Tashfiyah Saudi Arabia 2

DAKWAH SALAFIYYAH PADA PERIODE PERTAMA DARI DAULAH SU’UDIYYAH
Tidak henti-hentinya Al-Imam Muhammad bin Su’ud memenuhi janjinya kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di dalam mendukung dakwah Salafiyyah dan berjihad fi sabilillah di hadapan para penghalang dakwah hingga beliau wafat pada tahun 1179H

Sepeninggal Muhammad bin Su’ud, dibai’atlah putranya Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud sebagai imam kaum muslimin. Di antara yang membaiatnya adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad memiliki perhatian yang besar kepada keilmuan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sejak usia dini, ketika Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab masih di negeri Uyainah beliau mengirim surat kepada Syaikh agar menuliskan kepadanya tafsir surat Al-Fatihah, maka Syaikh menuliskan kepadanya tafsir surat Al-Fatihah yang di dalamnya terkandung aqidah Salafush Shalih, ketika itu beliau belum mencapai usia baligh. Merupakan hal yang dimaklumi bahwa menuntut ilmu dalam usia dini memiliki atsar yang dalam dan kokoh.

Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud memiliki sebuah risalah yang agung, yang memiliki andil yang besar di dalam menyebarkan aqidah Salafush Shalih, beliau buka risalah tersebut dengan pujian kepada Alloh dan shalawat dan salam atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau berkata.

“Dari Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud kepada para ulama dan para hakim syar’i di Haramain, Syam, Mesir dan Iraq, beserta para ulama yang lain dari Masyriq dan Maghrib…” Kemudian beliau mulai menjelaskan aqidah Salafush Shalih dengan penjelasan yang gamblang dan argumen-argumen yang kuat, beliau berbicara tentang hikmah penciptaan Alloh terhadap makhlukNya, makna kalimat tauhid, hak Alloh dan hak RasulNya, siapakah musuh-musuh dakwah Slafiyyah dan yang lainnya. Kemudian beliau mengakhiri risalahnya dengan ajakan untuk kembali kepada Kitab dan Sunnah, mengamalkan keduanya dan meninggalkan segala macam bid’ah dan kesyirikan. Risalah ini mencapai 34 halaman. [Al-Hadiyyah Saniyyah oleh Ibnu Sahman, bagian awal]

Beliau juga mengirim risalah ke negeri-negeri Rum yang menjelaskan tentang agama yang haq dan tentang aqidah Salafush Shalih. [Durar Saniyyah 1/143-146]

Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud juga banyak mengirim para ulama untuk mendakwahkan aqidah Salafiyyah ke negeri-negeri di sekitarnya.

Di antara para ulama yang memiliki peran yang besar dalam dakwah Salafiyyah pada masa pemerintahan Abdul Aziz bin Muhammad adalah Syaikh Husain bin Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Husain, dan Syaikh Sa’id bin Hajji.

Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud dikenal banyak takut kepada Alloh, banyak berdzikir, selalu memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, sederhana dalam pakaiannya, sesudah shalat Shubuh dia tidak keluar dari masjid hingga matahari meninggi dan shalat Dhuha.

Pada masa pemerintahan Abdul Aziz bin Muhammad negeri Saudi dalam keadaan aman, makmur dan sejahtera. [Unwanul Majd oleh Ibnu Bisyr 1/124]

Ketika Al-Imam Abdul Aziz bin Muhammad wafat pada tahun 1218H, putranya Su’ud bin Abdul Aziz dibaiat sebagai penggantinya. Su’ud bin Abdul Aziz dikenal memiliki perikehidupan yang baik, meneladani jejak para Salafush Shalih, dikenal kejujurannya, keberaniannya, kedalaman ilmunya, selalu membela para wali Alloh dan memusuhi para musuh Alloh. Pada zaman pemerintahannya, aqidah Salafiyyah tersebar luas hingga meliputi Haramain (Makkah dan Madinah) serta berbagai penjuru jazirah Arabiyyah. [Unwanul Majd oleh Ibnu Bisyr 1/165]

Al-Imam Su’ud bin Abdul Aziz menyebarkan sebuah kitab yang menjelaskan tentang aqidah Salafush Shalih dan menyingkap syubhat-syubhat musuh-musuh dakwah Salafiyyah, kitab tersebut disetujui dan ditandatangani oleh para ulama Makkah, para qadhi dari empat madzhab dan Syarif Ghalib bin Musa’id [Durar Saniyyah i/318-320]

Di antara para ulama yang memiliki andil yang besar dalam dakwah Salafiyyah pada masa pemerintahan Su’ud bin Abdul Aziz ialah : Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, Syaikh Abdurrahman bin Nami dan Syaikh Muhammad bin Sulthan Al-Ausaji.

Pada masa pemerintahan Su’ud Abdul Aziz bin Muhammad. Daulah Su’udiyyah mengalami kemajuan yang pesat dalam keadaan keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Bisyr yang melihat langsung keadaan pada masa pemerintahan Su’ud Abdul Aizi bin Muhammad. [Lihat Unwanul Majd oleh Ibnu Bisyr 1/214]

Ketika Al-Imam Su’ud bin Abdul Aziz bin Muhammad wafat pada tahun 1229H, putranya Abdullah bin Su’ud dibaiat sebagai penggantinya. Abdullah bin Su’ud dikenal keberaniannya, kebaikan agamanya dan kedermawanannya.

Al-Imam Abdullah bin Su’ud menempuh jalan yang telah ditempuh oleh ayahandanya, Su’ud, hanya saja sebagian saudara-saudaranya tidak sependapat dengannya, hingga terjadilah perpecahan yang menyebabkan lemahnya daulah Su’udiyyah hingga runtuhnya daulah Su’udiyyah periode pertama dengan ditandai oleh wafatnya Abdullah bin Su’ud pada tahun 1233H

DAKWAH SALAFIYAH PADA PERIODE KEDUA DARI DAULAH SU’UDIYYAH
Pada tahun 1240H berdirilah daulah Su’udiyyah periode kedua dengan dibaiatnya Al-Imam Turki bin Abdullah bin Muhammad bin Su’ud sebagai imam bagi kaum muslimin dan penerus penyebar dakwah Salafiyyah di jazirah Arabiyyah. Al-Imam Turki bin Abdullah dikenal memiliki ghirah yang besar terhadap syari’at Alloh dan gigih berjihad menegakkan kalimat Tauhid. [Tarikh Daulah Su’udiyyah oleh Dr. Madihah Darawisy hal.58]

Di antara para ulama yang memiliki andil yang besar dalam penyebaran dakwah Salafiyyah di periode ini adalah Syaikh Abdurrahman bin Hasan bin Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –penulis kitab Fathul Majid-, Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman Alu Syaikh, Syaikh Hamd bin Muhammad bin Atiq, dan Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin Isa [Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab As-Salafiyah hal. 560-575]

DAKWAH SALAFIYYAH PADA PERIODE KETIGA DARI DAULAH SU’UDIYYAH (NEGERI SAUDI SEKARANG INI)
Setelah runtuhnya daulah Su’udiyyah periode kedua pada tahun 1308H, berdirilah daulah Su’udiyyah periode ketiga yaitu daulah Su’udiyyah sekarang ini yang ditandai dengan dibaiatnya Al-Malik Abdul Aziz bin Abdurrahman Alu Su’ud pada tanggal 21 Jumadil Ula 1351H

Al-Malik Abdul Aziz dikenal sebagai seorang yang gigih mengikuti jejak Salafush Shalih di dalam mendakwahi manusia kepada aqidah yang shahihah dan berpegang teguh kepada syari’at Islamiyyah serta menerapkan hukum-hukum Islam dalam semua segi kehidupan.

Al-Malik Abdul Aziz berkata : “Aku adalah penyeru kepada aqidah Salafush Shalih, dan aqidah Salafush Shalih adalah berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang datang dari Khulafaur Rasyidin” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz hal.216]

Beliau juga berkata : “Mereka menamakan kami Wahabiyyin, dan menamakan madzhab kami adalah madzhab wahabi yang dianggap sebagai madzhab yang baru. Ini adalah kesalahan fatal, yang timbul dari propaganda-propaganda dusta yang disebarkan oleh musuh-musuh Islam. Kami bukanlah pemilik madzhab baru atau aqidah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak pernah mendatangkan sesuatu yang baru, aqidah kami adalah aqidah Salafush Shalih yang datang di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh Salafush Shalih. Kami menghormati imam empat, tidak ada perbedaan di sisi kami antara para imam : Malik, Syafi’i, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya terhormat dalam pandangan kami” [Al-Wajiz Fi Siratil Malik Abdul Aziz, hal. 217]

DAULAH SU’UDIYYAH DAN PENERAPAN SYARI’AT ISLAM
Daulah Su’udiyyah menjadikan Kitab dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai undang-undang dasar daulah sebagaimana termuat dalam surat kabar Ummul Qura 21 Shafar 1345H : “Seluruh hukum di Saudi berdasarkan atas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ditempuh oleh para sahabat dan Salafush Shalih” [Syibhul Jazirah Fi Ahdil Malik Abdul Aziz 1/354]

Daulah Su’udiyyah menerapkan syari’at Islam di seluruh penjuru daulah. Di antara hal-hal yang nampak dari penerapan syari’at yang bisa dilihat oleh setiap orang yang datang ke negeri Saudi adalah.

[1]. Menjadikan aqidah Salaf sebagai pelajaran wajib di semua jenjang pendidikan dari tingkat TK hingga perguruan tinggi.

[2]. Menghilangkan semua hal yang merusak aqidah dan membawa kepada kesyirikan seperti kubah-kubah di atas kubur, berhala-berhala, dan yang lainnya.

[3]. Melarang semua pemikiran yang menyelisihi Islam seperti rasialisme, sekulerisme, komunisme, dan yang lainnya dengan melarang masuknya buku-buku yang mengandung pemikiran-pemikiran tersebut ke dalam negeri.

[4]. Mendirikan Haiah Amar Ma’ruf wa Nahi Munkar yang bertugas mengawasi pelaksanaan hukum-hukum dan syi’ar-syi’ar Islam serta menghasung kaum muslimin agar selalu shalat berjama’ah, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan ibadah-ibadah yang lainnya.

[5]. Seluruh mahkamah di daulah Su’udiyyah berlandaskan hukum-hukum Islam

[6]. Menegakkan hukum-hukum had terhadap pelanggaran-pelanggaran syar’i seperti qishash, dera potong tangan pencuri, dan yang lainnya.

Hingga detik ini kami belum pernah melihat negara mana pun di dunia yang mampu menegakkan hukum-hukum had ini kecuali daulah Su’udiyyah –semoga Alloh menjaga daulah Su’udiyyah dari rongrongan musuh-musuh-Nya.

KEAMANAN DAN KESEJAHTERAAN BERKAH PENERAPAN SYARI’AT ISLAM
Alloh telah menjanjikan keamanan, kekokohan kedudukan, dan kesejahteraan bagi siapa saja yang melaksanakan syari’at-syari’at Alloh.

“Artinya : Dan Alloh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku” [An-Nur : 55]

Demikian juga, Alloh menjanjikan keamanan dan petunjuk di dunia dan akhirat bagi siapa saja yang mentauhidkanNya.

“Artinya : orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” [Al-An’am : 82]

Siapa pun yang datang ke negeri Saudi Arabia akan mengatakan keamanan yang tidak bisa didapat di negeri-negeri lainnya. Angka kriminalitas di negeri Saudi Arabia terkecil di dunia, hal ini diakui oleh negeri-negeri di luar Saudi Arabia termasuk negeri-negeri kafir.

Manfaat keamanan di Saudi Arabia tidak hanya dirasakan oleh para penduduk Saudi Arabia, tetapi juga dirasakan oleh seluruh kaum muslimin di seluruh dunia terutama yang melaksanakan ibadah haji ke Baitullah. Dahulu sebelum Makkah masuk wilayah daulah Su’udiyyah dikatakan bahwa : “orang yang berangkat haji dianggap orang yang hilang, dan jika dia kembali dianggap seperti orang yang dilahirkan kembali”, hal ini disebabkan lantaran tidak amannya jalan yang dilalui oleh orang-orang yang haji, banyak pencurian, perampokan, dan pembunuhan. [Halatul Amn Fi Ahdil Malik Abdul Aziz oleh Rabih Luthfi Jum’ah, hal. 42]

Tentang kemakmuran negeri Saudi tidak seorangpun pada saat ini yang tidak mengetahuinya, padahal negeri Saudi adalah negeri yang gersang, tetapi dengan rahmat Alloh kemudian dengan sebab penegakkan tauhid dan syari’at Islam. Alloh melimpahkan rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s