51 Comments
Comments RSS TrackBack Identifier URI
| Toni Prastowohadi, S… on Tasawuf dan Bid’ah | |
| anto on Salah Faham tentang Wahab… | |
| Nipa Alam Rumambi on Biografi Syaikh Muhammad bin A… | |
| Nipa Alam Rumambi on Biografi Syaikh Muhammad bin A… | |
| pecinta maulid sampa… on Apa Itu Wahabi |

Biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
51 Comments
Comments RSS TrackBack Identifier URI
| S | M | T | W | T | F | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « May | ||||||
| 1 | 2 | |||||
| 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 |
| 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 |
| 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 |
| 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 |
Ketika seorang itu jahil dalam ilmu agama, akan lebih terhormat jika ia diam tidak ikut campur berbicara masalah-masalah agama, sebab dapat tersesat dan menyesatkan orang banyak.
Tetapi sepertinya hal itu tidak diindahkan oleh Pendiri Sekte Wahhabiyah… kendati dangkal hampir dalam seluruh bidang dan keahlian, -kecuali kealhilan mengafirkan orang lain- ia tetap banyak berbicara… maka ia menjadi dhalla wa adhalla.
Jika biasanya Imam Besar Wahhabi ini mengafirkan kaum Muslimin…. Kini rupanya ia harus mencari sasaran baru…. para Nabi dan Rasul pilihan Allah kini menjadi sasaran pengafirannya dan tuduhan telah musyrik!
Nabi Adam as. kini dituduhnya telah musyrik!! Secara pribadi saya dapat memaklumi mengapa Nabi Adam as. Terjebak dalam nista kemusyrikan tidak lama setelah diturunkan ke bumi bersma istrinya, dan tentunya Iblis juga diusir ke bumi…. pasalnya ketika Adam turun ke bumi tidak ada GURU BESAR PENGAWAL TAUHID MURNI….. KEMUSYRIKAN Nabi Adam as. dikarenakan ia tidak dikawal “Syeikhul Islam” Ibnu Abdil Wahhab, andai sa’at itu beliau didampingi dan dibimbing langsung Sang Pendekar Tauhid dari Padang Pasir Gersang Najd, pastilah ia mampu menghindarkan diri dari kemusyrikan! Minimal itu mungking yang sempat terbesit dalam benak para Wahhabiyyun!!
Mau tau, Fatwa pengafiran Nabi Adam as.? Ikuti data di bawah ini.
Dalam kitab Tauhid-nya, Ibnu Abdil Wahhab menulis sebuah bab dengan judul:
في باب : {فَلَمَّا آتاهُما صالِحاً جَعَلا لَهُ شُرَكاءَ فيما آتاهُما}
Bab “Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu.”
Pada bab itu ia menukil pernyataan Ibnu Hazm yang menekankan bahwa menamakan anak dengan nama yang mengandung penghambaan kepada selain Allah itu adalah syirik, seperti nama Abdu ‘Amr (hamba ‘Amr), Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah) dan semisalnya.
Kemudian ia menyebutkan sebuah kisah yan mencoreng kesucian dan kema’shuman Nabi Adam as. dan Hawwa istrinya. Ia menuduh keduanya telah menyekutukan Allah SWT. Iblis merayu Adam as. dan Hawwa agar menamai anak mereka dengan nama Abdul Hârits, tetapi keduanya menolak rayuan itu. Iblis pun terus menerus merayunya sehingga setelah berkali-kali kematian anak mereka segera setelah lahir, mereka setuju dengan permintaan Iblis untuk menamai anak mereka dengan nama Abdul Hârits demi kecintaan mereka kepada putra mereka yan baru saja lahir. Apa yang dilakukan Adam dan Hawwa adalah yang dimaksud dengan firman Allah SWT.: “… maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu.” (QS. Al A’raf [7]: 190).
(Hadis riwayat Ibnu Abi Hâtim) (baca Kitab at Tauhid –dengan syarah Fathu al Majîd oleh Syeikh Abdur Rahman Âlu Syeikh-: 444. Dar al Kotob)
Hadis/riwayat di atas adalah hadis palsu yang kebatilannya telah nyata bagi pelajar pemula dalam ilmu hadis.
Pada kesempatan ini saya akan membuktikan kepalsuannya dari pernyataan Ibnu Hazm –yang tak henti-hentinya dikultuskan dan dibanggakan kaum Wahhabi, bahkan oleh Ibnu Abdil Wahhab sendiri termasuk dalam bab ini-. Ibnu Hazm berkata:
Kemusyrikan yang mereka nisbatkan kepada Adam bahwa beliau menamai anaknya dengan nama Abdul Hârits adalah kisah khurafat, maudhûah/palsu dan makdzûbah/kebohongan, produk orang yang tidak beragama dan tidak punya rasa malu. Sanadnya sama sekali tidak shahih. Ayat itu turun untuk kaum Musryikin. (Baca Fathu al Majîd Syarah kitab at Tauhid:442).
Kisah itu kendati diatas namakan Ibnu Abbas ra. akan tetapi dapat dipastikan bahwa ia adalah hasil bualan kaum Ahli Kitab (Yahudi & Nashrani).
Coba Anda renungkan baik-baik, bagaimana Syeikh Ibnu Abdil Wahhab dalam kitab at-Tauhid yang kecil itu yang ia karang untuk menetapkan hak Allah atas hamba-hamba-Nya, ternyata ia hanya mampu menegakkan konsep Tauhidnya di atas pondasi hadis palsu. Inilah kadar ilmu Imam Wahhabi yang dibanggakan para pemujanya sebagai sang Imam yang akan mengawal perjalanan ajaran Tauhid Murni dari kemusyrikan! Dan yang akan membentengi Tauhid dari mekusyrikan!
Subhanallah, kalau ternyata kemampuan ilmu dan penguasan disiplin ilmu Hadis Imam mereka sedangkal itu, apa bayangan kita kadar ilmu murid-murid dan para pengikutnya. Atau boleh jadi sekarang pengikutnya lebih pandai dari imamnya! Sebab mereka hidup di era dan zaman yang berbeda dengan zaman Syeikh Ibnu Abdul Wahhab … di mana keterbukaan informasi sudah sedemikian rupa…. mereka pasti memiliki kesempatan menghimpun banyak informasi dan ilmu pengetahuan lebih dari para pendahulunya, apalagi setelah kekayaan umat Islam mereka kuasai … hanya saja yang tetap mencerminkan keterbelakangan dan ketertingalan adalah cara berpikir mereka …. masih tetap seperti zaman padang pasir gersang Najd tiga abad silam ketika awal Syeikh Ibnu Abdil Wahhab pertama kali memecah keheningan dunia Islam, khususnya negeri Hijâz dengan pekikan seruannya yang memporak-porandakan kesatuan umat Islam dan membuat kaum Muslimin tersibukkan oleh hujatan-hujatan murahan Syeikh dari mempertahankan tanah air kaum Muslimin dari gerombolan srigala buas dari tanah Eropa yang datang mencabik-cabik kekuatan umat Islam dan menancapkan kuku-kuku penjajahan mereka.
assalamualaikum:
ternyata kalian lah orang2 yang menjelek2kan kaumnya sendiri.
Muhammad bin abdul wahab adalah Ulama Salaf dg pemahaman Salafus Shalih
dan kalianlah orang2 berakal yg mengakali nahwu dlm memaknakan suatu penafsiran,
semoga Allah memberikan kalian hidayahNya.
Amin
Ziarah kubur sirik,maulid nabi bid’ah tapi ulang tahun mereka dirayain nanggap penyanyi amrik,ane bingung,apakah semua bid’ah itu dosa
mengakui kebenaran dan mencari kebenaran Nya agar benar .
subhanallah…janganlah antum menghujat mencela ataupun merendahkan seseorang apalagi orang2 yang berilmu kalau antum belum mengenal atau belum tahu atau baru tahu setengah2, karena kalau antum masih seperti itu maka antum akan menebar fitnah atau tuduhan itu akan kembali kepada antum sendiri…lebih baik kita diam kalau kita tidak tahu daripada kita berkomentar tapi salah,orang akan tahu sejauh mana keilmuan kita oleh karena itu ana bernasihat terutama untuk ana sendiri untuk jangan suka mencela tapi jadikan perbedaan pendapat itu hal yang biasa karena kita hanya seorang manusia biasa….semoga Allah Azza wa Jalla senantiasa memberi hidayah kepada kita semua…amien
sabaaar yaaa.. tolong telaah dan pelajari (perbanyak referensi) lagi tentang ulama yg bersangkutan beserta rangkaian fatwa2 yang lainnya. kalau ada perbedaan itu biasa saja kalau anda berbeda pendapat silahkan. jangan malah balik menghujat yang itu belum tentu kebenarannya. semua pendapat itu boleh ditolak terkecuali Nabi Muhammad SAW.
semoga Allah mengampuni segala dosa yang kita sadari maupun tidak. amien
Assalamu alaikum,
Sy hendak mengingatkan kepada anda dan semua orang yg mencela Syaikh Ibn Wahhab.
Ketika anda dengan seenaknya saja menukil dari Kita Fathul Majid, karya Syaikh Abd.Rahman Alu Syaikh – beliau rahimahullah dibunuh dgn keji oleh pemimpin zhalim akibat dakwah tauhid beliau, sementara anda dan gol. anda, membalikan fakta, dgn mengumbar bahwa pengikut syaikh, membantai orang-orang..!!
Menurut sy baca dulu atau tulis dengan tuntas sehingga jelas duduk perkaranya.
Katanya wahabi pembenci ahlul bait..(katanya)
buktinya di Saudi yg “wahabi”itu ahlul bait (di Saudi paling banyak ahlu bait) mendapat tempat terhormat di sana.
Di Saudi, syariat Islam ditegakkan dgn baik, orang ibadah Haji nyaman, … bandingkan dgn Yaman yg katanya negri waliyullah itu..!!
Katanya Wahabi benci sm orang shalih, makanya kubah2 maka wali di rubuhkan…
Padahal Nabi sendiri jelas2 melarang makamnya dijadikan tempat perayaan.
Katanya yg anti wahabi ketika tawasul minta berkah kekuburan, bilangnya :
“Kami gak nyembah mereka, tp kami bertawasul supaya mereka (waliyullah) itu mendekatkan dan menyampaikan hajat kalian kepada Allah, sebab Raja aja gak mungkin bisa ditemuin langsung palagi Allah..!”
Jawab anda dan gol.anda yg benci akan dakwahnya Syaikh Ibn Wahhab dah dijawab sama Allah azza wa jalla langsung.. nih.:
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Surat Az Zumar 39 : 3)
Kalian bilang syaikh Ibn Wahhab pandainya hanya mengkafirkan orang, karena orang itu menyeru kepada Habib, atau Waliyullah ketika dalam bahaya, ..
Sebelum Syaikh menjawab, Rabb nya Syaikh Ibn Wahhab dah menjawab :
Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (Red : Memurnikan ketaatan semata-mata hanya kepada Allah); maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (Surat Al ‘Ankabut 29 : 65)
Nah menurut anda mana yg bego, guru-guru anda yg menyesatkan itu atau Syaikh Ibn Wahhab yg menjawab kesesatan kalian dengan ayat-ayat al qur-an dan hadits2 yg shahih..???
Dan Wahhabi itu berasal dari Wahhab (Yg Maha Memberi), syaikh tidak menisbatkan nama itu kepada dirinya tetapi kalian yg menyematkannnya kepada beliau.
Dan itu benar, karena Syaikh Ibn Wahhab membela hak-hak Al Wahhab.
stju ama mas petruk…..
@ habibullah
tidak ada dalam kitab Fathul Majid bab seperti itu. jadi jangan mengada-adakan kedustaan sana sini
orang2 wahabi berbangga hati dgn ilmu .merasa paling benar dsb..mereka mengutamakan akal fikiran ketimbang berharap hidayah.dan mereka lupa diahir jaman dajal akan turun setelah fitnah memasuki pintu-pintu rumah orang arab.kita tahu faham wahabi menebar fitnah untuk kaum muslimin. menyakiti perasaan kaum mvslimin .dan faham itu di anut oleh penduduk arab.mereka menganggap saudara seiman pantas untuk di hujat .dan bermesraan dgn kapir yahudi
.
hai wahabi negri mana yg telah kau ìslamkan???((jawabanya pasti tdk ada.)..
hai wahabi negri mana yg tlh kau pecah belah??(jawabanya pasti banyak-indonesia salah satunya)
hai wahabi dari mana anda dapat dana untuk dakwah wahabisme(jawabanya pasti dari arab saudi.
hai wahabi siapa arab saudi?(jawabannya pasti sahabat negri yahudi.amerika sibiang laknat)
………..kamu seperti anak panah yahudi.
Ingatlah saudaraku semua perbuatan dan ucapan akan dihisab Oleh Allah Subhanahu Wata’ala,antum dapat mempertanggung jawabkan ucapan antum tsb??
jangan sakit hati maaf.
Apakah golongan yang mengajak kembali kepada Al-Quran dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman Rasulullah dan para sahabat ‘Engkau anggap memecah belahkan ummat?’ SUNGGUH RASULULLAH shallallahu alaihi wasallam di awal dakwah nya pun telah di tuduh pemecah belah kaum.
Tentang SAUDI: SAUDI adalah tanah yang di sucikan Allah,Dajjal tidak memasuki dua tanah suci d saudi( Makkah & Madinah)
jika engkau seorang yang beriman katakan adakah negeri yang lebih baik dari ARAB SAUDI?
berhati-hatilah terhadap lisan.jangan asal bicara,FAS ALU AHLAZZIKRI INKUNTUM LAA TA’LAMUUN!!!
Ahli Bid’ah tidak kan mampu memadamkan cahaya Sunnah selamanya,Karena Allah akan memenangkannya.
Assalaamu’alaykum…
Akhi, awas tertipu dengan slogan kembali kpd al-qur’an dan sunnah serta pemurnian tauhid. Di bungkus indahnya kata-kata pemahaman salaf al-shalih,…
Padahal ada upaya sietematis utk mengajak kaum muslimin menjauhi ulama” mu’tabar secara bertahap, dan mengajak kepada pemahaman baru yg asing, yg tidak di kenal oleh ulama” dahulu.
Agama ini sudah sempurna, telah diajarkan rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kpd murid2nya yakni para shahabat r.hum. kemudian di wariskan lagi kpd para tabi’in, tabi’ut tabi’in terus kpd ulama” sampai ke guru2 kita. Sehingga ada tradisi intelektual yakni sanad bersambung tentang ilmu agama ini dpt ditelusuri sampai kepada baginda shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sudah di bukukukan secara utuh, lengkap, komplit sampai sekarang. Tidak ada yg di tambah dan di kurangi, dan Allah menjaga semua ini sampai hari kiamat. Kalau ada yg salah dari amalan2 yg kita kenal hari ini, sudah di coret oleh para ulama, semenjak dulu.
Sehingga muncullah, pemahaman baru yg ingin menggeser pemahaman ulama” dahulu yg telah di ketahui, di teliti keabsahan, ke-shohih-an kitab”nya, para imam madzhab rohimahumullah. Sehingga tak sadar lebih mengakui pendapatnya ulama mereka yg muta’akhirin dgn menganggap ulama” dahulu kurang teliti dalam memahami hadits2 dan sepertinya agama ini baru turun kemarin.
Berhati-hati-lah wahai saudaraku, teliti lagi. yg ilmiah itu mencari sumber rujukan lain selain dari kalangannya sendiri, kita patut curiga jika mereka meng-haramkan kita meneliti dari sumber lain di luar mereka.
Wallaahu a’lam.
Semoga Allah yg Maha Rohim memberi selalu petunjuknya kpd kita sekalian. Amin
@ rahmat
Jagalah lisan dari mencela dan menuduh apalagi terhadap ulama. Anda berkata “wahabi bermesraan dengan kafir yahudi”….
Saya minta bukti atas tuduhan anda, atau anda yang menelan sendiri perkataan anda sendiri.
Bertaqwalan dan takut akan balasan di akhirat.
Mas Habibullah hati-hati kalo “ngomong”. Saudara mungkin akan malu sendiri kalo yg baca blog ini orang-orang yg dah pernah mengkaji Fath al-Majid, apa yg saudara katakan itu penuh kedustaan dan gak ada di dlm kitab tsb. Syaikh Muhammad ibn Abd al-Wahab tdk pernah mengkafirkan para nabi tmsk nabi Muhammad. Beliau sangat hormat dan cinta kpd Ahl al-Bait, buktinya nama2 putra beliau adl nama2 Ahl al-Bait, spt Ali, Hasan. Husein, Ibrahim, dan Abdullah. Beliau sangat menghormati dan mencintai para wali Alloh tetapi tdk sampai pd tingkat menyembah, bertaqarub dan bertabaruk. Beliau tdk pernah mengkafirkan kaum muslimin (ada qaidah2 khusus ttg takfir beserta mawani’2nya jd tdk mudah orang mencap kafir aplg syaikh org yg dlm ilmunya). Takutlah kpd Alloh wahai saudaraku! Apa yg saudara tulis ini (tmsk sy) akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Aplg tulisan saudara ini berbau namimah (adu domba). Takutlah akan siksa kubur bg orang2 yg suka namimah!
PERCUMA KASIH TANGGAPAN, MALU SAMA AYAT INI
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ
]. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah ( QS ali imran :7 )
PERCUMA KASIH TANGGAPAN, MALU SAMA AYAT INI
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ
]. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah ( QS ali imran :7 )
tahu kah kalian bahwa kerajaan Arab Saudi yang didirikan Saud dulu didukung oleh agen America CIA, baca sejarah ato lihat National Geographi dan siapa kalian Abdul Wahab? sejarah Syiah akankah terulang?
mas jangan bacanya hanya national geograpi kan itu buatan yahudi dan amerika cari bacaan yang berimbang he he…
.
Assalaamualaikum semua…Masya Allah janganlah kalian saling Hujat saudaraku…’hadist Rasulullah sungguh nanti akan kalian dapati perselisihan yg besar…Maka kembalikanlah pada alquran & sunnah..Perpeganglah pd keduanya maka kau tak kan tersesat selama2 nya.,.Sungguh nanti akan kalian dapati segolongan yang condong pada firqoh2 (golongan2 sndiri) dari pada mengikuti alqur’an dan sunnah,.Taqwalah kpada Allah dan takwalah pd Rashulnya dan ulil amri..Kita umat yg jauh dari khidupan Rasulullah Dan sohabat dan tabbiin…hargailah para imam dan ulama dan para guru2..Bacalah Alqur’an supaya kita mendapatkan shiratal mustaqim..Waalaikum salam.
tidak ada gunanya berdebat dengan para ahlul bid’ah yang kerjaanya hanya membenarkan amalan dan ajaran mereka yg bid’ad itu. tidak akan pernah ketemu antara bid’ad dan sunah ibrat langit dan bumi, mereka selalu mencari2 cari dalil untuk menbenarkan kebatilan ibadah mereka.tidakkah enkau lihat mereka orang 2 yang menganggap orang2 wahabi itu sesat justru mereka itulah orang2 yang sesat dan menyesatkan.lihat saja bentuk ritual bid’ad mereka dengan mendatangi kuburan dan berdo’a disana dan hal ini sudah mendarah daging dari nenek moyang mereka tanpa ada dalil,dIngatlah ayat allah yg artinya, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Surat Az Zumar 39 : 3) jadi pelaku bid’ah itu tidak mau mengakui kebid ahanya malah menuduh orang 2 yang mau mennghidupkan sunah dengan tuduhan yg sesat, padahal dengan ilmu sy yakin merekalah yang bid’ah dan jauh dari sunnah nabi.
BAB I
KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU
Nabi Muhammad SAW menyuruh kepada umatnya para muslimin dan muslimat guna untuk menuntut Ilmu Pengetahuan.
Soal : Ada berapakah bahwa menuntut Ilmu itu wajib ?
Jawab : Ilmu yang hukumnya wajib’ ain ( Fardlu’ ain ) itu ada tiga macam yaitu :
1. Ilmu Ushuludin : Ilmu Tauhid / Ilmu Aqoid
2. Ilmu Fiqih : Ilmu Hukum Islam
3. Ilmu Tashawwuf : Ilmu Kebatinan Islam
Soal : Manakah yang terpenting dalam mempelajari Ilmu tersebut ?
Jawab : 1. Yang terpenting dalam mempelajari Ilmu Ushuludin yaitu perlunya
mengetahui sifat – sifat yang wajib, mustahil, jaiz ( mungkin ) bagi Tuhan, juga sifat – sifat tersebut bagi para Rosul Nya.
2. Tetapi yang terpenting dalam mempelajari Ilmu Fiqih yaitu perlunya seseorang mengetahui tentang apa – apa yang dapat mengesahkan amal ibadahnya, seperti mengetahui tentang syarat – syarat ibadah, rukun – rukunnya dan yang membatalkannya,
3. Dan yang terpenting dalam mempelajari Ilmu Tashawwuf yaitu perlunya seseorang mengetahui apa – apa yang dapat menggugurkan pahala – pahala amalnya, seperti memamerkan diri ( riya ), meminta agar nananya disebut – sebut ( sum’ah ), sombong, ujub, takabur, merasa dirinya besar dan sifat – sifat lain yang tercela menurut hukum ajaran agama Islam ( Syariat ).
Soal : Bagaimanakah jika beribadah dengan tidak mengetahui ketiga macam
Ilmu – ilmu yang tersebut ?
Jawab : Dalam hal tersebut segala amal ibadahnya ditolak, tidak akan diterima oleh
Allah, walaupun ia telah berhaji. Dengan demikian tidak dibenarkan bagi seseorang mempelajari ilmu – ilmu yang bentuknya Fardlu Kifayah ( diluar ketiga ilmu tersebut ) sebelum mengetahui ilmu yang Fardlu’ ain yang paling utama. Sebagai contoh bahwa seseorang yang belum melaksanakan Qodlo’ ( pengganti ), karena shalat yang belum dilaksanakannya tanpa ada halangan maka dia tidak boleh melaksanakan hal – hal yang berbentuk Sunnah sebelum melaksanakan qodlo’ shalat itu telah dapat ditunaikan. Sehingga orang yang meninggalkan ilmu yang Fardlu’ ain hukumnya Fasiq ( berdosa ) dan baginya tidak dibenarkan menjadi wali perkawinan ataupun menjadi saksinya.
Soal : Apakah dasar amal dan mengenal sesuatu itu ?
Jawab : Dasar amal dan mengenal sesuatu adalah dengan ilmu, dengan demikian
menuntut ilmu itu hukumnya wajib, jadi Fardlu’ ain.
Soal : Apakah yang harus menjadi dasar bagi ilmu itu ?
Jawab : Yang menjadi dasar ilmu itu adalah Al Qur’an sedangkan ilmu yang tidak
sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits, maka kedudukan ilmu tersebut menjadi tertolak dan tidak boleh dijadikan pegangan.
Soal : Apakah dasar agama itu ?
Jawab : Dasar agama sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rosulallah SAW :
“ Dasar agama yaitu mengenal Allah “
“ Siapakah dirimu dan untuk siapa dirimu “
”Barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya”
Soal : Apakah dasar mengenal Allah ?
Jawab : Dasar mengenal Allah yaitu mengenal dan melihat lebih dahulu kepada
dirinya sendiri ( untuk menambah keimanan kepada Allah ), dan sesudah itu beragama dengan pengertian beriman, beragama Islam, bertauhid dan berma’rifat- Tullah.
Soal : Apakah arti Iman, Islam, Tauhid dan Ma’rifat ?
Jawab : Iman itu artinya percaya kepada Allah, para RosulNya, MalaikatNya,
Kitab – kitabNya, Hari kiamat, dan percaya kepada Nasib baik atau buruk dari Allah ( yang di istilahkan dengan Takdir ) yaitu Qodrat – Iradatnya Allah.
Adapun arti Islam yaitu mengikuti perintah – perintah Allah serta meninggalkan apa – apa yang dilarang oleh Syara’ atau Syariat ( Hukum Islam )
Adapun pengertian Tauhid yaitu mengesakan diri, sifat dan ciptaan Allah SWT.
Sedangkan pengertian Ma’rifat yaitu dapat membedakan antara sifat makhluk yang keadannya baru dari pada sifat Allah yang keadaannya tidak berpangkal.
Soal : Berilah keterangan tentang Rukun Iman !
Jawab : Rukun Iman itu ada 6 ( enam ) perkara yaitu :
1. Percaya kepada Allah dengan sifat – sifatNya, Dzatnya, dan adanya ciptaan Allah serta mempercayai adanya Nama – nama Allah yang sudah dikenal dengan Asmaul-Husna.
2. Percaya kepada para Rosul dan Nabinya yang wajib diketahui ada 25 orang, termasuk dalam halini percaya kepada adanya Rosulallah Nabi Muhammad SAW yang berkebangsaan Arab-Quraisy, lahir dan dibesarkan di Mekkah, berumur 63 tahun, berhijrah ( pindah ) ke Madinah wafat dan dikuburkan disana.
3. Percaya kepada para Malaikat bahwa mereka itu dibuat oleh Allah dari zat yang halus ( cahaya ), dengan sifatnya yang bukan laki – laki bukan perempuan dan tidak banci, tidak makan, tidak minum, tidak bernafsu syahwat, tidak beranak, tidak berayah ibu, tidak tidur.
4. Percaya kepada Kitab – kitab Allah karena adanya Firman – firman Allah yang diturunkan dari langit ( Lauhil – Mahfudz ) yang dibawa atau disampaikan oleh malaikat Jibril, adapun banyaknya yaitu 104 buah kitab / shuhuf, diantaranya yaitu Kitab Taurot, Kitab Zabur, Kitab Injil, Kitab Al Qur’an, Firman – firman Allah dari langit diturunkan kebumi untuk umat manusia, Firman – firman Allah yang tidak tercantum di dalam Al Qur’an yaitu Hadits Qudsi.
5. Percaya kepada hari Kimat, beriman akan adanya hari kebangkitan manusia dari alam kubur menuju padang Mahsyar ( tempat berkumpul di hari Kiamat ) yang kemudian akan ditimbang dosa dan pahala kebaikannya, juga harus dipercaya adanya Titian ( jembatan ) yang disebut Sirothol Mustaqim ( jalan lurus ), telaga minuman bagi mereka yang kehausan untuk umat manusia yang beriman, sesuai dengan amal ibadahnya masing – masing di Surga atau di Neraka..
6. Percaya kepada Takdir Qodrat – Iradatnya Allah dengan nasib yang baik berupa Iman dan Ta’at bagi seorang mukmin, serta percaya kepada nasib jelek yaitu sifat kafir dan bermaksiat kepada Allah, sedangkan kedua sifat itu memang sudah dijadikan oleh Allah SWT.
Soal : Apakah pengertian tentang Dzat, Sifat, Af’al Nya Allah SWT itu ?
Jawab : Yang dimaksud dengan Dzat Allah yaitu tidak adanya sesuatudi alam
semesta kecuali hanya Allah.
a. Sebagai Permulaan ( sebelum terciptanya makhluk ) sedangkan selain Allah tidak akan mungkin terjadi, yang dapat dimisalkan pada adanya bayangan yang tidak akan terjadi tanpa diciptakan oleh Allah SWT.
b. Adapun pengertian tentang Sifat Allah itu yaitu adanya sifat – sifat Allah Yang Maha Hidup, Mengetahui, Berkuasa, Berkehendak, Mendengar, Melihat, Berkata – kata, dan lain – lain. Hal tersebut bagi makhluknya hanyalah merupakan bayangan semata bagi Sifat – Sifat Tuhan, dengan adanya Sifat Wujud ( Ada ) bagi makhluknya, karena diadakan oleh Allah yang akan mustahil satu bayangan bergerak tanpa digerakkan oleh yang memiliki bayangan itu sendiri, dan mustahil akan bercerai bayangan itu dari pemilik bayangan semula.
Tetapi Allah itu Maha Suci dari segala sifat yang tidak dapat disamakan dengan makhluknya. Dengan demikian bayangan makhluk adalah merupakan bayangan beku, misalnya yang berasal dari kayu atau batu.
Adapun Dzat Allah sudah jelas tidak kelihatan tetapi dapat di ibaratkan pada cahaya matahari yang cahayanya bisa terjadi karena adanya matahari itu sendiri.
c. Adapun pengertian tentang Af’al ( ciptaan ) Allah yaitu tidak asa satu ciptaanpun di alam semesta kecuali pada asalnya adalah merupakan ciptaan Allah semata, tidak ada satu benda terkecilpun di dunia ini sebagai alam semesta yang diciptakan makhluk, jika ada yang menduga terjadinya perbuatan atau ikhtiar makhluk terhadap satu benda walaupun sebesar atom ( dzarroh ), maka jelaslah bahwa hal itu berarti menyekutukan dengan Tuhan, dengan demikian haruslah di bedakan antara ciptaan makhluk dengan ciptaan Tuhan, dan jika tidak bisa membedakannya, maka termasuklah mereka golongan yang tidak mengerti, sebab tidak mengetahui hakekat dirinya sendiri dan tidak mengetahui adanya Hakekat Tuhannya.
1.1. Ma’rifat
Soal : Apakah tujuan Ma’rifat itu ?
Jawab : Ma’rifat artinya pengetahuan atau pengenalan dengan tujuan untuk
mengenal satu pribadi.
Soal : Apakah tujuan jika pribadi itu dikenal ?
Jawab : Tujuannya adalah untuk mengenal Allah seperti diterangkan di dalam
Hadits Shohih
“ Barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya “
” Siapa dirimu dan untuk siapa dirimu ”
” Mula-mula beragama atau dasarnya agama yaitu Ma’rifat ( mengenal ) kepada Allah ”
Soal : Bagaimanakah manusia akan dapat mengenal Tuhan, sedangkan Tuhan
tidak dapat dilihat ?
Jawab : Pengertian mengenal Tuhan yaitu Mengenal Sifat-sifat Nya setelah
diterangkan dalam beberapa FirmanNya, dan Dia menciptakan segala sesuatu agar para makhluk yang diciptakannya itu mengenal kepada Tuhan yang menciptakannya. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an :
“ Aku tidaklah menjadikan jin dan manusia, kecuali untuk berbakti
menyembah kepada Ku “
Qs Adzaariyat ( 51 ): 56
“ Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dan
Ikhlas mengikuti agamanya “
Qs Al Bayyinah ( 98 ): 5
Soal : Apa arti Sifat, Dzat, Af’al dan Asma’ itu ?
Jawab : Sifat yaitu sesuatu yang menunjukkan adanya kelebihan dengan dzatnya,
dan juga menunjukkan pada kelakuannya.
Adapun pengertian Dzat yaitu DiriNya.
Adapun pengertian Sifat yaitu KelakuanNya
Adapun pengertian Af’al yaitu PerbuatanNya
Adapun pengertian Asma’ yaitu Nama-nama Nya yang menunjukkan kepada nama sesuatu, jadi 99 Nama Allah disebut Asma’ul Husna
BAB II
MENGENAL ALLAH SWT
2.1. Nama – Nama Allah SWT
Soal : Siapakah yang pertama kali memberi Nama Allah ?
Jawab : Yang pertama kali memberi Nama Allah yaitu Allah sendiri dan Nama
tersebut tidak diberi Nama oleh makhluknya.
Soal : Apakah Nama Allah itu telah lama atau baru ?
Jawab : Nama Allah telah lama bukan baru.
Soal : Berilah keterangan adanya Allah ?
Jawab : Adanya Allah telah berlangsung sejak dahulu dengan Tidak ada
Permulaannya, Berdiri Sendiri, Maha Esa, Maha Kekal Abadi, Berbeda dengan makhluk ciptaannya.
2.2. Tuhan Dan Sifat Nya
Soal : Berilah keterangan tentang Sifat, Wujud dan Tuhan
Jawab : Sifat yaitu Bentuk kenyataan bagi sesuatu yang disifat.
Wujud yaitu Bentuk kenyataan bagi sesuatu yang ada
Tuhan yaitu Satu bentuk kenyataan bagi adanya Ketuhanan dengan
keadaan Dzatnya sendiri.
2.3. Sifat – Sifat Wajib 20 Bagi Allah
Yang paling Kaya dari segala makhluk, dan berkehendak atas makhluk yang di ciptakanNya Dialah Allah sebagaimana bagi Tuhan yang pasti adanya dengan Sifat – Sifat yang Wajib diketahui ada 20 macam yaitu : Dalil Nakli
1. Sifat Al Wujud : Ada :
Artinya : Wajib bagi Allah bersifat ada. Sedangkan adanya Allah itu tidak ada yang mengadakan, Dia ada karena Dzatnya sendiri, Allah berfirman :
“ Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada “
Qs : Al Hadid ( 57 ) : 4
” Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia lah yang ke empat. Dan tiada pembicaraab antara lima orang melainkan Dia lah yang ke enam dan tiada pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka dimanapun mereka berada ”
Qs Al Mujaadilah ( 58 ) : 7
Bukti bahwa Allah itu ada ialah adanya langit dan bumi serta isinya, termasuk manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, batu, gunung, lautan, udara dan lain-lainnya. Semua itu ada karena ada yang menciptakannya, tidak mungkin semua itu ada dengan sendirinya. Jadi yang menciptakan itu adalah Allah SWT Dzat yang Wajib adanya.
2. Sifat Al Qidam : Sediakala :
Artinya Wajib bagi Allah bersifat Al Qidam. Adanya Allah sejak sediakala, tidak didahului oleh sesuatu dan Tidak ada Permulaannya. Allah berfirman dalam Al Qur’an :
“ Dia lah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Dhohir dan Yang Bathin “
Bukti bahwa Allah ada sejak sediakala, apabila Allah tidak bersifat Qidam niscaya adanya ada permulaannya. Kalau adanya Dia ada permulaannya, maka Ia baru dan kalau Dia baru maka Dia ada yang menciptakannya. Sedangkan setiap benda yang baru dan ada yang menciptakan bukanlah Tukan oleh karena itu Wajib bagi Allah bersifat Qidam.
3. Sifat Al Baqo’ : Kekal :
Artinya Wajib bagi Allah bersifat Al Baqo’ adanya Allah itu Kekal selama – lamanya, tidak berakhir dan Tiada berkesudahan. Allah berfirman
“ Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah “
Qs Al Qoshosh ( 28 ) : 88
” Semua yang ada di bumi itu akan binasa dan tetap Kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan ”
Qs Ar Rahman ( 55 ): 26-27
Bukti bahwa Allah itu Kekal apabila Allah tidak Kekal niscaya Dia binasa, apabila Dia binasa maka tidak ada yang akan menjadi Tuhan yang mengatur alam ini, oleh karena itu mustahil Dia ( Allah ) binasa dan Wajib Bagi Nya Kekal selama – lamanya / kekal Abadi.
4. Sifat Al Mukholafatulil Hawaditsi :
Berbeda dengan segala sesuatu yang baru
Artinya Wajib bagi Allah berbeda atau berlainan dengan segala sesuatu yang baru. Yang bari adalah segala sesuatu selain Allah, jadi Allah berbeda dengan selain Dia. Maka Allah SWT berfirman :
“ Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat “
QS Asy Syuro ( 42 ): 11
“ Dan Tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia “
Qs Al Ikhlas ( 112 ) : 4
Bukti bahwa Allah berlainan dengan segala sesuatu yang baru, apabila dia serupa dengan segala sesuatu yang baru atau salah satu dari segala sesuatu yang baru misalnya serupa dengan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan atau salah satu dari Sifat – Sifatnya niscaya Dia ( Allah ) sama dengan sesuatu yang baru maka Dia juga baru. Apabila Allah itu baru maka Dia dapat menerima Sifat – Sifat benda yang baru seperti rusak, binasa, dan lain-lainnya.
Sifat – Sifat ini semua mustahil bagi Allah SWT oleh karena itu Wajib bagi Allah berbeda atau Berlainan dengan segala sesuatu yang baru.
5. Sifat Al Qiyamuhu Binnafsihi :
Berdiri dengan Dirinya Sendiri
Artinya bagi Allah berdiri dengan diri Nya sendiri, tidak membutuhkan pertolongan orang lain. Allah berfirman dalam Al Qur’an :
“ Sesungguhnya Allah benar – benar Maha Kaya ( tidak membutuhkan sesuatu dari alam semesta :
QS Al Ankabut ( 29 ) : 6
Bukti bahwa Allah berdiri sendiri tidak membutuhkan pertolongan apapun dan dari siapapun apabila Allah masih membutuhkan pertolongan dan bantuan dari orang lain, niscaya Dia lemah dan tidak sempurna. Sesuatu yang lemah dan tidak sempurna adalah makhluk. Setiap makhluk membutuhkan tempat untuk ia tempati, ada yang menentukan dan ada yang menciptakan, sedangkan Allah bukanlah makhluk. Jadi Dia ( Allah ) Berdiri Sendiri Tidak Membutuhkan Tempat untuk berdiri dan tidak membutuhkan apa – apa dan siapa – siapa .
6. Sifat Al Wahdaniyah : Satu
Artinya Wajib bagi Allah bersifat Yang Maha Esa, Dia satu dalam Dzat Nya, Satu dalam Sifat Nya dan Satu dalam Perbuatannya, maksudnya Dzat Allah tidak tersusun dari beberapa benda yang berlainan, Sifat Allah Maha Sempurna, Tidak ada yang menyamainya, Tidak ada duanya dan Perbuatan Allah satu – satunya Yang Mengatur, menentukan dan menciptakan alam semesta dan isinya, tanpa perbuatan orang lain selain Dia ( Allah ). Allah berfirman dalam Al Qur’an :
“ Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa “
QS Al Baqoroh ( 2 ) : 163
” Katakanlah, Dia lah Allah Yang Maha Esa ”
QS Al Ikhlas ( 112 ) : 1
Bukti bahwa Allah itu Maha Esa apabila ada dua Tuhan di dunia ini niscaya antara Tuhan yang satu ingin mengalahkan Tuhan yang lain. Pasti diantara dua Tuhan itu ada yang lemah, baik karena dikalahkan atau tidak mampu mengalahkan yang lainnya. Dengan demikian dunia ini akan binasa, sebab tidak mungkin mereka selalu sama kehendaknya didalam mengatur alam ini, misalnya yang satu hendak menerbitkan matahari dari sebelah barat oleh karena itu Wajib bagi Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa
7. Sifat Al Qudrat : Kuasa
Artinya Wajib bagi Allah berkuasa secara mutlak dengan Sifat Al Qudrat ini Allah berkuasa mangadakan dan meniadakan segala sesuatu yang mungkin tidak ada, sesuai dengan kehendak dan kemauan Nya. Allah berfirman dalam Al Qur’an :
“ Sesungguhnya Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. ”
QS Al Buruj ( 85 ) :16
Bukti bahwa Allah berkuasa adanya alam semesta ini, termasuk binatang, tumbuh – tumbuhan, manusia, dan semua benda-benda, baik yang ada di lautan, darat, maupun di udara semua itu tersusun dengan rapi, tak satupunbertentangan atau berjalan diluar SunnahNya Allah. Sekiranya Allah lemah menciptakan, mengatur dan meniadakan semua benda-benda yang ada di dalam semesta ini niscaya benda-benda alam ini berjalan menurut kehendaknyasendiri-sendiri tanpa aturan dan saling berbenturan , tabrak-tabrakkn. Ternyata alamini tidak demikian adanya, oleh karena itu mustahil Allah itu lemah, tetapi Wajib bagiNya Berkuasa Mutlak.
8. Sifat Al Irodat : Berkehendak
Artinya Wajib bagi Allah Berkehendak dengan sebebas-bebasnya. Dengan Sifat ini Allah Berkehendak sesuai dengan kemauanNya sendiri untuk menciptakan apa saja yang mungkin adanya dan mungkin tidak adanya, tanpa terikat dengan sesuatu di luar diriNya. Allah berfirman :
“ Sesungguhnya keadaanNya apabila Dia ( Allah ) menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya : “ Jadilah “, maka jadilah ia “
QS Yasin ( 36 ) : 82
“ Dan kamu tidak dapat menghendaki ( menempuh ) jalan itu kecuali apabila dikehendaki Allah Tuhan Semesta alam “
QS AT-Takwir ( 81 ) : 29
Bukti bahwa Allah berkehendak dengan kemauanNya sendiri yaitu adanya alam ini yang tidak tercipta dengan sendirinya, tetapi diciptakan Allah, karena alam ini diciptakan oleh Allah maka Allah yang menentukan bentuk waktu, dan tempat alam ini diciptakan sesuai dengan kehendakNya. Sebab kalau alam ini jadi dengan sendirinya, tentu alam ini Qodim dan ini mustahil. Demikian pula sekiranya kehendak Allah masih terikat dengan sesuatu diluar diriNya niscaya Allah bisa dipaksa oleh sesuatu yang lain dan inipun mustahi, oleh karena itu Wajib bagi Allah berkehendak sesuai dengan kemauanNya sendiri.
9. Sifat Al Ilmu : Berilmu :
Artinya Wajib bagi Allah itu berilmu, dengan sifat ini Allah dapat mengetahui segala benda dan peristiwa, baik yang telah terjadi maupun yang belum terjadi,yang mungkin adanya maupun yang wajib dan yang mustahil adanya. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an :
“ Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatunya “
QS Al Baqoroh ( 2 ) : 231
“ Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nampakkan dan mengetahui pula apa yang akan kamu kerjakan “
QS Al An’Am ( 6 ) : 3
Bukti bahwa Allah Maha Mengetahui yaitu adanya alam ini, Bagi yang mempunyai pikiran sehat dan menggunakan pikirannya untuk merenungi ciptaan alam semesta yang sangat indah ini dan tersusun sangat rapi ini, niscaya membenarkan bahwa sang pencipta alam ini adalah Dzat Yang Maha Mengetahui dan Maha Alim. Contohnya Allah menciptakan manusia, manusia ini diciptakan Tuhan dari setetes air mani, setelah mengalami beberapa proses kejadiannya maka Ia lalu menjadikan bentuk manusia yang bisa berfikir, melihat, membaca dan mendengar, kejadian manusia ini membuktikan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Tahu dan Dzat Yang Maha Alim. Sebab tidak mungkin alam semesta dan manusia ini diciptakan oleh Dzat yang bodoh / Mustahil bagi Allah.
10. Sifat Al Hayat : Hidup
Artinya Wajib bagi Allah Hidup, Dengan Sifat ini karena Allah mempunyai Sifat Al Qudrat, Al Iradat, Al Ilmu, dan lain-lainnya. Allah Hidup selama-lamanya tanpa ada kesudahannya. Allah berfirman dalam Al Qur’an :
“ Allah, Tiada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri “
QS Al Baqoroh ( 2 ) : 255
” Dan bertakwakallah kepada Dzat Yang Maha Hidup, Yang Tidak Mati ”
QS Al Furqon ( 25 ) : 58
Bkti bahwa Allah Hidup yaitu sekiranya Allah mati niscaya Dia tidak bisa bersifat dengan Sifat-Sifat yang Wajib bagi Nya, seperti Berkuasa, Berkehendak, Berilmu, dan lain-lainnya. Namun bukti-bukti menunjukkan bahwa Allah Wajib Bersifat dengan Sifat-sifat tersebut, oleh karena itu Wajib bagi Allah bersifat Maha Hidup.
11. Sifat Assama’ : Mendengar
Artinya Wajib bagi Allah itu Mendengar, dengan Sifat ini Allah mendengar segala suara atau sesuatu, baik yang keras maupun yang perlahan-lahan, yang baik maupun yang buruk, bahkan Allah mendengar apa yang dikatakan oleh hati dan menjadi apa yang di angan-angankan oleh manusia. Allah berfirman dalam Al Qur’an :
“ Ya Tuhan kami, terimalah dari kami ( amal kami ) sesungguhnya Kaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui “
QS Al Baqoroh ( 2 ) 127
” Apakah mereka mengira bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikan – bisikan mereka? Sebenarnya ( Kami Mendengar ) dan para utusan Kami ( para Malaikat ) selalu mencatat disisi mereka ”
QS AZ Zuhruf ( 43 ) : 80
Bukti bahwa Allah Maha Mendengar yaitu apabila Allah tidak mendengar niscaya Dia tuli sedangkan tuli adalah termasuk sifat yang tidak sempurna, Sifat yang tidak sempurna itu mustahil dimiliki oleh Dzat Sang Pencipta alam, oleh karena itu Wajib bagi Allah SWT Maha Mendengar segala sesuatu yang tersembunyi dan yang dirahasiakan oleh Makhluk.
12. Sifat Al Bashor : Melihat
Artinya Wajib bagi Allah itu Melihat, dengan Sifat itu Allah melihat segala sesuatu yang diciptakan dan segala gerak-gerik makhluknya, termasuk sesuatu yang disembunyikan dan yang dirahasiakan. Allah berfirman dalam Al Qur’an :
“ Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. ”
QS Al Maa’idah ( 5 ) : 71
” Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. ”
QS Asy Syuro ( 42 ) : 11
Bukti bahwa Allah Maha Melihat yaitu adanya alam semesta ini. Tidak mungkin Dzat yang buta dapat menciptakan dan mengatur alam ini dan sekiranya Allah tidak melihat niscaya Dia buta, sedangkan buta termasuk sifat tidak sempurna, olek karena itu mustahil kalau allah bersifat buta dan Wajib bagi Nya Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
13. Sifat Al Kalam : Berkata
Artinya Wajib bagi Allah berkata-kata dengan tidak mempergunakan huruf dan suara dengan Sifat Al Kalam ini Allah berfirman mengenai segala sesuatu yang Wajib, yang Mustahil dan yang Jaiz, dengan Sifat itu pula Allah memfirmankan perintah-perintahNya dan larangan – laranganNya dan menerangkan apa yang Dia Kehendaki kepada segenap makhluknya. Allah berfirman dalam Al Qur’an :
“ Para Rosul kami lebihkan sebagian atas sebagian yang lain, diantara mereka ada yang Allah berkata-kata ( langsung dengan Dia ) dan Allah meninggikan sebagian mereka beberapa derajat ’ ”
QS Al Baqoroh ( 2 ) : 253
“ Dan Allah telah berbicara dengan Nabi Musa AS secara langsung “
QS An Nisa ( 4 ) : 164
Bukti bahwa Allah berkata-kata yaitu apabila tidak bisa berkata-kata niscaya Allah itu bisu, sedangkan bisu itu ternasuk sifat yang tidak sempurna dan Allah Maha Suci dari sifat-sifat yang tidak sempurna,oleh karena itu Wajib bagi Allah berkata-kata atau berfirman, baik berfirman dalam Al Qur’an atau berfirman dalam Hadits Qudsi .
14. Sifat Kaunuhu Qodiron
Yaitu Adanya Allah sebagai Dzat Yang Maha Kuasa
Artinya Wajib bagi Allah itu selalu berada dalam keadaan Maha Kuasa, tanpa terhenti sedikitpun. Dalil Nakli dan dalil Aklinya sama dengan Sifat Al Qudrat.
15. Sifat Kaunuhu Muridan
Yaitu Adanya Allah sebagai Dzat Yang Maha Berkehendak
Artinya Wajib bagi Allah itu selalu berada dalam keadaan Maha Berkehendak, tanpa terhenti sedikitpun orang yang mempengaruhiNya. Dalil Nakli dan dalil Aklinya sama dengan Sifat Al Irodat
16. Sifat Kaunuhu ‘ Aliman
Yaitu Adanya Allah sebagai Dzat Yang Maha Tahu
Artinya Wajib bagi Allah itu selalu berada dalam keadaan Maha Mengetahui, tanpa ada yang terlepas dari pengetahuanNya. Dalil Nakli dan dalil Aklinya sama dengan Sifat Al Ilmu.
17. Sifat Kaunuhu Hayyan
Yaitu Adanya Allah sebagai Dzat Yang Maha Hidup
Artinya Wajib bagi Allah itu selalu berada dalam keadaan Maha Hidup, Kekal Abadi selama-lamanya.Dalil Nakli dan dalil Aklinya sama dengan Sifat Al Hayyat.
18. Sifat Kaunuhu Sami’an
Yaitu Adanya Allah sebagai Dzat Yang Maha Mendengar
Artinya Wajib bagi Allah itu selalu berada dalam keadaan Maha Mendengar terhadap segala bentuk suara dan bunyi. Dalil Nakli dan dalil Aklinya sama dengan Sifat As Sama’.
19. Sifat Kaunuhu basyiron
Yaitu Adanya Allah sebagai Dzat Yang Maha Melihat
Artinya Wajib bagi Allah itu selalu berada dalam keadaan Maha Melihat terhadap segala sesuatunya. Dalil Nakli dan dalil Aklinya sama dengan Sifat Al Bashor.
20. Sifat kaunuhu mutakaliman
Yaitu Adanya Allah sebagai Dzat Yang Maha Berfirman
Artinya Wajib bagi Allah itu selalu berada dalam keadaan Berkata-kata atau Maha Berfirman tanpa ada bisu yang menghinggapinya sedikitpun. Dalil Nakli dan dalil Aklinya sama dengan Sifat Al Kalam.
Demikianlah Sifat-sifat Allah yang Wajib, sedangkan yang disepakati oleh para Ulama Ahli Tauhid adalah dari Nomor Pertama sampai Nomor Ke Tiga Belas. Jumlah ini adalah menurut Imam Abul Hasan Al Asy’ari. Sedangkan yang menetapkan adanya Sifat-sifat berikutnya adalah dari Sifat yang ke Empat Belas sampai yang ke Dua Puluh adalah Imam Abu Manshur Al Maturidi.
2.4. Pembagian Sifat Wajib Yang 20 Macam
Sifat Wajib bagi Allah ada 20 macam terbagi menjadi 4 ( empat ) bagian yaitu :
1. Sifat Nafsiyyah
2. Sifat Salbiyyah
3. Sifat Ma’ani
4. Sifat Ma’nawiyah
Soal : Apa yang menunjukkan bahwa Allah itu Wujud ?
Jawab : Bahwa Allah itu Wujud yaitu adanya Dalil yang menunjukkan Wujudnya
makhluk hidup.
Sifat Wujud juga dinamakan Sifat Nafsiyyah, ini dalilnya :
I. Tingkat Dzat yaitu yang termasuk pada Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyyah
Soal : Sesudahnya Sifat Nafsiyyah dinamakan Sifat apa ?
Jawab : Sesudahnya Sifat Nafsiyyah yaitu Sifat Salbiyyah.
Sedangkan Sifat Salbiyyah dibagi menjadi 5 ( lima ) Sifat :
1. Sifat Qidam
Artinya bahwa Wujudnya Allah tidak ada yang mendahului
2. Sifat Baqo’
Artinya bahwa Dzatnya Allah itu Kekal Abadi selama-lamanya.
3. Sifat Mukholafatulil Hawaditsi
Artinya bahwa Allah Wajib melayani semua makhluk-makhluknya
4. Sifat Qiyamuhu Binafsihi
Artinya bahwa Allah berdisi sendiri dengan Dzatnya
5. Sifat Wahdaniyah
Artinya bahwa Allah itu satu Dzatnya sebagai Penguasa dan Pengatur seluruh alam.
Inilah Dalilnya :
Soal : Ada Berapakah Sifat Ma’ani yang Wajib bagi Allah SWT itu ?
Jawab : Sifat Ma’ani yang Wajib bagi Allah ada 7 bagian Sifat yaitu ;
1. Sifat Qodrat artinya Allah itu Berkuasa
2. Sifat Irodat artinya Allah itu berkehendak
3. Sifat Ilmu artinya Allah itu Memegang semua perkara
4. Sifat Hayat artinya Allah itu Hidup
5. Sifat Sama’ artinya Allah itu Mendengar
6. Sifat Bashor artinya Allah itu Melihat
7. Sifat Kalam artinya Allah itu Berfirman
II. Tingkat Sifat yaitu yang termasuk didalam Sifat Ma’ani
Soal : Ada berapa Sifat Ma’nawiyah yang Wajib bagi Allah SWT ?
Jawab : Sifat Ma’nawiyah yang Wajib bagi Allah itu ada 7 bagian Sifat yaitu :
1. Sifat Kaunuhu Qodiron
Artinya Allah Maha Berkuasa
2. Sifat Kaunuhu Muridan
Artinya Allah Maha Berkehendak
3. Sifat Kaunuhu Aliman
Artinya Allah Maha Mengetahui
4. Sifat Kaunuhu Hayyan
Artinya Allah Maha Hidup
5. Sifat Kaunuhu Sami’an
Artinya Allah Maha Mendengar
6. Sifat Kaunuhu Bashiron
Artinya Allah Maha Melihat
7. Sifat Kaunuhu Mutakaliman
Artinya Allah Maha Berfirman
III. Tingkat Asma’ yaitu yang termasuk di dalam sifat ma’nawiyah
Soal : Terangkanlah bahwa Tuhan tidak bersekutu dengan makhluknya !
Jawab : Keadaan Sifat Tuhan itu tidak terpisah dengan Dzatnya dan juga tidak
bersekutu dengan keadaannya yang tidak diketahui oleh makhluknya
Soal : Terangkanlah bahwa Sifat Tuhan itu satu bagian atau dua bagian !
Jawab : Pada pokoknya Sifat Tuhan itu tidak boleh disebut sebagai satu bagian dari
Dzatnya, dan juga tidak boleh disebut sebagai dua bagian dengan keadaannya yang tidak kita ketahui.
2.5. Dzat Dan Sifat
Soal : Apakah perbedaan antara Dzat dan Sifat ?
Jawab : Dzat adalah Dirinya
Sifat adalah Kelakuannya
Soal : Terangkanlah Sifat-sifat Tuhan dan pembagiannya !
Jawab : Sifat – sifat Tuhan terdiri dari 20 macam dan terbagi kepada empat bagian
Yaitu :
1. Sifat Nafsiyyah
Dengan keadaanNya untuk mengadakan sesuatu
2. Sifat Salbiyah
Dengan keadaanNya untuk meniadakan sesuatu
3. Sifat Ma’ani
Dengan keadaanNya yang membekas pada kejadian alam seluruhnya
4. Sifat Ma’nawiyah
Dengan keadaanNya untuk memberikan pengertian terhadap nama-nama bagi Dzat Tuhan seperti Maha Hidup, ( Hayat atau Hayyun ) dan Sifat-sifat lainnya.
Soal : Sifat-sifat Allah dibagi berapa tingkat?
Jawab : Sifat-sifat Allah dibagi tiga tingkat yaitu :
1. Tingkat Dzat
Yaitu yang termasuk pada Sifat Nafsiyah dan Sifat Salbiyah
2. Tingkat Sifat
Yaitu yang termasuk dalam Sifat Ma’ani
3. Tingkat Asma’
Yaitu yang termasuk dalam Sifat Ma’nawiyah
2.6. Berbeda Dengan Makhluknya
Soal : Terangkanlah Sifat Maha Kaya bagi Allah !
Jawab : Sifat Maha Kaya bagi Allah dapat diketahui dari adanya Sifat – Sifat
Tuhan seperti : Maha Ada, Maha Dahulu, Maha Kekal Abadi, Berbeda Dengan Makhluknya, Allah Berdiri Sendiri yang Sifat – Sifatnya tidak dimiliki oleh para makhluknya dengan penuh Kesempurnaan. Begitu pula dengan Sifat – Sifat Tuhan seperti Maha Mendengar, Melihat, Berkata-kata, serta Maha Suci Allah dari Sifat kekurangannya disamping Sifat – Sifat Nya yang lain yaitu Maha Hidup, Maha Berilmu, Maha Berkehendak, Maha Berkuasa, dan Maha Esa.
Soal : Terangkanlah pengertian “ Laa Ilaaha Illallah “
Jawab : Laa Ilaaha Illallah artinya tidak ada Tuhan kecuali atau selain Allah.
Didalam kalimat tersebut mengandung adanya Sifat Ketuhanan Yang Maha Esa, Berilmu, Berkehendak, Berkuasa, Hidup, Mendengar, Melihat, Berkata-kata, Berdiri Sendiri, Ada, Dahulu dan Kekal Abadi selama-lamanya
Menyimak segala ungkapan Para Ulama Ahli Shufi akan terasa kenikmatan tersendiri Syariat, Thoriqot, Hakekat, Makrifat banyak di bicarakan tentang 4 bagian ini yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan antara satu dengan lainnya dalam pembahasan ajaran Agama Islam. Maka untuk mengantar dan mendahului pembicaraan selanjutnya, ada baiknya ke empat bagian Pokok ini di ketengahkan.
1. Syariat
Dari segi bahasa artinya : ” Tata Hukum ”. Disadari bahwa alam semesta ini tidak ada yang terlepas dari apa yang dinamakan ” Hukum ” termasuk untuk manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai hamba Allah perlu di atur dan di tata, sehingga tercipta keteraturan yang menyangkut hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, serta manusia dengan Sang Maha Pencipta ( Tuhannya )
Pembahasan mengenai materi Hukum, dimana manusia sebagai obyeknya, tercakup dalam beberapa disiplin Ilmu, Ilmu Fiqih, Ilmu Adab, dan lain-lain. Di dalam ajaran Agama Islam, melaksanakan aturan dan ketentuan hukum tanpa memahami dan menghayati : ” Apa Tujuan Hukum ?”, maka pelaksanaannya tidaklah memiliki nilai yang sempurna. Orang Tua-tua biasa menyebutnya ” Kulit tanpa Isi ”. Tujuan Hukum adalah kebenaran atau dalam istilah Kitab Kuning ” Yang sebenar-benarnya ” ( Hakekat .
Untuk mencapai tujuan tentu memerlukan ” Jalan ” dan ” Cara ”. Tanpa mengetahui jalannya, tentu sulit untuk mencapai tujuannya, hal itu dinamakan ” Thoriqot ”
2. Thoriqot
Perkataannya menurut segi bahasa : ” Madzhab ” yang artinya jalan. Mengetahui adanya jalan, perlu pula mengetahui ” Cara ” melintas jalan itu agar tujuan tidak kesasar. Tujuan adalah kebenaran maka cara untuk melintasi jalan harus benar pula. Untuk itu harus sudah ada persiapan batin yakni sikap yang benar. Sikap hati yang demikian tidak akan tampil dengan sendirinya, sehingga perlu adanya latihan-latihan tertentu dengan cara-cara tertentu pula.
Sekitar abad ke 2 dan ke 3 Hijriyah lahirlah kelompok-kelompok ( umumnya terdiri dari golongan Fuqoro’ Wal Masakin ) dengan methode latihan, berintikan ajaran Dzikrullah atau Dzikir pada Allah SWT sumber pegangan tidak lepas dari ajaran Rosulallah SAW dengan Al Qur’an – Al Hadits. Kelompok-kelompok ini menamakan dirinya dengan nama ” Thoriqot ” yang berpredikat masing-masing sesuai dengan nama Pembawa ajaran itu. Maka terdapatlah beberapa nama diantaranya adalah :
Thoriqot Qodiriyah
Pembawa ajarannya Syekh Abdul Qodir Al Jaelani RA Qoddasallohu Sirrohu
Thoriqot Naqsyabandiyah
Pembawa ajarannya Syekh Baha ’Uddin An-Naqsyabandi Qoddasallohu Sirrohu
Thoriqot Syadzaliyah
Pembawa ajarannya Syekh Abu Hasan As-Syadzili Qoddasallohu Sirrohu
Thoriqot Rifa’iyah
Pembawa ajarannya Syekh Ahmad Bin Abil Hasan Ar-Rifa’i Qoddasallohu Sirrohu.
Dan banyak lagi nama-nama Thoriqot yang mereka anggap sejalan dengan apa yang di Firmankan oleh Allah SWT :
” Jika mereka benar-benar Istiqomah ( Tetap pendirian terus-menerus ) di atas Thoriqot ( jalan ) itu, sesungguhnya akan kami beri minum mereka dengan air ( Hikmah ) yang berlimpah-limpah ”.
QS Al Jin ( 72 ) : 16
Banyak Para Ulama yang berpendapat bahwa dari sejumlah Thoriqot-thoriqot yang tersebar di dunia Islam, ada yang Mu’tabar ( diakui ) dan Ghoiru Mu’tabar ( tidak diakui ). Seseorang yang memasuki Thoriqot dinamakan Salik ( orang yang berjalan ) sedangkan cara mereka tempuh menurut cara-cara tertentu dinamakan Suluk .
Banyak hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang salik bila ingin sampai pada tujuan Kholwat ( nyepi atau semedi ), Di waktu Kholwat ini diperlukan Muroqobah ( mengintai perilaku diri ), Muhasabah ( merenungi diri mana yang baik dan terpuji dan mana yang jelek serta mana yang tercela ), Mujahadah ( tekun, rajin, bersungguh-sungguh ) dan banyak lagi istilah-istilah dengan Riyadloh lahir bathin, sesuai dengan petunjuk dari Syekh atau Mursid ( Guru )
3. Hakekat
Istilah ini sudah merupakan istilah bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab ” Haqiqot ” yang berarti : ” Kebenaran ” kenyataan asal ( Yang sebenar-benarnya ). Kebenaran dalam hidup dan kehidupan inilah yang di cari dan ini pulalah yang di tuju. Hakekat alam, hakekat diri saling berkaitan bertalian dan, bahasa tulisan lama menyebutkan ” Diri mencari sebenar-benarnya diri ”, diri terperi, diri yang diperikan dan diri Tajali ”
Di Identikkan dengan pengertian ” Jasad, Hati, Nyawa, Rahasia ”.
Kebenaran bukan hanya terletak pada akal pikiran dan hati, tetapi juga pada ” Rasa ” yakni rasa Jasmani yang dapat dirasakan dengan rasa pahit, manis, asam, asin, dan sebagainya, Ada yang disebut rasa Rohani : Yang dapat merasakan gembira, sedih, bingung, kecewa, dan sebagainya. Selanjutnya terdapat pula pada diri manusia yang di sebut rasa Nurani , rasa yang penuh cahaya, tidak terasa pahit, atau manis dan tidak juga seperti rasa genbira dan rasa sedih. Disinilah kebenaran dan istanakebebasan cinta kasih yang Hakiki ( Mahabbatain ) antara Hamba dengan Allah.
Demikianlah antara lain penjabaran tentang ” Diri mencari sebenar-benarnya diri ” dalam tulisan lama. Pembahasan di teruskan ” Siapa yang mencari dan Siapa yang di cari ? ”. Disinal permainan rasa, Para Ulama Ahli Shuffi Arif Billah menyebutnya dengan Istilah ” Amrun Dzauqy ”. ( Urusan perasaan yang paling dalam ”. Lepas dari isyarat dan I’tibar, lepas dari Raqom ( lukisan ). Lalu dengan penuh kerendahan hati mereka berkata kepada dirinya sendiri :
” Man Lam Yadzuq Lam Yadri ” ( Barang siapa yang merasa, tidak akan tahu ).
” Mayakh Ruju Baina Syafatain Illa Isyarat Wal I’tibar ( apa yang keluar dari dua bibir adalah hanya sekedar isyarat dan I’tibar ) saja .
4. Ma’rifat
Kata ” Ma’rifat ” ( Biasa di tulis dalam bahasa Indonesia ” Makrifat ” ) berasal dari kata ’ Arofa yang artinya = mengenal..
Bersumber dari Hadits Rosulallah SAW :
“ Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya “.
Hadits “ Man ‘ arafa . . . .” Oleh Ulama Hadits sebagian tidak dapat menerima.
Dalam Kitab Kasyful Khafa Wa Muzilul Ilbas, di kutib dari keterangan Mahyudin Ibnu Arobby : Seandainya di anggap tidak syah menurut Hukum Riwayat dan Dirayat, tetapi dapat di terima dari segi “ Kasyaf “, sejalan dengan bunyi Hadits Bukhori-Muslim : “ Arofun Naasi Man ‘Arofu Linafsihi “ dan dalam Al Qur’an ayat “ Wafi Anfusikum Afala Tubshirun “ ( Dan pada Dirimu tidakkah kamu perhatikan )
Diri nini penuh dengan serba keterbantungan, kekurangan, kelemahan, fana, di bandingkan dengan Allah DWT yang memiliki Kebesaran, Kekuasaan, Keperkasaan, dan Kekekalan serta memiliki Seluruh Sifat-sifat Kesempurnaan. Tidak ada seorang manusiapun yang sanggup dan mampu mengenal Nya dalam arti Hakiki kecuali dengan Dia. Dzun Nun Al Mishry berkata :
“ Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku Jua “
Yakni dengan Sinar Nya, Hidayah Nya, Qudrat dan Irodat Nya. Allah SWT berfirman :
” Dan orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, akan Kami berikan petunjuk semua jalan Kami ”
QS Al Ankanut ( 29 ) : 69
Menurut Para Ulama Shuffi Arif Billah bahwa seseorang yang bersungguh-sungguh di jalan Allah SWT, mereka itu adalah laksana jarum dengan gumpalan besi berani. Karena getaran magnit itulah, bukan kemampuan si jarum- dia berlari mengejar besi berani, Akhirnya si jarum tiada sadarkan diri, laksana Nabi Musa AS di Bukit Thursina :
” Musa Jatuh tersungkur tak sadarkan diri ”.
QS Al A’Rof ( 7 ) : 143
Keempat bagian ini yaitu : Syari’at, Thoriqot, Hakekat, Ma’rifat adalah sudah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa di pisah-pisahkan, gugur salah satunya berarti gugur pula semua keseluruhannya.
” Siapa dirimu dan untuk siapa dirimu, Siapa yang mencari dan siapa yang dicari, Siapa yang menyembahyangi dan siapa yang di sembahangi ”.
Tanyakanlah pada dirimu sendiri.
BAB I KEWAJIBABAN MENUNTUT ILMU ……………………………………………..
1.1. Ma’rifat ………………………………………………………………………………………
BAB II MENGENAL ALLAH SWT……………………………………………………………..
2. 1. Nama-nama Allah ……………………………………………………………………….
2.2. Tuhan dan Sifat-Sifatnya ………………………………………………
2.3. Sifat – Sifat Wajib 20 Bagi Allah ……………………………………..
2.4. Pembagian Sifat Wajib Yang 20 Macam ………………………………
2.5. Dzat Dan Sifat …………………………………………………………
2.6. Berbeda Dengan Makhluknya …………………………………………
BAB III JALAN MENUJU ALLAH ………………………………………………………………
3.1. Tashawwuf ……………………………………………………………..
3.2. Iman Dan Islam ……………………………………………………………………………..
3.3. Ikhlas …………………………………………………………………………………………..
3.4. Orang Paling Bodoh ……………………………………………………………………..
3.5. Kejadian Manusia …………………………………………………………………………
3.6. Hawa Nafsu …………………………………………………………………………………
BAB IV TUHAN DAN MANUSIA ……………………………………………………………….
4.1. Tidak Bersekutu ……………………………………………………………………………
4.2. Mendekat pada Allah …………………………………………………………………….
4.3. Tidak Memiliki Permulaan …………………………………………………………….
4.4. Tidak Dapat Melihat Tuhan …………………………………………………………..
4.5. Sifat Tuhan Yang Ditafsirkan …………………………………………………………
4.6. Manusia Tidak Berakal ………………………………………………………………….
4.7. Manusia Yang Terpuji …………………………………………………………………..
4.8. Manusia Yang Dicintai Allah …………………………………………………………
4.9. Manusia Penghuni Neraka ……………………………………………………………..
4.10. Manusia Yang Beruntung …………………………………………………………….
4.11. Bebarapa Sifat Ulama ………………………………………………………………….
4.12. Harta Dan Ilmu ………………………………………………………………………….
4.13. Orang Kaya ………………………………………………………………………………..
4.14. Kedudukan Fardlu ……………………………………………………………………….
4.15. Menuntut Ilmu – Ilmui Islam ………………………………………………………..
4.16. Kedudukan Ilmu Tashawwuf ……………………………………………………….
BAB V SHALAT ………………………………………………………………………………………….
5.1. Syarat dan Rukun Shalat ……………………………………………………………….
5.2. Shalat Jum’at dan Berjama’ah ………………………………………………………..
5.3. Shalat Jenazah ……………………………………………………………………………..
BAB VI MANUSIA DAN AKTIFITASNYA …………………………………………………
6.1. Perhiasan Laki-laki ………………………………………………………………………
6.2. Akal Manusia ………………………………………………………………………………
6.3. Manusia Miskin ……………………………………………………………………………
6.4. Perempuan Yang Baik …………………………………………………………………..
6.5. Perempuan Yang Celaka ……………………………………………………………….
6.6. Kepercayaan Terhadap Allah ………………………………………………………..
6.7. T a h l i l …………………………………………………………………………………….
6.8. Dzikir Allah ………………………………………………………………………………..
6.9. Orang Yang Utama ………………………………………………………………………
6.10. Amala Yang Diterima Allah ………………………………………………………..
6.11. Tingkatan Shalat ………………………………………………………………………..
6.12. Mata Kepala Dan Mata Hati ………………………………………………………..
6.13. P u a s a …………………………………………………………………………………….
6.14. Hati Yang Mati …………………………………………………………………………
6.15. Orang Yang Dibenci Allah ………………………………………………………….
6.16. Orang Yang Tidak Masuk Surga ………………………………………………….
6.17. Manusia Yang Tidak Baik ……………………………………………………………
6.18. Perlunya Pemikiran Akhirat ………………………………………………………….
6.19. Manusia Yang Celaka ………………………………………………………………….
BAB VII BERFIKIR ……………………………………………………………………………………
BAB VIII DOSA DAN KEMATIAN …………………………………………………………….
8.1. Kematian Yang Jelek …………………………………………………………………….
BAB IX SUAMI ISTRI ………………………………………………………………………………
9.1. Do’a Bersenggama ……………………………………………………………………….
9.2. Perlunya Kerukunan ……………………………………………………………………..
9.3. Istri Yang Durhaka ……………………………………………………………………….
9.4. Nasib Perempuan Yang Celaka ………………………………………………………
BAB X PENUTUP KITAB KASYFUL ASROR ……………………………………………
CATATAN ILMU TASAWWUF …………………………………………………………………
1. HAKEKAT MENGENALI JATI DIRI PRIBADI KITA SENDIRI ……………………………………………………………………………….
2. KEKUASAAN TUHAN DALAM MENCIPTAKAN NUR MUHAMMAD DENGAN TANGAN QODRATNYA SERTA APA YANG DIKEHENDAKINYA ………………………………………
3. KEJADIAN MANUSIA SESUAI DENGAN SEMBAHYANG 5 ( LIMA ) WAKTU ………………………………………………………………….
4. RAHASIA KEKUASAAN TUHAN ATAS DIRI HAMBANYA
4.1. Alam Arwah ……………………………………………………………………..
4.2. Martabat Alam Insanu ………………………………………………………..
4.3. Dasar dan Tujuan Alam Arwah …………………………………………..
5. SEMBAHYANG …………………………………………………………………….
5.1. Badan Sembahyang ……………………………………………………………
5.2. Huruf Sembahyang ……………………………………………………………..
5.3. Sifat Tubuh Sembahyang ………………………………………………… …
5.4. Gunanya Badan Sembahyang ………………………………………………
5.5. Hubungan Sembahyang Dengan Badan Manusia ……………………
5.6. Tempat Kediaman Allah SWT Disetiap Waktu Sembahyang ……
5.7. Rahasia Dalam Melaksanakan Sembahyang …………………………..
5.8. Kejadian Manusia Dalam Setiap Waktu Bersembahyang …………
5.9. Rahasia Waktu Sembahyang ……………………………………………….
5.10. Dasar Rahasia Sembahyang Yang Bertalian Dengan Tubuh Manusia …………………………………………………………………………..
5.11. Guna Dan Tujuan Rukun Sembahyang ……………………………….
5.12. Pembagian Rukun 13 Sesuai Dengan Tubuh Manusia ……………
LHO APA GAK LIHAT…RAJA ARAB SAUDI SEKUTU AMERIKA…KETURNAN MUSAILAMA NABI PALSU…
MANA WAHABI NEGAKAN HUKUM ISLAM..LIHAT TKW DISIKSA GAK ADA YG DIHUKUM…DASAR ARAB BRENGSEK..
wahabi yang dimaksud disini yang mana ?, sudah banyak pemahaman yang keliru tentang wahabi yang di anggap kafir oleh ulama ahlusunnah tetapi wahabi yang di atas ahlusunnah banyak yang di hujat.
” Inilah Wahhaby Yang Sesungguhnya -
Wajib diketahui oleh setiap kaum Musimin dimanapun mereka berada bahwasanya firqoh Wahabi adalah Firqoh yang sesat, yang ajarannya sangat berbahaya bahkan wajib untuk dihancurkan.Tentu hal ini membuat kita bertanya-tanya,mungkin bagi mereka yang PRO akan merasa marah dan sangat tidak setuju, dan yang KONTRA mungkin akan tertawa sepuas-puasnya..Maka siapakah sebenarnya Wahabi ini??
Bagaimanakah sejarah penamaan mereka??
Marilah kita simak dialog Ilmiah yang sangat menarik antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen disuatu Universitas Islam di Maroko.
Salah seorang Dosen itu berkata: ”Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa-jiwa dan hati-hati kaum muslimin sangat condong kepadanya,dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.
Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: ”Sungguh banyak pengetahuan yang keliru yang melekat dalam pikiran manusia, yang mana pengetahuan tersebut bukan diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat khabar-khabar yang tidak tepat dalam hal ini.
Baiklah,agar pemahaman kita bersatu, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya,dan saya rasa di Universitas ini terdapat Perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya .Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin untuk menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.
Dosen itu berkata : ”saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.
Asy Syaikh berkata : ”saya terima, Setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan kepada anda untuk melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.
Dosen itu pun berkata :”baiklah kita ambil satu contoh,ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqoh wahabi adalah Firqoh yang sesat. Disebutkan dalam kitab Al-Mi ’yar yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun
membangun sebuah masjid,”Bolehkan kita Sholat di Masiid yang dibangun olehorang-orang wahabi itu ??”maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab:”Firqoh Wahabiyyah adalah firqoh yang sesat, yang masjidnya wajib untuk dihancurkan, karena mereka telah menyelisihi kepada jalannya kaum mu ’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin ”. (wajib kita ketahui bahwa Imam Al-Wansyarisi dan Imam Al-Lakhmi adalah ulama ahlusunnah)
Dosen itu berkata lagi :”Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini,
Kemudian Asy Syaikh menjawab : ”Tunggu dulu..!! kita belum sepakat, lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa yang seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi, untuk itu tolong anda
sebutk n terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu !
Dosen itu berkata: ”anda ingin saya membacakannya dari fatwanya saja, atau saya mulai
dari sampulnya ??”
Asy Syaikh menjawab:”dari sampul luarnya saja.”
Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacakannya: ”Namanya adalah Kitab Al-Mi’yar,yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H di kota Fas, di Maroko.
Kemudian Asy Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya:”wahai syaikh, tolong catat baik- baik, bahwa Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H.
Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al- Lakhmi??
Dosen itu berkata:
”Ya,”kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu dia membawakan satu juz dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Didalam kitab tersebut terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.
Kemudian Asy Syaikh berkata : ”Kapan beliau wafat?”
Yang membaca kitab menjawab: ”beliau wafat pada tahun 478 H”
Asy Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi: ”wahai syaikh tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi ” kemudian ditulis.
Lalu dengan tegasnya Asy Syaikh berkata : ”Wahai para
masyaikh….!!! Saya ingin bertanya kepada antum semua …!!! Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum datang (lahir) ???? kecuali kalau dapat
wahyu????
Mereka semua menjawab :”Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda !”
Asy syaikh berkata lagi : ”bukankah wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab????
Mereka berkata : ”Siapa lagi???”
Asy Syaikh berkata:”Coba tolong perhatikan..!!! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H, …
Nah,ketika Al-Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab belum lahir..bahkan sampai 22 generasi keatas dari beliau sama belum yang lahir..apalagi berdakwah..
KAIF ??? GIMANA INI???
(Merekapun terdiam beberapa saat..)
Kemudian mereka berkata:”Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut ??” mohon dielaskan dengan dalil yang memuaskan, kami ingin mengetahui yang
sebenarnya !”
Asy Syaikh pun menjawab dengan tenang : ”Apakah anda memiliki kitab Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya, yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang kebangsaan Francis ?”
Dosen itu berkata:”Ya ini ada,”
Asy Syaikh pun berkata :”Coba tolong buka di huruf “ wau” ..maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “ Wahabiyyah”
Kemudian Asy Syaikh menyuruh kepada Dosen itu untuk membacakan tentang biografi firqoh wahabiyyah itu.
Dosen itu pun membacakannya: ”Wahabi atau Wahabiyyah adalah sebuah sekte KHOWARIJ ABADHIYYAH yang dicetuskan oleh Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum Al-Khoriji Al- Abadhi, Orang ini telah banyak menghapus Syari’at Islam, dia menghapus kewajiban menunaikan ibadah haji dan telah terjadi peperangan antara dia dengan beberapa orang yang menentangnya. Dia wafat pada tahun 197 H di kota Thorat di Afrika Utara. Penulis mengatakan bahwa firqoh ini dinamai dengan nama pendirinya, dikarenakan memunculkan banyak perubahan dan dan keyakinan dalam madzhabnya. Mereka sangat membenci Ahlussunnah.
Setelah Dosen itu membacakan kitabnya Asy Syaikh berkata : ”Inilah Wahabi yang dimaksud oleh imam Al-Lakhmi, inilah wahabi yang telah memecah belah kaum muslimin dan merekalah yang difatwakan oleh para ulama Andalusia dan Afrika Utara sebagaimana yang telah kalian dapati sendiri dari kitab-kitab yang kalian miliki. Adapun Dakwah yang dibawa oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang didukung oleh Al-Imam Muhammad bin Su’ud-Rahimuhumallah-,maka dia bertentangan dengan amalan dakwah Khowarij, karena dakwah beliau ini tegak diatas kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, dan beliau menjauhkan semua yang bertentangan dengan keduanya, mereka mendakwahkah tauhid, melarang berbuat syirik, mengajak umat kepada Sunnah dan menjauhinya kepada bid ’ah, dan ini merupakan Manhaj Dakwahnya para Nabi dan Rasul.
Syubhat yang tersebar dinegeri-negeri Islam ini dipropagandakan oleh musuh- musuh islam dan kaum muslimin dari kalangan penjajah dan selain mereka agar terjadi perpecahan dalam barisan kaum muslimin.
Sesungguhnya telah diketahui bahwa dulu para penjajah menguasai kebanyakan negeri-negeri islam pada waktu itu,dan saat itu adalah puncak dari kekuatan mereka. Dan mereka tahu betul kenyataan pada perang salib bahwa musuh utama mereka adalah kaum muslimin yang bebas dari noda yang pada waktu itu menamakan dirinya dengan Salafiyyah. Belakangan mereka mendapatkan sebuah pakaian siap pakai, maka mereka langsung menggunakan pakaian dakwah ini untuk membuat manusia lari darinya dan memecah belah diantara kaum muslimin, karena yang menjadi moto mereka adalah “PECAH BELAHLAH MEREKA, NISCAYA KAMU AKAN MEMIMPIN MEREKA ”
Sholahuddin Al-Ayubi tidaklah mengusir mereka keluar dari negeri Syam secara sempurna kecuali setelah berakhirnya daulah Fathimiyyah Al-Ubaidiyyin di Mesir, kemudian
beliau (Sholahuddin mendatangkan para ulama ahlusunnah dari Syam lalu mengutus mereka ke negeri Mesir, sehingga berubahlah negeri mesir dari aqidah Syiah Bathiniyyah menuju kepada Aqidah Ahlusunnah yang terang dalam hal dalil, amalan dan keyakinan.
(silahkan lihat kitab Al Kamil
Oleh Ibnu Atsir)
Demikianlah saudara-saudaraku yang dirahmati oleh Allah, inilah fakta yang ada, dimana musuh-musuh islam selalu saja menghalang-halangi dakwah yang haq, karena manghancurkan islam adalah tujuan mereka, mereka tahu kalau umat islam ini bodoh dari ilmu Agama akan sangat mudah menghancurkannya dari dalam.
Pelajaran penting juga yang dapat kita ambil, hendaknya bagi siapa saja yang ingin mendiskusikan ilmu haruslah dia mendatangkan bukti-bukti yang kuat sebagaimana dialog yang telah kita baca diatas,sehingga bukan nafsu yang keluar dari mulutnya, melainkan imu yang shohih..dialoglah dengan cara yang baik, BUKAN DENGAN DEBAT KUSIR YANG KOSONG DARI HIKMAH …
Wallahu ‘alam….. “
jangan asal nulis deh…… kalo hasanah ilmu hanya dengar dengaran tanpa masyaihk….. ntar malah bikin sesat diri sendiri dan meneyatkan orang lain………atau jangan ngomong wahabi deh kalo nda ngerti wahabi….. mending jalani perintah jauhi maksiat……insya allah selamat dunia akhirat…..tul nggak dul..
Marah sama wahabi……buktinya imam di masjidil haram…..wahabi tuh……kok semua ngikut aja…….atau e..lu mau gantiin Abdurrahman assudais….imam tarweh di masjidil haram……siape lu weeeeee
Buat Bang Ismunadi…….saluuut….semoga allah merahmati mu
@ Abransyah
Antum sebaiknya jaga lisan dan telan ucapan sendiri,
“jangan ngomong wahabi deh kalo nda ngerti wahabi”.
Jangan dengerin masyaikh, kyai, ustadz kalo cuma ngarang syariat tanda dasar yang shohih.
Bacalah Buku Terbaru tentang Wahabi yang Membunuh ribuan Ulama, Memalsukan Kitab2 Ulama yg tidak sesuai Ideologi mereka, si Abdul Wahhab bahkan Mengkafirkan Sahabat2 Nabi yg di Jamin Surga, Gemblong..
Semoga Allah Melaknat mu..
Mana buktinya?
darah ulama itu seperti racun…. jika nt memfitnahnya , fatal akibatnya sesungguhnya azab Alloh swt sangat pedih…jika wali2nya di perangi…
Semoga Allah merahmati Syaikh Muhammad bin Abdul wahab, dan semoga Allah menunjuki jalan bagi orang yang mencelanya.
semoga alloh melaknat Syaikh Muhammad bin Abdul wahab & semoga alloh menyesatkan para pengikut nya ,amin.
Lihatlah, inilah akhlaq para pencela dakwah.
Rosulullah saja mendoakan pamannya yg kafir agar mendapat hidayah.
si pencela dakwah malah mendoakan kesesatan, naudzubillah.
Pernah baca kalau Ulama Wahabi, Ibnul Qoyyim, mengatakan dalam kitab “Hadi al-Arwah ila Biladi al-Afrah”; Neraka suatu saat akan punah dan adzab orang kafir penghuninya akan habis.
kayax adminnya salah tafsir nich
ngga usah di tanggapi orang” ydemikian…ngga ada gunanya..karena kendengkiannya terhadap syaikh Muhammad bin abdul wahhab telah mendarah daging..mendingan sibukan diri dengan menuntut ilmu..karena masih banyak kita” para ulama y perlu kita perdalam dibandingkan meladeni orang” y demikian..kita do’a kan sj mereka agar dapat rujuk dari ucapan” nya dan bertobat kepada Allah Azza Wajall..
Wahabi nya bagus tapi pengikut-pengikutnya yang menyalahkan sesama mu’min padahal baru hafal beberapa hadits
wahai saudaraku,,percuma kalian debat sama Ahlulbid’ah yang memusuhi dakwahnya syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab:
mereka itu sudah mati hatinya..krn ahlul bid’ah itu susah untuk berubah, Al imam Fudhail bin Iyyadh rohimahullah berkata: ” Ahlul bid’ah lebih senang dan di cintai oleh iblis daripada Ahlul maksiat, krn ahlul bid’ah meyakini bahwa apa yang mereka kerjakan itu baik dan benar sehingga susah untuk bertaubat, sedngakn ahlul maksiat itu suatu saat dia akan menyadari bahwa apa yang mereka lakuakan itu dosa dan salah, dan mereka akan cepat bertaubat kpd Allah”. Allahumma ahlikil kafrota wal mubtadi’ah……..
kalo dalem bahasa saya anda itu kapot,pilat,jalat,turok bosok…..ngomong asal njepox,uda gak ada hujjah,,ee rokyu yg di pake…..mg blok anda ini cpt tamat…by cybercreme..
Assalamualikum,,,Ayyuhal Ikhwanafil Islam,”jangan kita saling menghujat,siapakah yang bisa menjamin akan kebenaran argumen kita.kalo kita sudah terpecah belah nanti gampang musuh islam untuk mengepung kita.bagi pengikut wahabi,maupun yang bukan ,sekali lagi jangan saling serang,kita semua saudara,,,,wallahua’lam,wassalamu’alaikum.
assalamu’alaikum….
yang biasa aja lah…….yang jadi masalah jangan saling menyalahkan…apalagi mengkafirkan…..kata kunci dakwah mencari teman bukan lawan….perbedaan pendapat di kalangan muslim adalah hal yang biasa….jangan menjustice kelompoknya yang benar..maka akibatnya …seperti lingkaran setan yang tidak ada akhirnya….intinya klo pendapat sampeyan begitu monggo….tapi jangan mengkafirkan, bid’ahkan kelompok lain…..ok sobat…
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman jika orang fasik datang kepada kamu membawa sebuah berita maka telitilah, agar kalian tidak mencela suatu kaum dengan kebodohan.” (QS. al-Hujuraat: 6) (baca jawaban untuk berbagai tuduhan di atas dalam kitab-kitab berikut, 1. Mas’ud an-Nadawy, Muhammad bin Abdul Wahab Muslih Mazlum, 2. Abdul Aziz Abdul Lathif, Da’awy Munaawi-iin li Dakwah Muhammad bin Abdil Wahab, 3. Sholeh Fauzan, Min A’laam Al Mujaddidiin, dan kitab lainnya)
Ketika aku membaca dan mempelajari hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam baik dalam Kutubus Sittah (kitab-kitab induk hadits), termasuk di dalamnya Shahiihain (baca : Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim), ternyata yang aku dapati kandungan (ajaran) Islam yang benar seperti :
1. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membiarkan (baca : memelihara) jenggot, maka aku pun tidak mencukur jenggotku.
Hingga aku pun dihina dengan dikatakan kambing, sebagai olok-olokan.
(meskipun itu hanya beberapa helai, salahkah aku?)
2. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang berpakaian menutupi mata kaki bagi laki-laki (baca : melakukan isbal atau musbil), lantas aku pun memotong celanaku dan aku pun memakai celana cingkrang itu.
Hingga aku pun kembali dihina dengan dikatakan kebanjiran dan kehabisan bahan, sebagai olok-olokan.
(apa aku salah?)
3. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang musik, lantas ku ikuti petunjuk beliau.
Hingga aku pun dihina dengan dikatakan norak, dan kampungan, sebagai olok-olokan.
(maka dimana salahku?)
4. Juga perintah-perintah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang lain seperti tidak bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahrom, tidak mengada-ada dalam agama (baca : berbuat bid’ah) dalam hadits arba’in no. 5, lalu aku aplikasikan dengan tidak mengadakan kondangan peringatan kematian (baca : tahlilan), keluarga kami juga tidak meringati hari kelahiran (baca : maulid) dan wafat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya.
Lho koq tiba-tiba aku dituduh sebagai Wahabi?!?
Padahal dasar perbuatanku diatas Sunnah (petunjuk) Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sama sekali tidak membaca buku-buku karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab rahimahullaahu ta’ala.
Kini ketika aku putuskan untuk beramal sesuai Al-Qur’an dan Sunnah (baca : hadits) yang shahiih dengan pemahaman Salafush Shalih (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), Aku pun dipanggil Wahabi.
Ketika aku meminta segala hajatku hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tidak kepada Nabi dan wali…
Aku pun dituduh Wahabi.
Ketika aku meyakini Al-Qur’an itu Kalam Ilahi, bukan makhluk..
Aku pun diklaim sebagai Wahabi.
Ketika aku takut mengkafirkan dan memberontak penguasa yang zhalim.
Aku pun dipasangi platform Wahabi.
Ketika aku tidak lagi shalat, ngaji serta ngais berkah di makam-makam keramat…
Aku pun dijuluki Wahabi.
Ketika aku putuskan keluar dari tarekat sekte sufi yang berani menjaminku masuk Surga…
Aku pun diembel-embeli Wahabi.
Ketika aku katakan tahlilan dilarang oleh Imam Syafi’i.
Aku pun dihujat sebagai Wahabi.
Ketika aku tinggalkan maulidan karena Nabi shallallaahu ‘alaihi
wa sallam tidak pernah ajarkan..
Aku pun dikirimi “berkat” Wahabi.
Ketika aku takut mengatakan bahwa Allah Jalla wa ‘Ala itu di mana-mana sampai di tubuh babi pun ada…
Akupun dibubuhi stempel Wahabi.
Ketika aku mengikuti Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan jenggot, dan memotong celana diatas dua mata kaki…
Aku pun dilontari kecaman Wahabi.
Namun, ketika aku tanya apa itu Wahabi…?
Mereka pun gelengkan kepala tanda tak mengngerti.
Ketika ku tanya siapa itu Wahabi…?
Mereka pun tidak tahu dengan apa harus menimpali.
Tapi…!
Apabila Wahabi mengajakku beribadah sesuai denga Al-Qur’an dan Sunnah.
Maka aku rela mendapat gelar Wahabi!
Apabila Wahabi mengajakku hanya menyembah dan memohon kepada Allah.
Maka aku Pe–De memakai mahkota Wahabi!
Apabila Wahabi menuntunku menjauhi syirik, khurafat dan bid’ah…
Maka aku bangga menyandang “baju” kebesaran Wahabi!
Apabila Wahabi mengajakku taat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam…
Maka akulah pahlawan Wahabi!
Ada yang bilang…
Kalau pengikut setia Muhammad shallallaahu ‘alaihi
wa sallam digelari Wahabi, maka aku mengaku sebagai Wahabi.
Ada yang bilang…
Jangan sedih wahai “Pejuang Tauhid”, sebenarnya musuhmu sedang memujimu.
Pujian dalam hujatan….!