Abu Darda` radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, beliau berkata :

 خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ فِيْ حَرٍّ شَدِيْدٍ حَتَّى إِنْ كَانَ أَحَدُنَا لَيَضَعُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ وَمَا فِيْنَا صَائِمٌ إِلَّا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ

“Kami keluar bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam di bulan Ramadhan dalam cuaca yang sangat panas sampai-sampai salah seorang diantara kami meletakkan tangannya diatas kepalanya karena panas yang sangat dan tak ada seorangpun yang berpuasa diantara kami kecuali Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan Abdullah bin Rawahah.”
 Adapun dalam perjalanan yang tidak meletihkan maka berpuasa lebih utama baginya dari berbuka menurut pendapat yang paling kuat dikalangan para ulama. Kesimpulan ini bisa dipahami dari puasa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dalam perjalanan yang meletihkan pada hadits-hadits di atas. Juga dimaklumi bahwa menjalankan kewajiban secepat mungkin adalah lebih bagus untuk mengangkat kewajibannya, karena itulah dalam posisi perjalanan yang tidak meletihkan lebih afdhol baginya untuk berpuasa.
 

  •  Orang Yang Sakit.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Baqaroh ayat 184 :

 فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Maka barang siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”
 

  •  Wanita Haid atau Nifas

Berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu riwayat Al-Bukhary dan Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

 لَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصِلِّ وَلَمْ تُصَمْ

“Bukankah wanita apabila haid ia tidak sholat dan tidak puasa.”
 Dan wanita yang nifas dalam pandangan syari’at islam hukumnya sama dengan wanita haid. Hal ini berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha riwayat Al-Bukhary, beliau berkata :

 بَيْنَمَا أَنَا مَعَ النَّبَِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعَةٌ فِيْ قَمِيْصَةٍ إِذْ حِضْتُ فَانْسَلَلْتُ فَأَخَذْتُ ثَيَابَ حَيْضِيْ فَقَالَ أَنَفِسْتِ فَقُلْتُ نَعَمْ فَدَعَانِيْ فَاضْطَجَعْتُ مَعَهُ فِي الْخَمِيْلَةِ

“Tatkala saya bersandar bersama Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam diatas baju maka tiba-tiba saya haid maka sayapun segera pergi lalu saya mengambil pakaian haidh-ku. Maka beliau bersabda : “Apakah kamu nifas,” maka saya menjawab : “Ya.” Lalu beliau memanggilku lalu sayapun bersandar bersamanya diatas permadani.”
 Pertanyaan beliau : “Apakah kamu nifas”, menunjukkan bahwa haidh dianggap nifas dari sisi hukum dan demikian pula sebaliknya.
 

  •  Laki-Laki Dan Wanita Tua Yang Tidak Mampu Berpuasa

  •  Wanita Hamil Atau Menyusui Yang Khawatir Akan Memberikan Dampak Negatif Kepada Kandungannya Atau Anak Yang Dalam Susuannya Apabila Ia Berpuasa.

Dan point diatas berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma riwayat Abu Daud, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo dan lain-lainnya dengan sanad yang shohih menjelaskan firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah 184 :

 وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.”
 Berkata Ibnu Abbas :

 رَخَّصَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيْرِ وَالْعَجُوْزِ الْكَبِيْرَةِ فِيْ ذَلِكَ وَهُمَا يُطِيْقَانِ الصَّوْمَ أَنْ يُفْطِرَا إِنْ شَاءَا أَوْ يُطْعِمَا كَلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا وَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِمَا ثُمَّ نُسِخَ ذَلِكَ فِيْ هَذِهِ الْآيَةِ فَمْنَ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَثَبَتَ لِلشَّيْخِ الْكَبِيْرِ وَالْعَجُوْزِ الْكَبِيْرَةِ إِذَا كَانَا لَا يُطِيْقَانِ الصَّوْمَ وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعِ إِذَا خَافَتَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِيْنًا

“Diberikan keringanan bagi laki-laki dan wanita tua  dalam hal itu (yaitu untuk tidak berpuasa,-pent.) dan keduanya mampu untuk berpuasa, (diberikan keringanan) untuk berbuka apabila mereka berdua ingin atau memberi makan satu orang miskin setiap hari dan tidak ada qodho` atas mereka berdua, kemudian hal tersebut dinaskh (dihapus hukumnya) dalam ayat ini {Barangsiapa diantara kalian menyaksikan bulan (Ramadhan) maka hendaknya ia berpuasa}, maka tetaplah hukumnya bagi laki-laki dan wanita tua yang tidak mampu untuk berpuasa dan juga bagi wanita hamil dan menyusui apabila keduanya khawatir (akan memberikan bahaya kepada kandungannya atau anak yang ia susui,-pent.) boleh untuk berbuka dan keduanya membayar fidyah setiap hari.” (Lafazh hadits oleh Ibnul Jarud)

http://www.an-nashihah.com/modules.php?name=News&op=NEArticle&sid=29

2 Comments

  1. AQ MAHU ARTIKEL LAIN DI TAMPILKAN/ DI TULIS DI HUKUM FIQIH YANG DI GUNAKAN UMAT ISLAM SEHARI- HARI NYA

  2. insya Allah, nanti ane usahakan, baik dari copas situs, buku ataupun sumber lainnya berupa majalah, artikel, buletin dan sebagainyaya…untuk sementara menyongsong ramadhan, maka diperbanyak artikel tentang shaum dan hal-hal yang bersangkutan dengannya…syukran,


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s