Hakekat Sufi atau Tasawuf

Hakekat Sufi atau Tasawuf

 

Bashrah, sebuah
kota di negeri Irak, merupakan tempat kelahiran pertama bagi Tasawuf dan Sufi. Yang mana (di masa tabi’in) sebagian dari ahli ibadah Bashrah mulai berlebihan dalam beribadah, zuhud dan wara’ terhadap dunia (dengan cara yang belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam), hingga akhirnya mereka memilih untuk mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuuf/صُوْف). Meski kelompok ini tidak mewajibkan tarekatnya dengan pakaian semacam itu, namun atas dasar inilah mereka disebut dengan “Sufi”, sebagai nisbat kepada Shuuf (صُوْف).

Oleh karena itu, lafazh Sufi ini bukanlah nisbat kepada Ahlush Shuffah yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, karena nisbat kepadanya dinamakan Shuffi (صُفِّيٌ), bukan pula nisbat kepada shaf terdepan di hadapan Allah Ta’ala, karena nisbat kepadanya dinamakan Shaffi (صَفِّيٌ), bukan pula nisbat kepada makhluk pilihan Allah (الصَّفْوَةُ مِنْ خَلْقِ اللهِ) karena nisbat kepadanya adalah Shafawi (صَفَوِيٌّ) dan bukan pula nisbat kepada Shufah bin Bisyr (salah satu suku Arab), walaupun secara lafazh bisa dibenarkan, namun secara makna sangatlah lemah, karena antara suku tersebut dengan kelompok Sufi tidak berkaitan sama sekali.

Para ulama Bashrah yang mendapati masa kemunculan mereka, tidaklah tinggal diam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Asy Syaikh – Al Ashbahani rahimahullah dengan sanadnya dari Muhammad bin Sirin rahimahullah bahwasanya telah sampai kepadanya berita tentang orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba, maka beliau pun berkata: “Sesungguhnya ada orang-orang yang mengutamakan pakaian yang terbuat dari bulu domba dengan alasan untuk meneladani Al Masih bin Maryam ! Maka sesungguhnya petunjuk Nabi kita lebih kita cintai (dari/dibanding petunjuk Al Masih), beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam biasa mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan katun dan yang selainnya.” (Diringkas dari Majmu’ Fatawa, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Juz 11, hal. 6,16 ).

Siapakah Peletak/Pendiri Tasawuf ?
Ibnu ‘Ajibah seorang Sufi Fathimi, mengklaim bahwasanya peletak Tasawuf adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri. Yang mana beliau –menurut Ibnu ‘Ajibah – mendapatkannya dari Allah Ta’ala melalui wahyu dan ilham. Kemudian Ibnu ‘Ajibah berbicara panjang lebar tentang permasalahan tersebut dengan disertai bumbu-bumbu keanehan dan kedustaan. Ia berkata: “Jibril pertama kali turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dengan membawa ilmu syariat, dan ketika ilmu itu telah mantap, maka turunlah ia untuk kedua kalinya dengan membawa ilmu hakikat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam pun mengajarkan ilmu hakikat ini pada orang-orang khususnya saja. Dan yang pertama kali menyampaikan Tasawuf adalah Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu, kemudian Al Hasan Al Bashri rahimahullah menimba darinya.” (Iqazhul Himam Fi Syarhil Hikam, hal.5 dinukil dari At Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyah, hal. 8).

Asy Syaikh Muhammad Aman Al Jami rahimahullah berkata: “Perkataan Ibnu ‘Ajibah ini merupakan tuduhan keji lagi lancang terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, ia menuduh dengan kedustaan bahwa beliau menyembunyikan kebenaran. Dan tidaklah seseorang menuduh Nabi dengan tuduhan tersebut, kecuali seorang zindiq yang keluar dari Islam dan berusaha untuk memalingkan manusia dari Islam jika ia mampu, karena Allah Ta’ala telah perintahkan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam untuk menyampaikan kebenaran tersebut dalam firman-Nya (artinya): “Wahai Rasul sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu oleh Rabbmu, dan jika engkau tidak melakukannya, maka (pada hakikatnya) engkau tidak menyampaikan risalah-Nya.” (Al Maidah : 67)

Beliau juga berkata: “Adapun pengkhususan Ahlul Bait dengan sesuatu dari ilmu dan agama, maka ini merupakan pemikiran yang diwarisi oleh orang-orang Sufi dari pemimpin-pemimpin mereka (Syi’ah). Dan benar-benar Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu sendiri yang membantahnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Muslim rahimahullah dari hadits Abu Thufail Amir bin Watsilah Radiyallahu ‘anhu ia berkata: “Suatu saat aku pernah berada di sisi Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu, maka datanglah seorang laki-laki seraya berkata: “Apa yang pernah dirahasiakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam kepadamu?” Maka Ali pun marah lalu mengatakan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam belum pernah merahasiakan sesuatu kepadaku yang tidak disampaikan kepada manusia ! Hanya saja beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam pernah memberitahukan kepadaku tentang empat perkara. Abu Thufail Radiyallahu ‘anhu berkata: “Apa empat perkara itu wahai Amirul Mukminin ?” Beliau menjawab: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “(Artinya) Allah melaknat seorang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat seorang yang menyembelih untuk selain Allah, Allah melaknat seorang yang melindungi pelaku kejahatan, dan Allah melaknat seorang yang mengubah tanda batas tanah.” (At Tashawwuf Min Shuwaril Jahiliyyah, hal. 7-8).

Hakikat Tasawuf
Bila kita telah mengetahui bahwasanya Tasawuf ini bukanlah ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu, maka dari manakah ajaran Tasawuf ini ?

Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Tatkala kita telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan terkini mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam , dan juga dalam sejarah para shahabatnya yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta’ala di alam semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha. (At Tashawwuf Al Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28). [1]

Asy Syaikh Abdurrahman Al Wakil rahimahullah berkata: “Sesungguhnya Tasawuf merupakan tipu daya syaithan yang paling tercela lagi hina, untuk menggiring hamba-hamba Allah Ta’ala di dalam memerangi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam. Sesungguhnya ia (Tasawuf) merupakan topeng bagi Majusi agar tampak sebagai seorang Rabbani, bahkan ia sebagai topeng bagi setiap musuh (Sufi) di dalam memerangi agama yang benar ini. Periksalah ajarannya ! niscaya engkau akan mendapati padanya ajaran Brahma (Hindu), Buddha, Zaradisytiyyah, Manawiyyah, Dishaniyyah, Aplatoniyyah, Ghanushiyyah, Yahudi, Nashrani, dan Berhalaisme Jahiliyyah.” (Muqaddimah kitab Mashra’ut Tashawwuf, hal. 19). [2]

Beberapa Bukti Kesesatan Ajaran Tasawuf
1. Al Hallaj seorang dedengkot sufi, berkata : “Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang makan dan minum.” (Dinukil dari Firaq Mua’shirah, karya Dr. Ghalib bin Ali Iwaji, juz 2 hal.600).
Padahal Allah Ta’ala telah berfirman :
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy Syuura : 11)
رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي
“Berkatalah Musa : “Wahai Rabbku nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu.” Allah berfirman : “Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku (yakni di dunia-pen)………” (Al A’raaf : 143).
2. Ibnu ‘Arabi, tokoh sufi lainnya, berkata : “Sesungguhnya seseorang ketika menyetubuhi istrinya tidak lain (ketika itu) ia menyetubuhi Allah !” (Fushushul Hikam).[3] Betapa kufurnya kata-kata ini …, tidakkah orang-orang Sufi sadar akan kesesatan gembongnya ini ?!
3. Ibnu ‘Arabi juga berkata : “Maka Allah memujiku dan aku pun memuji-Nya, dan Dia menyembahku dan aku pun menyembah-Nya.” (Al Futuhat Al Makkiyyah).[4]
Padahal Allah Ta’ala telah berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat : 56).
إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ إِلاَّ ءَاتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا
“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Allah Yang Maha Pemurah dalam keadaan sebagai hamba.” (Maryam : 93).
4. Jalaluddin Ar Rumi, seorang tokoh sufi yang kondang berkata : “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti, bagiku tempat ibadah sama … masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala.” [5]
Padahal Allah Ta’ala berfirman :
يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran : 85)
5. Pembagian ilmu menjadi Syari’at dan Hakikat, yang mana bila seseorang telah sampai pada tingkatan hakikat berarti ia telah mencapai martabat keyakinan yang tinggi kepada Allah Ta’ala, oleh karena itu gugurlah baginya segala kewajiban dan larangan dalam agama ini.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Tidak diragukan lagi oleh ahlul ilmi dan iman bahwasanya perkataan tersebut termasuk sebesar-besar kekafiran dan yang paling berat. Ia lebih jahat dari perkataan Yahudi dan Nashrani, karena Yahudi dan Nashrani beriman dengan sebagian dari isi Al Kitab dan kafir dengan sebagiannya, sedangkan mereka adalah orang-orang kafir yang sesungguhnya (karena mereka berkeyakinan dengan sampainya kepada martabat hakikat, tidak lagi terkait dengan kewajiban dan larangan dalam agama ini, pen).” (Majmu’ Fatawa, juz 11 hal. 401).
6. Dzikirnya orang-orang awam adalah لا إله إلا الله , sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus “الله / Allah”, “هو / Huu”, dan “آه / Aah” saja.
Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda :
أَفْضَلُ الذِّكْرَ لاَ إِلهِ إِلاَّ الله
“Sebaik-baik dzikir adalah لا إله إلا الله .” (H.R. Tirmidzi, dari shahabat Jabir bin Abdullah Radiyallahu ‘anhu, dihasankan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, no. 1104).[6]
Syaikhul Islam rahimahullah berkata : “Dan barangsiapa yang beranggapan bahwa لا إله إلا الله dzikirnya orang awam, sedangkan dzikirnya orang-orang khusus dan paling khusus adalah “هو / Huu”, maka ia seorang yang sesat dan menyesatkan.” (Risalah Al Ubudiyah, hal. 117-118, dinukil dari Haqiqatut Tashawwuf, hal. 13)
7. Keyakinan bahwa orang-orang Sufi mempunyai ilmu Kasyaf (dapat menyingkap hal-hal yang tersembunyi) dan ilmu ghaib. Allah Ta’ala dustakan mereka dalam firman-Nya:
قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
“Katakanlah tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali Allah.” (An Naml : 65)
8. Keyakinan bahwa Allah Ta’ala menciptakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam dari nuur / cahaya-Nya, dan Allah Ta’ala ciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam. Padahal Allah Ta’ala berfirman :
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ
“Katakanlah (Wahai Muhammad), sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku …” (Al Kahfi : 110).
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
“(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat : “Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah liat.” (Shaad : 71)

Keterkaitan Antara Sufi dengan Kelompok “JI”

Keterkaitan antara Sufi dengan kelompok “JI” (Jama’ah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin) sangatlah erat karena pendiri kelompok “JI” ini adalah seorang Sufi. Jama’ah Tabligh, didirikan oleh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi seorang Sufi dari tarekat Jisytiyyah. Dan seiring bergulirnya waktu, Jama’ah Tabligh kemudian berbai’at di atas empat tarekat Sufi: Jisytiyyah, Qadiriyyah, Sahruwardiyyah, dan Naqsyabandiyyah. (Lihat kitab Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, karya Asy-Syaikh Hasan Janahi, hal. 2, 12.) Adapun Ikhwanul Muslimin, pendirinya adalah Hasan Al-Banna, seorang Sufi dari tarekat Hashafiyyah, sebagaimana yang ia katakan sendiri: “…Di Damanhur aku bergaul dengan kawan-kawan dari tarekat Hashafiyyah dan setiap malamnya aku selalu mengikuti acara hadhrah yang diadakan di Masjid At-Taubah…”

Ia juga berkata: “Terkadang kami berziarah ke daerah Azbah Nawam, karena di sana terdapat makam Asy-Syaikh Sayyid Sanjar, salah seorang dari tokoh tarekat Hashafiyyah.” (Mudzakkiratud Da’wah Wad Da’iyah, hal. 19, 23, dinukil dari kitab Fitnatut Takfir Wal Hakimiyah, karya Muhammad bin Abdullah Al-Husain, hal. 63-64) (Sumber : http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=155)

Wallahu A’lam Bish Shawab

Hadits-hadits palsu atau lemah yang tersebar di kalangan umat

Hadits Abu Umamah
عَلَيْكُمْ بِلِبَاسِ الصُّوفِ، تَجِدُوْا حَلاَوَةَ الإيْمَانِ فِيْ قُلُوْبِكُمْ
“Pakailah pakaian yang terbuat dari bulu domba, niscaya akan kalian rasakan manisnya keimanan di hati kalian”(HR Al Baihaqi dlm Syu’abul Iman).
Keterangan : Hadits ini palsu karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Muhammad bin Yunus Al Kadimy. Dia seorang pemalsu hadits, Al Imam Ibnu Hibban berkata : “Dia telah memalsukan kira-kira lebih dari dua ribu hadits”. (Lihat Silsilah Al Ahadits Adh Dhoifah Wal Maudhu’ah, no:90)

Footnote :
[1][2] Dinukil dari kitab Haqiqatut Tashawwuf karya Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan, hal.7
[3][4][5] Dinukil dari kitab Ash Shufiyyah Fii Mizanil Kitabi Was Sunnah karya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 24-25.
[6] Lihat kitab Fiqhul Ad ‘Iyati Wal Adzkar, karya Asy Syaikh Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr, hal. 173.

160 Comments

  1. Siapakah Tokoh yg bernama Asy Syaikh Abdurrahman Al Wakil rahimahullah??, dimana dari mana kah asalnya? siapa gurunya & silsilah ilmunya ??,menguasai ilmu bidang apakah beliau ( muhaddist dll) ??,Berapa bayak hadiskah yg di hafalnya ???

  2. Oh..gt toh…ternyata islam banyak saling baku salah menyalahkan pantas gampang diadu domba…untung gw bukan Muslim

  3. apakah salah ali jika rasulullah turunkan ilmu padanye, adakah ilmu itu akan batal?? sufi berasal dari hindu?? kristien?? yahudi?? cakap tanpa bukti, hukum tanpa bukti, bukti tanpa sahih , sahih tanpa asal usul.
    apakah ilmu yang datang pada ibn tamiyyah itu terjon dari langit?? carilah yang haqq, tinggalkan lah yang batal. sesunggoh nya fitnah itu lebih dasyat dari membunoh.. (note :sayer bukan syiah..)

    • gak ada Rasul itu nurunkan ilmu tasawuf ke Imam Ali Kwj apa buktinya dan dalilnya…..asal bacoot lu, ngomong tanpa ilmu, senengnya kok jadi pengekor

      • wahai para salafi,dalam ajaran tassawuf itu,lbh mnknkn kpda hati yg bersih,mmng di antra sufi ada yg mnympng,tpi tdk smua sufi ajarnnya sprti yg di uraikn di atas,ktanya ahli sunnah nabi,apa prnh RASULULLAH mncnthkn mnghjt,atau mngkfrkan ssms muslim,mkana akhlak itu di pake,ktka kalian sdng sibuk mnghjat para suffi,mngkn mrka sdng sibuk brzkir kpd ALLAH,yah jngn mmch ssma umat,mkanya bljr itu jngn cma dri buku n intrnt z,ssngghnya kkuasaan ALLAH yg trsirat lbh bsr dr yg trsurat,bgi orng2 yg mau brpkr

  4. SUFI/TASAWUF berasal dari pemahaman budha, buktinya banyak kesamaan antara ajaran Sufi?Tasawuf dengan ajaran budha.
    Contoh: Ujlah orang Sufi mirip dengan pengembaraan rahib budha.
    Dalam budha ada istilah Nirwana nah ini mirip dengan Istilah Fana dalam Sufiyah.

    Ehm NAH Yaaa ketahuan…..

    • Rasululloh pernah bertapa di sebuah gua .. sebelum menerima wahyu

    • banyak bicara banyak salah, jangan ucapkan perkara yg anda tidak/kurang/sama skali tdk faham.apa sama antara bola basket dengan bola pingpong karena sama2 bulat ? dalam diri anda juga ada kebenaran, tapi tertutup oleh akal hewani…

  5. Jika tak menyelami sendiri dunia tasawuf maka tak kan pernah merasakan. Yang ada hanyalah penjelasan akal yang memang hakikatnya terbatas.

    • ngapain juga menyelami tasawuf, yang diselami itu akidah dan perilaku-perilku Rasul….siapa juga yang make akal gak ada, islam itu bukan dengan akal atau hati tapi melalui wahyu dan hadist

      • tapi melalui wahyu dan hadist… ga pake ijtihad?

    • tak de menyelami tasawuf…yg perlu kite selami ape yg tlah diajarkan rasullullsah SAW..sebab itu beragama harus berilmu..biar kita bleh mmpertimbangkan mana yg baek n tak baek

    • setuju

  6. contoh kecil….
    Rosullululloh sebetulnya orang terkaya sedunia, tapi kenapa yan beliau hidupnya sederhana banget, sampai dihadis ada yang menceritakan, ketika bilaau meninggal baju perangnya masih tergadai dengan 3 sakh gandum.
    Tapi kenapa ustad, kyai ,ulama sekarang lebih seneng hidup bergelimang harta, pada hal shufi menekankan kesederhanaa he he he .mana ya, yang lebih berusaha untuk nyontoh rosul
    auuu ah gelap

    • karena yang paling berhak untuk menikmati karunia dan nikmat-nikmat Allah tersebut adalah orang-orang yang saleh dan bertakwa, bukan orang-orang fasiq, bukan orang-orang kafir, melainkan orang-orang Muslim

      • brarti Rosul trmasuk golongan fasik karena ia lebih memilih gaya hidup sederhana seperti para sufi ya ,…

      • sudah2,,,jngan pada ngco…
        mari nyantri dulu lah biar jelas,,,jgnan cuma mikir dengan tangan kosong
        isi iman kita dulu dgn Al-qur’an dan Hadits,,,
        insyaallah selamat dunia wal akhirat

  7. sudahlah… kalo ibadah gak ada tuntunannya dari rasulullah maka itu adalah bid’ah ” kullun mukhdasatil bid’ah wa kullun bid’atil dholalah wa kullun dholalata fin naar..” setiap yang dibuat-buat adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat, dan yang sesat tempatnya di neraka (HR nasa’i)sebagian ulama menghasankan hadits ini dan sebagian besar mensohehkannya. Saya pernah liat di tv tentang tarekat naqsabandiyah…mereka berzikir sambil berdiri, terus berputar-putar sampai ada yang pingsan..dan mengklaim dirinya telah bertemu Rabb-nya! naudzubillah…
    Kalaupun tata cara ibadah sufi itu sesuai dengan sunnah, pasti rasul telah mencontohkannya.secara tidak langsung para suffiyah telah menuduh rasulullah berkhianat tidak menyampaikannya. naudzubillah lagi…
    tobat mas….

    • emang mas gak jelas tuh tarekat atau tasawuf ngakunya dari rasul eh….kok kelakukannya aneh-aneh……….dasar gelo

      • dzikir sambil menari? ibarat uang logam diputar.. justru malah bisa berdiri… berputar untuk ke satu titik konsentrasi, selanjutnya di isi dzikir. Apa menari ibadah ? bukan. Itu sekedar mencari situasi tepat untuk berdzikir.

    • hak hak hak.. main vonis aja ente bang belajar dulu daleme dulu.. emang sorga neraka itu kapling orang tuamu ya..??? dasar ompu.. klu mencari kesalahan jangan suma ambil ujung2 nya saja mass toh juga pegangan antum itu cuma katanya dan katanya..hak hakhak lucu justru lo nanti penghuni nerakanya karena lo merasa paling bagus dan plg bener di dunia ini dan guru2 mu

  8. kpd sdr Dajjal:
    laknatullah ‘alaika

    Kpd sdr “Hamba Allah”:
    silahkan luangkan waktu untuk membaca:
    kitab Haqiqatut Tashawwuf karya Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al Fauzan, hal.7.

    Kpd sdr sdr Daud Al Ayyubi:
    Alhamdulillah ana telah memasuki firqah-firqah antara lain: Tabligh, Tasawuf, PKS dan NII. Di dalam Tasawuf ana dapati ajaran yg menyimpang salah satunya seperti yg diajarkan guru ana (Rusli Anwar) bahwa tatacara puasa sunnat (senin-kamis) berbeda dgn puasa Ramadhan yukni sahurnya boleh pukul 6 pagi atau lebih. Dan ada juga puasa “mutih”, adakah hal tersebut diajarkan Rasulullah

    • Martabat wushul (sampai kepada Allah) adalah [melalui] tiga perjalanan: (1) Islam; (2) Iman; (3) Ihsan … Seorang hamba Allah yang sibuk dalam ibadah [berarti] berada dalam maqam Islam atau Syari’at. Apabila amal itu kemudian [meningkat dengan didasari oleh] hati yang bersih dan sunyi daripada kejahatan, dipenuhi oleh kebajikan sempurna dan ikhlas, maka orang itu berada dalam maqam Iman atau Tarekat. Apabila orang itu [meningkat lagi] ke martabat ibadah yang sungguh-sungguh demi Allah semata (lillahi ta’ala), yakni [saat ia beribadah] seolah-olah Allah melihat dirinya, maka ia berada dalam maqam ihsan atau hakikat … Berkata Tuan Syekh Abdul Qadir al-Jailani qaddasallahu sirrhu, “tiada lain tujuan ahli Tasawuf (Sufi) adalah membersihkan batin dengan nur Tauhid dan menggapai ma’rifat.”

      Jelas diajarkan oleh para mursyd bahwa kita tidak boleh dan tidak bisa lepas dari syari’at islam.

  9. maaf komentar kpd sdr Daud Al Ayyubi seharusnya untuk “Yayan”

    Kpd sdr Kalam Wadi:
    dapatkah anda menyebutkan ulama mana, siapa namanya, dari negara mana, apakah beliau termasuk ulama’ ahlussunnah dan siapa gurunya.
    sedangkan utk para Kyai dan Ustadh selain Ahlussunnah itu tidak mengherankan dikarenakan sedikitnya ilmu mereka dalam Islam.

    Kpd sdr Ompu:
    Jazakumullah…

    • abdul A’la…menghujat aja dah salah orang…, apalagi comment2nya ( pastilah SALAH TOTAL!! )…TERLALLUU!!!

  10. ass.wr.wb
    dalam islam tidak ada golongan2…kecuali setelah itu perpecahan..(dibenci Allah n RosulNya)
    cukuplah Allah SWT pelindung yang Haq, Jangan Aliran atau opini2….:)
    semoga keselamatan atas kita semua atas Ridla Allah SWT

    wass.wr.wb

  11. Jazakumullah tuk ikhwah Ahlu Sunnah… yang selalu berpegang teguh pada manhaj yang haq ini.

    Tuk pengandrung Islam ala Budha:
    Tasawuf sejatinya adalah ajaran budha dengan berbagai modifikasi. banyak kemiripan antara keduanya. Tentunya Rasulullah itu tidak mengikuti ajaran budha.

    Ana pernah diskusi dengan murid kesayangan Syaikh Akbar Al Idrisy (Syaikh Tareqat Idrisiyah), dia berpahaman Syaikhnya itu lebih utama dari para nabi, dan selalu sholat dengan membanyangi wajah syaikhnya. ana lihat Dzikir mereka, mereka berdzikir dengan diiringi musik sejenis dangdut dan menari-nari.

    Tuk sdr Ariel:
    Antum masih perlu banyak belajar tentang Islam yang berdasarkan manhaj Salaf lebih luas, jangan mengambil Islam dari orang yang berpikiran Liberal, beranggapan semuanya benar. Ya benar Islam itu dulunya satu tapi sebagian umatnya memisahkan diri dan membentuk kelompok baru. yang selamat tentunya yang mengikuti manhajnya para salaf bukan kelompok-kelompok selainnya.

    • Syaikh Akbar Al Idrisy adalah cucu Rasululloh. Pemahaman sang murid sedikit ada benarnya, sesuai kapasitasnya. Jika dia mau ngurus KTP, tidak perlu pergi ke presiden, cukup tanda tangan pak camat. Jadi bukan masalah mana lebih baik, tapi mana yang sesuai si-kon.

  12. Janganlah kita terlalu berprasangka buruk kepada orang2 saleh yang lebih tau dan mumpuni dari kita. Marilah kta memperkaya diri dengan banyak membaca buku. Janganlah kita merasa bangga dengan satu kitab yang kita kuasai. Jangan pula kita terlalu fanatik dengan paham kita sendiri tanpa mengkaji ilmu2 yang di ajarkan ulama2 kita dari berbagai negara. Yang mana mereka udah mengkajinya dari Al-qur’an dan hadits .Sekali-kali tidak ada seorangpun sufi yang washil kepada Allah,mengatakan bahwa dirinya adalah Al-haq dalam keadaan sadar.Apakah orang yang tidur dalam keadaan mengigau bersalah dan harus di qishos disebabkan oleh satu kata:bahwa saya adalah TUhan?

    • emang gak ada yang merasa seperti itu, cuman masalah adalah bahwa mereka membuat aturan-aturan ibadah yang baru yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi, contoh zikir yang berbelihan apalagi ada yang sampai muter-muter gak karuan. apakah hal tersebut yaitu membuat aturan sendiri yang gak pernah di buat oleh Rasul dan dibuat oleh mereka dan diaminkan oleh banyak orang statusnya gimana tuh…….dan mereka juga menetapkan tentang wasilah, bahwa kalu mau berdoa kepada Alloh harus menyebut nama-nama wali atau guru-guru mereka..apakah dengan begini mereka bukan Thagut atau arhab-arhab…………….coba deh kaji lagi bung

      • Kalau dikaji lebih mendalam dan dari sejarah Bangsa Indonesia khususnya tanah jawa sendiri (dari babad, serat, suluk, lain2) maka perintis Islam di tanah jawa ini adalah orang2 yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadis sehingga Islam dapat dengan mudah diterima dan diamalkan karena Ulama2 pewaris para Nabi begitu mulia AkhlaqNya sehingga kedatangan mereka menjadi Rahmatan Lil’alamin.dan mereka adalah para sufi. yang berdakwah dengan Cinta-Nya dan kasihsayang_Nya..

        untuk menggali apa itu washilah, mengapa “zikir muter” diperlukan hati yang netral dan objektif lakukan penelitian dari sumber ulama berbakai aliran (sufi, wabahi, salafi, dll) dan bandingkan. sehingga tidak mudah untuk menyalahkan.

      • Untuk Descrates
        Maaf, saya lihat anda begitu berapi-api dan bersemangat seolah anda telah memiliki dan menguasai ilmu agama, dan teguh akan ajaran Rosul dan berusaha jauh dari bid’ah2 (menurut pendapat anda).
        Pertanyaan saya (Yang menurut anda apa yg tidak dilakukan di jaman Rosul adalah bid’ah):
        1. Adzan dengan menggunakan Mix / speaker / pengeras suara bid’ah ? ada gak dijaman Rosul ?
        2. Menggunakan media radio atau internet untuk syiar agama apakah bid’ah ? ada gak di jaman Rosul?
        3. Pergi naik haji naik pesawat apakah bid’ah ? ada gak di jaman Rosul ?
        dan mungkin masih banyak lagi.

        Tentang dzikir yang muter2 gak karuan itu mnurut anda….. mereka yang demikian tengah berusaha “belajar” khusyuk dalam berdzikir. Rosul tidak demikian karena Rosul sudah sangat dekat dan benar2 khusyuk dalam berdzikir….. apakah anda pernah melihat para mursyd tasawuf berdzikir ketika sedang tidak berjamaah ?.
        Tentang wasilah berdoa dengan menyebut nama wali atau guru.
        (apakah hanya dengan menyebut atau meminta doa dari mereka ? itu salah. Justru disebutkan karena kita mendo’akan mereka yang telah berjasa mengajarkan ilmu nya kepada kita. Bukan kah Rosul juga mengajarkan adab seorang murid terhadap guru ? apakah anda tahu detailnya harus seperti apa ?

        DAN SATU LAGI YANG PALING PENTING…. ANDA ORANG INDONESIA ??? ANDA TAHU DARI MANA/DARI SIAPA AGAMA ISLAM MASUK DAN DIAJARKAN KEPADA BANGSA KITA ???
        DAN APAKAH ANDA TAHU BILA YANG MENGAJARKAN NENEK MOYANG KITA BANGSA INDONESIA TERDAHULU MEMPELAJARI ILMU TASAWUF JUGA ?
        DAN SEKARANG ANDA MAU MENG-KAFIRKAN PARA WALIYULLAH ???
        Anda sibuk menghujat para sufi atau orang yang mempelajari tasawuf, hakikat dan ma’rifat…. sedangkan orang2 yang anda pergunjingkan tengah sibuk didalam hati dan pikirannya berdzikir mengingat Allah tanpa di ketahui orang lain.
        Yang begitu menikmati kecintaan nya kepada Allah.

        ber-istighfar lah dan bertaubat lah.
        Kita semua sama, dan tingkat keimanan dan ketaqwaan kita yang di nilai oleh Allah,,,, hanya Allah sajalah yang tahu.

        Mungkiin ada beberapa dari mereka yang menyimpang, tapi itu tidak semua,,, karena mereka yang menyimpang mungkin belum tahu intisari ajaran tersebut.
        Termasuk anda atau mungkin orang lain yang mengatakan bahwa penganut ajaran tersebut menyebut diri nya Tuhan.
        Hal itu tidak benar. (mgkn mereka yang belum paham benar menyebutkan seperti itu). Kita semua sama,,, hanya ciptaan, hanya seonggok tulang dan darah yang dibalut dengan daging.

  13. kepada saudara mirwan…siapakah orang2 shaleh yang lebih tau dan mumpuni daripada kita,,,adapun jika orang2 tersebut adalah para sahabat2 rasulullah serta tabi’in dan orang2 yang mengikuti mereka sampai hari kiamat, maka benarlah adanya, jika yang dimaksud orang2 shaleh itu adalah para sufi, maka pemahaman anda perlu dikritisi…karena di lapanagn banyak org2 sufi yang ajarannya bertentangan dengan ajaran nabi kita…?

    apakah anda berfemahaman bahwa kitab2 sufi lebih baik dari pada kitab2 dari pada kitab2 ahlul hasit…na’idzubillah…karena banyak sekali atsar atau riwyat para ulama ahlul hadits yang menceritakan ttg bahanya tasawuf yang menyimpang, dan janganlah saudara menyangka apa yang diajarkan para ulama itu adalah bersifat menzhalimi sesama…tahukah anda bahwasannya dalam ilmu hadits terdapat “jarh wa ta’dil”? menganggap adil dan tidak adil seseorang, iltulah prinsip yang mulya dari agama ini guna menangkal pemahaman2 sinting dari orang2 yang mengaku shaleh…bijaklah dalam menerima ilmu…dan selaraskan ilmu itu dengan apa yang sebelumnya para salaf mewarisi kita…

    wallaahu a’lam

  14. Assalamualikum saudara-saudaraku seIslam,
    Dari kecil kita diajarkan agama baik di sekolah maupun di rumah oleh guru atau ustadz yang dianggap mempunyai ilmu agama yang mumpuni untuk mengajarkan agama. Setelah menamatkan kuliah dari sebuah perhguruan swasta kira-kira sepuluh tahun yang lalu, saya diterpa kebimbangan yang sangat tentang ilmu agama Islam. Saya mencari ilmu agama dengan menemui beberapa orang yang menyebut diri mereka kyai, ustadz, ulama, ahli sufi, ahli tarekat dan sebagainya. Dalam proses pencarian ilmu tersebut, saya sampai pada kondisi dimana saya hampir terjatuh kepada paham bahwa yang namanya orang yang paham agama, orang yang dekat dengan Allah, yang namanya wali Allah, yang berhak atas ampunan dan surga Allah adalah orang-orang yang mempunyai ilmu kesaktian atau karomah yang diyakini oleh banyak orang sebagai berkah dari Allah. Saya sering berkunjung ke rumah orang-orang yang dianggap wali Allah dan mempunyai karomah untuk belajar agama. Tapi yang terjadi setelah sekian lama, adalah saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan yaitu, apa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabat-sahabt dan keluarganya, serta apa yang diajarkan sahabat-sahabat Rasulullah kepada kamu muslimin sepeninggal Rasulullah. Mereka orang-orang yang saya kunjungi rumahnya tersebut, yang dianggap banyak orang sebagai wali, ternyata tidak pernah mengajarka ilmu yang saya inginkan. Kelihatannya mereka pelit ilmu dan kalau ada ilmu yang diberikan tidak disertai dengan hujjah yang kuat apakah ilmu agama tersebut bersumber dari Al Quran dan Assunah, jangan-jangan hanya anggapan atau perkiraan mereka saja bahwa ilmunya tersebut adalah kebenaran dar Allah. Padahal kita disuruh mencotoh Nabi Muhammad SAW, bahwa dia adalah sebaik-baik orang yang diteladani baik dalam hubungan kepada Allah, hubungan kepada makhluk Allah dan bagaimana cara melakukan hal-hal tersebut yang dikategorikan ibadah selama sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Namun yang saya lihat, kebanyakan orang yang dianggap sufi atau wali Allah oleh banyak orang, justru tidak menampakkan akhlak Nabi Muhammad SAW, tidak juga menghabiskan waktu belajar Al Quran dan As sunnah (Hadits) tetapi sibuk mempelajari kitab-kitab yang mereka anggap akan bisa mendapat berkah, karomah dan kemuliaan dari Allah. Mereka mengagung-agungkan kitab-kitab mereka dan syaikh mereka. Seakan akan syaikh mereka itu ma’shum dan terpelihara dari segala kesalahan. MasyaAllah. Sekitar tiga tahun yang lalu, Alhamdulillah, saya bertemu seseorang yang akhirnya mengajarkan Al Quran dan Assunnah (Hadits) kepada saya. Alhamdulillah, Allah mengabulkan doa saya, yaitu mendapatkan ilmu yang hakiki, ilmu yang terbebas dari kesalahan, ilmu yang diridhoi bagi siapapun yang mempelajari dan mengajarkannya, ilmu yang akan membawa manusia kepada ampunan dan Rahmat Allah yaitu ilmu yang bersumber dari Al’Quran dan Al Hadits. Guru saya tidak ma’shum dan suci, tetapi beliau mengajarkan kepada saya ilmu yang seharusnya dan sewajibnya dipelajari oleh seseorang yang mengaku Muslim. Akhir kata saya hanya ingin menyampaikan, WAHAI SAUDARA-SAUDARA KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT, MARILAH KITA MENJERNIHKAN HATI DAN PIKIRAN KITA, JANGANLAH KITA TERTIPU DAN BERLEBIHAN DALAM MEMULIAKAN ORANG-ORANG YANG BISA TERBANG, BERJALAN DI ATAS AIR, MNGANGTGAP DIRINYA TERLEPAS DARI KEWAJIBAN SYARIAT, ORANG-ORANG YANG MENGAKU WALI DAN MEMPUNYAI KAROMAH DSB, SEBELUM KITA BANDINGKAN IBADAH DAN TINGKAH LAKU MEREKA SEHARI-HARI, APAKAH SESUAI DENGAN AL QURAN DAN ASSUNNAH, APABILA TIDAK SESUAI DENGAN ALQURAN DAN ASSUNNAH MAKA ORANG TERSEBUT BUKANLAH ULAMA ATAUPUN WALI ALLAH, TETAPI WALI SETAN, IBLIS ATAUPUN DAJJAL YANG SESAT DAN MENGAJAK KEPADA KESESATAN APAPUN DALIH MEREKA. KARENA MEREKA UMUMNYA MELECEHKAN DAN MEREMEHKAN DALIL NASH AGAMA YANG NYATA, SEHINGGA MEREKA SUKA BERDALIH BUKAN BERDALIL.

    Wassalam.
    Aan

    • Subhanallah..sesungguhnya islam hanya untuk orang-orang yg berfikir..!!

    • salah satu tanda Kiamat ialah kalau Allah sudah mencabut Al-Qur’an dari hati manusia, maka Al’qur’an tinggallah hanya tekstual dan bungkusnya saja sedangkan sejatinya ajaran-Nya sudah bergeser. begitu juga dengan hadis dan sunnah tinggal tekstual dan kulit… yang kering kerontang “Celakalah orang lalai dalam sholatnya” lalai dalam 24 jam tidak menjaga sikap dan Akhlaqnya seperti diwaktu sholat.

  15. Jazakumullah khairan katsira, ana bwt u/ presentasi agama…

    boleh kn?

    doakan smoga sukses waktu presentasi agama…

  16. Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi

    Ke mana-mana selalu menyebarkan salam. Selalu memakai baju bercorak gamis dan celana putih panjang ke bawah lutut, ciri-khas orang Arab. Jenggotnya dibiarkannya lebat dan terkesan menyeramkan. Slogannya pemberlakuan syariat Islam. Perjuangannya memberantas syirik, bid’ah, dan khurafat. Referensinya, al-Kitab dan Sunah yang sahih. Semuanya serba keren, valid, islami. Begitulah kira-kira penampilan kaum Wahabi. Sepintas dan secara lahiriah meyakinkan, mengagumkan.

    Tapi jangan tertipu dulu dengan setiap penampilan keren. Kata pepatah jalanan, tidak sedikit di antara mereka yang memakai baju TNI, ternyata penipu, bukan tentara. Pada masa Rasulullah r, di antara tipologi kaum Khawarij yang benih-benihnya mulai muncul pada masa beliau, adalah ketekunan mereka dalam melakukan ibadah melebihi ibadah kebanyakan orang, sehingga beliau perlu memperingatkan para Sahabat t dengan bersabda, “Kalian akan merasa kecil, apabila membandingkan ibadah kalian dengan ibadah mereka.”

    Demikian pula halnya dengan kaum Wahabi, yang terkadang memakai nama keren “kaum Salafi”. Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/1263-1328 M), akan didapati sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan.

    A. Sejarah Hitam

    Sekte Wahabi, seperti biasanya sekte-sekte yang menyimpang dari manhaj Islam Ahlusunah wal Jamaah memiliki lembaran-lembaran hitam dalam sejarah. Kerapuhan sejarah ini setidaknya dapat dilihat dengan memperhatikan sepak terjang Wahabi pada awal kemunculannya. Di mana agresi dan aneksasi (pencaplokan) terhadap kota-kota Islam seperti Mekah, Madinah, Thaif, Riyadh, Jeddah, dan lain-lain, yang dilakukan Wahabi bersama bala tentara Amir Muhammad bin Saud, mereka anggap sebagai jihad fi sabilillah seperti halnya para Sahabat t menaklukkan Persia dan Romawi atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.

    Selain menghalalkan darah kaum Muslimin yang tinggal di kota-kota Hijaz dan sekitarnya, kaum Wahabi juga menjarah harta benda mereka dan menganggapnya sebagai ghanîmah (hasil jarahan perang) yang posisinya sama dengan jarahan perang dari kaum kafir. Hal ini berangkat dari paradigma Wahabi yang mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin Ahlusunah wal Jamaah pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali yang tinggal di kota-kota itu. Lembaran hitam sejarah ini telah diabadikan dalam kitab asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb; ‘Aqîdatuhus-Salafiyyah wa Da’watuhul-Ishlâhiyyah karya Ahmad bin Hajar Al-Buthami (bukan Al-Haitami dan Al-‘Asqalani)–ulama Wahabi kontemporer dari Qatar–, dan dipengantari oleh Abdul Aziz bin Baz.

    B. Kerapuhan Ideologi

    Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah, berdasarkan firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)” (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil ‘aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah mukhâlafah lil-hawâdits, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (alam). Karenanya, Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dan Allah itu tidak duduk, tidak bersemayam di ‘Arasy, tidak memiliki organ tubuh dan sifat seperti manusia. Dan menurut ijmak ulama salaf Ahlusunah wal Jamaah, sebagaimana dikemukakan oleh al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (227-321 H/767-933 M), dalam al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, orang yang menyifati Allah dengan sifat dan ciri khas manusia (seperti sifat duduk, bersemayam, bertempat, berarah, dan memiliki organ tubuh), adalah kafir. Hal ini berangkat dari sifat wajib Allah, mukhâlafah lil-hawâdits.

    Sementara Wahabi mengalami kerapuhan fatal dalam hal ideologi. Mereka terjerumus dalam faham tajsîm (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia) dan tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Padahal menurut al-Imam asy-Syafi’i (150-204 H/767-819 M) seperti diriwayatkan olah as-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dalam al-Asybâh wan-Nazhâ’ir, orang yang berfaham tajsîm, adalah kafir. Karena berarti penolakan dan pengingkaran terhadap firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah).” (QS asy-Syura [42]: 11)

    C. Kerapuhan Tradisi

    Di antara ciri khas Ahlusunah wal Jamaah adalah mencintai, menghormati, dan mengagungkan Rasulullah r, para Sahabat t, ulama salaf yang saleh, dan generasi penerus mereka yang saleh seperti para habaib dan kiai yang diekspresikan dalam bentuk tradisi semisal tawasul, tabarruk, perayaan maulid, haul, dan lain-lain.

    Sementara kaum Wahabi mengalami kerapuhan tradisi dalam beragama, dengan tidak mengagungkan Nabi r, yang diekspresikan dalam pengafiran tawasul dengan para nabi dan para wali. Padahal tawasul ini, sebagaimana terdapat dalam Hadis-Hadis sahih dan data-data kesejarahan yang mutawâtir, telah dilakukan oleh Nabi Adam u, para Sahabat t, dan ulama salaf yang saleh. Sehingga dengan pandangannya ini, Wahabi berarti telah mengafirkan Nabi Adam u, para Sahabat t, ahli Hadis, dan ulama salaf yang saleh yang menganjurkan tawasul.

    Bahkan lebih jauh lagi, Nashiruddin al-Albani–ulama Wahabi kontemporer–sejak lama telah menyerukan pembongkaran al-qubbah al-khadhrâ’ (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah r) dan menyerukan pengeluaran jasad Nabi r dari dalam Masjid Nabawi, karena dianggapnya sebagai sumber kesyirikan. Al-Albani juga telah mengeluarkan fatwa yang mengafirkan al-Imam al-Bukhari, karena telah melakukan takwil dalam ash-Shahih-nya.

    Demikian sekelumit dari ratusan kerapuhan ideologis Wahabi. Dari sini, kita perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang lahir di Najd. Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi r bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”. Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi. Wallâhul-hâdî.

    • hanya orang-orang syiah, dan sufi yang membenci kaum wahabi, karena imam banyak menghacurkan tempat-tempat ibadah mereka (kuburan, tempat-tempat keramat) dan membunuh guru-guru mereka yang mereka anggap adalah wali karena dapat menghubungkan mereka dengan Alloh………….telah tampak dan nyata kebencian mereka bukan pada dasar Iman tapi atas dasar dendam

    • Syeh albani punya jalur sanad hadits ga ? katanya muhaddits..

    • dimana kelompok yang mengatasnamakan salafi ini tidak punya sopan santun… luarnya boleh bagus tapi kelakuannya buruk sekali… sebenarnya kelakuan buruk mereka itu yang bid’ah…

    • Cuma satu kata buat komentar2 kalian … Prek!

  17. kita perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang lahir di Najd. Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi r bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”. Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi.

    • ulama yang mana…………..kalau ulama syiah dan ulama sufi emang, tapi bukan karena hadist teb, tapi karena dendam mereka

  18. aku adl pengikut sufi………..

    1. Al Hallaj seorang dedengkot sufi, berkata : “Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang makan dan minum.” (Dinukil dari Firaq Mua’shirah, karya Dr. Ghalib bin Ali Iwaji, juz 2 hal.600).
    Padahal Allah Ta’ala telah berfirman :
    لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
    “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat

    aku jawab al halaj g pernah menyebutkan bahwa allah serupa or sama dengan manusia

    4. Jalaluddin Ar Rumi, seorang tokoh sufi yang kondang berkata : “Aku seorang muslim, tapi aku juga seorang Nashrani, Brahmawi, dan Zaradasyti, bagiku tempat ibadah sama … masjid, gereja, atau tempat berhala-berhala.” [5]
    Padahal Allah Ta’ala berfirman :
    يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
    “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima

    pemberian nama agam nasrani, brahmawi dsb adl pemberian manusia bukan pemberian allah pdhl sesungguhnya semua gama jk d tarik lurus adl islam

    bagi yg pengen berdiskus silahkan k yahoo messenger
    setiap hari sabtu jam 11 malem aku selalu online kok
    mbah_setan@yahoo.com

    • @Supranatural n health : Lo bego apa tolol bung? Apa lu orang yang pura2 nyamar jadi Islam atau mang lo orang munafikun? Allah yang menyebut Yahudi dan Nasrani, itu semua ada di Al-qur’an. Bener2 ini idiot. Makanye baca tu Al-qur’an tentang cerita nabi musa dan nabi Isya, disana banyak di sebutkan tentang kaum Yahudi dan Nasrani dan bani Israel.

      Tujuan kenapa Nabi Muhammad di utus adalah untuk meluruskan agama2 yang sudah bengkok2 dan sesatnya minta ampyun. Makanya agama-agama sebelum Islam tidak lagi di ridho’i Allah. Bisa saja Allah membuat agama yang lain lurus tapi Allah sudah mempatenkan hanya Islam yang di jaga lurusnya, artinya jika orang yang bersangkutan bener2 mau lurus yaitu dengan mempelajari Al-qur’an dan hadist maka orang tersebut akan lurus. Sedangkan agama lain Allah sudah tidak jaga, tidak di ridho’i dan Allah hanya meridho’i Islam. Artinya, jika orang-orang mencari ke lurusan dari agama lain ga kan ketemu titik temunya.

      Sedangkan jaman sekarang semakin banyak orang yang melencengkan agama Islam, seperti syiah dan sejenisna, kenapa mereka bisa tersesat? Karena mereka menentukan agama dengan uji coba sendiri, misalnya dengan melakukan tawassul dan sejenisnya. Mereka lebih mengikuti hawa nafsunya dan ke sok tau annya daripada mereka mau belajar Al-qur’an dan hadist shahih yang jelas2 isinya contoh dari Rasulullah. Mereka berfikir kesaktian mereka itu tentu adalah benar, tetapi nyatanya kenapa kesaktian orang-orang syiah tersebut tidak berguna ketika melawan orang Israel dan yahudi? Kenapa kesaktian orang-orang syiah ini cuma bisa berguna mengganggu orang-orang yang mengikuti Al-qur’an dan as-sunnah? Dan yang anehnya, kesaktian si syiah tersebut jika bertemu dengan orang-orang mukmin yang berpegang teguh terhadap Al-qur’an dan As-sunnah, secara tiba-tiba kesaktiannya hilang? Ya dari situlah kita tau sekali jawabannya, apa benar ilmu syi’ah ini benar2 dari Allah atau dari Iblis laknatullah? Silahkan di fikir.

      Ya begitulah ketetapan Allah. Allah yang menentukan atas sesuatu hal. Hidayah hanya punya Allah.

  19. Jangan merasa diri paling benar…
    Hanya Allah SWT yang Maha Tahu…
    Hargailah keyakinan sesama Muslim…
    Karena mereka semua adalah saudara…
    Masing masing punya dasar
    yang bisa dipertanggung jawabkan…
    Sekali lagi…
    Hanya Allah SWT yang Maha Tahu dan Maha Benar…
    Bukan Aku, Kamu ataupun Mereka…
    Islam Mulia Raya…

    • ini bukan masalah siapa yang bener dan siapa yang salah…………….tapi mana yang sesuai dengan tuntunan Allloh dan Rasul-Nya atau tidak sesuai, ukuran kebenaran kita sdh tau ditangan Alloh, nah mari kita timbang….kalau kita jujur pasti kita akan mengakui bahwa tasawuf tidak akarnya dari Islam…………..karena Rasul tidak pernah menyebut nama-nama tasawuf tuh

      • Rasululloh juga ga pernah nyebut2 titik huruf qoof, syiin, jiim dalam Al-Qur_an, ga juga nyebut ilmu nahwu, dll..

  20. BANTAHAN TERHADAP TUDINGAN TASAWUF / SUFI ADALAH SESAT

    Hakikat Tasawuf Seringkali tasawuf dituduh sebagai ajaran sesat. Tasawuf dipersepsikan sebagai ajaran yang lahir dari rahim non Islam. Ia adalah ritual keagamaan yang diambil dari tradisi Kristen, Hindu dan Brahmana. Bahkan gerakan sufi, diidentikan dengan kemalasan bekerja dan berfikir. Betulkah?

    Untuk menilai apakah satu ajaran tidak Islami dan dianggap sebagai terkena infiltrasi budaya asing tidak cukup hanya karena ada kesamaan istilah atau ditemukannya beberapa kemiripan dalam laku ritual dengan tradisi agama lain atau karena ajaran itu muncul belakangan, paska Nabi dan para shahabat. Perlu analisis yang lebih sabar, mendalam, dan objektif. Tidak bisa hanya dinilai dari kulitnya saja, tapi harus masuk ke substansi materi dan motif awalnya.

    Tasawuf pada mulanya dimaksudkan sebagai tarbiyah akhlak-ruhani: mengamalkan akhlak mulia, dan meninggalkan setiap perilaku tercela. Atau sederhananya, ilmu untuk membersihkan jiwa dan menghaluskan budi pekerti. Demikian Imam Junaid, Syeikh Zakaria al-Anshari mendefiniskan.

    Asal kata sufi sendiri ulama berbeda pendapat. Tapi perdebatan asal-usul kata itu tak terlalu penting. Adapun penolakan sebagian orang atas tasawuf karena menganggap kata sufi tidak ada dalam al-Qur’an, dan tidak dikenal pada zaman Nabi, Shahabat dan tabi’in tidak otomatis menjadikan tasawuf sebagai ajaran terlarang! Artinya, kalau mau jujur sebetulnya banyak sekali istilah-istilah (seperti nahwu, fikih, dan ushul fikih) yang lahir setelah periode Shahabat, tapi kenapa orang2 salafy kita tidak alergi, bahkan menggunakannya dengan penuh kesadaran?

    Sejarah Tasawuf
    Kenapa gerakan tasawuf baru muncul paska era Shahabat dan Tabi’in? Kenapa tidak muncul pada masa Nabi? Jawabnya, saat itu kondisinya tidak membutuhkan tasawuf. Perilaku umat masih sangat stabil. Sisi akal, jasmani dan ruhani yang menjadi garapan Islam masih dijalankan secara seimbang. Cara pandang hidupnya jauh dari budaya pragmatisme, materialisme dan hedonisme.

    Tasawuf sebagai nomenklatur sebuah perlawanan terhadap budaya materialisme belum ada, bahkan tidak dibutuhkan. Karena Nabi, para Shahabat dan para Tabi’in pada hakikatnya sudah sufi: sebuah perilaku yang tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya. Selalu ingat pada Allah Swt sebagai sang Khaliq

    Ketika kekuasaan Islam makin meluas. Ketika kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. Budaya hedonisme pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf (sekitar abad 2 Hijriah). Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup.

    Tidak seluruh ajaran agama harus ada contohnya (dikerjakan langsung pada saat itu) oleh Rasulullah saw. Bisa saja Nabi hanya mengatakan itu tapi ia tidak melakukannya. Misalnya, Nabi saw memerintahkan umatnya untuk berziarah ke makamnya. Nabi bersabda, “Barangsiapa yang berziarah kepadaku setelah aku meninggal dunia sama dengan berkunjung kepadaku ketika aku masih hidup.” Pada saat itu Nabi tidak mencontohkan (tidak melakukan) untuk berziarah ke makamnya sendiri. Yang dimaksud dengan sunnah Nabi bukan hanya yang beliau contohkan saja. Yang dicontohkan oleh Nabi (yang dikerjakan langsung pada saat itu) disebut sunnah fi’liyyah. Tapi ada juga yang disebut dengan sunnah qawliyyah, yaitu sunnah yang hanya diucapkan oleh Nabi dan sunnah taqririyyah, sunnah dari diamnya Nabi.

    Urgensitas Tasawuf
    Imam Ghazali dalam an-Nusrah an-Nabawiahnya mengatakan bahwa mendalami dunia tasawuf itu penting sekali. Karena, selain Nabi, tidak ada satupun manusia yang bisa lepas dari penyakit hati seperti riya, dengki, hasud dll. Dan, dalam pandangannya, tasawuf lah yang bisa mengobati penyakit hati itu. Karena, tasawuf konsentrasi pada tiga hal dimana ketiga-tiganya sangat dianjurkan oleh al-Qur’an al-karim. Pertama, selalu melakukan kontrol diri, muraqabah dan muhasabah. Kedua, selalu berdzikir dan mengingat Allah Swt. Ketiga, menanamkan sifat zuhud, cinta damai, jujur,sabar, syukur, tawakal, dermawan dan ikhlas.

    Berikut ini adalah hadis tentang keutama-an majelis zikir. Rasulullah saw bersabda, “Bila suatu kaum duduk dalam satu majelis dan bersama-sama berzikir kepada Allah swt, para malaikat akan mengiringi mereka dan mencurah-kan kepada mereka rahmat Allah swt.” Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Muslim dengan sanad yang sahih dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Jika satu kaum berkumpul berzikir kepada Allah dan mereka hanya mengharapkan keridaan Allah, para malaikat akan berseru dari langit: Berdirilah kalian dengan ampunan Allah kepada kalian dan seluruh keburukan kalian telah Allah ganti dengan kebaikan.” Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dengan sanad yang hasan, Rasulullah saw bersabda, “Jika satu kaum duduk dalam suatu majelis tetapi selama mereka kumpul itu mereka tidak menyebut asma Allah swt atau shalawat kepada Rasulullah saw, maka majelis itu akan menjadi penyesalan yang dalam di hari kiamat nanti.”

    Hadis ini sekaligus menyanggah pendapat Ibnu Taimiyyah yang menjelaskan bahwa zikir berjamaah itu bid’ah (tidak mencontoh Rosululloh). Ibnu Taimiyyyah, yang terkenal karena kebenciannya kepada tasawuf dan tuduhannya bahwa para sufi itu kafir, berkata: “Sesungguhnya majelis zikir itu bid’ah. Adapun majelis zikir adalah bid’ah yang dibuat oleh orang-orang yang menisbahkan dirinya kepada pengikut tasawuf abad ke-2 Hijriah. Setelah itu, pada majelis zikir itu ada yang memasukan tarian, nyanyian, dan memukul-mukul genderang yang mengacaukan zikir.”

    Melihat konsenstrasi bahasan tasawuf di atas, jelas sekali bahwa tasawuf bagian dari Islam.

    Tasawuf dan Tuduhan-Tuduhan Miring
    Demi objektifitas, menilai apakah tasawuf melenceng dari ajaran Islam apa tidak, kita harus melewati beberapa kriteria di bawah ini. Dengan kriteria ini secara otomatis kita bisa mengukur hakikat tasawuf.

    Pertama sekali, penilaian harus melampaui tataran kulit, dan langsung masuk pada substansi materi dan tujuannya. Lantas apa substansi materi tasawuf? Seperti dijelaskan di atas tujuan tasawuf adalah dalam rangka membersihkan hati, mengamalkan hal-hal yang baik, dan meninggalkan hal-hal yang jelek. Seorang sufi dituntut selalu ikhlas, ridha, tawakal, dan zuhud – tanpa sama sekali mengatakan bahwa kehidupan dunia tidak penting.

    Kedua, Menilai secara objektif, jauh dari sifat tendensius dan menggenalisir masalah.
    Sikap ini sangat penting. Karena pembacaan terhadap sebuah kasus yang sudah didahului oleh kesimpulan paten akan menghalangi objektifitas, dan memburamkan kebenaran sejati.

    Ketiga, memahami istilah atau terminologi yang biasa digunakan para sufi, sehingga kita tidak terjebak kepada ketergesa-gesaan dalam memvonis sebuah masalah.
    Misalnya dalam dunia sufi dikenal istilah zuhud. Kemudian orang sering salah mengartikan bahwa zuhud adalah benci segala hal duniawi. Zuhud identik dengan malas kerja, dst. Padahal kalau kita teliti dengan sedikit kesabaran tentang apa itu arti zuhud yang dimaksud para sufi, maka kita akan menemukan bahwa zuhud yang dimaksud tidak seperti persepsi di atas. Abu Thalib al-Maki, seorang tokoh sufi, misalnya, punya pandangan bahwa bekerja dan memiliki harta sama sekali tidak mengurangi arti zuhud dan tawakal.

    Keempat, dalam vonis hukum, kita perlu membedakan antara hukum sufi yang mengucapkan kata-kata dalam keadan ecstasy(Jadhab) dan dalam keadaan sadar.
    Konsep ini penting sekali, supaya kita tidak terjebak pada sikap ekstrim seperti memvonis kafir, musyrik, fasik, dll.

    Kesimpulan
    Setelah mengetahui hakikat ajaran tasawuf di atas jelaslah bahwa ajaran tasawuf, adalah bagian dari kekayaan khazanah Islam. Ia bukanlah aliran sesat. Bahwa ada penyimpang oknum atau lembaga sufi itu tidak berarti tasawuf secara keseluruhan jelek dan sesat. Kita jangan sekali-kali terjebak apada generalisir masalah. Karena sejatinya, tokoh-tokoh sufi berpendapat ajaran tasawuf harus bersendikan al-Qur’an dan Hadis. Diluar itu ditolak!

    Tasawuf, seperti dinyatakan Syeikh Yusuf al-Qaradhawi, adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Karena misi tasawuf memperbaiki akhlak. Dan akhlak jelas sekali bagian dari Islam. Karena Nabi Muhamad Saw diutus untuk menyempurnakan akhlak.

    Oleh karena itu sesungguhnya tasawuf adalah Islam, dan Islam adalah tasawuf. Untuk mencapai kesempurnaan ibadah dan keyakinan dalam Islam, seseorang hendaknya mempelajari ilmu tasawuf melalui thariqah-thariqah yang mu’tabar dari segi silsilah dan ajarannya. Para ulama besar kaum muslimin sama sekali tidak menentang tasawuf, tercatat banyak dari mereka yang menggabungkan diri sebagai pengikut dan murid tasawuf, para ulama tersebut berkhidmat dibawah bimbingan seorang syaikh thariqah yang arif, bahkan walaupun ulama itu lebih luas wawasannya tentang pengetahuan Islam, namun mereka tetap menghormati para syaikh yang mulia, hal ini dikarenakan keilmuan yang diperoleh dari jalur pendidikan formal adalah ilmu lahiriah, sedangkan untuk memperoleh ilmu batiniyah dalam membentuk qalbun salim dan kesempurnaan ahlak, seseorang harus menyerahkan dirinya untuk berkhidmat dibawah bimbingan seorang syaikh tasawuf yang sejati.

    Empat orang imam mazhab Sunni, semuanya mempunyai seorang syaikh thariqah. Melalui syaikh itulah mereka mempelajari Islam dalam sisi esoterisnya yang indah dan agung. Mereka semua menyadari bahwa ilmu syariat harus didukung oleh ilmu tasawuf sehingga akan tercapailah pengetahuan sejati mengenai hakikat ibadah yang sebenarnya.

    Imam Abu Hanifah (Nu’man bin Tsabit – Ulama besar pendiri mazhab Hanafi) adalah murid dari Ahli Silsilah Thariqat Naqsyabandiyah yaitu Imam Jafar as Shadiq ra . Berkaitan dengan hal ini, Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.

    Imam Maliki (Malik bin Anas – Ulama besar pendiri mazhab Maliki) yang juga murid Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf sebagai berikut, “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih kebenaran.” (’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, vol. 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).

    Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris, 150-205 H ; Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i) berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang sufi dan menerima 3 ilmu:

    1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara
    2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan
    kasih sayang dan kelembutan hati
    3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.”
    (Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, vol. 1, hal. 341)

    Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H ; Ulama besar pendiri mazhab Hanbali) berkata, “Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” (Ghiza al Albab, vol. 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi)

    Syaikh Fakhruddin ar Razi (544-606 H ; Ulama besar dan ahli hadits) berkata, “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan hati mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah pada seluruh tindakan dan perilaku .” (I’tiqad al Furaq al Musliman, hal. 72, 73)

    Ibn Khaldun (733-808 H ; Ulama besar dan filosof Islam) berkata, “Jalan sufi adalah jalan salaf, yakni jalannya para ulama terdahulu di antara para sahabat Rasulullah Saww, tabi’in, dan tabi’it-tabi’in. Asasnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan serta kesenangan dunia.” (Muqadimah ibn Khaldun, hal. 328)

    Imam Jalaluddin as Suyuti (Ulama besar ahli tafsir Qur’an dan hadits) didalam kitab Ta’yad al haqiqat al ‘Aliyyah, hal. 57 berkata, “Tasawuf yang dianut oleh ahlinya adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Ilmu ini menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi Saww dan meninggalkan bid’ah.”

    Bahkan Ibnu Taimiyyah (661-728 H), salah seorang ulama yang dikenal keras menentang tasawuf pada akhirnya beliau mengakui bahwa tasawuf adalah jalan kebenaran, sehingga beliaupun mengambil bai’at dan menjadi pengikut thariqah Qadiriyyah. Berikut ini perkataan Ibnu Taimiyyah didalam kitab Majmu al Fatawa Ibn Taimiyyah, terbitan Dar ar Rahmat, Kairo, Vol. 11, hal. 497, dalam bab. Tasawuf : “Kalian harus mengetahui bahwa para syaikh yang terbimbing harus diambil dan diikuti sebagai petunjuk dan teladan dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Thariqah para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia kepada kehadiran dalam Hadhirat Allah dan ketaatan kepada Nabi.” Kemudian dalam kitab yang sama hal. 499, beliau berkata, “Para syaikh harus kita ikuti sebagai pembimbing, mereka adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita berhaji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita.” Di antara para syaikh sufi yang beliau sebutkan didalam kitabnya adalah, Syaikh Ibrahim ibn Adham ra, guru kami Syaikh Ma’ruf al Karkhi ra, Syaikh Hasan al Basri ra, Sayyidah Rabi’ah al Adawiyyah ra, guru kami Syaikh Abul Qasim Junaid ibn Muhammad al Baghdadi ra, guru kami Syaikh Abdul Qadir al Jailani, Syaikh Ahmad ar Rifa’i ra, dll.

    Didalam kitab “Syarh al Aqidah al Asfahaniyyah” hal. 128. Ibnu Taimiyyah berkata, “Kita (saat ini) tidak mempunyai seorang Imam yang setara dengan Malik, al Auza’i, at Tsauri, Abu Hanifah, as Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Fudhail bin Iyyadh, Ma’ruf al Karkhi, dan orang-orang yang sama dengan mereka.” Kemudian sejalan dengan gurunya, Ibnu Qayyim al Jauziyyah didalam kitab “Ar Ruh” telah mengakui dan mengambil hadits dan riwayat-riwayat dari para pemuka sufi.

    Dr. Yusuf Qardhawi, guru besar Universitas al Azhar, yang merupakan salah seorang ulama Islam terkemuka abad ini didalam kumpulan fatwanya mengatakan, “Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam ke arah bagian ruhaniah, ubudiyyah, dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu.” Beliau juga berkata, “Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya. Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena jasa mereka. Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam, yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang marifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam ruhani, semua itu tidak dapat diingkari.

    Seperti itulah pengakuan para ulama besar kaum muslimin tentang tasawuf. Mereka semua mengakui kebenarannya dan mengambil berkah ilmu tasawuf dengan belajar serta berkhidmat kepada para syaikh thariqah pada masanya masing-masing. Oleh karena itu tidak ada bantahan terhadap kebenaran ilmu ini, mereka yang menyebut tasawuf sebagai ajaran sesat atau bid’ah adalah orang-orang yang tertutup hatinya terhadap kebenaran, orang-orang yang hatinya dipenuhi nafsu duniawi dan keangkara murkaan, sesungguhnya yang sesat adalah mereka tidak mengikuti jejak-jejak para ulama kaum salaf yang menghormati dan mengikuti ajaran tasawuf Islam.

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    BISA JADI SALAFISME ITULAH YANG TERSESAT

    Salafiyah Tidak seperti yang kami duga sebelumnya, mungkin juga anda, almarhum Syeikh Ghazali, DR. Yusuf Qaradhawi, DR. Ramdhan al-Bouti, DR. Aly Gum’ah –Mufti Mesir, dan sejumlah tokoh Islam lainnya yang selama ini dikenal moderat, ternyata juga tak luput dari hujatan, dibid’ahkan, bahkan kadang dianggap berpikiran sesat, oleh sekelompok orang yang mengaku salafi. Syeikh Ghazali menamakan kelompok yang kerap mengaku paling salafi ini sebagai Salafi-Baru.

    Tak cukup individu saja yang dikecam, organisasi-organisasi sosial-keagamaan yang tidak sejalan dengan pemikirannya, seperti Nahdhatul Ulama (NU), Jama’ah Thoriqoh Muktabarok (Thoriqoh yang diakui keabsyahannya di dunia Islam), Ikhwan Muslimin, dll, pun juga kena semprot bahkan dikatakan sesat. Seringkali yang terakhir ini diplesetkan menjadi Ikhwanul Muflisin.

    Fenomena ini, dalam konteks kepentingan Islam global, tentu sangat tidak menarik, bahkan mengkhawatirkan! Karena mengganggu soliditas dan persaudaraan umat. Juga mengganggu konsentrasi primer yang lebih mendesak untuk digarap umat Islam dewasa ini, yaitu pendangkalan pemahaman hakikat Islam, mengentas kemiskinan, mengejar ketinggalan dalam bidang pendidikan, hi-tec, wawasan peran global dan hal krusial lainnya.

    Terma Salaf
    Secara etimologis, kata salaf sepadan dengan kata qablu. Artinya setiap sesuatu yang sebelum kita. Lawan kata salaf adalah khalaf (generasi setelah kita). Kata ini kemudian menjadi sebuah terminologi untuk menunjuk pada generasi keemasan Islam, tiga generasi pertama Islam: para Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in atau Salaf Shalih. Istilah ini merujuk pada hadis Nabi: Khairul quruni qarni….. (H.R. Bukhari dan Muslim).

    Dalam wacana Islam kontemporer, kata salaf kemudian diimbuhi ya nisbat pada hurup akhirnya: menjadi salafi, kadang juga salafiyah – dengan penambahan ta, setelah ya, untuk menunjuk pada kelompok Islam yang menjadikan cara berpikir dan suluk generasi salaf sebagai sumber inspirasi. Bahkan beberapa kelompok salafi menganggapnya sebagai mazhab.

    Terma salafi pada perkembangan berikutnya, mengalami metamorfosis dan tidak bisa diartikan tunggal lagi. Kalimat itu menjadi multi makna. Sikap tak terburu-buru dalam analisis menjadi sebuah keniscayaan ketika menemukan kalimat salafi. Karena pada tingkat sesama pemikir saja, umpamanya, konotasinya bisa berbeda satu sama lain. Misalnya, Goerge Tharabisi dan Aziz Azmah, menggunakan kata salafi untuk sesuatu yang pejoratif: untuk menunjuk arus pemikiran atau kelompok yang anti segala hal yang berbau modernitas dan anti pembaharuan. Lawan dari terma salafi model ini adalah progresif (taqadumi). Sementara, Abid Jabiri, Fahmi jad’an, dan sebagian orientalis menggunakan istilah salafi untuk menunjuk pada setiap gerakan atau pemikiran Islam, yang menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama pemikirannya. Makna yang terakhir ini cakupan lebih luas: memasukan banyak tokoh dan kelompok Islam, baik yang moderat, “literal” -dzahiriyah judud, dan semua kecenderungan pemikiran yang menjadikan al-Qur’an dan Hadis sebagai rujukan utama.

    Pada tingkatan klaim antar sesama kelompok pengikut salafi, juga tak kalah ruwetnya. Banyak sekali kelompok yang mengklaim dirinya sebagai salafi hakiki. Di Kuwait, misalnya, data menunjukkan ada lima kelompok yang sama-sama mengaku sebagai salafi, satu sama lain saling kecam dan mendaku sebagai yang paling sah.

    Sejatinya, salaf bukanlah sebuah mazhab dan juga bukan personifikasi individu. Seperti pernah disinggung di atas, ia adalah sebuah generasi yang disabdakan Nabi sebagai generasi terbaik, yang mencakup tiga generasi Islam pertama. Kenapa dianggap yang terbaik? Karena mereka adalah generasi yang paling dekat, dengan pengertian seluas-luasnya, dengan masa kenabian. Terutama generasi pertama yang langsung dapat bimbingan dari Rasulullah Saw. Apa makna hadis ini bagi generasi setelahnya? Hadis ini mengajak kita semua untuk menjadikan metode berpikir dan cara bersikap mereka sebagai sumber inspirasi. Bukan malah dijadikan mazhab! Maka tak semua yang mengaku salafi akan otomatis berpikiran kolot. Tergantung kepada artikulasi dan cara memahami pola berpikir dan suluk salaf shalih itu sendiri. Dalam pandangan saya, salafi sejati tidak akan berpikir dan bersikap kaku. Dan kata salaf sendiri secara bahasa sangat netral dan sama sekali tidak mengandung arti pejoratif.

    Hanya saja, karena berbagai faktor, pada akhirnya, istilah salafi sangat identik dengan kelompok Wahabi, sebuah aliran yang didirikan Syeikh Muhamad Bin Abdul Wahab (1703-1791) di Najd, Arab Saudi. Sebagian dari mereka, ada perasaan bahwa dirinya lah yang paling salafi. Mereka sendiri, sebetulnya lebih enjoy dipanggil salafi, daripada Wahabi.

    Tapi, sayangnya ditangan mereka, makna salafi kemudian dicederai, dikerangkeng pada permasalahan furu’iyah dan perdebatan-perdebatan lama ulama klasik, baik di bidang Fikih, Ilmu Kalam, Tashawuf. Dalam Fikih mereka lebih konsen: membid’ah-bid’ahkan tradisi maulid nabi, ziarah, tawasul dan yang sejenisnya. Dalam Ilmu Kalam, alih-alih menanamkan hakikat makna tauhid, mereka memperdebatkan kembali tentang, misalnya, asma wa sifat dan bahayanya menta’wil ayat ar-Rahmanu ‘ala al-’arsyi istawa dengan tawil sebagai kinayah dari keagungan Allah Swt, dll. Mereka akan mengecam siapa pun yang tidak sejalan dengan alur pemikirannya. Tak heran, kalau dicermati karya-karyanya, maka kita akan menemukan daftar-daftar bid’ah mulai yang klasik sampai bid’ah kontemporer. Judulnya pun bisa kita tebak seputar rad wa al’tirad mandul: fulan dalam timbangan Islam, mengcounter pemikiran fulan atau menelanjangi pemikiran fulan. Tentu saja bukan berarti kita tidak boleh untuk mendiskusikan kembali soal-soal di atas. Yang tidak boleh adalah menjadikan permasalahan di atas sebagai prioritas utama.

    Tulisan ini dimaksudkan sebagai pengantar singkat untuk membedah dan mendiskusikan kembali metode dan gerakan Salafi-Wahabi saja. Tak akan membahas gerakan salafi secara umum. Sudah kita maklumi semua, akhir-akhir ini, dalam beberapa hal, sebagian oknum yang berafiliasi pada kelompok Salafi-Wahabi dianggap kerap melakukan tindakkan-tindakkan yang berpotensi merusak citra Islam, meresahkan dan banyak menimbulkan perpecahan dikalangan intern umat Islam. Tidak hanya di Timur Tengah, tapi juga di negara-negara dimana ada komunitas Islamnya, termasuk di Barat. “Lawannya” pun di batasi hanya dari kelompok-kelompok moderat saja: Syeikh Qaradhawi cs. Artinya, kritikan-kritkan keras Wahabi yang ada di tulisan ini, ditunjukkan buat tokoh-tokoh di atas yang selama ini dianggap moderat dan diakui otoritas keilmuannya. Poinnya, betapa sama tokoh moderat pun Wahabi masih merasa kegerahan. Sebelum mengenal lebih jauh tentang dasar pemikiran Salafi-Wahabi, ada baiknya kita petakan secara sederhana dulu gerakan awal salafi, dengan menjadikan Mesir, Maroko dan Saudi sebagai sampel.

    Peta Gerakan Salafi
    Gerakan Salafi, lebih-lebih mulai awal abad 19 M. tidak hanya disuarakan di Arab Saudi saja, tapi juga di berbagai negara Islam, diantaranya Mesir, dan Maroko. Yang menyatukan gerakan salafi ditiga negara itu adalah keseriusannya terhadap pemberantasan bid’ah, purifikasi akidah, perlawanan atas gerakan tasawuf. Mungkin karena suasana dan tuntutan lingkungan yang berbeda, membuat Salafi Maroko dan Mesir dengan Jamaludin al-Afghani dan Muhamad Abduh sebagai pionirnya kemudian mempunyai kekhasan yang tidak dimiliki Salafi-Saudi atau Salafi-Wahabi. Misalnya, Salafi Maroko dan Mesir bisa lebih terbuka dengan modernitas dan tidak berhenti berkutat pada persoalan purifikasi akidah saja. Mereka mengalami lompatan perjuangan. Dalam kasus salafi Mesir, mereka langsung bergelut dengan problem kebangsaan yang sedang dihadapi. Abduh berani melakukan pembaharuan keagamaan, bahasa Arab dan reformasi fundamental metode pendidikan di universitas al-Azhar. Salafi Mesir juga bergabung bersama pemerintah mengangkat senjata untuk mengusir penjajahan Perancis. Hal yang sama pun berlaku bagi kelompok Salafi Maroko.

    Sementara Salafi Arab Saudi dihadapkan pada kenyataan lain. Mereka sibuk bertempur dengan saudara seagama. Secara eksternal dan dengan diback-up Inggris, mereka berperang melawan Dinasti Ustmani. Pada tingkat internal mereka keasyikan melakukan purifikasi akidah dan memberantas tarekat-tarekat sufi yang saat itu berkembang pesat di Arab Saudi. Latar belakang inilah mungkin yang kemudian bisa menjelaskan kenapa kelompok salafi Arab Saudi sangat keras: berpikir sempit dan kolot.

    Dasar-Dasar Pemikiran Salafi-Wahabi
    Apresiasi kita sama Wahabi yang sangat peduli dengan laku sunah, otentifikasi sanad hadis, purifikasi akidah dengan memberantas bid’ah-bid’ah, tak bisa menghapus kesan kuat, bahwa secara umum, baik dalam bidang pemikiran, keagamaan, sosial dan politik sebagian orang yang berafiliasi kepada Wahabi banyak mengadopsi pendapat-pendapat keras-kaku. Mulai dari mengharamkan sistem demokrasi, sistem partai, konsep nation-state, kepemimpinan wanita –bahkan wanita tidak boleh menyetir mobil sendiri, membid’ahkan maulid Nabi, ziarah kubur, zikir jama’ah, anti sufi sampai fatwa haram menggunakan sendok makan (lihat misalnya fatwa salah satu tokoh Salafi-Wahabi Yaman, Syeikh Muqbil dalam bukunya: as-Shawaiq Fi Tahrim Malaiq atau Halilintar: Tentang Haramnya Memakai Sendok.

    Mencermati daftar permasalahan-permasalahan yang disesatkan-dibid’ahkan oleh mereka, maka kita akan berkesimpulan, bahwa kebanyakan daftar itu masuk wilayah mukhtaf fihi: suatu wilayah yang masih dan akan selalu diperdebatkan karena berangkat dari dalil yang tidak qath’i ats-tsubut wa ad-dilalah atau tidak ada ijma ulama. Sebetulnya sikap ulama klasik sudah sangat jelas dan bijak, bahwa dalam wilayah yang masih mukhtalaf fihi, siapa pun tidak boleh memaksakan pendapatnya. Karena akan terjebak pada fanatisme bermazhab dan perpecahan seperti sekarang ini. Semua orang bebas dengan pilihannya.

    Pertanyaannya: apa gerangan yang menyebabkan konsentrasi mayoritas dari mereka tersedot pada hal-hal yang masih diperdebatkan? Apa yang membuat mereka seolah lupa bahwa masalah pokok umat Islam sekarang adalah kemiskinan, ketinggalan dalam bidang pendidikan, hi-tech dan bidang primer lainnya?

    Realitas di atas terjadi karena dasar pemikiran mereka banyak berlandaskan pada, diantaranya:

    1.Ada pembalikan skala prioritas pada cara berpikir dan bertindaknya. Misalnya, mereka lebih memilih meneriakan slogan bid’ah-sesat pada orang yang merayakan acara maulid, ziarah kubur, dll yang hukumnya masih mukhtaf fihi, walapun berpotensi mengancam persatuan umat. Karena jelas sikap keras itu akan menimbulkan ketersinggungan dan menimbulkan aksi balas yang kontra-produktif.

    2.Dalam bidang pengetahuan agama, mereka terlalu konsen dengan menghafalkan tumpukan matan-syarah kitab, dan sibuk dengan fikih furu’iyah yang sering tidak di bandingi dengan pengetahuan kontemporer, sehingga yang terjadi adalah keluarnya fatwa-fatwa keras pada soal khilafiyah yang sering bertabrakan dengan kemaslahatan umat.

    3.Menutup pintu kebenaran dari pendapat orang lain. Seolah yang benar hanya dirinya saja. Efeknya mereka menekan orang lain untuk ikut pendapatnya. Bahkan sebagian dari mereka tak segan untuk menyesatkan ulama yang berfatwa kebalikan dari pendapatnya. Lihat misalnya kasus yang menimpa pengarang buku best seller, La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni yang dikecam habis gara-gara berfatwa wanita boleh tak memakai cadar dan boleh ikut pemilu. Hal yang sama juga pernah menimpa almarhum Syeikh Ghazali dan Syeikh Qaradhawi.

    4.Sering me-blowup permasalahan ajaran sufi, ziarah kubur, maulid nabi, tawasul dan sejenisnya, seolah-olah ukuran tertinggi antara yang hak dan bathil. Tapi pada saat yang sama mereka tidak peduli pada kebijakan publik dari pemerintahnya yang kadang tidak berpihak pada kepentingan rakyat dan umat Islam. Mereka taat total pada penguasa yang kadang kebijakannya tidak arif. Sangat jarang, kalau tak dikatakan tak ada, tokoh-tokoh Wahabi melakukan kritik pedas pada pemerintahan Arab saudi soal soal sistem pemerintah, kebijakan penjualan minyak, kebijakan politik luar negeri, lebih-lebih mengkritik “kedekatan” pemerintahanya sama Amerika dan sekutunya.

    5.Terlalu mengagungkan tokoh-tokoh kuncinya, semisal Ibnu Taymiah, Bin Baz, dll, sehingga mengurangi nalar kritis. Padahal, pada saat yang sama mereka berteriak anti taklid!

    6.Terlalu asyik dengan permasalahan mukhlataf fihi, sehingga sering lalai dengan kepentingan global umat Islam

    7.Terlalu tekstualis, sehingga sering menyisihkan pentingnya akal dan kerap alergi dengan hal-hal baru.

    Poin-poin di atas, menggiring kita pada kesimpulan bahwa Salafi-Modern mengalami krisis metodologis dan krisis fikih prioritas. Maka tak terlalu mengherankan kalau mereka juga biasa mengecam keras, dan sering gerah dengan sikap dan pendapat tokoh yang saya sebutkan di mukadimah yang dikenal moderat dan mumpuni secara keilmuan. Kesimpulan ini tentu tidak bisa digenerilisir begitu saja kepada semua Salafi-Wahabi. Karena ini sikap yang tidak ilmiah dan tak adil. Tapi, minimal, kalau kita amati buku-buku yang beredar tentang salafi yang ditulis oleh kalangan mereka, juga mengamati milist, maupun website yang dikelolanya, sedikit banyak anda mungkin akan setuju dengan kesimpulan saya. Lebih-lebih kalau yang dijadikan sampel adalah kalangan generasi mudanya.

    Ada satu hal yang perlu digarisbawahi, dengan kritikan ini tidak berarti kita memandang remeh pada hal-hal yang mereka bahas. Juga tak berarti mereka tidak boleh memilih pendapat-pendapat yang menjadi keyakinannya. Itu adalah hak mereka. Yang salah adalah ketika pendapat-pendapat itu diekspor melewati teritorialnya kemudian dipaksakan kepada orang lain. Dan siapa saja yang menolak atau tidak ikut pendapatnya maka akan dihukumi bid’ah, bodoh akan hukum Islam dan disesatkan!

    Yang paling mengkhawatirkan bagi saya, krisis ini menyebabkan mereka sering kehilangan akal kesadaran akan kepentingan global umat Islam, bahwa kita sedang dikepung arus globalisasi dan era pasar bebas yang tak mungkin dihindari. Arus ini bisa menggerus siapa saja yang tak berdaya. Ya, saya takut kita kehilangan rasa persaudaran, rasa sepenanggungan dan militansi akan kepentingan umat Islam! Padahal sekarang ini umat Islam bukan pemegang pentas dunia, baik sosial, politik maupun ekonomi. Artinya kita butuh ukhuwah untuk menegaskan identitas kita, lebih dari pada masa-masa sebelumnya. Bukan Ukhuwah yang hanya berhenti untuk membangkitkan romantisisme masa kejayaan silam. Ukhuwah yang dimaksud adalah untuk membangkitkan tekad membangun kembali peradaban Islam.

    Sebagai penutup, marilah kita sadar fikih prioritas dan saling bahu-membahu pada hal yang kita sepakati, dan memberikan kebebasan memilih pada hal yang masih mukhtalaf fihi. Dan dalam bidang hukum Islam, khususnya, dan pemikiran pada umumnya mestinya sekarang ini jangan hanya mencukupkan diri pada apa yang telah dihasilkan ulama klasik sambil berteriak: ma taraka al-awal lil-akhir! (bahwa semuanya telah dibahas ulama klasik). Tapi harus menggabungkan antara apa yang pernah diwariskan ulama klasik dengan produk kontemporer. Dengan begitu kita tak tercerabut dari akar identitas kita, juga tak kaku-gagap dengan segala hal kebaruan. Konsep ini berdasarkan pada kenyataan bahwa setting formulasi-formulasi pemikiran ulama klasik banyak dihasilkan tepat pada saat umat Islam memegang kendali dunia. Ingat data sejarah mencatat -+ 700 tahun kita memegang peradaban dunia. Misalnya saja konsep bahwa non muslim yang tinggal di negara Islam harus mengenakan pakaian tertentu atau konsep uang yang wajib dizakati adalah uang yang berbentuh dinar dan dirham saja. Padahal dua jenis uang itu, kesaktiannya telah digantikan oleh uang kertas, khususnya dollar, dll.

    Realitas saat ini sangat berbeda. Umat Islam sedang terpuruk dalam banyak hal. Data dilapangan menunjukan 50% umat Islam pendapatan perkapitanya dibawah 2 dollar. Dengan pendapatan itu jangan berpikir bisa meningkatan kualitas pendidikan. Membuat anaknya tidak kelaparan saja sudah sangat layak mendapatkan gelar Bapak Teladan!

    Akibat dari keterpurukan ini maka cermatilah hasil-hasil keputusan hukum fikih yang ditelorkan baik, oleh Majma’ Buhust Mesir, Bahtsul Masail PBNU, Majelis tarjih PP. Muhamadiyah, dll seringkali yang temukan adalah fikih solusi, bukan hukum normal yang berdiri dengan gagah. Kaidah adh-dharurat tubihu al-mahdhurat, al-amru idza dzaka it-tasa’, konsep sadz- adz-dzari, dan kaidah-kaidah lain yang mengisyaratkan kita dalam posisi “kalah hidup” pun menjadi kaidah yang paling laris. Kenapa? Karena realitas kebijakan hitam-putih dunia sekarang ini tidak ditangan kita. Mereka yang punya otoritas kebijakan dunia. Bukan kita! Sekarang pertanyaannya: Sudah siapkah kita untuk lebih mendahulukan persatuan dan kepentingan umat?

    = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

    (SEBUAH PUISI TENTANG TUHAN)

    DUNIA SERBA TUHAN ATAWA TUHAN SEMAKIN BANYAK
    21 April 2008 10:58:19

    Di mana-mana semakin banyak tuhan
    Di Irak dan Iran
    Di Israel dan Afganistan
    Di Libanon dan Nikaragua
    Di India dan Srilangka
    Di JEpang dan Cina
    Di Korea dan Pilipina

    Tuhan semakin banyak
    Di Amerika dan Rusia
    Di Eropa dan Asia
    Di Afrika dan Australia
    Di NATO dan PAlta Warsawa
    Di PBB dan badan-badan dunia
    Dimana-mana tuhan, ya Tuhan
    Disini pun semua serba tuhan
    Disini pun tuhan merajalela
    Memenuhi desa dan kota
    Mesjid dan gereja
    Kuil dan pura
    Menggagahi mimbar dan seminar
    Kantor dan sanggar
    Dewan dan pasar
    Mendominasi lalu lintas
    Orpol dan ormas
    Swasta dan dinas

    Ya Tuhan, di sana-sini semua serba tuhan
    Pernyataanku pernyataan tuhan!
    Kebijaksanaanku kebijaksanaan tuhan!
    Keputusanku keputusan tuhan!
    Pikiranku pikiran tuhan!
    Pendapatku pendapat tuhan!
    Tulisanku tulisan tuhan!
    Usahaku usaha tuhan!
    Khutbahku khutbah tuhan!
    Fatwaku fatwa tuhan!
    Lembagaku lembaga tuhan
    Jama’ahku jamaah tuhan!
    Keluargaku keluarga tuhan!
    Puisiku puisi tuhan!
    Kritikanku kritikan tuhan!
    Darahku darah tuhan!
    Akuku aku tuhan!

    Ya Tuhan!
    (BEGITU MUDAHNYA MEREKA MEMVONIS SESAMA MUSLIM DENGAN KATA2 SESAT, SEAKAN LEBIH TUHAN DARI TUHANNYA NABI MUHAMMAD SAW SENDIRI)

    • hanya bisa membatah hanya dengan kata-kata : mana dalil qathinya bahwa tasawuf berasal dari Islam…………

      • dalil qathi itu apa tho?

  21. @ yayan
    sungguh baik pendapat anda,kata2yg mengandung sejuta makna.
    buat semuanya ni…………..
    tau kah kiraya anda rasa garam…………….?
    kata orang sih asin……….
    rasa asin itu gimana sih………………?
    ada yang bisa jelasin gak………….?
    kalo bisa insya allah anda termasuk orang yang terpilih (fa insya allah)
    kalo gak tau jagan ngomong.
    orang yang belajar tanpa guru gurunya adalah setan………
    sudah kah anda punya guru………
    nyambung gak guru anda sampai baginda rosulullah……………?
    mungkin perlu banyak belajar lagi………
    semoga dengan hati yang baik,penuh ukhuwah islamiah semoga kita dijadikan kholifah2 bumi yang selamu menebarkan kebaikan.

    • haaaa……..alibi ini lagi yang dipakai bosen ah……………………… saya cuman minta mana dalil qathiny bahwa tasawuf itu berasal dari ISlam, kalau tidak bisa anda harus ikhlas bahwa tasawuf itu bukan dari Islam

  22. Apakah kalian para wahabi mengingkari Al Quran bahwa Nabi Musa as telah diperintahkan untuk belajar haqiqat kepada nabi Khidir as

    • mana dalilnya bahwa musa disuruh belajar ilmu hakikat kepada nabi khidir

      • Dalil?
        Cth: Al-Khidir membunuh anak kecil yang tanpa dosa dan tanpa ada kejahatan yang SUDAH dilakukan.

      • jaluk dalil., isa bahasa arab pa., ckkc

  23. GOBLOK… ORANG DUNGU CERITA SUFI, YA BEGANI INI AKHIRNYA… DASAR WAHABIYYIN TAEK!!!

    • anda bahkan lebih dungu dan lebih bodoh daripada org yg bercerita sufi ini, karena apa? anda berhujjah dengan kata2 kotor, bukan hujjah dengan dalil. Sedangkan org yg bercerita sufi ini bercerita dengan dalil2.

      Kalo memang anda islam, segeralah bertobat dari mencela saudaramu sendiri.
      Oh ya, saya ingin tanya, apa sih wahabi itu?

  24. Bismillah Hirrahman Nirrahim,

    Assalam’muallaikum warahmatullohi wabarakhatuh,

    ” Untuk Umat Yang Bingung ”

    Kepada saudara2 yg mengaku muslim, yg mengaku sdh bersyahadah, beriman,
    sangatlah menakjubkan segala ungkapan baik dan buruk, sgla ungkapan bermanfaat dan mudhorat ada di sini. apakah kalian tidak malu dengan kaum yg ALLOH laknat ahlaq dan aqidahnya, mereka tertawa gembira” melihat kaum yg mengaku i’tiba kpd MUHAMMAD Rosulluloh berselisih tentang kebenaran dan kesaheqhan ulamanya, gurunya, mazhabnya, organisasinya, partainya, majlisnya, jamaahnya, fatwanya. Sesungguhnya kalian sadari atau tidak kalian sadari, kalian sdh terjebak oleh dua guru utama yang paling menyesatkan dunia akhirat yaitu : Iblis dan yahudi. kenapa demikian ? karena yg pertama :Iblis akan terus m’goda manusia yg beriman dari segi aspek dan faktor manapun sampai hari kiamat sehingga kita terlupa dari warisan Rosullnya yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rosu.l
    yang kedua : Yahudi dan Nasrani adalah satu bagian guru yang m’ajarkan kpd manusia sampai kita m’ngikuti cara-cara ajaran (milah ) mereka sehingga kita terpecah m’jadi puluhan golongan.
    pertanyaannya ? kenapa kita tdk mau m’gikuti hanya cara Rosulluloh saja ?
    kenapa kita tdk mau m’ngikuti hanya cara Sahabat Rosul saja ?
    dari pertanyaan tersebut marilah kita sama2 intropeksi diri kita, kita hisab diri kita…!
    sudahkah kita m’aplikasikan syahadah kita sehingga terjadi korelasi antara syahadah dan surat al baqoroh yg ALLOH m’nyuruh orang beriman untuk berkaaffah ? kenapa di dalam ayat tersebut ALLOH memanggil ORANG BERIMAN, knp bukan yaa’ayuhalmuslimun, yaa’ayuhannas, karena ALLOH maha m’ngetahui hanya orang yg beimanlah yg sdh teruji aqidahnya, ahlaqnya, ilmunya, sehingga mereka tidak khilaf kesadarannya sbg manusia, tdk riya akan ahlaqnya, tdk sombong krn ilmunya, tdk sokh krn banyak jamaahnya, tdk gila krn harta, jabatan dan kekuasaan dan tdk m’rasa paling suci, karena itu banyak golongan yg m’ngaku perang melawan thogut, padahal dia sendiri tak sadar duduk dan berkompromi bersama pengabdi2 thogut.

    hai saudaraku” Janganlah ormas2, partai2, majlis2, mazhab2, engkau jadikan alat untuk m’diskriditkan umat islam yang satu dgn yang lain, jagalah mulut mu, jagalah fitnah mu, karena yang berhaq untuk smua itu hanyalah ASLLOH SWT. karena vg berhaq m’nyatukan islam adalah ALLOH SWT yg smua itu ada di dalam al’Qur’an dan Hadist.

    Jika ALLOH b’hendak pasti akan terjadi, karena ALLOH aza wajala tdk pernah m’nyuruh kita u/ berpartai, berormas, bermajlis, bermazhab. bermutajilah, berwahabi, berkhwarij, bersuffi, bertasawuf. dsb. ALLOH m’nyuruh kita melalui prantara MUHAMMAD Rosulluloh sbgmana hadistnya ada 5 perkara :
    1) Berjama’ah ( jgn di maknai secara sempit )
    2) Mendengar
    3) Ta’at
    4) Hijrah
    5) Jihad fi sabillilah
    karena dari 5 perkara, satu saja yg terlepas dari umat islam maka sia-sialah apa yg dikerjakannya selama ini apalagi ia m’nyeruh dgn seruan jahiliyah, kata sahabat bertanya kpd rosulluloh : bagaimana kalau ia sholat dan berpuasa,? rosul m’jawab : ya.” sekalipun ia sholat, puasa dan m’ngaku muslim. tertolaklah amalnya.

    nah, marilah kita kaji dan kita amalkan ayat dan hadist di atas tersebut, InsyaALLOH kita tak akan ribut masalah masalah yg m’mbingukan umat,

    akhir kata hanya kalimat LIILAHIKALIMATILLAH yg harus kita fallahkan, sehingga berlakulah hukum ALLOH seluas-luanya khususnya di bumi tercinta ini, sehingga tdk ada lg kezhaliman, tdk ada ladi yg m’banggakan mazhabnya, tdk ada lagi yg m’ngaku paling suci paling benar. karena smua itu akan di atur oleh satu hukum yaitu : HUKUM ALLOH SWT. ( QS al maidah : 50 ) sehingga sampai tercipta BALDATUN THOIBATUN WAROBBUN GHOFUR u/ smua umat manusia tanpa terkecuali.

    NB : Carilah mutiara di tumpukan pasir pantai, pasti akan terlihat kilaunya…! janganlah
    terjebak, karena mutiara tidak akan pernah m’ngaku dirinya mutiara. ( ” Allohu a’lam
    bi sawabb ” )

    “Jazakumullloh”
    Sam-uel
    dari ” bumi jajahan”

  25. WAHAI SAHABAT2KU SEIMAN. MARI KITA KERJAKAN RUKUN ISLAM DENGAN SEMPURNA. JANGAN PERNAH MERASA BAHWA RUKUN ISLAM KITA TELAH SEMPURNA. TERUSLAH BERUSAHA HINGGA ALLAH SWT MEMBERIKAN PETUNJUKNYA. PARA SAHABAT AKAN TAHU BETAPA DAHSYATNYA APABILA KITA TELAH MENDAPAT PETUNJUKNYA. JANGAN TERGODA UNTUK MEMPELAJARI HAL HAL YANG MEMANG BUKAN UNTUK UMMAT BIASA, SALAH SALAH KITA SEMAKIN JAUH ,,MENGEMBARA”. NAH LAKUKANLAH KHUSUK, KONSENTRASI 100% DAN LIHATLAH PERUBAHANNYA. SUBHANALLAH.

  26. Assalamualaikum kepada semua makhluk Allah SWT. Cukuplah dengan hujah-hujah kita. Semuanya betul untuk diri sendiri..dan semuanya salah untuk orang lain. Tapi apakah hujah kalian untuk kita semua. Agar kita boleh hidup aman,damai,harmoni dan yang penting, hidup di dalam perasaan kasih sayang. kasih sayang yang terbit dari hati yang di semai oleh Tuhan yang Esa daripada sifatNya yang Maha Pemurah lagi Maha mengasihani. Wahai saudaraku sekalian, tiada gunanya kita beriman jikalau tiap-tiap perkataan, tiap-tiap ayat dan tiap-tiap surah yang difirmankan oleh Allah di dalam Al-quran tidak kita amalkan…..sia-sia sahaja ibadat kita selama ini. Belum lagi kita beriman….Ya Allah…satukanlah hati-hati kami dengan perasaan kasih dan sayang.Ya Allah terbitkanlah satu pemimpin di zaman ini dari kalangan kekasihMu. Jangan dibutakan hati kami Ya Allah sewaktu munculnya kekasihMU itu.Agar dengannya kami mencari keredoanMu.Amin…..

    • suatu nasihat dinilai dari hasi,l bukan dari niat

  27. Assalamu’alaikum…
    Saudara saudaraku yang seiman..semoga rahmat dan hidayah allah SWT selalu tercurah untuk kita semua,amien!

    Tentang Tasawuf : ada pertanyaanku untuk kalian semua
    – Alif Lam Mim….
    Apakah arti dari Alif Lam Mim tersebut?
    Sudilah kiranya saudara saudaraku sekalian dapat memberikan jawaban yang sejelas jelasnya kepadaku agar dapat lah kita mengerti makna sesungguhnya dari kalimat tsb.

    Mohon maaf atas kelancangan saya sekiranya pertanyaan tersebut kurang berkenan di hati saudara saudaraku sekalian.

    Wassalamu’alaikum..

    • adi al ayubi…

      alif=adalah dzat
      lam=adalah lemah lembut
      mim=mulia

      SIAPAKAH yg mempunyai alif,lam.mim???

      • dari mana sumbernya om?

      • Saudara… tiada sesiapa…yg sesiapa itu adalah diri kita sendiri…… di ibaratkan kita dihadapan cermin… pikir kan lah….

        Dari golongan insan @ Hamba @ manusia itu sendiri…………….. yang mencontohi akhlak dan pekerjaan Rasullulah….. pikirlah…..
        yang kita ini sendiri duduk dan tinggal dlm Dzat nya setelah meninggalkan alam rahim iaitu kandungan ibu sendiri yg mn perjanjian kita sebelum di lahir kan kedunia..( alas tu birabbikum qalu bala shahidna ) alif yg nie tunggal….. ada kah pernah terpikir ada kah pernah ter jumpa seseorang yg sama seperti kita? meski pun kembar tetapi tidak sama perlakuan dan iras nye……. lam lemah lembut… cara dan penyampaiyan nyer….. tidak ego dan sombong….merendah diri…… dan mim itu sendiri mulia……. mulia kita iaitu insan dari makhluk2 yang lain…semulia nabi MUHAMAD swt dan jgn disalah ertikan bukan pada taraf dan martabat itu Nabi itu sendiri……. contoh : pergi lah bersolat pada Solat Jumaat…. lihat lah imam yg membaca khutbah…. dan pikir serta renungkan lah….dimana jawapan nya….. wallahua’lam

    • tidak ada yang tahu artinya selain Alloh…

      jangan percaya kalau ada yang ngaku tahu artinya

      • Alif = adalah yang meliputi. semua huruf mengandung alif, akan tetapi Dia memerintahkan supaya manusia untuk membaca dan berfikir (Taqarrub) alif telah menjelma menjadi “Ba, Ta, Tsa…” itu adalah hijab bagi manusia. maka bersunguh sungguhlah untuk membuka hijab agar dapat menemukan yang Haq

  28. assalamualaikum sahabat2 tasawufku…..

    sebenarnya ilmu tasawuf itu benar,siapa kata salah???!
    orang yg kata salah itu adalah salah..!

    dalam firman ada mengatakan ada telinga telinga tuli,ada mata mata buta,ada hati tidak memrhati.
    bedasarkan firman tersebut kepada siapakah di tuju ayat ini??

    dgn demikian kajilah diri sendiri dan kenallah diri….

    fikir2kanlah….
    wassalm

    • @hidu tassawuf : Ya jelas buat loe lah oon. Lah jelas ayat di Al-qur’an tersebut menceritakan tentang Nabi Muhammad mengajak menuju ke jalan yang lurus tetapi orang-orang yang di ajak Nabi Muhammad tersebut menolak dengan keras, dan tetap menyatakan yang di berikan oleh moyang-moyangnya yang benar.

      Bener2 mirip kayak loe kan? Bener2 ngikut agama2 yang dari kakek2 loe dan guru2 loe daripada loe ngikut yang sudah di perintahkan Allah dan di contohkan Nabi Muhammad, yaitu dari Al-qur’an dan As-sunnah. Bahkan loe berfilsafat lagi tentang Al-qur’an, gila ya loe?

      Al-qur’an itu ada ayat2 mutasyabia’at (yang di jelas = hanya Allah yang mengetahui tentang takwilnya) dan yang jelas. Cukup yang jelas aj bagi manusia mengikuti, seperti sumber hukum2 Islam, bagaimana cara berdagang, tata cara menikah, tata cara bernegara, dan lain-lain dan penjelasannya lebih rinci hanya ada di hadist shahih. Dah dengan loe benar-benar mengikuti Al-qur’an dan hadist shahih (ga ngarang2 pake filsafat) begitu aj otak pasti jadi lurus dech, ga mencong2 kayak sekarang. Lebih mirip loe yang sekarang kayak orang ngayal (alias gila) gara2 tasawwuf loe.

      • Mas… Allah akan memberikan petunjuk kepada sesiapa yg Allah kehendaki.
        Oleh karenanya bersihkan hati supaya bisa mendapatkan hidayah nya.
        Mungkin dari segi sifat, para sufi dan orang yang mempelajari tasawuf lebih baik daripada sifat anda.

  29. saya ingin mencari sahabat2 tassawuf…….

    • Segala kebenaran hanya milik Allah,Hanya para kekasihnyalah yang bisa menunjukkan jalan menuju_NYA,Mari kita senantiasa berdoa kepada_NYA,Supaya kita bisa sampai ke Hadirat_NYAi,jalannya para Nabi,jalannya para Pejuang yang mati syahid,jalannya para Khalifah,jalannya para Ulama yang mengamalkan ilmunya,jalannya para Wali yang mereka ikhlas mengamalkan Ilmunya,jalannya Orang yang Bertaqwa dan sholeh,jalannya Para pemimpin yang adil,Jalannya orang yang taat pada gurunya jalannya orang yang bersih hatinya.

  30. Jgnlah Kau Alergi dan Pesimis terhadap Tasauf..sedangkan kau hanya mengetahui ilmu tasauf dari informasi buku yang kau baca.. dan janganlah menjadi Hakim THD iLMU KEYAKINAN ORANG LAIN.. Tanyakan Dirimu .. BERGETARKAH HATIMU KETIKA NAMA ALLAH DISEBUT???????? Selamilah Sholatmu..Tanyakan Dirimu Sdh Brp Tahun Kau Sholat.. PENCERAHAN BATHIN APA YANG KAU DAPAT????.. Jgnlah Kau Ukur Perjalanan Bathin Org Lain dari Kacamatamu..ISLAM BUKANLAH MENGHAKIMI TAPI ISLAM ADALAH MENYAMPAIKAN…..!!!!

    • @Imam mahdi : Gue pernah tuch ikut2 tassawuf, sampe2 gue mau di jadikan pengganti guru gue, pake di kasih gelar pengeran lagi dari ghaib2, 9 wali songo yang ghaib2, mereka pake berdzikir trus dari balik dinding, mantan guru gue juga kedatangan tamu2 ghaib trus, dari si budha lulai kek, dewi kwam im kek, dari putri tidur kek, dari gatotkaca dan sejenisnya, gua di pakein senjata ghaib kek, pake meraga sukma trus berantem dengan makhluk-makhluk ghaib dan sejenisnya. Tapi untungnya gua punya basic agama dari ustadz yang benar. Walaupun itu gua dapet pas gua masih kecil. Dulu waktu disana gua juga udah mulai ragu, pas ragu besarnya saat bilang bahwa orang yang mati bisa gentayangan. Orang yang mati jahat jadi jin kafir. Orang yang baik matinya jadi wali nolong2in orang yang hidup. Yang jelas dengan membaca tawassul kepada orang2 mati tersebut nanti orang mati itu jadi pendamping kita, freak banget kan?

      Gua mah dah masuk kesana, makanya gua tau banget. Eh, cuma pas datang ke rukyah syar’iah, ilmu2 yang dari mantan guru gue semua bisa musnah. Padahal orang rukyah syar’iah bukan orang sakti. Semua benda2 ghaib gue langsung hilang, bahkan pas gue balik ke tempat mantan guru gue ntu, semua makhluk2 ghaib di dalam kerajaan terganggu sama bacaan ayat kursi gue yang gue niatkan ke Allah. bahkan tentara ghaib sebagian ditempat mantan guru gue hangus, dan wali2 songong tersebut menjauh. Nah disana baru gue sadar, ternyata mereka semua adalah syethan yang menjelma jadi orang2 salih untuk mempermainkan orang2 yang beraliran tasawwuf, makanya gue bilang orang tasawwuf ntu mang begonya bener2 kepalang kelewatan.

      Alhamdulillah Allah selalu mengabulkan do’a gue, padahal pas terakhir ntu gua hanya berdo’a di hati, “Ya Allah jika yang saya lakukan sekarang adalah benar dan mendekatkan saya ke sisi engkau maka tetapkan saya di sini, dan jika yang saya lakukan sekarang membawa saya ke neraka maka tunjukkan saya mana jalan yang engkau ridho’i”. Dan Alhasil Allah menunjukkan bahwa ajaran syi’ah adalah sesat dan yang mendapingi mereka adalah syethan laknatullah dan kronco2nya. Sungguh bodoh dan tololnya orang2 syiah ini.

      • Maka nya niat nya itu untuk belajar karena Allah, bukan karena mau dapat ilmu2 yang begituan…. makanya jumpa sama guru yang begitu juga…. tapi gak tahu ya kalau cerita ente cerita PALSU….
        Soalnya jauh tuh dari pelajaran tasawuf.
        kalau toh memang bertemu orang2 yang memiliki kelebihan itu karena mereka sudah mencapai maqam hakikat dan ma’rifat.
        Sehingga doa nya dikabulkan oleh Allah.

  31. As Salamu ‘alaikum saudara2 seislam..
    Orang thoriqoh biasanya dari kalangan ahlul bait Rasululloh
    Thoriqoh Syadziliyah dari Imam Syadzili Al-hasani
    Thoriqoh Qodiriyah dari Imam Abdul Qodir Al-Jailani Al-hasani
    Thoriqoh naqsyabandi dari Imam Bahauddin An-naqsyabandi Al-hasani
    Pertanyaan sederhana ; adakah ulama wahabi dari kalangan ahlul bait?

    • sip2 setuju

    • Tak kenal maka tak sayang…. Darimana asal ahlul bait, tentu dari negeri wahabi toh.

  32. Islam itu satu, jangan saling menyalahkan atau mengkafirkan satu sama lain….
    kita banyak, tapi bagai buih di lautan…

    mari bersatu umat muslim di seluruh dunia….

    selama tuhan kita masih Alloh, nabi kita masih Muhammad SAW, dan kitab kita masih Al-Qur’an, kita semua bersaudara….

    • betul-betul….islam tu bersaudara…
      bersatu kita teguh..bercerai kita runtuh

  33. Pandangan Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim terhadap tasawuf.

    Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim al-Jawziyah adalah sepasang guru-murid yang mendukung dan mengakui kebenaran Tasawuf sebagai ilmu yang dapat membersihkan jiwa. Ibn Taimiyah, misalnya, menyebut para sufi dengan sebutan ahl `ulum al-qulub/pakar-pakar ilmu hati‟ yang perkataanya paling tepat dan paling baik realisasinya (asaddu wa ajwadu tahqiqan) serta paling jauh dari bid‟ah (ab‟adu minal bid‟ah). Dalam kitabnya yang sangat terkenal Majmu‟ al-Fatawa (Beirut: Dar al-Kitab al Arabi, 1973).

    Dalam kitabnya Amradh al-Qulub wa Syifauha (Kairo: al-Mathba‟ah al-Salafiyyah, 1399), hal. 62, ketika berbicara surah al-Kafirun), Ibn Taimiyah berkata:
    “Adapun qul ya ayyuhal kafiruun mengundang tauhid amali iradi, tauhid praktis yang didasarkan pada kehendak, yaitu keikhlasan beragama
    semata-mata untuk Allahdengan sengaja dan dikehendaki; dan itulah yang dibicarakan oleh syeikh-syeikh Tasawuf pada umumnya. “Imam-imam Tasawuf
    menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang dicintai dengan cinta yang hakiki, bahkan dengan cinta yang paling sempurna.” (Amradh al-Qulub, hal. 68)

    Adapun Ibn al-Qayyim, dalam kitabnya Madarij al-Salikhln, I:464 (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1973), memperkatakan mengenai Abu Yazid al-Busthami dengan redaksi:”Ini (memelihara dan menjauhkan keinginan dari selain Allah yang Maha Suci) seperti kondisi Abu Yazid al-Busthami – semoga Allah merahmatinya – menganai berita tentang dirinya ketika ia ditanya, „Apa yang engkau inginkan (kehendak)?‟; ia menjawab, „Aku ingin agar aku tidak ingin yang kedua (setelah Allah),‟ inilah hakikat Tasawuf.” Dalam kitabnya yang lain Badai al-Fawaid, III:756 (Makkah al-Mukarramah: Maktabah Nizar Mushthafa al-Baz, 1996), Ibn al-Qayyim berkata:

    “Tasawuf dan kefakiran (baca: hanya butuh kepada Allah) berada pada wilayah hati”.

  34. Pandangan2 ulama thd tasawuf :

    Imam Abu Abdillah al-Dzahabi (w. 748 H)

    penulis kitab Siyar A‟lam al-Nubala‟ (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1413) yang terdiri dari 23 jilid menegaskan: “Jika seorang ulama tidak ber-Tasawuf, maka ia kosong; sebagaimana jika seorang sufi tidak mengenal sunnah (baca bersyariat), maka ia tergelincir dari jalan yang lurus.”

    Imam Malik ibn Anas

    pemimpin madzhab Maliki yang sangat terkenal, sebagaimana dikutip oleh Syeikh Amin al-Kurdi, juga mengungkapkan hal senada:
    “Barangsiapa yang bersyariat tetapi tidak ber-Tasawuf maka ia telah fasik; dan barangsiapa yang ber-Tasawuf tetapi tidak bersyariat maka ia telah zindik.” [Tanwir al-Qulub, hal. 408]

    Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya Al-I’thisom halaman 237 ;

    “Tasawuf bukan termasuk perkara bid’ah dan bukan pula permasalahan yang dapat dipecahkan dengan dalil secara mutlak, karena perkara ini terbagi-bagi. Untuk lebih mudah dipahami, lafazh tasawuf harus diterangkan terlebih dahulu, agar hukumnya menjadi jelas dan terperinci, karena menurut para ulama mutakhkhirin tasawuf adalah perkara yang global. Kesimpulan tentang pengertian lafazh tasawuf, menurut mereka ada dua, yaitu: (1) Berakhlak dengan akhlak yang terpuji dan meninggalkan akhlak yang tercela, (2). Melupakan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya dan selalu bersama Allah.”

    Cover Kitab Diwan Al-Imam Syafi’i Imam Abu Hanifah (81-150 H)

    59 والآيات ثابتة للأنبياء والكرامات للأولياء حق .
    59 . mukjizat ( mu’jiza ) ditakdirkan untuk para nabi , dan kesaktian ( karamah ) ditakdirkan untuk Para Wali ( awliya ) , semua itu benar [Al-Fiqh Al-Akbar]
    Imam Abu Hanifah berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Shadiq dan mendapatkan ilmu spiritual (tasawuf) yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”. Ad-Durr al-Mukhtar, juz 1. hal. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabandi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifah, yang mendukung jalan Sufi.” Imam Abu Hanifah berkata lagi sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Shadiq

    Imam Syafi’i (150-205 H)

    Imam Syafi’i berkata: “Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu :
    1. mereka mengajariku bagaimana berbicara
    2. mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut
    3. mereka membimbingku ke dalam jalan tasawwuf [Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, karya Imam 'Ajluni, juz.1, hal. 341.]
    فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
    فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
    “Jadilah ahli ilmu fiqih dan juga ahli tasawuf, dan janganlah engkau hanya mengambil salah satunya # Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.
    “Mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan (nikmatnya) takwa # sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?” [Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47] Dar al-Jil Diwan (Beirut 1974) p.34; dan Dar al-Kutub al-`Ilmiyya (Beirut 1986) p.48]

    Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H)

    Imam Ahmad berfatwa: “Ya walladee ‘alayka bi-jallassati ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu ‘alayna bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal khashiyyata waz-zuhda wa ‘uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” –Tanwir al-Qulub, hal. 405, Shaikh Amin al-Kurdi). Imam Ahmad berkata tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” ( Ghiza al-Albab, juz. 1, hal. 120)

    Imam Ahmad berkata mengenai para sufi : “ Aku tidak tahu apakah ada lebih baik dibanding mereka itu”
    [al Saffarini , Ghidha ‘ al albab li sharh manzumat al adab ( Cairo : Matba`at al Najah , 1324/1906 ) 1 : 120 ]

    Imam Al-Muhasibiy (243 H)

    Imam al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat” . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasawwuf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya hal. 27-32

    Imam Al-Qushayriy (465 H)

    Imam al-Qushayri tentang Tasawwuf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .”[Ar-Risalat al-Qushayriyyah, hal. 2]

    Imam Hujjatul Islam Al-Ghazaliy (450-505 H)

    Imam Ghazali, hujjatul-Islam, tentang tasawwuf: “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, hal. 131]

    Imam Hujjatul Islam An-Nawawi (620-676 H)

    Dalam suratnya al-Maqasid: “Ciri jalan sufi ada 5:
    1. menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri
    2. mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata
    3. menghindari ketergantungan kepada orang lain
    4. bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit
    5. selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, hal. 20]

    Imam Fakhr Ad-Din Ar-Razi (544-606 H)

    Imam Fakhr ad-Din ar-Razi: “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku” .” [Ictiqadat Furaq al-Musliman, hal. 72, 73]

    Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy

    Shekh al Islam Ibn Hajar al Haytami memiliki seorang siswa yaitu Zakariyya al Ansari . dia suatu kali ditanya mengenai kedudukan resmi dari yang mencela para sufi : yaitu punya alasan untuk mencela ? dia menjawab di Fatwanya hadithiyya : “ itu adalah kedudukan ada setiap orang diberkahi dengan batin dan agama tidak untuk jatuh menuju terbungkus dari mencela kaum ini ( para sufi ) , maka suatu racun maut , sebagai sudah lagi disaksikan dari dahulu dan masakini . “ [Ibnu Hajar al Haytami , Fatawa hadithiyya ( Cairo : al Halabi , 1970 ) p . 331]

    Shekh al Islam Ibn Hajar al Haytami jawaban itu siapa menghujat sufi di fatwanya betajuk : “ siapapun menyangkal , menolak , atau tidak menerima para sufi , Allah akan tidak membuat pengetahuannya bermanfaat . “ [al Haytami , Fatawa hadithiyya p . 52 54 . ]

    Ibnu Khaldun (733-808 H)

    Ibn Khaldun: “Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’een, and Tabi’ at-Tabi’een. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia” [Muqaddimat ibn Khaldan, hal. 328]

    Imam Tajuddin As-Subkiy

    Mu’eed an-Na’eem, hal. 190, dalam menanggapi tasawuf: “Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah”. Dia berkata: “Mereka adalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia”.

    Imam Jalaluddin As-Suyuthiy

    Dalam Ta’yad al-haqiqat al-’Aliyya, hal. 57: “tasawwuf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah (yg dlolalah)”

    Ibnu Taymiyyah (661-728 H)

    Majmu’ Fatawa Ibn Taymiyyah, Dar ar-Rahmat, Cairo, juz, 11, hal. 497, Kitab Tasawwuf: “Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadirat Allah dan ketaatan kepada Nabi.”

    Juga dalam hal 499: “Para syaikh dimana kita perlu mengambil sebagai pembimbing adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita dalam Haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita. Di antara para syaikh yang dia sebut adalah: Ibrahim ibn Adham, Ma’ruf al-Karkhi, Hasan al-Basri, Rabia al-Adawiyya, Junaid ibn Muhammad, shaikh Abdul Qadir Jilani, Shaikh Ahmad ar-Rafa’i, and Shaikh Bayazid al-Bistami. Ibn Taymiyyah mengutip Bayazid al-Bistami pada hal. 510, juz 10: “…Syaikh besar, Bayazid al-Bistami, dan kisah yang terkenal ketika dia menyaksikan Tuhan dalam kasyf dan dia berkata kepada Dia:” Ya Allah, bagaimana jalan menuju Engkau?”. Dan Allah menjawab:
    “Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku”.

    Ibn Taymiah melanjutkan kutipan Bayazid al-Bistami, ” Saya keluar dari diriku seperti seekor ular keluar dari kulitnya”. Implisit dari kutipan ini adalah sebuah indikasi tentang perlunya zuhud (pengingkaran-diri atau pengingkaran terhadap kehidupan dunia), seperti jalan yang diikuti Bayazid al-Bistami ( Mursyid Tariqah Naqshbandi). Kita melihat dari kutipan di atas bahwa Ibn Taymiah menerima banyak Syaikh dengan mengutipnya dan meminta orang untuk mengikuti bimbingannya untuk menunjukkan cara menaati Allah dan Rasul saw.

    Apa yang dimaksud Ibnu Taymiah tentang istilah Tasawwuf

    “Tasawwuf adalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah dan orang yang mengisi dirinya dengan ilmu hati dan ilmu pikiran di mana harga emas dan batu adalah sama saja baginya. Tasawwuf menjaga makna-makna yang tinggi dan meninggalkan mencari ketenaran dan egoisme untuk meraih keadaan yang penuh dengan Kebenaran. Manusia terbaik sesudah Nabi adalah Shidiqin, sebagaimana disebutkan Allah: “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)”

    Dia melanjutkan mengenai Sufi,”mereka berusaha untuk menaati Allah.. Sehingga dari mereka kamu akan mendapati mereka merupakan yang terdepan (sabiqunas-sabiqun) karena usaha mereka. Dan sebagian dari merupakan golongan kanan (ashabus-syimal).”

    Imam Ibnu Qayyim al-Jauziy (751 H)

    Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasawwuf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh Sufyan ath-Tsauri (161 H./777 M. Salah satu imam terbesar abad kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata: “Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (115 H./733 M) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri (Manazil as-Sa’ireen). Lanjut Ibn Qayyim : “Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh”

    Imam Ibnu ‘Abidin

    Ulama besar, Ibn ‘Abidin dalam Rasa’il Ibn Abidin (hal. 172-173) menyatakan: ” Para pencari jalan ini tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut. Mereka mabuk dengan Rahmat-Nya. Semoga Allah merahmati mereka”. [Majallah al-Muslim, 6th ed., 1378 H, hal. 24]

    Syekh Rasyid Ridha

    Dia berkata,”tasawwuf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” [Majallah al-Manar, 1st year, hal. 726].

    Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi

    Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi anggota the Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries. Dalam, Muslims in India, , hal. 140-146, “Para sufi ini memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap ma’siat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh kepada Allah”

    “Di Calcutta, India, lebih dari 1000 orang mengambil inisiasi (baiat) ke dalam Tasawuf” “Kita bersyukur atas pengaruh orang-orang sufi, ribuan dan ratusan ribu orang di India menemukan Tuhan mereka dan meraih kondisi kesempurnaan melalui Islam”

    Abul ‘Ala Mawdudi

    Dalam Mabadi’ al-Islam (hal. 17), “Tasawwuf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul”. “Tasawwuf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.”

    Ringkasnya, tasawwuf, dahulu maupun sekarang, adalah sarana efektif untuk menyebarkan kebenaran Islam, memperluas ilmu dan pemahaman spiritual, dan meningkatkan kebahagian dan kedamaian. Dengan itu manusia dapat menemukan diri sendir dan, dengan demikian, menemukan Tuhannya. Dengan itu manusia dapat meningkatkan, merubah dan menaikan diri sendiri dan mendapatkan keselamatan dari kebodohan dunia dan dari godaan keindahan materi. Dan Allah yang lebih mengetahui niat hamba-hamba-Nya.

    ———- Post added at 01:35 ———- Previous post was at 01:29 ———-

    “Bagi tiap-tiap umat di antara kamu Kami berikan syari`at /peraturan dan minhaj/jalan/thariq/metode.” (Q.S. 5:48)

    sabda Nabi SAW: “Syari‟at adalah perkataanku, thariqah adalah perbuatanku, haqiqah adalah keadaan (batin)-ku, dan ma‟rifatullah adalah pangkal harta (modal)-ku. ( Kasyf al-Khafa,II:6 ).

  35. semakin di bicarakan, semakin runyam. perlu di sadari apa islam itu. apa ya cukup diucapkan saja, sehingga sebutan dzikir (ingat) pelakiunya malah tidak sadar apa yang di ucapkan alias tidak dzikir/ lupa. membaca/ mengucap/menghapal dianggap sudah melaksanakan/mengamalkan dan seterusmya ……
    akibatnya orang yang shalatnya buanyak sekali dan dan kelihatan rajin banget dianggap sudah segagai orang yang sholih. oh… dia lupa bahwa shalat yang baik itu justru tampak setelah shalat lho.

  36. ALLAHU AKBAR!!!

    Aku HANYA berpegang ke pada AL QUR’AN (firman ALLAH) & HADITS (sunah Muhammad saw)

    titik!
    kamu, kalian, mereka, yakinkah sudah benar di hadapan ALLAH???
    renungkan di hati……

    • semua juga gitu, syiah juga katanya gitu…. lalu apa beda anda dengan syiah?

      • salafiwahabi…. sepertinya ente merasa yang paling benar…

      • Iya gw juga bingung…. om salafiwahabi sepertinya orang yang sangat tinggi sekali ilmunya……….
        Saya jadi mau tanya…. mungkin orang yang tinggi ilmunya seperti om sudah sangat mengenal akan Tuhan nya.
        Ketika anda sholat atau berdzikir dan mengingat Allah, dimana Allah berada saat itu ?
        Berikut beberapa Firman Allah dalam Al-quran.
        Bagaimana anda mengratikannya ???

        (Qaaf ; 16)
        Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya,

        (Al Baqarah ; 115)
        Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

        (Al Baqarah ; 186)
        Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran

        (Al Anfal ; 17)
        Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

        Itu baru sebagian dalil yang digunakan dalam ajaran tasawuf.
        Jelas dasar nya pun Al-quran.

        Tuhan ya Tuhan yang harus di sembah dan hambanya adalah hamba yang harus menyembah (Baca QS Al-Dzariyat:56),
        Tuhan tidak bergantung sama sekali pada makhluk-Nya.
        Dia Maha kuasa atas segala sesuatu (QS Hud:4).

        Jadi kalau belum mempelajari benar2 ya belum bisa membedakan yang mana Tuhan yang mana Hamba. Seperti yang disimpulkan oleh orang2 yang anti sufi/tasawuf.

  37. untuk bahan renungan….selamat menikmati…
    Dalam keadaan sakratul maut, seseorang tiba-tiba merasa berada di depan sebuah gerbang. “Tok, tok, tok,” pintu diketuk.
    “Siapa di situ?” ada suara dari dalam.
    Lalu dia seru saja, “Saya, Tuan.”
    “Siapa kamu?”
    “Watung, Tuan.”
    “Apakah itu namamu?”
    “Benar, Tuan.”
    “Aku tidak bertanya namamu. Aku bertanya siapa kamu.”
    “Eh, saya anak lurah, Tuan.” Wajahnya mulai plonga-plongo.
    “Aku tidak bertanya kamu anak siapa. Aku bertanya siapa kamu.”
    “Saya seorang insinyur, Tuan.”
    “Aku tidak menanyakan pekerjaanmu. Aku bertanya: siapa kamu?”
    Sambil masih plonga-plongo karena nggak tahu mau menjawab apa, akhirnya ditemukanlah jawaban yang rada agamis sedikit.
    “Saya seorang Muslim, pengikut Rasululloh SAW.”
    “Aku tidak menanyakan agamamu. Aku bertanya siapa kamu.”
    “Saya ini manusia, Tuan. Saya setiap Jumat pergi jumatan ke masjid dan saya pernah kasih sedekah. Setiap lebaran, saya juga puasa dan bayar zakat.”
    “Aku tidak menanyakan jenismu, atau perbuatanmu. Aku bertanya siapa kamu.”
    Akhirnya orang ini pergi melengos keluar, dengan wajah yang masih plonga-plongo.
    Dia gagal di pintu pertama, terjegal justru oleh sebuah pertanyaan yang sungguh sederhana: siapa dirinya yang sebenarnya.
    : : : : : : :
    Nggak mudah, tho…???? , kita nggak paham siapa kita,
    maka kita punya tradisi besar mengasosiasikan sesuatu terhadap diri kita: nama, profesi, titel, jenis kelamin, warna kulit dan rambut, foto wajah (seperti yang di KTP,
    Kita melabeli diri kita dengan sesuatu itu, kita pun nyaman dengan label itu, lalu merasa bahwa label itulah diri kita. Think again: apakah ‘aku’ sama dengan ‘tubuhku’ ????…..

  38. kalo menurut ane gan, antum gak bisa mukul rata kalo semua sufi/tarekat itu salah
    antum harus bisa liat dari semua pandangan, memang ada yang agak nyeleneh”memang itu gak bisa dipungkiri”, tapi kan ada juga yang benar
    kita gak tau diluar sana itu gimana
    kalo saran dari ane sih, lebih baik antum jangan buat dari satu kelompok dan menasbihkan itu untuk semua, ini saran aja gan

    • Bener dan baik menurut siapa, anda, saya atau…..?

      Ibnu Mas’ud berkata: “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan akan tetapi ia tidak mendapatkannya. Sungguh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami: (( Sesungguhnya akan ada satu kaum yang mereka membaca Al Qur’an, akan tetapi tidak sampai melewati tenggorokan mereka)), dan demi Allah aku tidak tahu, mungkin kebanyakan mereka ada diantara kalian”. Kemudian beliau pun berpaling dari mereka.

      [Atsar Riwayat Ad Darimiy dalam “Sunannya” (1 / 68 - 69), dengan sanad yang shahih, dan lain-lain. Lihat dalam kitab ”Ilmu Ushulil Bida’ “(hal. 92) –oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan Al halabiy..]

  39. knp mesti pusing mikirin perbedaan bukankah semua yng terjadi di dunia ini atas kehendaknya(Allah huakbar)

  40. Tak tahu maka tak sayang

  41. Belajar dan belajar, agar kita semua tak dikenakan olah pepata dengan bunyinya- TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

  42. tar za klo mau tahu yg mn yg bnr dan yg mn yg salah ……… setelah kita mati !!!! laa illaha ilallah …………… i love dzikrulloh

  43. jika kita saling berdebat, takkan ada habisnya.
    jadilah seorang muslim yg menghargai satu sama lain.
    selama tidak melenceng dari apa yg d ajarkan Rasulullah, Al-Qur`an dan hadist.

  44. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Islam adalah agama Rahmatan Lil’alamin…. kebenaran ada pada Al-qur’an dan hadist, kesesatan adalah Syaitan,

    berdebatan tanpa dasar dan pendalaman ilmu hanya akan memecah belah kaum Muslim.

    Rasulullah tidak pernah mengajarkan untuk saling hujat, atau menghakimi dengan manjatuhkan vonis yang tidak berdasarkan akan hukum syariat… Justru Rasulullah menghormati seperti ketika beliau bertanya kepada seorang Jahudi… “Kenapa melakukan puasa pada tanggal 10 Muharram? Jahudi menjawab… sebab kami menghormati Nabi Musa AS yang telah berhasil mengalahkan Fir’aun. Pada tanggal 10 Muharam, ya pada tanggal itu lautan menjadi terbelah oelh tongkat Nabi Musa as.

    untuk itu cobalah kita baca, mengerti dan pahami dulu Al-quran dan hadist, dan kemudian pelajari juga ilmu-ilmu yang lain, sesungguhnya Rasul juga menyarankan kita untuk menuntut Ilmu sampai ke Negeri China…

    Apa gunanya perdebatan tanpa ujung, jika masing masing mengaku bahwa dirinya adalah benar.. sebab kebenaran itu hanyalah milik Allah SWT…..

    Semua manusia punya Hak untuk mengemukakan pendapatnya, akan tetapi tanpa dasar dasar yang jelas, sahih dan kongkrit apakah apakah bisa menjadi pedoman untuk yang lain…

    Cobalah … !!! kita umat Islam …. Benarkanlah bila hakikatnya itu benar…. Allahu allam….

    Billahi fie sabillil haq
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  45. ass.wr.wb. prmisi… ane cma m0 blg ‘ air beriak tnda tak dalm’. tlg d trjmah ya… , buat para syeikh2 yg slg mnghna,

    • Tentu juga berlaku buat anda, atau selain anda?

  46. ups

  47. jadi inget cerita srigala NGga SAMPE AMBIL BUAH APEL DIPOHON..

    DIA BILANG SAMA SEMUA BINATANG APEL PAHIT, APEL PAHIT, APEL PAHIT.
    QIQIQI

  48. JADILAH MUSLIM YANG RAHMATAN LIL’ALAMIIN.
    JANGAN NGAKU MISLIM TAPI ” ??????
    QIQIQI

    قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ
    الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ
    مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

    (صحيح البخاري)

    Sabda Rasulullah saw :
    “Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang
    mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram
    sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

  49. yang betul kita sama-sama menyembah allah swt.hakekat itu di capai oleh seseorang yang sudah faham betul syariat.jadi,orang awam cukuplah dengan tahu ilmu syariat dan mengamalkan-nya.hakekat berilmu adalah tahu ilmu dan mengamalkan.muskipun orang itu masuk salafi kalau hatinya jatuh ke jurang syetan tak ada bedanya dengan fasik.jurang syetan bermacam-macam:mulai ingkar ayat allah hingga terjebak ilmu hakekat palsu.ibnu umar zuhud tapi masih berdagang dan sebagainya.sebenarnya orang di sebut waliyullah jika benar-benar mendalami ilmu islam dari kulit hinggga isinya dan menggenggamnya kuat-kuat hingga akhir hayat

  50. tasawuf adalah Ilmu yang membentuk kepribadian diri kepada allah..sangat membingungkan atau bahkan bisa tersesat jika di lihat dengan hati / ilmu yang sempit hanya allah yang mampu membimbing umat secara naluriah. namun secarah lahiriah kita dibimbing oleh alquran dan al-hadits..jauh sebelum rasulullah lahir hal ini pernah di lakukan oleh nabi khidir As..Sehingga kita dapat melihat dari sisi yang di liputi oleh orang2 yang merasa dirinya benar..terkadang ilmu allah tidak dapat dimengerti oleh kita selaku hamba nya..karena allah maha berkehendak..ia dapat membenarkan orang yang merasa salah dan menyalahkan orang yang merasa benar..karena setiap apa pun tindakan/perbuatan yang kita lakukan belum tentu diterima oleh allah swt..ingatkah kita pada peristiwa bertemunya Nabi Musa dan Nabi Khidir..terkadang ilmu yang diajarkan oleh nabi khidir tidak dapat diterima oleh fikiran nabi musa..hanya allah lah yang maha mengetahui dan mengasihi setiap perbuatan dan tingkah laku manusia..sedangan rasulullah saw..telah menerangkan kepada umat secara terang2an sebelum beliau wafat..bahwasanya suatu saat ketika Islam berkembang seiring berkurang nya umur dunia..islam akan saling beradu argumen namun hal ini tidak lah mulia jika kita menyikapi nya dengan brutal dan saling menyalahkan apalagi menjelek2kan..
    wassalam

  51. inti dari smua hanya mengajarkan kita untuk berbuat “BAIK”,,,,, KARENA KEBAIKAN ITULAH MAKNA DARI SEGALA AJARAN,,,,, KARENA BAIK ITULAH ISLAM,,,,,
    MENGAP[A KITA SLALU SAJA SIBUK MENCARI PERBEDAAN BILA MENCARI PERSAMAAN ITU INDAH,,,,,

    M’V SAUDARA KU KALAU AKU SALAH….

  52. Wahai engkau yang tertipu dengan kesesatan wahabi, dan mencela para pengamal Tasawuf. tahukah engkau pencelaanmu terhadap orang-orang yg dekat hatinya kepad Allah (muqorrobin) tidaklah menurunkan derajat kemuliannya disisi Allah. bahkan engkau yang terhijab hati (buta hakikat) tentang ajaran islam yg sesungguhnya dan merasa benar dengan pendapatmu juga tidak akan menembah kemulianmu disi Allah. Allah akan perlihatkan hakikat kebenaran ketika semuanya sudah kembali dihadirat Allah kelak di hari akhir.

  53. Siapa yang mendustakan ajaran tasawuf bukan berasal dari Rasulullah hanyalah orang awam yang tidak mengerti hakikat islam yang sebenarnya, karena kedangkalan ilmu semata-mata. Berapa banyak orang berilmu terfitnah karena ilmunya dan merasa dirinya benar (itulah hakikat kesombongan yang sebenarnya). Janganlah engkau wahai orang awam mengikuti suatu pendapat yang engkau tidak punya pengetahuan tentangnya. Lantas engkau mendustakan kebenaran lantaran kejahilanmu. sungguh Allah akan meminta pertanggungjawabanmu terhadap apa yang engkau ikuti. Alangkah eloknya kamu yang tidak mengerti tentang suatu masalah, diam tidak komentar (karena diam itu adalah separuh agama) dan memohon petunjuk Allah semoga diberi jalan yang lurus.

  54. Orang yang terhijab hatinya kepada Allah tidak akan mengerti hakikat kebenaran. Ia hanya menyangka-nyangka saja tentang suatu itu benar atau tidak. bahkan pengetahuan yang ia miliki seolah-olah merupakan petunjuk dari Allah, padahal berapa banyak orang yang tersesat jalannya karena merasa memiliki ilmu yang orang lain tidak memilikinya. Sungguh sejauh-jauhnya orang dari Allah adalah yang merasa ta’jub dengan ilmu yang dimilikinya. Kesombongan itu tidak akan pernah disadari oleh orang yang jahil terhadap Allah. Hanya para sufilah yang sangat mengerti tentang ajaran islam yang dibawa oleh baginda rosulullah SAW. Wahai para penentang ajaran tasawuf baiknya engkau kaji dulu ajaran tersebut kepada Ahlinya. jangan engkau ambil pelajaran tersebut kepada orang yang picik akalnya dan diputi kebencian. wallahu A’lam.

  55. Syariat Tanpa Tassawuf KOSONG,
    Tassawuf Tanpa Syariat PALSU

    • Barangsiapa mengambil syari’at belaka tanpa hakikat, maka ia fasik; dan barangsiapa mengambil hakikat belaka tanpa syari’at, maka ia kafir zindik.

  56. Entah seperti apa kami dicaci maki. Aku mungkin tidak sebaik para sufi yang teguh memegang agamanya. Tapi aku mencintainya. Aku belum bisa sebaik mereka. Mereka orang-orang yang memelihara jiwanya. Menjauhkan hatinya dari segala yang bisa menyesatkannya, yang menjauhkannya dari Rabbnya. Rabbku mendengar kata-kataku. Aku terbantai di dunia ini oleh nafsuku sendiri, terombang-ambing, aku tak teguh. Hanyalah Allah yang senantiasa membimbingku, menuntunku, menunjukkan kembali jalanNya setelah setelah aku berkali-kali tidak menunjukkan sifat kehambaan padaNya. Aku puaskan diriku dengan nafsuku. Hanyalah Allah Rabbku, yang sebenar-benarnya. Kasih sayang yang teramat luas dariNya. Allah…

  57. ha…ha..ha…udah perang aja wahabi dan sufi….rame kali kaya zaman ali dan usman,ntar ya menang tak kasih susu spuasnya

  58. uaaaah….katanya tuhan maha pengampun,adil.penyayang.welas asih…..knpa ada neraka?brarti tuhan maha kejam dong?apalg kalian pd rebutan neraka,.apa kalian pd betah disana?

  59. bagi saya perbedaan pendapat adalah karunia Allah SWT karena akal pikiran dan pengetahuan yang kita miliki adalah karena kemurahan Allah SWT..berbeda pendapat bolehsaja,mempertahankan argumen dan keyakinan sah-sah saja benar dan salah tergantung keyakinan masing-masing YANG HAQ HANYA ALLAH SWT

    • tk boleh saling mengkafirkan pokok pangkal kembali ke alqur an dan hadist..

  60. salut buat comment Zhellavie, yang tidak menyalahkan salah satu pihak…coba yg mengaku wahabi dipikirkan lagi hujatan hujatannya…smoga kita saling membina ukhuwah islamiah..

  61. wah., sufi iku zuhud loh., dcap sesat

  62. Nabi yg juga rasul pembawa risalah yg telah lengkap dan sempurna… maka sbg umatnya kita seharusnya hanya meniru risalah berupa apa2 yg telah dibawanya, baik dlm hal ucapan, perbuatan maupun istilah2 dlm agama ini .. sekali agi yg telah sempurna.. tdk perlu ditambah atau dikurangi..yg ada setelah itu maka. perlu dipertanyakan..ikutilah contoh manusia yg dijamin surga…bknkah manusia memeluk agama berharap surga…

  63. maaf.. Menurutku hanya jibril, satu satunya saksi kunci atas keaslian ajaran rosulullah. Tolong aku ditunjukan rahasia jibril. DIMANA DAN SEDANG APA JIBRIL SEKARANG? LEBIH DULU MANA ALLAH MENGGELARI RUKHUL QUDUS ATAU RUKHUL AMIN?. allah jelas adil thdap setiap generasi. Ataukah jibril tugasnya sudah selesai dan hanya sujud saja tanpa menyampaikan kebenaran ajaran thdap makhluq allah (firqoh najiyah/thoifah mansuroh/assunah). Suwon.. mas.. Broo

  64. kabeh kok seneng ngafirne marang liyane padahal kafirnya sendiri gak diliat (karena nuruti hawa nafsunya sendiri)

  65. buat mas decrates:
    ciri-ciri penduduk sorga itu akhlaknya baik, (sikapnya, ucapanya/tutur katanya, tingkah lakunnya)
    karena di surga g ada yg namanya sifat2 buruk

    klo liat cara penyampaian mas decrates ini….
    saya doakan sampean masuk surga mas. (mohon teman2 yg lain mengaminkan)

    • Cocok… tapi saya do’akan semoga mas decrates diampuni dosanya.
      Dan di buka kan mata hati nya supaya bisa menerima petunjuk-Nya.. amin

  66. klo ada pendapat tasawuf identik dengan tidak bekerja/kemalasan
    itu juga tidak sepenuhnya benar
    masalah mau kaya, atau miskin. itu adalah pilihan,
    memilih untuk kaya boleh
    memilih menjadi miskin juga boleh
    sebab di Al-Qur’an sendiri tidak ada ayat satupun yg melarang untuk menjadi kaya, atau larangan untuk memilih miskin
    yg ada hanya larangan cinta dunia (ini yg ditanamkan di tasawuf)

    carilah dunia seakan-akan engkau hidup selamanya
    sebaliknya
    carilah akherat seakan-akan engkau mati esok hari

    sehingga ada keseimbangan disini

    klo masih ada yg bingung, contoh cinta dunia itu seperti apa?
    sibuk mengurusi pekerjaan, hingga lalai tidak mengerjakan kewajiban sholat
    sibuk mengumpulkan harta, namun lupa mengeluarkan sebagian harta
    sibuk mengumpulkan ini, itu dan lupa, klo kita hidup hanya sementara. dan lain sebagainya

  67. Klu pkiran kita goncang., jgan trllu di pkirkan.. Kita Kembali ja KE syari,at..?
    smga Kita Trmsuk Orng Yg Bruntung & semga kit di beri jalan sirotol mussthakim.?amiin

    • Simpel saja, Tinggalkan yang dilarang-Nya, Turuti perintah-Nya, selesai.

      • Kalau antum semua berdebat tanpa dilandasi ilmu sama saja antum semua golongan syaitan, beramal tanpa ilmu tidak akan diterima amalan tersebut.

  68. sesungguh nya tasawuf ato mari’fat, ada yg femahaman nya kurang,ada jg yg fmahaman nya haq.bnyk jg org tasawuf sesat. . Mnampakan wajahnya yg batin sbgai tuhan. . Itu jelas sesat! Itu bukan ajaran tasawuf yg haq! Tp ga smua tasawuf sesat! Sbnarnya ajaran tasawuf yg haq itu adalah. . Kta serahkan diri kta hanya karna allah. .melakukan syariat dan hakikat yg haq.jngn ada pengakuan kta lg,bagai kn org ria dan sombong,tiada kesanggupan bgi manusia melakukan sesuatu,smua itu smata2 krna allah. Yg datang baik2 dari pda allah,yg datang buruk2 dari pd syetan dan hawa nafsu.jd org2 tasawuf yg haq,mreka dapat membedakan itu dngan teliti.dan tdk pernah trjebak dlm syetan n hwa nafsu.mkash

  69. kta ibnul abaz kepada rasullah: wahai junjungan ku apa jua kah yg mula2 d ciptakan allah s.w.t.sabda rasullah:bahwa allah menciptakan dari sgala sesuatu melalui nur nabi engkau. Kta abu bakar : wahai rasullah hamba ini hanyalah seperti mayat berjalan.yg penuh sesat,hanya engkau lah petunjuk jalan ku. . Menghindar kan aq dri kesesatan dunia. Kata abu yajid al bustami: aku kenal dirinNYa melalui diriku maka aku hancur(fana)kemudian aku mengenal diriNYa melalui diriNYa maka aku hidup(hayat) pahami kta2 abu yajid dngan baik,bhwa disana d trangkan,kta takan pernah mampu mengenal allah.tp melalui ilmu nya kta bisa mengenal allah. . Amin! Aq sudah brtemu dngn allah,aq membenar kn adanya allah,tp aku tdk sesekali me akui diri ku allah,melain aku membenar kn ada nya allah.dimana aku bertemu allah? Goib didalam goib.kta membenar kn ayat? Qul hu allah hu ahad.aku tidak beranak dan tidak d peranakan.tidak ku ciptakan jin dan manusia,yg arti disini jin dan manusia tidak ada.melainkan hanya satu dirinya,aku yg mencinta dan aku jua yg dicintai,aku yg menyembh dan aku jua yg d sembah,aku yg sholat dan aku jua yg d sholat kan,aku yg berzakat dan aku jua yg menerima zakat itu.aku yg membuat syorga dan aku pula yg masuk dlam syorga itu.maka siapa yg memahami kta2 d atas ahli syorga lah ia. . Mka kalo tidak memahami kta2 trsebut. . Hijab lah yg berlaku. . Makasih inilah faham ku trhadap dunia al quran dan hadis,ma’rifat,tasawuf,fiqih,tauhid,syaraf dan nawhu makash

  70. Assalaamu’alaikum..innalillaahi wainna ilaihi rooji’un,,bicaranya pd pakai nafsu. Maasya Allooh, padahal ajaran Islam itu sudah jelas dan gamblang..tinggal sedalam apa keilmuan kita untuk memahami ajarannya. Semua tatalaku dan prilaku kehidupan kita semua sudah ada aturannya, bahkan untuk urusan yg kecil-kecil seperti buang hajat saja sudah ada tuntunannya, tidak perlu dilebih-lebihkan..tidak perlu dikurang-kurangi. Islam itu agama yg sudah lengkap, sudah sempuran, rahmatan lil’alamiin..tinggal bagaimana pemahaman kita saja, sehingga kita diwajibkan untuk terus belajar..belajar..selama masih berumur. Wassalaamu’alaikum

  71. “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya maka sungguh dia telah berbuat sesat, dengan kesesatan yang nyata.”
    (Q.S Al-Ahzab [33]: 36)

  72. قال الله تعالى: {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَومِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً} [النساء: 59] .

    ”Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa : 59)

  73. jika kita berlainan pendapat tentang agama ini disuruh kembali kepada al-quran dan sunnah, itu pun jika kamu benar-benar beriman kepada Allah, mengapa demikian? karena itulah yang paling utama dan yang paling baik akibatnya…, selain itu pasti tidak utama dan pasti jelek akibatnya…tuuhh contohnya diatas pada bedebat..tapi nggak pakai juknis ( petunjuk teknis ) yang ditetapkan oleh Allah …..makanya KACAU..di lanjut…..

  74. Aslmu’alikm ww,maf sdra2… Sya rsa klian yg brdbat dsini hny beda dlm sdut pandang sja,krn mnrut sya landasn yg klian kdpankn sma2 bnr dn kuat,ltak prbdaany adlh dlm pmahamn ja yaitu bgi pra sufi,dia lbh mgedpnkan kajian dlm stiap isi yg trkndug dlm alqur’an dn hadist,dia lbh mgutamakn hakikat (rahasia sbnrny) shgga dg bgtu dia mpnyai iman yg tagguh trhdp ALLAH SWT krn dia mrsa sngt dkat dg ALLAH SWT,mlah lbh dkt dr urat nadi yg da di leherny dn tu ssuai dg firman AllAH SWT yg artiny:sesugguhny Aku sngt dkt dg mu mlbihi urat nadi di leher mu…! Ilmu para sufi lbh mrsap kehati shgga mnjdikn hatiny sngt brsih dn snsitif trhdp hal2 gaib…,sedagkn para pnentang sufi nih,dia hny mgutamakn” mghafal”
    tnpa mresapi isi dr alqur’an dn hdist shgga tigkat ilmuny hny stigkat syri’at atau mghafal dn mlihat smua yg tmpak dg mta kplany sja,dn ilmuny kbnyak hny brda di kpalany doang,dn imany pun kbnyakn sbtas logika dn seolah sulit mnrima hal2 ghaib yg tmpak olh mtany shgga dia mnybut hal2 ghaib tu hal yg aneh bginy.Sedagk islam tlh mwjibkn pd qta ntk briman dg sgla yg ghoib !
    Lagian,amalan yg di prdbatkn tu hkumny adlh sunah,bkn wjib… Hny amalan2 wajib yg di hramkn ntk mnbah dn mguraginy.Cntohny:dzikir yg di prdbatkn dsni…,bknkh hkumny sunah ? bkankh qta bleh mlkukny dlm keadan pa pun slgi suci dn sadar ? Lalu knp ats dsr ini pra sufi di ktakn sesat ?

  75. mampir juga kesini ya gan :
    #Bag I

    #Bag II

    #Bag III

  76. Assalamualaikum.

  77. ijin coppy ya gan ?

  78. “coba jelaskan ayat ini,,
    1.wahuwa ma’akum ainama kuntum(dan dia bersamamu dimanapun kamu berada)
    2.inna lillahi wa inna ilaihi roji’un(sesungguhnya kita semua milik alloh dan akan kembali kepadaNYA)

    Dan masih banyak ayat2 yang mengarah kepada hakekat,kira2 yang kembali kepada alloh apakah jasad,ataukah ruh,,dan ruh yang penuh iri dengki dan nafsu ini apakah bisa kembali ke dzat yang suci,,masih panjang perjalanan ruh untuk kembali kepada pemiliknya,karena pasti stelah surga dan neraka,karena yang kekal adalah alloh,surga dan neraka di buat kekal olehNya,,….karena alloh al awwalu al akhiru,

    “dan dalam perjalanan para nabi dan rosul akan menemui yang namanya hakekat,begitupula nabi muhammad saw,,.sekarang hakekat itu apa?
    -tak ada yang tahu selain orang itu telah sampai,sebagaimana nabi musa yg tidak sanggup menimba ilmu pada ahli hakekat(surat al kahfi),
    -syariat dan hakekat haruslah berjalan bersama,di sebut jeruk haruslah memiliki bentuk dan rasa jeruk,…dan hakekat adalah ilmu tertinggi karena menyangkut kebenaran yang sejati,,,hakekat itu letaknya ada di rasa hati,.dan zuhud itu bukan berarti meninggalkan dunia,tapi dunia jangan sampai masuk kedalam hati,oleh sebab itu nabi sulaiman di sebut rajanya zuhud,..karena ktika manusia mendapat harta dunia kebanyakan lupa.

    • Dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa ketika Rasulullah
      Shalallahu’alaihi wassalam ditimpa penyakit yang menyebabkan kematiannya,
      beliau berkata kepada Fathimah radhiallahu’anha:
      *Fattaqillaaha washbirii fainnahu ni’massalafu ana laki*
      “Bertakwalah kepada Allah (wahai Fathimah) dan bersabarlah. Dan aku adalah
      sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu” (HR Muslim bab Fadhail Fathimah juz 2
      hadits no 98, 2450)

  79. Pmaparan di ats tntang sufi dn tasawuf adlh bnar…ykni benar2 fitnah yg sngat keji. Hnya da satu jlan buat antum spy slmat..yaitu TAUBAT !!!

    • iBLIS MEMMINTA ADAM UNTUK TAUBAT…..
      GO TO HELL

  80. “syariat dan hakekat..

    Atas,bawah,utara,timur,selatan,..itu adalah benar

    Namun bicara hakekat utara,barat,timur,atas.bwah dll tidak ada,karena menyangkut alam semesta.

    “yang ahli syariat maka harus melaksanakan peraturan secara syariat
    “yang ahli hakekat harus tetap berpegang pada syariat

    “ingat jika keberadaan ahli hakekat tidak dapat dipungkiri,alloh sendiri menjelaskan pada alquran ketika nabi musa as dipertemukannya.

    “dari penjelasan alloh tersebut dapat diambil kesimpulan;
    1.syariat adalah peraturan dan hukum-hukum yang diturunkan melalui wahyu dan diperuntukkan bagi manusia pada umumnya
    “hakekat:adalah ilmu rahasia kusus yang diberikan kepada manusia,yaitu peraturan yang harus di jalankannya melalui ilham di hatinya.
    “ingat kisah perjalan lebah,alloh yang mengilhamkan kepada lebah untuk membuat sarang,ini juga berlaku pada semua binatang..
    “dan ahli hakekat ini ibarat seekor lebah,yang mendapat ilham karena kebersihan hatinya

    “saya tidak mau berdebat,ini hanya skedar pmahaman,smoga sdkit mmbantu.

  81. Wahai para pengikut SUFI TASSAWUF alias PELAKU BID’AH, ADAKAH STEMPEL SYURGA DI TANGAN KALIAN???, yang memberi gambaran dan tatacara beribadah yang tidak pernah diajarkan oleh RASULULLAH SAW….

  82. Wahai para pengikut SUFI TASSAWUF alias PELAKU BID’AH, ADAKAH STEMPEL SYURGA DI TANGAN KALIAN???, yang memberi gambaran dan tatacara beribadah yang tidak pernah diajarkan oleh RASULULLAH SAW…., wahyu dari mana datang kepada kalian, sehingga kalian berani membuat aturan2 baru yang tidak datang dari ALLAH SWT dan Rasul-NYA, ibadah yang kalian lakukan kalian dapatkan dari mimpi2 yang tidak jelas dalilnya datang darimana, dalam beribadah harus ada dalil dahulu beru mengerjakannya, bukan mengerjakannya atas dasar hawa nafsu dan logika pikiran manusia baru mencari2 dalil, itulah sikap dan tingkah para PELAKU BID’AH, mereka tidak mau belajar dan tidak mau mengakui kesalahan2 tatacara ibadah mereka.

  83. Imam Assyafi’i dengan jelas mengatakan: Barang siapa yang menjadi sufi di pagi hari, maka sebelum dhuhur dia seperti orang dungu, dan barang siapa yang menjadi sufi selama 40 hari, maka jangan harap akal dan pikirannya menjadi normal kembali. Coba saja perhatikan pengikut2 sufi kebanyakan orang2 yang malas, kumuh, lusuh, lemah, dan tidak mau berusaha, kebanyakan menerima hidup ini apa adanya. Bahkan setelah beberapa waktu mengikuti aliran sufi menjadi gila dan bahkan ada yang bunuh diri. Semoga kita semua mendapat hidayah dari ALLAH SWT.

  84. forum ini hanya ingin membuat kalian di adu domba. bnyk jin kafirnye..kabur..
    semoga Alah SWT memberimu afiyah..

  85. cmn ALLAH swt yg maha tahu segalanya akan kebenaran yg sesungguhnya …sdah 1400 tahun wafatnya nabi saw ingat itu!!,mari kt berlomba lomba dalam kebenaran yg kt yakini,biar ALLAH yg menilai kt semua…

    • klo sy lihat2 om wahap lebih tidak objective dlm berpendapat,cenderung emosional,, klo mmg om wahap merasa lebih baik, (padahal om sawuf sdh berusaha jadi baik) apakah tidak lebih baik lagi membuktikan teorynya, misal; klo gak mau bid’ah klo naek haji berangkatnya pake onta,, gmn om?? Mampu gak??? Nih misal nih?? Org kan pikiran simple aja” klo berteory kan menemukan hasil,,sbgmn agama tujuan spyn kan memperingatkan jika ada yg tidak sesuai ato bahkan bertentangan apakah gak diingatkan baik2 dan sopan,,kok tambah mengkafir2kan begitu,,emang spyn tau?? Dlm hati seseorang?? Dia nyembah allah atau nyembah duit(berhala zaman modern??? Tentu saja sy yakin om wahap hy menebak sembarangan/ngawur” maka saran sy tunjukanlah buah dari teory terbaik beragama yg seperti spyn yakini apa itu=aklak saya kira itu PR terberat dalam ujian hidup ini menundukan ego kita agar berserah kepada SANG eGO ALLAH SWT”
      WASSALAM,,

      • Bahasa halusnya antum “kurang paham”, bahasa kasarnya antum “bodoh”. Rasulullah SAW pernah bersabda : Mengenai perihal dunia itu urusan kalian, tapi mengenai syariat, ibadah, halal haram semua tentang agama? Pastilah Rasulullah SAW yang lebih tahu dari pada kita, jangan antum campur adukkan urusan dunia dengan syariat…kalau antum mau naek onta atau naek pesawat untuk haji, itu urusan antum (urusan dunia/transportasi), tapi mengenai rukun haji, jadwal pelaksanaannya, itu sudah ditetapkan dalam agama kita, pahami betul-betul hadist Rasulullah SAW dengan sepaham pahamnya, jangan antum memberi alasan dan teori tapi antum mencampur adukkan urusan dunia dengan syariat.

      • Islam sudah sempurna, tidak perlu ditambah dan tidak perlu dikurangi, pertanyaan buat antum : Menurut antum Agama Islam yang disampaikan oleh Rasulullah SAW sudah sempurna atau belum sempurna? terus menurut antum apakah tatacara ibadah yang dilakukan oleh kaum sufi dengan tasaufnya pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat (para salafusshalih), dari mana ajaran yang dibawa oleh kaum sufi itu? wahyu dari mana datang kepada kaum sufi hingga membuat tatacara baru (bid’ah dalam agama). Catatan tentang bid’ah : Bid’ah yang Rasulullah SAW maksud adalah hal2 yang baru berkaitan dengan agama, bukan yang berkaitan dengan dunia seperti yang antum maksud tentang pergi haji dengan pesawat. Semoga kita semua mendapat Hidayah dan Petunjuk dari ALLAH SWT.

  86. Kalo begini terus islam pasti hancur…
    Allahuakbar…
    Tulisan2 yg memperkeruh keadaan…
    Bid’ah berdakwah lewat internet rosul gak ajarkan…
    Gak akan bwt orang sadar…

  87. Maaf para ustadz, ane orang bodoh coba berbagi info, Tauhid ada tiga macam yaitu: Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Rubbubiyah, dan Tauhid Asma Wassifat. Tauhid Uluhiyyah maknanya adalah Laa Ghayata Ilallah (tidak ada tujuan ibadah kecuali Allah), Laa Hubba Ilallah (tidak ada yang paling wajib dicintai kecuali Allah). Laa Maujuda Ilallah (tidak ada yang hadir di dalam zikir kita kecuali Allah). Laa Maujuda Ilallah (tidak ada yang hadir di dalam zikir dan ibadah mahdhoh kita kecuali Allah). Laa Maujuda Ilallah (tidak ada yang hadir di dalam zikir dan ibadah mahdhoh kita kecuali Allah). Laa Maujuda Ilallah (tidak ada yang hadir di dalam zikir dan ibadah mahdhoh kita kecuali Allah) ini dalam tasawuf disebut maqom fana atau khusyu’ ketika ibadah kepada Allah SWT artinya ketika zikir dan ibadah mahdhoh tidak boleh memikirkan pornografi dll. Kritik Imam Ibnu Taimiyyah kepada sifat wajib 20 karya Imam As’ary juga ada benarnya karena sifat wajib bagi Allah SWT lebih dari itu, contohnya ateis itu juga sifat wajib bagi Allah SWT. Hanya didalam kehidupan kita ketika mencap bid’ah sesuatu/ seseorang harus dengan parameter yang jelas, contoh: ketika seorang ustadz (baik sufi maupun salafi) mentaati rambu-rambu lalu lintas apakah pelakunya disebut bid’ah? serta hukum rambu-rambu lalu lintas yang dilegalkan oleh negara kita dicap sebagai hukum thogut?. Nah semoga ini menjadi bahan renungan kita bersama, saya abid yang bodoh mohon maaf atas semua kesalahan dan kelancangan saya! Marhaban ya Ramadhan!. Woulohualam.

  88. Maaf menurut pendapat saya, orang yang sudah merasakan nikmatnya Laa Maujuda Ilallah (tidak ada yang hadir di dalam zikir dan ibadah mahdhoh kita kecuali Allah) atau di dalam tasawuf disebut maqom fana akan merasakan nikmatnya zikir dan sholat berlama-lama. Inilah maqom tertinggi atau maqom makrifat karena itulah saya tulis diatas dengan berulang-ulang. Orang makrifat tidak akan sedekah karena ingin disebut dermawan, tidaK akan menghafal Al-Qur’an karena ingin disebut qari/ hafidz, dan tidak akan berjihad karena ingin disebut pahlawan. Selain fiqih ada pula fiqih dakwah, kalau fiqih dakwah kita kaji maka kita akan tahu konsep dakwah Nabi Muhammad SAW di priode Mekkah dan Madinah. Sekali lagi saya abid yang bodoh mohon maaf atas semua kesalahan dan kelancangan saya! Marhaban ya Ramadhan!. Woulohualam.

  89. BismIllah..
    Sblumnya maaf klo tulisan ana d bwah ad yg sala..
    Hmm.,rame jg y..
    Gmn klo gini.,kita kuatin dulu filter (iman) yg kita punya.,dgn niat kuat brsungguh sungguh kita plajari Qur’an & Hadist..
    Trus klo udah.,dgn niat baik kita coba masuk k tasawuf.,nah kita saring tu pake filter yg dah kita punya..
    Mana baik kita ambil mana ga baik kita buang..
    Coz Nabi jg mlarang brtikai ssama sodara muslim.,maka sampaikanlah hal yg ga brssuaian antara tasawuf dgn Qur’an & Hadist dgn cara paling baik..
    Trus klo yg sjalan jlas ga ad masala sama skali..
    Untuk yg mndalami tasawuf ana kira sila plajari Qur’an & Hadist dahulu stelah itu sila plajari tasawuf kmudian..
    Maka ana kira damai & sjahteralah muslim d bumi..
    Aamiin.,insyaAllah..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.