Tasawuf dan Bid’ah
Sudah bukan rahasia lagi kalau di tengah-tengah kaum muslimin, banyak tersebar berbagai jenis shalawat yang sama sekali tidak berdasarkan dalil dari sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Shalawat-shalawat itu biasanya dibuat oleh pemimpin tarekat sufi tertentu yang dianggap baik oleh sebagian umat Islam kemudian disebarkan hingga diamalkan secara turun temurun. Padahal jika shalawat-shalawat semacam itu diperhatikan secara cermat, akan nampak berbagai penyimpangan berupa kesyirikan, bid’ah, ghuluw terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sebagainya.
A. Shalawat Nariyah
Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Bahkan ada yang menuliskan lafadznya di sebagian dinding masjid. Mereka berkeyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:
اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تُنْحَلُ بِهَ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيْمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
“Ya Allah, berikanlah shalawat yang sempurna dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, dengan seluruh ilmu yang engkau miliki.”
Ada beberapa hal yang perlu dijadikan catatan kaitannya dengan shalawat ini:
1- Sesungguhnya aqidah tauhid yang diseru oleh Al Qur’anul Karim dan yang diajarkan kepada kita dari Rasulullah shallallahu laiahi wasallam, mengharuskan setiap muslim untuk berkeyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang melepaskan ikatan (kesusahan), membebaskan dari kesulitan, yang menunaikan hajat, dan memberikan manusia apa yang mereka minta. Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim berdo’a kepada selain Allah untuk menghilangkan kesedihannya atau menyembuhkan penyakitnya, walaupun yang diminta itu seorang malaikat yang dekat ataukah nabi yang diutus. Telah disebutkan dalam berbagai ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan haramnya meminta pertolongan, berdo’a, dan semacamnya dari berbagai jenis ibadah kepada selain Allah Azza wa Jalla.
Firman Allah:
قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُوْنِهِ فَلاَ يَمْلِكُوْنَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلاَ تَحِْويْلاً
“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah.
Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya.” (Al-Isra: 56)
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan segolongan kaum yang berdo’a kepada Al Masih ‘Isa, atau malaikat, ataukah sosok-sosok yang shalih dari kalangan jin. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)
2- Bagaimana mungkin Rasulullah shallallahu alaihi wasallam rela dikatakan bahwa dirinya mampu melepaskan ikatan (kesulitan), menghilangkan kesusahan, dsb, sedangkan Al Qur’an menyuruh beliau untuk berkata:
قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعاً وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيْرٌ وَبَشِيْرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ
“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)
Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu mengatakan, “Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:
أَجَعَلْتَنِيْ للهِ نِدًّا؟ قُلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ
“Apakah engkau hendak menjadikan bagi Allah sekutu? Ucapkanlah: Berdasarkan kehendak Allah semata.” (HR. An-Nasai dengan sanad yang hasan)
(Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah 227-228, Muhammad Jamil Zainu)
B. Shalawat al Fatih (Pembuka)
Lafadznya adalah sebagai berikut:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أَغْلَقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ, نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمَسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارُهُ عَظِيْمٌ
“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka apa yang tertutup dan yang menutupi apa-apa yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran yang memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus. Dan kepada keluarganya, sebenar-benar pengagungan padanya dan kedudukan yang agung.”
Berkata At-Tijani tentang shalawat ini –dan dia pendusta dengan perkataannya-:
“….Kemudian (Nabi shallallahu alaihi wasallam) memerintah aku untuk kembali kepada shalawat Al-Fatih ini. Maka ketika beliau memerintahkan aku dengan hal tersebut, akupun bertanya kepadanya tentang keutamaannya. Maka beliau mengabariku pertama kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai membaca Al Qur’an enam kali. Kemudian beliau mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, dari setiap do’a yang kecil maupun besar, dan dari Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.”
Dan ini merupakan kekafiran yang nyata karena mengganggap perkataan manusia lebih afdhal daripada firman Allah Azza Wajalla. Sungguh merupakan suatu kebodohan apabila seorang yang berakal apalagi dia seorang muslim berkeyakinan seperti perkataan ahli bid’ah yang sangat bodoh ini. (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah 225 dan Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad Utsman)
Telah bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari dan Tirmidzi dari Ali bin Abi Thalib. Dan datang dari hadits’Utsman bin ‘Affan riwayat Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Dan juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُوْلُ : { ألم } حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim itu satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah)
C. Shalawat yang disebutkan salah seorang sufi dari Libanon dalam kitabnya yang membahas tentang keutamaan shalawat, lafadznya sebagai berikut:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ حَتَّى تَجْعَلَ مِنْهُ اْلأَحَدِيَّةَ الْقَيُّوْمِيَّةَ
“Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga engkau menjadikan darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya).”
Padahal sifat Al-Ahadiyyah dan Al-Qayyumiyyah, keduanya termasuk sifat-sifat Allah Azza wajalla. Maka, bagaimana mungkin kedua sifat Allah ini diberikan kepada salah seorang dari makhluk-Nya padahal Allah Ta’ala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
D. Shalawat Sa’adah (Kebahagiaan)
Lafadznya sebagai berikut:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صَلاَةً دَائِمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ
“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah.”
Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288)
Cukuplah keutamaan palsu yang disebutkannya, yang menunjukkan kedustaan dan kebatilan shalawat ini.
E. Shalawat Al-In’am
Lafadznya sebagai berikut:
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ عَدَدَ إِنْعَامِ اللهِ وَإِفْضَالِهِ
“Ya Allah berikanlah shalawat, salam dan berkah kepada baginda kami Muhammad dan kepada keluarganya, sejumlah kenikmatan Allah dan keutamaan-Nya.”
Berkata An-Nabhani menukil dari Syaikh Ahmad Ash-Shawi:
“Ini adalah shalawat Al-In’am. Dan ini termasuk pintu-pintu kenikmatan dunia dan akhirat, dan pahalanya tidak terhitung.” (Mahabbatur Rasul 288)
F. Shalawat Badar
Lafadz shalawat ini sebagai berikut:
“Shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah
shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah
tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah
wa kulli majahid fillah
bi ahlil badri ya Allah”
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah
Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah
Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah
Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:
1. Penyebutan Nabi dengan habibillah
2. Bertawassul dengan Nabi
3. Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr
Point pertama telah diterangkan kesalahannya secara jelas pada rubrik Tafsir.
Pada point kedua, tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkannya. Allah Idan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Demikian pula para shahabat (tidak pernah mengerjakan). Seandainya disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya dan para shahabat melakukannya. Adapun hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.
Adapun point ketiga, tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan. Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama Allah di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَ للهِ الأَسْمآءُ الْحُسْنَ فَادْعُوْهُ بِهاَ
“Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (Al-A’raf: 180)
Demikian pula di antara doa Nabi: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki yang Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 199)
Bertawassul dengan nama Allah Ta’ala seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan. Tawassul lain yang juga diperbolehkan adalah dengan amal shalih dan dengan doa orang shalih yang masih hidup (yakni meminta orang shalih agar mendoakannya). Selain itu yang tidak berdasarkan dalil, termasuk tawassul terlarang.
Jenis-jenis shalawat di atas banyak dijumpai di kalangan sufiyah. Bahkan dijadikan sebagai materi yang dilombakan di antara para tarekat sufi. Karena setiap tarekat mengklaim bahwa mereka memiliki do’a, dzikir, dan shalawat-shalawat yang menurut mereka mempunyai sekian pahala. Atau mempunyai keutamaan bagi yang membacanya yang akan menjadikan mereka dengan cepat kepada derajat para wali yang shaleh. Atau menyatakan bahwa termasuk keutamaan wirid ini karena syaikh tarekatnya telah mengambilnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara langsung dalam keadaan sadar atau mimpi. Di mana, katanya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjanjikan bagi yang membacanya kedekatan dari beliau, masuk jannah (surga) dan yang lainnya dari sekian propaganda yang tidak bernilai sedikitpun dalam timbangan syariat. Sebab, syariat ini tidaklah diambil dari mimpi-mimpi. Dan karena Rasul tidak memerintahkan kita dengan perkara-perkara tersebut sewaktu beliau masih hidup.
Jika sekiranya ada kebaikan untuk kita, niscaya beliau telah menganjurkannya kepada kita. Apalagi apabila model shalawat tersebut sangat bertentangan dengan apa yang beliau bawa, yakni menyimpang dari agama dan sunnahnya. Dan yang semakin menunjukkan kebatilannya, dengan adanya wirid-wirid bid’ah ini menyebabkan terhalangnya mayoritas kaum muslimin untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah yang justru disyari’atkan yang telah Allah jadikan sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya dan memperoleh keridhaannya.
Berapa banyak orang yang berpaling dari Al Qur’an dan mentadabburinya disebabkan tenggelam dan ‘asyik’ dengan wirid bid’ah ini? Dan berapa banyak dari mereka yang sudah tidak peduli lagi untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam karena tergiur dengan pahala ‘instant’ yang berlipat ganda. Berapa banyak yang lebih mengutamakan majelis-majelis dzikir bid’ah semacam buatan Arifin Ilham daripada halaqah yang di dalamnya membahas Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam? Laa haula walaa quwwata illaa billah.
37 Comments
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment

sesunggohnya doa nabi2 dan para wali(orang yang membersihkan hatinya dari syirik dan maksiat) itu makbol.doa itu hanyalah Allah S.W.T yang layak disembah ,adakah tawasul itu berdoa?? tawasul itu bukanlah berdoa melainkan mengajak nabi2 dan para wali berdoa pada Allah S.W.T, tuhan ynag satu . sesunggohnya doa yang berkat adalah dari hati yang suci bersih dan jauh dari syirik yang tersembunyi..( note: bayi yang baru lahir itu pon wali allah juga, doa nyer makbol..:)
Afwan kayanya ada yang ga paham kata tawasul. Tawasul dalam arti istilah mengambil perantaraan antara sesuatu dan sesuati lainnya. Dlam hal doa mengambil perantaraan seseorang (nabi, wali, berhala dll) dalam meminta/berdoa kepada Allah dengan anggapan bahwa “akan lebih makbol”.
Memang para shahabat dulu ketika Rasulullah masih hidup para shahabat bertawasul kepada beliau, dan bertabaruk dengan ludahnya, rambutnya, minumnya, tapi setelah Rasulullah wafat tidak ada lagi shahabat yang bertawasul kepada beliau yang ada mereka bertawasul dengan para shahabat lain yang lebih alim dan lebih utama kedudukannya, tentunya yang masih hidup.
hei kawanku, aku tidak berdoa untuk kamu, sholatku bukan untuk ulamamu, zakatku bukan untuk ustadmu, lau kenapa kamu menghukumi ibadahku tidak diterima Allahh, apakah kamu yang punya pahala. apak juga kamu yang punya neraka atau surga, apa kamu membri manfaat kepadaku dengan tuduhan palsumu itu, silahkan berdebat, tapi sayang…aku tidak menggubris tuduhanmu itu, sebab kamu bukan yang aku sembah..
Saudaraku perbanyaklah lagi ilmu saudara. karna sholat puasa dan zakat anda tidaklah akan membawa anda masuk surga kalau rahmat Allah tidak sampai kepada anda… karna hati anda penuh dengan kebencian..
kpd semua penentang sunnah:
ketahuilah bahwa dalam kaidah ushul fiqh disebutkan:
Hukum dasar dari ibadah adalah tertolak, kecuali ada dalil.
Hukum dasar dari muamalah adalah boleh, kecuali ada larangan.
Kpd “Hamba Allah”:
adakah dalil yg menguatkan pernyataan anda…?
Kpd Aziz :
Alhamdulillah anda tidak menyembah selain Allah. simaklah ayat berikut:
yang sangat menghalangi kebajikan(adalah), melanggar batas lagi ragu-ragu,(Qaaf: 25)
abdul a’la
menulis : Hukum dasar dari ibadah adalah tertolak, kecuali ada dalil.
Hukum dasar dari muamalah adalah boleh, kecuali ada larangan.
apakah ada larangan untuk bertasawuf? atau bertawasul??
kpd sdr Abdullah:
silahkan anda baca seluruh tulisan mengenai Tasawuf dan Sufi di situs ini. disitu tertulis jelas semua larangan-larangan yang secara tidak langsung ditujukan terhadap semua tata cara peribadahan ala sufi
Kepada sdr Abdul A’la
saya sudah baca berulang kali namun tdk ada hadis ataupun alquran yang melarang nya..
“Hukum dasar dari muamalah adalah boleh, kecuali ada larangan.”
kpd sdr Abdullah:
sebenarnya anda salah mengartikan kaidah ushul fiqi tersebut,
lihatlah:
Hukum dasar dari ibadah adalah tertolak, kecuali ada dalil
sehingga dalam melaksanakan ibadah haruslah ada dalil yg merinci perihal ibadah tersebut, sedangkan kalau tidak maka ibadahnya tertolak:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدّ
“Siapa yang mengada-ada dalam perkara (agama) kami yang bukan termasuk didalamnya maka dia tertolak”. (Muttafaq alaih)
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدّ
“Siapa yang melaksanakan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (agama) kami maka dia tertolak” (Riwayat Muslim)
“Sesungguhnya sebaik–baik pembicaraan adalah Kalamullah dan sebaik–baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejelek–jelek perkara adalah menambah–nambah dalam urusan agama dan setiap perkara baru dalam agama adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan nerakalah tempatnya”(Riwayat Muslim dan lannya)
sedangkan anda meminta “apakah ada larangan untuk bertasawuf? atau bertawasul??”
anda salah dalam menempatkan pertanyaan karena yang anda tanyakan adalah larangan untuk suatu ibadaha sementara:
Hukum dasar dari ibadah adalah tertolak. itu artinya semua ibadah itu “terlarang”, terkecuali ada dalil yang memerintahkannya.
sedangkan untuk bertawasul:
تَوَسَّلُوا بِجَاهِي
“Bertawasullah dengan kedudukanku”
merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu). Bahkan bisa mengantarkan kepada kesyirikan disaat ada keyakinan bahwa Allah Ta’ala butuh terhadap perantara sebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap perantara antara dia dengan rakyatnya, karena ada unsur menyamakan Allah dengan makhluk-Nya
silahkan antum baca :kitab Al Firqatun Najiyah halalan 85
maka apakah ajaran tasawuf itu “muamalah”….?
anda sendiri bisa membedakan mana muamalah dan mana ubudiyah
dan saya yakin anda sendiri sudah mengetahui mana dalil yang mendukung ataupun yang tidak mendukung permasalahan tesebut di atas..
masalahnya anda mau pilih yang mana??
simple kan??
silahkan anda pilih yang anda pilih dan kami memilih apa yang kami pilih..
apakah anda tahu apa yang kami lakukan di tolak di sisi Allah??
atau yang anda lakukan selama ini bisa diterima di sisi Allah??
apakah anda lebih tau daripada Allah??
Wallahu A’lam Bish Shawab
Kita mengetahui dari kalangan ahlul bid’ah bahwasannya mereka bermazhab kepada imam syafi’i, apa imam imam syafi’i juga ahlul bid’ah…????
@Asyari….
kalangan ahlul bid’ah yang mengaku2 bermazhab kepada imam syafe’i dalah hal yang lumrah…juga yang mengaku kepada imam2 yang lain, tetap bukan berarti 4 imam adalah ahlu bid’ah…
seperti kebanyakan orang2 asy’ariyah yang banyak berafiliasi kepada mazhab syafe’iyyah dan hanafiyyah…
walhasil dari segi aqidah, mereka jauh dari apa yang diyakini oleh imam syafe’i…
seperti halnya penyimpangan aqidah dari imam al-ghazali ttg nama dan sifat2 Allah, Imam syafe’i sendiri semasa hidupnya telah mengalami beberapa fase dalam pendekatannya kepada Islam, yaitu, filsafat, mu’tazilah dan tasawuf….
seperti kata imam syafe’i…”Jika ada pendapatku yang bertentangan dengan hadits rasul atau pendapat lain yang shahih, maka tinggalkanlah pendapatku itu…!”
Hayyya…siapa yang bermazhab syafe’i itu?
Saya bermazhab syafi’i
tapi saya tidak punya penyakit hati
seperti anda abu ghonam.
Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan
sufisme, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.
Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa dan menjadi ganas. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]
Alhamdulillah…terma kasish nasehatnya….mudah2an ana tidak punya penyakit hati….
tasawuf dulu dan sekarang adalah beda kentara seklai…dan mungkin ana tidak akan mengikuti tasawuf jaman sekarang…
assalau’alaikum
saudara-saudaraku sekalian…
ada apa ribut-ribut ini…
sudahlah, wasilah itu boleh jika ada tuntunannya contoh : bismillah (dengan NAMA Allah).. kita baru pake namaNya to belum langsung kepada Allah ????
yang ga boleh …. Bismi hadzal mayyit Fulan… SETUJUUUUUUUUUUUUUUUUU
ngga’ pada setuju ya…
hm…
Ibarat membaca Al Qur_an berkaca mata.
Jika kita lepas maka tulisan menjadi kabur dan bacaan menjadi belepotan.
jika kita pakai, maka tulisan menjadi jelas dan bacaan menjadi lancar.
Bid’ah kah ?
Sebab kaca mata menjadi perantara kita beribadah.
contohnya ngawur kali ya….
Dalam mengajarkan ajaran islam kita punya dasar masing masing, jangan saling menyalahkan.Jujur saya tidak suka dengan sikap anda (abu ghonam), saya tidak mempermasalahkan pendapat anda tetapi yang saya tidsak suka dari anda itu adlah “merasa diri paling benar”. Orang sholeh itu bagus, tetapi ketika kita merasa sholeh itulah yang bisa jadi memperburuk akhlak kita. Jika anda menganggap tasawuf itu bid’ah, berarti anda menganggap Syekh Abdul Qadir Jaelani sebagai ahli bid’ah?tolong jawab
Bismillahirrahmanirrahim…
kafir hanyalah Allah yang menentukan.
apa yang Anda anggap salah, adalah salah menurut hukum dunia (baca : hukum syariat).
belum tentu Allah menyalahkan.
jangan tersesat dengan hukum yang dibuat manusia.
jangan tersesat di jalan yang benar.
masalah tasauf adalah masalah ijtihad beberapa ulama dalam hadis rosulloh dikatakan jika itu benar dapat 2 pahala jika itu salah dapat satu pahala (riwayat alhakim), jadi ga usah pusing2 mikirin siapa yang salah dan siapa yang benar karena masing2 dapat pahala.
saya harap masing2 dapat memahaminya.
bid’ah ato nggak,4us just +thingking aja,yang penting umat islam jgn mudah di adu domba aja..
salam.
saya fikir perbahasan sebegini ada baik, sihat utk msylahat ummat.seringkali juga ulama salaf berbahas bagi mendapat keputusan dalam hal agama.tapi asasnya harus kembali kepada sumber dari Ilahi, hadits, dan persepakatan ulama.pahala itu ganjaran yg jadi hak Allah,milikNYa.adapun sememang bid`ah itu perosak agama haruslah diakui.tapi harus juga diakui juga terdapatnya bid`ah hasanah.para sahabat r.a sendiri, Umar r.a misalnya berbid`ah dlm salat tarawih.yg benar dan baik dari Ilahi dan yg jelek dari musuhnya.
wassalam
Dear alll,
Pada hakekatnya semua agama yang ada di dunia ini menyembah kepada Tuhan yang satu/Esa. Tidak terkecuali itu agama Yahudi, Nasrani atau bahkan orang kafir Quaris.
Dan orang Atheis yang berakal, kalau ditanya tentang siapa yg menciptakan mereka maka akan jawabannya adalah …. Tuhannya alam semesta …. Allah
Dalam Al-Quran ada satu cerita yg kalau tidak salah begini:
” Apabila kamu bertanya kepada mereka, siapakah menciptakan kamu. Maka jawabnya adalah Allah (bukan Lata dan Uza)”
” Lalu kenapa kamu menyembah patung”, jawab mereka ” Bukan niat kami untuk menyembahnya, patung2 itu hanya sebagai sarana agar kami bisa lebih dekat dengan Allah”
Demikian halnya dengan orang Nasrani, Apakah mereka menyembah Yesus? Tidak. Bagi mereka Yesus adalah perantara/penghubung kepada Allah.
Satu hal yang membedakan agama Islam dengan agama lain adalah “Islam mengajarkan umatnya untuk menyembah kepada Allah secara langsung dan tanpa perantara”Sebenarnya mereka
Orang Yahudi disebut Al Maghdub (yang dimurkai), karena membunuh para Nabi
Orang Nasrani disebut Al Dholin (yang sesat), karena arah sembahannya tersesat
Orang Islam disebut An Amta alaihim (berada pada jalan yg diridhai), karena …..
Kenapa sih kok nyari perantara? Kemanapun wajah menghadap di situ ada Allah
Allah kan dekat, lebih dekat dari urat leher (urat tempat sembelihan)
Innallaha alakulli syaiin khadir ….Allah meliputi segala sesuatu, juga meliputi diri kita
Kita ini seperti ikan di lautan. Kalau si ikan di tanya “di mana air laut itu”, jawabnya ” Ya di mana-mana … bahkan dalam perut ikan juga ada air laut”
Jadi kalau kita di tanya tentang di mana Allah? maka jawabnya …….ya …. di sini juga ada.
Sangat mudah untuk ditemui kan? Ndak usah perantara pun bisa ketemu kan?
Kita sendiri aja yg suka mempersulit diri sendiri, kurang antusias pada hal yang sederhana.
nafsi-nafsi oke…tapi makasih atas bacaan sholawatnya.Ane soalnya lagi nyari sholawat tersebut…hehehe….
Assalamu’alaikum,
ada kitab yang menarik untuk dikaji lebih jauh yaitu “Mafahim Yajib An Tushahhah” karya Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani, mungkin bisa dijadikan rujukan tentang masalah Tawasul, Sholawat, dan juga Tasawuf. Kita tidak bisa serta merta menjadikan tulisan di website ini untuk dijadikan patokan dan menghukumi tentang tawasul, sholawat dan tasawuf.
Mohon maaf jika ada kekeliruan dan salah kata.
Wasalamu’alaikum
Ass Wr Wb
tolong infonya mengenai perjalalanan il mu taraekat di indonesia
Syukron
Wass Wr Wb
Hakikat doa, diterima tidak diterimanya doa, tergantung Allah. Allah palingh suka dengan doa2 orag yg cerewet yang minta ini itu sebagaimana cerewetnya anak2 kecil yang minta dibelikan sesuatu kepada ibunya. Walau ibunya tahu apa yg diminta itu tdk baik bagi anaknya tapi karena sayang maka dibelikan juga. Sebaik2nya doa begini “YA ALLAH PENUHILAH SEGALA HAJAD HAMBA, SEBAGAIMANA HAJAD YANG DIMINTA NABI KAMU MUHAMMAD SAW DAN TOLAKLAH SEGALA APA YANG DITOLAK OLEH NABI KAMI MUHAMMAD SAW” Ingat…yang pandai berdoa itu hanyalah Nabi Muhammad. Kita mengira apa yg kita minta itu baik bagi kita tapi belum tentu bagi Allah, karenanya mintalah apa yang terbaik menurut Allah. Oke?
Wassalam
ya…musuh islam bukan hanya dari luar, tapi dari dalam juga, yaitu amalan yang menggerogoti sunnah nabi, yang dinamakan bid’ah,
setiap bid’ah adalah sesat, bukan berarti menyesatkan si fulan dan si fulanah, tetapi hati2lah dari perbuatan yang tidak dilandasi sunnah rasul…
adapun di indonesia banyak sekali perbuatan 2 yang diada2kan menyelisihi sunnah, maka dari itu, janganlah menggeneralisir keadaan seolah2 blog ini hanya suka membid’ahkan ini dan itu, terlebih lagi tulisan2 di blog ane bukanlah tulisan ane semata, melainkan tulisan2 ulama yang mumpuni di bidangnya yang patut kita teladani…
ih naudzubillah ni blog,,,,,
pikir gw bakal kontra ma WAHABIYIN
eh taunya malah wahabi bin yahudi….
capeee dehhh..
Blog paan nih ga’ ILmiYah,
@ mukiwan
Demikianlah komentar dari antum yang tidak mau menelaah dengan baik, hanya dalam dada-dada antum sudah tertanah rasa benci yang mendalam, padahal antum belum mengetahui sedikitpun akan permasalahan ini. berilmulah dulu sebelum bicara dan beramal.
Alhamdulillah, terimakasih telah menampilkan lafazh amalan2 yg mungkin dibutuhkan ummat. Walau pun Anda katakan hal itu bid’ah, tetapi ummat tentu tahu siapa Anda. Bukankah Dajjal membawa api yg sebenarnya air, dan membawa air yg sebenarnya api?
hari saudaraku jangalalah asal berbicara bila kau tak memehami sesuatu karena apa di hari kiamat kelak kau akan dituntut setiap apa perkataanmu..
ketahuilah sholawat itu sunah nabi dianjurkan oleh nabi diperintah oleh allah swt bahkan mailkatpun bersholawat pada nabi muhammad saw akankah kita tak mau bersholawat pada beliau,lantas apa bedanya kita dengan iblis kalau kita mengacuhkan perintahnya!!ingatlah berdoa itu wajib bagi seorang hamba yang beriman dan allah memerintahkan carilah tawasul untuk mendekat,dan kita disunahkan pula bertawasul pada nabi juga kaum sholohin dengan syarat kita BERIMAN DAN YAKIN bahwa SEMUA BISA TERJADI ATAS IDZIN ALLOH SWT SAJA…LAINNYA HANYA LANTARAN ATAU JALAN SAJA..WAW’LLOHU ‘ALAM BISHOWAB..WAssalaM,,
saudaraku seislam..ingatlah kurun yg terbaik adalah kurun dizaman rasulullah saw dan para sahabat.hayatilah sirah rasulullah saw moga tiada kesesatan yg diperolehi.kerna banyak sungguh penyelewengan dari segi fakta dan juga timbulnya berbagai andaian tentang agama islam yg kita anuti ini disebabkan kejahilan kita dalam mencari fakta yg sebenar iaitu melalui alquran serta al sunnah.banyakkan menghampiri ulama yg berpendirian bahawa banyak khilaf itu diterima tanpa banyak bidah itu sesat .maklum.
Kebenaran milik Allah, bukan umat, keyakinan yang ada dalam hati, jadi saya kira mari kita serahkan pada Allah SWT, dalam mensikapi hal-hal yang sifatnya kilfiah. OK.
Sesama bus kota jangan saling mendahuli, sesama Islam jangan saling mengolok-olok, pernahkan kita berfikir bahwa kebenaran itu hanya milik Allah. Jangan sombong masssss? OK
@AHKMAD ABDUL ZUKI
Memang kebenaran itu Milik Allah dan Allah sudah menjelaskannya sejelas-jelasnya bagai matahari di siang bolong, malamnya bagaikan siang.
Dan Allah memerintahkan kita untuk beramar ma’ruf nahi munkar, apa jadinya kalo kesesatan (bukan masalah Khilafiyah) dibiarkan.
Dan jangan juga dikit-dikit khilafiyah, Masalah akidah jangan dibilang khilafiyah, masalah manhaj dibilang khilafiyah, masalah ahkam yang sudah jelas nashnya dibilang khilafiyah. Ga ada khilafiyah dalam masalah yang telah dijelaskan.
Dan tidak mungkin setian pendapat itu benar, dan pastilah hanya satu yang benar, kewajiban kita menelaah dalil mana yang paling kuat. Jangan taqlid brooo….